Jatim Art Now, alias JAN CUK

OLEH
HENRI NURCAHYO

Banjir karya Arifin Petruk


Jatim Art Now (JAN) adalah sebutan yang mudah memantik perdebatan. Pertama, sebagai sebuah titel pameran seni rupa langsung mengingatkan Bandung Art Now sehingga ada kesan meniru, kurang kreatif, dan semacam itulah. Makanya kemudian ada usulan agar titel pameran ini dipertimbangkan saja untuk diganti. Padahal, jauh sebelum itu sudah ada sebutan China Art Now. Jadi, siapa meniru siapa? Lagi pula, Jatim itu nama provinsi, Bandung itu nama kota, dan China adalah nama negara atau bangsa. Beda kan…. Dasar tukang ngeyel…..

Kedua, sebutan Jatim Art Now itu dianggap salah kaprah dalam tatabahasa. Jatim itu akronim dari Jawa Timur (dalam bahasa Indonesia), tetapi Art Now adalah bahasa Inggris. Mengapa tidak bahasa Inggris semua, East Java Art Now atau pakai bahasa Indonesia semua saja: Seni Jatim Masa Kini…. Sekali lagi karena tukang ngeyel maka ada saja alasannya. Bahwa Jatim itu sudah menjadi nama dari sebuah provinsi. Dan sebagai nama, tidak bisa diterjemahkan satu persatu. Kalau tidak percaya, di kota Batu, Jawa Timur, ada sebuah tempat rekreasi bernama Jatim Park dan bukan disebut East Java Park. Di Surabaya juga ada gedung pertemuan atau pameran yang bernama Jatim Expo dan bukan East Java Expo (belakangan sudah ganti nama Jx International).

Ketiga, yang disebut Jawa Timur itu yang mana? Apakah yang dimaksudkan di sini adalah perupa (ini juga salah kaprah, padahal yang dimaksud hanya pelukis) yang tinggal di Jawa Timur, ataukah perupa asal Jatim yang kemudian tinggal dimana saja. Jangan-jangan perupa yang hanya numpang lahir di sebuah desa di Jatim dan tak pernah menginjakkan kakinya lagi ke tanah kelahirannya, lantas layak dimasukkan sebagai perupa yang berhak mengikuti pameran ini.

Keempat, mengapa untuk urusan kesenian mesti dikotak-kotakkan atas nama provinsi? Apakah ini memang proyek Pemerintah Provinsi Jawa Timur? Penggagas, pelaksana dan kepanitiaan pameran ini murni dari kalangan seniman sendiri. Mereka patungan. Tidak (belum) ada bantuan dari pemerintah sebagaimana pemerintah juga wajib membantu warganya. Dan yang namanya Jawa Timur sebagai sebuah provinsi itu luas sekali, mulai dari ujung timur Banyuwangi sampai di bagian paling barat selatan di Pacitan. Mulai ujung Tuban sampai kepulauan kecil di timur Sumenep Madura. Sementara di wilayah yang amat luas itu memiliki banyak sub-etnis yang berbeda-beda. Jatim adalah sebuah wilayah administratif politis, dan bukan sebuah wilayah kesenian.

Kelima, menyebut Jawa Timur seolah-olah identik dengan (kota) Surabaya, meski Surabaya hanyalah ibukota provinsi itu. Maka Jatim identik dengan Bonek alias Bondo (modal) Nekat, sebuah idiom penggemar sepakbola yang oleh sebagian orang dicap suka bikin rusuh namun dengan bangga menyebut diri fanatisme yang heroik. Sebuah stasiun televisi yang mengklaim Bonek sebagai perusuh, langsung didemo kantor perwakilannya, dan dipaksa membuat penyataan maaf. Televisi nasional itupun nurut saja. Namun hanya berselang beberapa hari terjadi peristiwa Bonek bikin rusuh, semua media massa memuat dan menyebut Bonek dengan gamblang, tetapi stasiun TV itu saja yang hanya menyebut “kerusuhan yang dilakukan oleh sebuah penggemar sepakbola….” Halaah…

Ya sudahlah, persoalan keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya masih dapat saja dilanjutkan kalau mau dibuat panjang. Yang jelas, Jatim sebagai sebuah wilayah, identik dengan hegemoni Surabaya, memang dikenal warganya bersifat terbuka, egaliter, dan berani. Tentu saja klaim seperti itu sulit dibuktikan secara empiris, sebab lebih bernuansa klaim politis. Sama saja dengan klaim bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan sopan santun, apakah ini klaim politis atau empiris? Kalau memang bangsa yang ramah, apakah yang bisa kita katakan perihal tawuran dan konflik antar golongan serta tindakan kekerasan demi memaksakan kepentingan kelompoknya sendiri? Sebagai sebuah bangsa yang sopan, mengapa bangsa ini pelit sekali mengucapkan kata maaf dan terima kasih? Bandingkan dengan bahasa Inggris yang sedikit-sedikit bilang thank you dan excuse me atau sorry.

Hegemoni Surabaya ini memang sudah mewabah dalam banyak hal, tidak terkecuali seni rupa. Padahal kantong-kantong seni rupa di Jatim justru tumbuh subur di Banyuwangi, Batu, Malang, dan menyebar di Tulungagung, Pasuruan, Tuban dan sebagainya. Surabaya malah gagal menjadi pusat perkembangan seni rupa Jatim karena masing-masing kantong itu justru memiliki orientasinya sendiri. Banyuwangi lebih mengorbit ke Bali, sementara di Jatim kawasan barat lebih menoleh ke Yogyakarta. Sementara banyak perupa potensial yang berjaya sebagai pemain tunggal. Surabaya gagal hadir sebagai madzab dalam seni rupa sebagaimana Yogyakarta, Bandung, dan Bali. Itu sebabnya sudah sejak lama sekali Surabaya selalu iri kalau ada pameran keliling, selalu bermula di Jakarta, Bandung, Yogya dan langsung melompat ke Bali. Kadang malah mampir ke Malang, bukan Surabaya.

Jadi yang mau dipromosikan yang mana? Jatim apa Surabaya? Surabaya apa Jatim? Atau Jatim dan Surabaya tidak penting, tapi yang penting “apa”-nya. Artinya, pakai nama Surabaya, Jatim, atau nama apapun yang penting “apa” yang mau dipamerkan. Apakah “apa” itu memang sudah layak dipamerkan sebagai sebuah kebanggaan? Kalau hanya sekadar Jatim atau Surabaya namun ternyata “apa” (baca: kontennya) jelek, apa memang masih mau bersikeras dengan kejelekannya? Jangan-jangan layak disebut “jelek” saja belum. Percuma saja membanggakan nama Surabaya, Jatim, dan pakai bahasa Inggris “Art Now” kalau ternyata karya-karya yang dipamerkan hanya begitu-begitu saja.

Karena itulah saudara-saudara, sebaiknya jangan persoalkan dulu nama Jatim atau sebutan Art Now atau nama pameran “Jatim Art Now” kali ini. Perhatikan saja karya-karya yang dipamerkan. Kalau ada yang bagus, carilah siapa nama pelukisnya, asalnya dari Jatim di kota mana. Jatim itu bukan sebuah kesatuan wilayah budaya yang sama, Surabaya juga bukan sebuah madzab, apalagi Jatim. Bahwa yang disebut Surabaya atau Jatim itu adalah sebuah keberagaman. Percuma saja memaksakan diri menyebut ciri khas seni rupa Surabaya atau Jatim. Tidak ada manfaatnya memaksakan keseragaman lantaran sejatinya adalah sebuah keberagaman. Bahwa yang namanya (budaya) Jawa Timur itu bisa Surabaya dan Malang (Arek), Madura, Osing (Banyuwangi), Pandalungan (Probolinggo, Jember, Lumajang dan sebagainya), bisa juga Mataraman (Madiun, Kediri, Tulungagung dan wilayah barat), serta juga kawasan pantura (Tuban, Gresik) yang lekat dengan budaya Islami.

Jawa Timur, dan Surabaya khususnya, adalah sebuah wilayah keberagaman budaya. Jatim identik dengan Bonek. Bayangkan, bagaimana tidak Bonek kalau untuk menggelar pameran ini saja sudah berani mematok tempat di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali. Padahal, sama sekali tidak ada penyandang dana yang betul-betul layak diharapkan. Jadi wajar saja kalau nama-nama beken merasa tidak penting ikut pameran, mengundurkan diri, mungkin karena mereka menganggap pameran ini hanya cocok untuk pelukis yang masih “belajaran”. Gak papa, sah-sah saja.

Warga Jatim boleh-boleh saja mengklaim sebagai warga yang Cerdas, Ulet dan Kreatif sebagaimana semangat yang dikibarkan hingga menjadi pameran yang sedang berlangsung sekarang ini (22 Juni – 5 Juli di Galeri Nasional). Jatim Art Now adalah pameran seni rupa warga Jatim yang Cerdas, Ulet dan Kreatif (CUK), jadi kalau disingkat; Jatim Art Now, Cerdas, Ulet dan Kreatif (baca: JAN CUK). Sudahlah, jangan diperpanjang lagi. Salam Jan Cuk. (*)

*) Henri Nurcahyo, pekerja seni budaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: