Catatan Pengamatan Pergelaran Wayang Orang Surya Ndadari “ Kikis Tunggarana “


Taman Krida Budaya Jawa Timur, Malang. Sabtu, 25 Februari 2012

Oleh Henri Nurcahyo

Perebutan kekuasaan atas sebuah wilayah yang tak terurus bernama Kikis Tunggarana, antara kerajaan Pringgondani dan Trajutisna, merupakan intisari dari lakon “Kikis Tunggarana Wayang Orang Surya Ndadari dari Kabupaten Blitar, di Taman Krida Budaya Jatim, Malang. Ini bukan sekadar wayang orang, melainkan kolaborasi dengan Jaranan. Karena itu namanya Jarwo, Jaranan Wayang Orang. Dan yang menarik, hampir semua pemainnya adalah kalangan remaja. Sebuah proses regenerasi yang patut diacungi jempol.

Pilihan cerita itu dimaksudkan bahwa selama ini banyak pihak yang kurang mengurusi potensinya sendiri, namun baru ribut ketika ada pihak lain yang kemudian mengklaim menjadi miliknya. Kasus klaim pulau Sipadan dan Ligitan oleh Malaysia menjadi pelajaran pahit betapa negeri ini ternyata kurang serius memperhatikan miliknya sendiri. Ironisnya, hal ini juga terjadi pada potensi budaya, berupa reyog dan tari pendet. Bukan tidak mungkin hal yang sama akan terulang lagi, klaim dari negara lain, dari pihak lain, juga mengenai potensi lainnya. Kebetulan domisili grup Surya nDadari di Desa Njeding, Kecamatan Sanan Kulon, Kab. Blitar, persis berbatasan dengan wilayah Kota Blitar.

Lepas dari persoalan klaim oleh Malaysia, pesan tersirat dari pertunjukan ini adalah baik-baiklah menjaga apa yang menjadi milik kita sendiri, jangan hanya ribut ketika ada pihak lain mengklaim. Negeri ini punya banyak potensi budaya, namun bangsa sendiri seringkali mengacuhkannya. Padahal bangsa lain justru mengagumi dan malah tertarik mempelajarinya. Wayang Orang misalnya, hanyalah salah satu contoh seni tradisi yang semakin lama banyak ditinggalkan pendukungnya. Jangankan yang nonton, mencari pemain Wayang Orang saja sudah merupakan kesulitan tersendiri.

Itu sebabnya pertunjukan wayang orang ini dikolaborasikan dengan jaranan agar punya daya tarik baru. Dituturkan oleh Darwiyanto, sutradara pertunjukan ini, gagasan kolaborasi tersebut muncul dari keprihatinan terhadap tontonan wayang orang yang dinilai oleh masyarakat umum sebagai tontonan yang membosankan, statis, jenuh dan kurang menarik. Penonton tidak telaten mengikuti jalan ceritanya, lamban. Keprihatinan terhadap seni tradisi ini juga terjadi pada ketoprak. Maka di Blitar juga ada kesenian yang bernama Japrak, alias Jaranan Ketoprak. Kebetulan Jaranan merupakan kesenian tradisi yang populer di Blitar, banyak disukai anak muda, karena dinamis dan atraktif. Ditambah lagi, banyak anak muda yang lebih menyukai belajar seni tari ketimbang wayang orang. Maka pergelaran kali ini sesungguhnya merupakan kolaborasi antara tari dan jaranan yang digelar dalam pertunjukan wayang orang.

Lantaran banyak didukung para penari inilah yang menjadikan pertunjukan kali ini memang menarik dari sisi tarinya. Para pemain banyak yang berasal dari sanggar tari, alumni SMKI (SMKN 9 Surabaya), bahkan mahasiswi jurusan tari Sendratasik Unesa. Tidak gampang menari gaya Kulonan yang dikenal anggun dan halus itu. Darwiyanto sendiri adalah alumnus jurusan tari ISI Surakarta, pelatIh tari di sanggarnya, yang juga banyak menggarap musik iringan tari dan karya karawitan.

Sebagian pemain memang anak pemain wayang orang, ada yang sudah ikut berkecimpung dalam habitat wayang orang sejak kecil, termasuk Darwiyanto sendiri. Lebih kurang sebanyak 65 anggota mengikuti kelompok Jarwo ini, mulai dari siswa SMP sampai dengan yang kuliah dan sudah bekerja. Ada kelompok khusus anak-anak dan dewasa. Ada juga grup jaranan tersendiri, dan tentu saja kelompok tari.

Menurut Darwiyanto, regenerasi pemain wayang orang sulit dilakukan karena memang tidak gampang menemukan anak-anak muda yang mampu nembang, menari dan sekaligus dialog. Sebuah kemampuan tiga disiplin kesenian, yaitu vokal, tari dan teater. Sebagai guru Seni Budaya SMPN Ponggok, Blitar, lelaki berusia 50 tahun ini sangat berkepentingan untuk melakukan regenerasi ini. Seiring dengan tugasnya sebagai guru.

Lakon Kikis Tunggarana ini pernah mengisi acara di Anjungan Jatim TMII tahun 2010. Dan baru kali ini dipentaskan lagi dengan sejumlah modifikasi. Justru untuk keperluan pentas itulah yang memunculkan gagasan kolaborasi dengan Jaranan. Dalam cerita, pasukan kerajaan Trajutisna dan Pringgondani sama-sama raksasa, sehingga pasukan Trajutisna kemudian diperankan oleh pemain Barongan yang biasa dimainkan di Jaranan.

Dalam prakteknya, pertunjukan wayang orang ini memang menjadikan Jaranan sebagai selingan dalam pergantian babak. Disamping sebagai tarian pendahuluan dan juga sebagian pemainnya terlibat dalam cerita pokok. Percampuran ini memang menjadikan penonton wayang orang klasik menjadi terganggu karena menganggapnya sebagai pertunjukan wayang orang yang kurang rapi. Dan memang itulah risikonya, ketika wayang orang disajikan sedemikian rupa agar menjadi pertunjukan yang menarik.

Dalam adegan perkelahian misalnya, memang lumayan menarik untuk membunuh kebosanan. Tetapi hal ini tidak serta merta membuat pertunjukan ini dapat merebut simpati anak muda atau penonton awam. Berbeda dengan ludruk yang menyediakan ruang improvisasi untuk pemain melakukan dialog ndhagel, dalam wayang orang kali ini seluruh rangkaian cerita berjalan secara linier. Para pemain dituntut melakukan dialog dengan intonasi dan artikulasi yang bagus supaya dapat betul-betul dipahami oleh penonton.

Ruang untuk mencairkan kebekuan sebetulnya tersedia sangat luas dalam sesi selingan. Namun sayang seribu sayang, materi lawakannya sudah amat sangat ketinggalan. Ini lawakan gaya ludrukan yang sudah basi. Padahal inilah satu-satunya kesempatan untuk mencairkan hubungan dengan penonton. Di sinilah sebetulnya letak kelemahan umum seni pertunjukan tradisional, dimana para pemainnya kurang belajar mengenai isyu-isyu aktual yang komunikatif dengan penonton yang sudah kadung akrab dengan televisi.

Sementara dari sajian cerita, penyelesaian konflik tidak jelas. Jadi bagaimana akhir dari konflik perebutan kawasan sengketa bernama Kikis Tunggarana tersebut? Sayang sekali hal ini tidak didramatisasi sedemikian rupa sehingga penonton dapat jelas menangkapnya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: