Tradisi Lisan yang Diabaikan

Oleh Henri Nurcahyo

Apakah yang disebut Tradisi Lisan? Banyak orang yang hanya memahaminya sebatas dongeng, legenda, mitos atau semacamnya. Bahkan, mendengar istilah “tradisi lisan” saja masih asing. Padahal, tradisi lisan dapat menjadi kekuatan kultural dan salah satu sumber utama yang penting dalam pembentukan identitas dan membangun peradaban. Bahwa tradisi lisan merupakan salah satu deposit kekayaan bangsa untuk dapat menjadi unggul dalam ekonomi kreatif.

Dalam seminar internasional Lisan VIII di Tanjungpinang akhir Mei lalu, Robert Sibarani, guru besar antropolinguistik Universitas Sumatera Utara, menyatakan bahwa persoalan yang dihadapi bangsa ini ternyata tidak dapat diselesaikan dengan hanya mengandalkan teknologi modern dan kemajuan ilmu pengetahuan yang datang dari dunia Barat dengan sumber-sumber tertulis. Dengan permasalahan di seputar hilangnya kedamaian di tengah-tengah masyarakat dan jauhnya rakyat dari kesejahteraan dibutuhkan pendekatan budaya yang berasal dari tradisi budaya sebagai warisan leluhur dengan sumber-sumber lisan, yang disebut dengan tradisi lisan.

Namun realitanya posisi tradisi lisan masih terpinggirkan, potensinya masih terabaikan, dan masih banyak yang menganggap bahwa tradisi lisan hanyalah peninggalan masa lalu yang hanya cukup menjadi kenangan manis belaka. Tradisi lisan seolah-olah tidak relevan lagi dengan kehidupan modern yang semakin melaju sangat cepat selama ini. Kemajuan teknologi ternyata tidak disikapi secara arif sehingga semakin meminggirkan posisi tradisi lisan. Tradisi lisan berupa dongeng, kegenda,mitos dan sebagainya seringkali dianggap fiktif, padahal sangat terbuka kemungkinan besar untuk membuktikan bahwa dongeng, mitos, dan legenda itu merupakan fakta yang kebetulan tidak dituliskan. Pembuktian semacam itu tidak mungkin dilakukan ketika ilmuwan dan peneliti Indonesia apriori terhadap kebenaran tradisi lisan secara ilmiah. Dibutuhkan dekonstruksi sikap tentang status tradisi lisan dalam khazanah dunia ilmiah Indonesia.

Menurut batasan yang diberikan oleh UNESCO dalam konvensinya di Paris, 17 Oktober 2003, tradisi lisan tergolong yang disebut Intangible Cultural Heritage (ICH) yang harus dilindungi. Salah satu wujud tradisi lisan adalah bahasa, yang merupakan salah satu kekayaan kultural masyarakat Indonesia. Namun tradisi lisan yang biasa disampaikan melalui bahasa dan diabadikan dalam naskah, terancam punah. Hal itu karena derasnya globalisasi dunia luar. Kepedulian pemerintah daerah kepada warisan seni dan budaya nusantara pun masih kurang.

Tradisi lisan adalah kegiatan budaya tradisional suatu komunitas yang diwariskan secara turun-temurun dengan media lisan dari satu generasi ke generasi lain baik tradisi itu berupa susunan kata-kata lisan (verbal) maupun tradisi lain yang bukan lisan (non-verbal). Dengan pengertian ini, kata Robert Sibarani, tradisi lisan berbeda dari tradisi kelisanan karena tradisi kelisanan adalah tradisi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi lisan, sedangkan tradisi lisan adalah tradisi kegiatan tradisional yang disampaikan secara lisan seperti kebiasaan menari dan bermain gendang atau yang menggunakan media lisan seperti kebiasaan mendongeng.

Karena itu kebijakan yang diakukan oleh Gubernur Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk mewajibkan penggunaan bahasa daerah masing-masing dalam kesempatan tertentu layak mendapatkan apresiasi. Sayup-sayup pemerintah kota Surabaya dulu juga pernah punya kebijakan yang serupa, namun tidak jelas kabarnya sekarang. Tanpa bermaksud mengecilkan hal itu, namun kalau hanya sebatas kebijakan yang cenderung top down, maka penyelamatan bahasa daerah sebagai salah satu ICT ini tidak akan mencapai hasil maksimal.
Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono, dalam saiaran di BBC dan VOA mengatakan ratusan bahasa daerah di Indonesia terancam punah karena semakin jarang digunakan. Ia memperkirakan pada penghujung abad 21 ini hanya sekitar 10 persen saja yang akan bertahan. Atau, dari 746 bahasa daerah di Indonesia kemungkinan akan tinggal 75 saja. Hal ini dikuatkan oleh Peneliti senior Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Dendy Sugono menambahkan, sedikitnya 10 bahasa daerah di Papua dan Maluku Utara ditengarai punah dan 32 lainnya terancam punah. Pembinaan serta pengembangan bahasa oleh pemerintah daerah dan penutur asli mendesak dilakukan untuk menyelamatkan bahasa daerah. (Kompas, 26/6/11).

Meskipun merupakan warisan, tradisi lisan tidak terbebas dari proses perubahan, sejalan dengan pengalaman historis yang dialami pemiliknya. Perubahan dirasakan sebagai proses yang mengancam, menimbulkan kerisauan kultural yang banyak disuarakan oleh budayawan daerah dalam seminar yang merupakan rangkaian Revitalisasi Budaya Melayu (RBM) itu. Bahwa tradisi lisan suatu saat bisa punah, maka penting untuk segera membangun kesadaran bersama antara masyarakat umum, para ilmuwan, budayawan, dan juga pemerintah.

Robert Sibarani menegaskan, bangsa Indonesia memiliki kekayaan tradisi lisan yang luar biasa, yang tersebar di ratusan etnik di Indonesia sebagai warisan budaya masa lalu. Kekayaan tradisi lisan ini menjadi sumber kekayaan pengetahuan lokal yang dapat diterapkan dalam mengatasi secara arif persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa sekarang ini demi mempersiapkan masa depan generasi penerus bangsa. Itulah sebabnya tema besar yang perlu diusung dalam membicarakan tradisi lisan atau tradisi budaya adalah remembering the past, understanding the present, and preparing the future “mengingat masa lalu, memahami masa kini, dan mempersiapkan masa depan”. Tanpa memikirkan keberlanjutan (sustainability) tiga generasi itu dengan matang, sebuah bangsa tidak akan dapat maju mengemban cita-cita bangsa. Pembangunan tidak akan berhasil tanpa memikirkan generasi selanjutnya.

Karena itu, tradisi lisan harus disesuaikan dengan zaman agar dapat terus diterima. Namun, tradisi itu tidak boleh lepas dari masa lalu. Bagaimana caranya mengajak orang menoleh sejenak pada kebudayaan lama. Lalu berkreasi lagi, agar tradisi lisan diterima zaman sekarang. Kreasi yang disesuaikan dengan zaman akan membantu melestarikan tradisi lisan. Tradisi lisan tidak berarti harus bertahan dengan hal lama. Kreasi bukan hal yang tabu dalam mempertahankan tradisi.

Diperlukan upaya untuk memberi perhatian tradisi lisan dan komunitasnya jangan sampai masuk dalam minoritas atau termarginalkan. Mendiskripsikan tradisi lisan dibutuhkan sebagai salah satu sumber pembentukan identitas dan karakter bangsa. Pilihan tema ”Dari Ingatan ke Kenyataan (From Memory to Reality)” dalam seminar itu dipahami, bahwa ingatan (memory) merupakan salah satu aspek kunci untuk penetapan identitas: identitas diri, identitas kelompok/komunitas, dan identitas bangsa. Akan tetapi, ingatan itu sering diabaikan. Ingatan dianggap sebagai penghambat dan hanya sebagai bagian dari masa lalu saja. Padahal, sebagaimana kata Wittgenstein, ingatan adalah sebuah proses sosial yang dinamis. Ingatan yang berada di antara ranah kognitif dan ilmu sosial memungkinkan banyak hal berbeda terjadi dalam pembentukan peradaban manusia.

Tradisi lisan juga merekam memori kolektif masyarakat. Memori itu adalah modal penetapan indentitasnya. Namun, memori kerap hadir bersama persepsi. Memori menentukan identitas pribadi, komunitas, dan Bangsa. Persepsi menentukan sikap dan gerak pribadi bertindak. Masalahnya, saat ini cenderung terjadi persepsi sebagai penentu identitas. Persepsi seseorang didorong menjadi persepsi komunitas, sehingga muncul penyeragaman. “Kami mendorong memori kembali dijadikan penentu identitas. Kami juga mengingatkan memori terus bergerak, tidak berhenti di masa lalu,” kata Pudentia, ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
Salah satu rekomendasi dalam seminar itu adalah, lembaga formal (terutama pendidikan) perlu mengambil peranan aktif dalam upaya mewariskan dan mengembangkan tradisi lisan. Sebab bahan ajar yang tersedia untuk ”muatan lokal” di sekolah-sekolah mengenai budaya lokal selama ini dalam bentuk tulisan. Tantangan kita adalah bagaimana menyediakannya dalam bentuk lisan, sehingga penyajian Syair Melayu, misalnya, yang kaya akan aneka ragam melodi untuk mengungkapkan berbagai nuansa emosi (seperti senang, sedih, marah, dsb.), keindahannya dapat dirasakan untuk dinikmati oleh para peserta didik dan lebih melicinkan jalan mereka untuk menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Diperlukan upaya untuk mendorong berbagai usaha mempercepat proses penguatan tradisi lisan sebagai identitas budaya dalam membangun peradaban. Bahwa kegiatan penguatan tradisi lisan dalam arti melakukan revitalisasi tradisi lisan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat pendukungnya. Sebab dinamika tradisi lisan tergantung juga pada dinamika masyarakat pendukungnya, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian usaha yang mengasingkan tradisi lisan dari masyarakat pendukungnya, baik yang diartikan sebagai penutur maupun yang mencakupi penonton dan pihak lain selaku pendukung tidak menjadikan tradisi lisan semakin kehilangan kekuatannya.

• Henri Nurcahyo, sekjen Asosisiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur

NB: Artikel ini dimuat di Jawa Pos, Minggu, 10 Juni 2012

Iklan

2 Tanggapan

  1. apa yg bsa d buat cntoh untuk tradisi lisan?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: