Janger Banyuwangi ” Ketroprak Rasa Bali “

Tulisan ini memang agak lama, cuma lupa upload. Maap. Urutan waktunya jadi kebalik dengan Wayang Orang.

Oleh Henri Nurcahyo
Taman Budaya Jawa Timur, 4 Februari 2012

Teater Janger atau kadang disebut Damarwulan atau Jinggoan, merupakan pertunjukan rakyat yang sejenis dengan ketoprak dan ludruk. Pertunjukan ini hidup dan berkembang di wilayah Banyuwangi, serta mempunyai lakon atau cerita yang diambil dari kisah-kisah legenda maupun cerita rakyat lainnya. Selain itu juga sama-sama dilengkapi pentas, sound system, layar/ tirai, gamelan, tari-tarian dan lawak. Serta pembagian cerita dalam babak-babak yang dimulai dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.

Awal mulanya, pada abad ke-19, di Banyuwangi hidup suatu jenis teater rakyat yang disebut Ande-Ande Lumut karena lakon yang dimainkan adalah lakon Andhe-Andhe Lumut. Dan dari sumber cerita dari mulut ke mulut, pelopor lahirnya Janger ini adalah Mbah Darji, asal Dukuh Klembon, Singonegaran, Banyuwangi kota. Mbah Darji ini adalah seorang pedagang sapi yang sering mondar-mandir Banyuwangi-Bali, dan dari situ dia tertarik dengan kesenian teater Arja dan dia pun berkenalan dengan seniman musik bernama Singobali yang tinggal di Penganjuran, dari situlah kemudian terjadi pemaduan antara teater Ande-Ande Lumut dengan unsur tari dan gamelan Bali, sehingga lahirlah apa yang disebut Damarwulan Klembon atau Janger Klembon.

Semenjak itu, mulai lahir grup-grup Damarwulan di seantero Banyuwangi. Mereka bukan hanya memberikan hiburan, namun juga menyisipkan pesan-pesan perjuangan untuk melawan penjajah dengan kedok seni. Di masa revolusi, kerapkali para pejuang kemerdekaan menyamar sebagai seniman Janger untuk mengelabui Belanda dan para mata-matanya.

Teater Janger Banyuwangi ini merupakan salah satu kesenian hibrida, dimana unsur Jawa dan Bali bertemu jadi satu di dalamnya. Gamelan, kostum dan gerak tarinya mengambil budaya Bali, namun lakon cerita dan bahasa justru mengambil dari budaya Jawa. Bahasa yang dipergunakan dalam kesenian ini adalah bahasa Jawa Tengahan yang merupakan bahasa teater ketoprak. Namun pada saat lawakan, digunakan bahasa Using sebagai bahasa pengantar. Lakon ceritanya pun justru diambil dari Serat Damarwulan yang dianggap penghinaan terhadap masyarakat Banyuwangi, yang anehnya malah berkembang subur.

Sekilas melihat Janger, kita akan melihat sebuah mini teater. Panggung, lighting, tarian, dialog, dan semua yang ada di teori pementasan teater tersaji lengkap di sini. Walaupun hanya dengan peralatan-peralatan yang sangat sederhana, namun sangat mendukung dari dramatisasi cerita yang dilakonkan. Namun sekilas, budaya Bali Nampak sangat dominan di pementasan Janger. Baik dari musik maupun pakaian yang digunakan.

LAKON JANGER

Lakon atau cerita yang akan dipentaskan, disesuaikan dengan permintaan penanggap atau skenario kelompok itu sendiri. Lakon yang paling banyak dipentaskan antara lain, Cinde Laras, Minakjinggo Mati, Damarulan Ngenger, Damarulan Ngarit, dan lain sebagainya. Selain dari cerita panji, lakon juga diambil dari legenda rakyat setempat seperti Sri Tanjung dan kadang cerita-cerita bernuansa Islam.

Dalam pementasan di Taman Budaya Jawa Timur ini, kelompok Janger “Sastra Dewa” membawakan lakon “Banterang Surati” yang mengisahkan legenda asal usul nama Banyuwangi. Banterang adalah nama Raja Banyuwangi, dan Surati adalah nama gadis puteri Raja Klungkung, Bali, yang akhirnya mereka menikah.

Kisah lengkapnya adalah, pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.

“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuanku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang. ”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.

“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolak!”. Mendengar hal tersebut hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

CATATAN PEMENTASAN

Dalam pementasan kali ini, kelompok Janger Sastra Dewa tidak membawakan cerita selengkap itu. Justru bagian dimana terjadi pembunuhan yang dilakukan Banterang terhadap Raja Klungkung dihadirkan panjang lebar. Adegan peperangan antara kerajaan Blambangan dan Klungkung memakan waktu sangat lama sebagai pengisi babak pertama. Setelah diselingi adegan Lawak yang bertele-tele itu, baru masuk babak kedua yang menjadi intisari legenda Banyuwangi itu. Sayang waktunya sudah dihabiskan di babak pertama dan adegan lawak, sehingga babak kedua hanya berlangsung kurang dari setengah jam saja.

Manajemen waktu agaknya merupakan persoalan utama kelompok ini, bagaimana cara membagi waktu yang tepat pembagian babak sehingga secara keseluruhan dapat disajikan cerita lengkap tanpa harus memotong. Ini memang persoalan klasik pertunjukan tradisional yang biasa bermain bertele-tele karena tidak terbiasa dengan batasan waktu yang ketat. Tidak heran karena waktu yang sudah semakin mepet, maka pada bagian kedua cerita dipotong sedemikian rupa sehingga mudah mengakhirinya.

Dalam pementasan kali ini, adegan perkenalan Suparti dengan Banterang berlangsung dengan perantaraan dua pelawak. Tahu-tahu Suparti sudah berada di istana, bertemu kakaknya, bukan hanya dititipi ikat kepala tetapi juga keris. Nah ikat kepala kemudian diletakkan di bawah bantal, sedangkan keris adalah senjata yang diminta oleh kakaknya agar Suparti membunuh suaminya. Adegan ini tidak ada dalam cerita aslinya. Nampaknya kehadiran keris dimaksudkan untuk mempercepat lakon supaya segera selesai.

Begitulah, Suparti tidak sampai hati membunuh suaminya, keris ditinggal begitu saja, Suparti pergi. Ketika Banterang terbangun, menemukan keris dan ikat kepala, persis seperti yang dikatakan orang misterius yang bertemu Banterang sebelumnya. Banterang marah, mencari isterinya, menampar dan memarahinya. Pada puncak kemarahannya, tahu-tahu Suparti menghunus keris ke arah perutnya sendiri. Banterang kaget dan tersadar bahwa keris itu mengaurkan bau harum sebagaimana yang dikatakan Suparti. Berarti Suparti memang tidak bersalah.

Adegan pamungkas ini gagal menjelaskan pada penonton, bahwa lakon Banterang Surati ini sesungguhnya merupakan legenda asal muasal terjadinya nama (kota) Banyuwangi. Sebab kalau akhir cerita seperti pementasan ini, yang terjadi bukan banyu (air) wangi (harum), melainkan getih (darah) wangi.

Temu Haryono, pimpinan grup Sastra Dewa mengakui, bahwa babak kedua sengaja diringkes sedemikian rupa karena memang jatah waktunya sudah hampir habis. Dia tidak bisa mengendalikan babak pertama yang berlangsung sangat lama. Begitu pula babak selingan, yaitu lawak, yang juga lama sekali. Hampir sama waktunya dengan babak kedua.

Soal lawak ini nampaknya juga menunjukkan gagalnya grup ini memperoleh simpati penonton. Nampaknya materi lawak gaya ludrukan ini dihadirkan untuk mendekatkan emosi dengan penonton. Namun sayang sekali, lawakannya justru sudah sangat klise bagi penonton ludruk, bahkan jauh dibawah lucu dibanding ludruk aslinya. Meskipun, menurut Temu, di Banyuwangi lawakan Janger ya memang seperti itu.

Apa boleh buat, pementasan Janger ini memang merupakan pertunjukan yang hanya sebatas segar secara fisik. Busana dan musik Bali menjadikan tontonan dinamis dan sangat berbeda dibanding seni pertunjukan pada umumnya. Orang (awam) menjadi tahu, bahwa kesenian Banyuwangi juga seperti itu. Bukan hanya orang Bali yang sanggup memainkan musik bergemuruh dan rancak itu. Bahwa di Banyuwangi juga ada kesenian yang seperti Bali. Dan yang perlu ditegaskan, bahwa sesungguhnya Bali merupakan perluasan budaya Jawa. Budaya Bali adalah budaya Majapahit yang tersisa.

Justru dengan adanya Janger merupakan keistimewaan dari kesenian Jawa Timur itu sendiri. Bayangkan, ada pertunjukan yang musik dan busananya khas Bali, namun dialognya menggunakan bahasa Jawa Tengahan. Dan itu hanya ada di Banyuwangi, sebuah kawasan budaya yang justru memiliki bahasa sendiri, bahasa Using.

Jadi, perlu ada sarasehan tersendiri atau setidaknya publikasi yang memadai untuk membahas kesenian Janger yang sangat menarik dan unik ini. Begitu. (*)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kolaburasi lokal memberi nuansa baru mengeksplore kreatifitas, ataukah lebih suka ‘pure’ , semuanya kembali pada penggemar dan peminat seni itu sendiri … bravo pak Henri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: