Perspektif Budaya dalam Lingkungan Hidup

Pokok-pokok Pikiran

Oleh Henri Nurcahyo

1. Tanggal 14 Februari kemarin adalah Hari Valentin. Semua orang tahu, apalagi anak-anak remaja kota sekarang ini. Jangan tanya asal usulnya, itu tidak penting. Yang mereka tahu adalah Hari Valentin adalah hari menyatakan kasih sayang kepada soul mate kita, ataupun pacar, dengan cara memberikan sesuatu. Biasanya berupa coklat, atau seikat bunga mawar imitasi. Merayakan Hari Valentin tidak dapat dibendung, meski ada yang bilang bukan budaya Indonesia, itu budaya asing, sampai-sampai ada sekolahan yang mengumumkan di pengeras suara: Hari Valentin itu haram, dilarang bawa coklat dan merayakannya. Jadi, bagaimana kita menyikapi adanya Hari Valentin ini?

2. Merayakan Hari Valentin adalah salah satu contoh yang namanya Budaya. Secara umum yang disebut budaya itu bukan hanya berurusan dengan kesenian dan hiburan. Budaya juga menyangkut bahasa, adat istiadat, kebiasaan, pakaian, makanan, mata pencaharian dan juga cara beragama. Jadi, hubungan budaya dan lingkungan hidup itu sangat erat kaitannya. Bahwa yang namanya lingkungan hidup itu bukan melulu menyangkut menanam pohon, mengolah sampah, hemat energi, tetapi terkait erat dengan hal-hal yang termasuk dalam pengertian budaya itu tadi.

3. Kebiasaan misalnya, sebagai salah satu aspek budaya, apakah kebiasaan yang kita miliki selama ini sudah ramah lingkungan? Prinsip ramah lingkungan atau ekologis diantaranya 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle). Kalau kebiasaan kita tidak berlandaskan prinsip 3 R itu, berarti tidak ramah lingkungan. Reduce, adalah mengurangi timbulan sampah dari penggunaan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Contohnya, kalau kita belanja di toko atau pasar, apakah kita selalu menerima bungkus tas kresek? Mengapa kita tidak membawa sendiri tas dari rumah, kemudian menolak tas kresek pemberian penjual itu? Selama ini, tas kresek bekas wadah barang belanja itu cenderung dibuang begitu saja, kita sudah puas kalau tas kresek sudah hilang dari pandangan kita, diangkut tukang sampah, entah dibawa kemana. Padahal, plastik itu kalau ditimbun dalam tanah membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa hancur. Sementara kalau dibakar, justru menyebabkan beredarnya racun dan gas berbahaya ke udara.

4. ReUse, adalah menggunakan kembali barang-barang yang sudah pernah kita pakai agar memperpanjang masa gunanya dan tidak langsung menjadi sampah. Kertas yang sudah ada tulisannya misalnya, masih dapat kita gunakan lagi di baliknya, kalau hanya untuk coret-coret konsep saja. Botol bekas wadah minuman masih dapat digunakan berkali-kali sebelum akhirnya betul-betul tidak bisa dipakai. Semakin banyak jumlah pemakaiannya, berarti semakin besar penghematan yang kita lakukan. Karena itu botol wadah minuman air putih yang kita bawa, disarankan yang terbuat dari beling karena lebih panjang usianya dibanding botol plastik. Kaleng bekas wadah susu atau cat masih dapat dipergunakan lagi (ReUse) sebagai pot tanaman, tempat pinsil, dan berbagai keperluan lainnya.

5. Demikian pula Recycle, mengolah kembali barang-barang yang sudah dipakai menjadi produk yang sama atau barang yang lain dengan manfaat yang berbeda. Plastik bungkus sabun dapat dijahit sedemikian rupa sehingga menjadi tas. Sedotan minuman dapat dikreasi menjadi bunga hias dalam vas. Bahkan sampah-sampah plastik dan residu sampah yang sama sekali sepertinya tidak bisa diolah lagi, masih dapat digunakan sebagai pengisi batako dari semen sehingga menghemat semen dan pasir.

6. Jadi, kalau kita mempraktekkan prinsip 3-R itu berarti perilaku kita sudah ramah lingkungan. Pertanyaannya, apakah hal itu kita lakukan semata-mata karena perintah guru atau pejabat, takut atasan, karena ikut lomba lingkungan, karena sudah menjadi pekerjaan, untuk pamer, ataukah memang sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari? Perilaku ramah lingkungan mempraktekkan 3-R tadi baru bisa disebut budaya kalau memang sudah menjadi kebiasaan, bahkan menjadi kebutuhan hidup.

7. Kebiasaan, adalah kunci pokok dalam budaya ramah lingkungan. Kebiasaan kita, akan sangat menentukan apakah kita memang benar-benar berperilaku ramah lingkungan ataukah justru bertentangan dengan prinsip-prinsip lingkungan. Mulai dari kebiasaan belanja (seperti contoh tas kresek tadi), kebiasaan menghemat, kebiasaan memilih makanan dan minuman, pakaian, mencuci baju dan piring, kebiasaan menggunakan kendaraan, kebiasaan dalam ruangan ber-AC, termasuk juga kebiasaan merawat tubuh dan kecantikan diri. Ada baiknya kita melakukan instrospeksi, apakah kebiasaan kita sehari-hari memang sudah ramah lingkungan atau belum?

8. Kebiasaan saja ternyata masih belum cukup, tetapi apakah kita memahami makna kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari? Karena kita hidup di zaman modern, kita biasa memahami melalui akal pikiran, lewat rasio, masuk akal apa tidak, apakah sesuatu itu dapat dimengerti atau tidak. Sementara orang-orangtua kita, atau masyarakat desa yang hidup tanpa pendidikan modern, memahami kebiasaan itu melalui naluri, melewati wewarah dari leluhurnya, dari dongeng dan legenda, mistik atau bahkan hal-hal yang kita anggap tidak masuk akal. Mereka hanya tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan tanpa mampu menjelaskannya secara rasional. Inilah yang disebut kearifan lokal, kearifan tradisional atau kearifan budaya. Mereka tidak bisa menjelaskan secara ilmiah, mengapa pohon beringin dikeramatkan, mengapa membakar dupa di sawah menjelang panen, melakukan ruwatan , bersih desa, membuat sesajen dan kembang sekian macam di tempat-tempat tertentu. Kalau kita mau tahu, tugas kitalah untuk merasionalkan semua itu agar gampang dipahami secara modern sebagaimana pengetahuan dari sekolah. Kearifan lokal tersebut sesungguhnya dapat diterjemahkan secara rasional sehingga tidak terkesan mistik dan bahkan syirik.

9. Jadi kebiasaan itu ada kaitannya dengan adat istiadat, dengan suatu aturan komunal yang berlaku tanpa harus dirumuskan secara formal. Kebiasaan dan adat istiadat yang yang terdapat pada masyarakat tradisi itu seringkali kita lecehkan, diremehkan, bahkan cenderung dimusuhi sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman dan menyekutukan Tuhan. Padahal, kalau kita mau jujur, sebetulnya dalam kehidupan modern ini kita juga sudah berlaku “syirik” dan “menyekutukan Tuhan”. Tanpa sadar, kita kadang-kadang mengkultuskan harta dan jabatan, bahkan juga handphone. Cobalah merenung sejenak, bisakah kita hidup tanpa HP, sehari saja. Mengapa kita harus bersikap hormat dengan telapak tangan di kening sambil menghadap secarik kain berwarna merah dan putih? Benarkah semua yang kita lakukan selama ini memang betul-betul rasional? Satu hal yang perlu dipahami, bahwa meski kita hidup dalam zaman modern, maka hal-hal yang irrasional itu masih tetap kita butuhkan. Otak dan akal kita terlalu kecil untuk dapat memahami alam raya dan kehidupan ini. Ada suatu wilayah yang tetap tidak dapat kita jangkau dengan akal dan pikiran kita, sepinter apapun kita. Mau S-1, S-2, S-3 sampai S berapapun.

10. Homo Symbolicum, adalah salah satu julukan terhadap manusia, selain Homo Sapiens, Homo Ludens dan sebagainya. Homo Symbolicum adalah mahluk yang hidup dengan simbol-simbol. Manusia yang hidup dalam zaman tradisional maupun dalam zaman modern sama-sama percaya dengan simbol-simbol, sekalipun simbol itu tidak dapat diterima dengan akal sehat dan tidak rasional. Keberadaan simbol-simbol itulah yang justru menandakan bahwa manusia adalah mahluk yang berbudaya. Tidak ada kebudayaan tanpa ada manusia, karena kebudayaan selalu berurusan dengan manusia, kebudayaan selalu antroposentris.

11. Apakah suatu budaya dapat diciptakan? Apakah yang disebut Budaya itu selalu baik? Tentu saja tidak semua budaya baik. Ada budaya membuang sampah pada tempatnya, namun membuang sampah sembarangan itu juga merupakan budaya golongan masyarakat tertentu. Bagaimana caranya mengubah suatu kebudayaan itu sangat tergantung apa sebenarnya tujuan yang hendak dicapai. Seperti kisah dua orang Salesmen pabrik sepatu yang pergi ke suatu desa dimana semua penduduknya tidak pakai sepatu. Salesmen pertama langsung kembali karena menganggap percuma mempromosikan sepatu pada orang-orang desa yang tidak mengenal sepatu. Tetapi salesmen kedua justru senang dan optimistis, karena menganggap bahwa orang-orang desa dapat diperkenalkan tentang budaya memakai sepatu.

12. Bagaimana menciptakan budaya, itulah kunci soalnya. Untuk membuat iklan di media massa (radio, media cetak atau televisi) tidak cukup hanya dengan ketrampilan teknis desain grafis, audio visual, ilmu komunikasi dan juga psikologi. Tetapi belakangan juga digunakan antropologi, ilmu tentang budaya. Untuk memasarkan suatu produk bukan hanya aspek fungsionalnya saja yang diperkenalkan, bukan hanya aspek manfaatnya, tetapi aspek budaya itulah yang jauh lebih penting. Kita makan McDonald dan Kentucky Fred Chicken bukan semata-mata karena kita lapar, tetapi ada nilai budaya yang melekat di situ. Demikian pula ketika kita memilih Pecel Madiun, Sate Ponorogo, Soto Lamongan, Rujak Cingur Surabaya, Nasi Krawu Gresik, dan banyak contoh lainnya. Itu semua adalah contoh budaya dalam makanan yang menjadikan seseorang memiliki alasan tersendiri daripada sekadar makan karena lapar. Itulah sebabnya ada Toyota Kijang, ada Daihatsu Kuda, ada Karimun, yang kesemuanya merujuk pada nama-nama lokal agar kita menjadi akrab dan kemudian mengadopsi menjadi budaya kita sendiri.

13. Jadi, bagaimana kita menyikapi Hari Valentin? Sepertinya sulit membendung remaja untuk tidak merayakannya. Apalagi sampai mengancam dan menakut-nakuti bahwa Valentin itu haram. Yang dapat kita lakukan adalah bagaimana merekayasa Hari Valentin menjadi sesuatu yang bernilai positif. Apa salahnya sih menyatakan kasih sayang pada seseorang? Nah supaya ada kaitannya dengan lingkungan hidup, barangkali ada baiknya bukan hanya coklat atau mawar imitasi yang kita hadiahkan, tetapi bibit tanaman. “Kekasihku, rawatlah tanaman ini agar tetap tumbuh subur, sebagaimana kurawat cintamu di hatiku…”

Selamat hari Valentin…

Madiun, 16 Februari 2012

(artikel ini disajikan sebagai makalah dalam acara Kenduri Agung Siswa Pengabdi Lingkungan di SMKN 3 Madiun, Kamis, 16 Februari 2012)

Semacam Biodata:
Henri Nurcahyo, lahir di Lamongan 22 Januari 1959, pernah sekolah di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, sekolah yang sesungguhnya adalah aktivitasnya di dunia jurnalistik, LSM dan kesenian. Pernah menang lomba karya tulis 10 (sepuluh) kali, menjadi editor dan penulis lebih dari 20 buku, aktif dalam kegiatan kesenian sebagai juri, pengamat dan penulis. Sekarang menjadi anggota pleno Dewan Kesenian Jatim, ketua bidang program Dewan Kesenian Sidoarjo, dan ketua Lembaga Ekologi Budaya (elbud), serta Divisi Publikasi KAPAL Jatim.
Nomor kontak: 0812 3100 832,
email: henrinurcahyo@gmail.com, blog: henrinurcahyo.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: