Catatan Kepergian Sahabat

Aku sendiri heran, sejak baca berita kepergiannya di inbox dari teman kuliah, aku lgs jatuh sedih, menangis, sulit menahan air mata. Tangisku tumpah saat bersalaman dg istrinya. Aku nangis saat baca Yasin, bicara di telp, bahkan saat sms sekalipun. Juga ketika ada sambutan mengantar jenazahnya. Entah kenapa aku sedemikian sangat sedih. Padahal bukan keluarga, jarang ketemu, hanya akrab saat kuliah 35 tahun yg lalu..

Namanya Arief Yulianto, aku mengenalnya awal tahun 1977, saat sama-sama masuk menjadi mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM). Kami langsung akrab karena sama2 berasal dari Surabaya. Bersama dengan Wawan, kami bertiga selalu bersama dalam banyak kesempatan di kampus. Maklum sebagai mahasiswa baru kami blm banyak punya teman. Teman2 lain juga cenderung mengelompok dg sesama daerah asalnya. Ada lagi teman perempuan, namanya Wiwik. Kemudian ikut bergabung Rini dari Jakarta, Ninik dari Solo, Luluk dari Mojokerto. Kami mendeklar semacam genk pertemanan, namanya HaHuHa. Sempat bikin kaos dengdengan gambar simbol bagian dari kereta api. Ini ada ceritanya sendiri, nanti saja.

(Bersambung)

Jatim Art Now, alias JAN CUK

OLEH
HENRI NURCAHYO

Banjir karya Arifin Petruk


Jatim Art Now (JAN) adalah sebutan yang mudah memantik perdebatan. Pertama, sebagai sebuah titel pameran seni rupa langsung mengingatkan Bandung Art Now sehingga ada kesan meniru, kurang kreatif, dan semacam itulah. Makanya kemudian ada usulan agar titel pameran ini dipertimbangkan saja untuk diganti. Padahal, jauh sebelum itu sudah ada sebutan China Art Now. Jadi, siapa meniru siapa? Lagi pula, Jatim itu nama provinsi, Bandung itu nama kota, dan China adalah nama negara atau bangsa. Beda kan…. Dasar tukang ngeyel….. Baca lebih lanjut