Menuju Profesionalitas Lembaga Pertunjukan Rakyat

Catatan Henri Nurcahyo

1. Pernah dengar parikan ini?
Bekupon Omahe Doro, Melok Nippon Tambah Soro
Parikan terkenal itu dikumandangkan oleh Cak Durasim, tokoh ludruk legendaris yang dimakamkan di pemakaman Tembok Surabaya, dan namanya diabadikan menjadi nama gedung pertunjukan di kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali Surabaya. Cak Durasim adalah seniman Ludruk sekaligus adalah Pejuang. Pada tahun 1942 ketika tentara Jepang menguasai negeri ini melalui Ludruk sebagai media siar. Dia membangkitkan semangat juang arek-arek Surobojo dan mengkritik pemerintah penjajah, di dalam pementasan drama Ludruknya. Selain menceritakan legenda Surabaya Cak Durasim juga mementaskan cerita perjuangan-perjuangan lokal masyarakat Jawa Timur. Selain itu gendhing Jula-Juli Surabaya isinya mengkritik pemerintah penjajah.

Pada puncaknya waktu pentas di Keputran Kejambon Surabaya Cak Durasim melantunkan Kidungan yang sangat populer yang berbunyi :“Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro” – Bekupon Sangkar burung dara, Ikut NIPPON (Jepang) bertambah sengsara”.
Yang artinya : kehidupan pada jaman Jepang lebih sengsara dibanding dengan kehidupan di jaman penjajah Belanda. Kidungan ini yang menyebabkan Cak Durasim dipenjarakan dan disiksa oleh tentara Jepang. Pada tahun 1944 Cak Durasim menghembuskan nafas terakhir di dalam penjara.

Kidungan tersebut bukan sekadar menyampaikan persamaan bunyi dalam persajakan, namun ada pilihan cerdas terhadap kata “bekupon” dan juga “doro”. Bekupon adalah rumah (sangkar) kecil untuk burung dara yang biasanya ada di kampung-kampung. Sedangkan doro atau merpati adalah lambang kebebasan, perdamaian, atau kemerdekaan.

2. Menyampaikan pesan-pesan sosial sudah sejak lama dilakukan melalui Pertunjukan Rakyat. Lembaga pertunjukan rakyat atau Pertura adalah salah satu bentuk lembaga komunikasi sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Pertura digagas tidak hanya menonjolkan seni pertunjukan semata namun juga diharapkan mampu membawa pesan-pesan tertentu yang diselipkan dalam setiap penayangannya. Persoalannya, pesan seperti apa yang harus dibawakan? Bagaimana cara membawakannya sehingga tidak terjebak menjadi tukang jual obat? Bagaimanapun Pertura adalah sebuah seni pertunjukan, yang tetap terikat dengan kaidah-kaidah kesenian yang dapat menghibur, menyajikan pertunjukan yang bermutu, sekaligus dapat menyampaikan pesan secara efektif tanpa terkesan menggurui. Untuk itu dibutuhkan kreativitas seniman yang menjalankannya, dibutuhkan kecerdasan tersendiri untuk menyampaikannya agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

3. Kreativitas dan kecerdasan itulah yang berhasil dilakukan oleh seorang Garin Nugroho. Ketika dia mendapat pesan layanan masyarakat terkait partisipasi dalam pemilihan umum, iklannya yang terkenal adalah menampilkan sosok perempuan dari Minahasa dan berkata: “inga, inga….” (dibaca: ingak, ingak). Kalau ada yang menirukannya, maka yang mendengar akan menyahut “thing” sambil mengedipkan sebelah mata. Iklan itu jadi sangat populer karena pinternya Garin bikin iklan Pemilu, sebuah program pemerintah yang membuat orang alergi kalau keliru menyampaikannya.

4. Supaya jelas di awal, bahwa yang dimaksud Pertura adalah seni pertunjukan yang berada di tengah-tengah masyarakat, dibawakan oleh rakyat biasa (bukan artis yang elitis), melakonkan cerita seputar kehidupan sehari-hari atau folklor (legenda, dongeng) yang akrab dengan rakyat kebanyakan, tidak menggunakan gedung permanen untuk mementaskannya, bahkan seringkali digelar di lapangan atau halaman kampung biasa. Contoh Pertura dapat digolongkan sebagai seni pertunjukan yang menggunakan atau memiliki elemen dialog misalnya: Ketoprak, Ludruk, Kentrung, Janger Banyuwangi, Pentul Tembem, Kethek Ogleng, Topeng Dalang, Wayang Kulit, Wayang Topeng, Wayang Klithik, dan banyak lagi. Sedangkan golongan lainnya adalah seni pertunjukan yang nyaris tidak memerlukan dialog seperti Dungkrek, Jaranan, Reog Ponorogo, Mungdhe, Tayub dan berbagai jenis tarian rakyat lainnya.

5. Yang tidak boleh kita lupakan adalah, bahwa sudah sejak lama Lembaga Pertunjukan Rakyat (Pertura) digunakan sebagai alat propaganda oleh pihak penguasa sesuai dengan kepentingan politik. Apa yang terjadi pada masa Orde Lama dan Orde Baru setidaknya dapat dipetik sebagai pelajaran mahal untuk diambil hikmahnya pada masa sekarang ini.

6. Ketika PKI masih berjaya, banyak Pertura yang menjadi corong komunisme, mungkin karena ada hubungan emosional yang sama-sama menyuarakan kepentingan rakyat. Maka ketika roda sejarah berputar, komunisme dilarang di negeri ini, banyak Pertura yang jadi korban. Mereka bangkrut karena ikut dibenci masyarakat, dikucilkan secara politis, bahkan ada yang diburu dan dibunuh tanpa ada proses peradilan apa-apa. Era pasca keruntuhan PKI, banyak Pertura yang trauma bicara nasib rakyat, mengkritisi kebijakan pemerintah, dan mereka cenderung memilih amannya saja. Tidak jarang kelompok ludruk (sekadar contoh) yang kemudian langsung dibina oleh institusi militer seperti Angkatan Darat, Kepolisian, bahkan ada yang jelas-jelas berlindung dibalik ketiak Kodim atau Koramil.

7. Situasi berbalik 180 derajat ketika Soeharto berkuasa. Banyak pertura yang menjadi corong pemerintah, menjadi alat propaganda Golkar, memuji-muji keberhasilan pemerintah tanpa berani mengkritisi. Banyak pertura yang tegas-tegas menggunakan identitas pro-pemerintah, bahkan busana dan perangkat keseniannya pun menggunakan warna kuning, identitas warna Golkar sebagai orsospol yang sedang berkuasa. Tidak perlu heran kalau pementasan pertura tak ubahnya siaran penerangan program pemerintah. Dan kemudian, ketika kemudian situasi politik berubah lagi, Soeharto turun tahta, bagaimanakah nasib Pertura? Mereka bingung mencari pegangan, meski tidak mengalami nasib tragis sebagaimana ketika dulu Pertura menjadi corong komunisme.

8. Sementara itu, diam-diam ada Pertura yang cenderung mencari selamat. Mereka lebih memilih menjadi sarana promosi produk komersial seperti obat-obatan dan komoditas sehari-hari yang dibutuhkan masyarakat. Yang namanya iklan produk bukan hanya menjadi selingan belaka, melainkan langsung masuk dalam dialog pertunjukan.

9. Pada era reformasi, dalam situasi politik yang meriah berupa pemilihan anggota legislatif dan kepala daerah dilakukan secara langsung, maka lagi-lagi Pertura menjadi primadona untuk menjadi corong kampanye berbagai partai politik atau pihak-pihak yang maju dalam pemilihan langsung. Ada seniman Pertura yang terang-terangan menjadi Tim Sukses Calon Bupati atau Calon Gubernur (dengan risiko menjadi tenggelam kalau kalah atau menjadi kroni penguasa kalau menang), ada Pertura yang memilih sikap yang “kanan-kiri oke” yang penting dibayar jelas, namun ada pula yang bersikap netral, sama sekali tidak mau ikut-ikutan kampanye politik.

Potensi Pertura

10. Menyimak catatan perjalanan di atas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya Pertura memiliki potensi besar sehingga berbagai pihak berusaha memanfaatkan sesuai kepentingannya. Pertura adalah sarana paling efektif untuk menyampaikan pesan kepada rakyat dengan cara-cara yang tidak dogmatis, namun mampu menghibur. Pada posisi ini sesungguhnya Pertura berada di pihak yang dibutuhkan, dan bukan membutuhkan. Pertura adalah subyek, bukan obyek. Tetapi dalam prakteknya, justru Pertura sendiri yang memposisikan dirinya sebagai pihak yang membutuhkan demi keberlangsungan kehidupannya. Hanya dengan perut mereka menggadaikan harga dirinya. Padahal, logikanya, sebagai pihak yang “dibutuhkan” seharusnya Pertura memiliki posisi tawar yang kuat dan tidak mudah dikendalikan oleh siapapun yang berusaha memperalatnya hanya demi kepentingan pihak yang menanggapnya. Silakan saja menjadi juru bicara pemerintah, sponsor perusahaan, calon gubernur, bupati atau anggota DPR. Tetapi jangan jadi korban ketika kemudian si pemesan ternyata tidak disukai masyarakat.

11. Persoalannya kemudian, bagaimana meningkatkan posisi tawar tersebut? Jawabannya adalah membangun profesionalitas Pertura itu sendiri. Dalam kondisi Pertura yang profesional, maka Pertura tidak akan diombang-ambingkan oleh siapapun hanya demi mempertahankan kelangsungan kehidupannya. Bukan berarti Pertura tidak boleh menyampaikan pesan-pesan titipan (politik, komersial, etika atau apapun) tetapi Pertura seharusnya memiliki kesempatan untuk menseleksi dan mengelola sedemikian rupa muatan pesan itu sehingga tidak semata-mata hanya menjadi alat belaka. Pertura dapat tampil dengan gagah, bermain dengan bagus, tetap disenangi penontonnya, namun sekaligus dapat menyampaikan pesan-pesan yang dititipkan sponsornya.

12. Untuk menjadi profesional, Pertura harus mampu tampil menjadi pertunjukan yang mampu memikat penonton. Mengambil contoh pertura ludruk misalnya maka daya pikat itu dapat dibangun melalui: (a) sajian lakon yang sarat humor; (b) adegan laga yang atraktif; (c) daya pikat dengan pemain perempuan atau pavestri yang cantik; (d) memaksimalkan elemen musik tidak sekadar menjadi iringan belaka; (e) mengetengahkan lakon atau dagelan yang sarat kritik sosial; (f) pertunjukan yang singkat, padat namun tetap mempesona. Dan seterusnya dan sebagainya.

13. Profesionalitas juga menyangkut pengelolaan manajemennya. Sudah menjadi rahasia umum banyak Pertura yang dikelola dengan pola Manajemen Juragan. Begitu sang Boss meninggal dunia, maka Pertura itu menjadi berantakan. Jarang ada Pertura yang dikelola dengan tatanan organisasi sederhana yang rapi. Bahwa ada grup seni pertunjukan yang sudah dikelola dengan rapi, ternyata mampu berjalan dengan baik tanpa harus tergantung pada sosok juragan. Bahwa juragan mereka adalah sistem, bukan person. Manajemen kelembagaan ini sangat penting agar pertura tidak langsung menyerah pada modernisasi dan menganggap bahwa seni tradisi memang pantas mati. Yang seringkali terjadi, seni tradisi harus larut menggadaikan pakemnya hanya semata-mata ingin laris. Padahal, persoalannya bukan pada konten pertunjukannya, melainkan bagaimana manajemen produksinya, seperti promosi dan strategi marketing yang seringkali belum dijalankan sama sekali. Jangan langsung menyalahkan televisi dan orkes dangdut kalau pertura memang belum melakukan pembenahan manajemen kelembagaan. (contoh kasus: gedung ludruk digusur, diganti dangdut atau disko karena dianggap lebih disukai masyarakat. Wayang beber yang statis dapat disukai masyarakat kalau tahu bagaimana cara menyajikannya). Dibutuhkan SDM manajer untuk menangani pertura atau seni tradisi agar tidak mati tergilas zaman. (contoh G-Walk Festival di Surabaya, seni tradisi menjadi tontonan yang mengasyikkan).

14. Profesionalitas adalah juga bagaimana menjadikan sebuah kelompok Pertura menjadi semacam Home Industri dengan diversifikasi usaha yang kreatif. Pertura dapat dikelola dengan pendekatan ekonomi kreatif, sehingga pemasukan dari hasil pertunjukan bukan menjadi pendapatan yang utama. Sebuah grup Pertura dapat memberdayakan seluruh pemain dan krunya di luar urusan pertunjukan, bahkan termasuk juga anggota keluarganya. Masih banyak lapangan kerja yang dapat diciptakan yang terkait dengan main bussiness sebagai kelompok seni pertunjukan itu sendiri. Tidak perlu mencari usaha terlalu menyimpang, tetapi yang terkait saja, dan terus melebar, meluas, sampai berjaringan dengan kelompok-kelompok lain.

15. Beberapa “rumus” di atas memang lebih mudah disampaikan ketimbang dijalankan. Tetapi yang paling penting adalah berani memulai, berani gagal, berani mencoba lagi, berani bertahan, berani kompetisi dan sebagainya. Ini bukan resep ajaib untuk menyembuhkan sebuah penyakit parah melainkan sesungguhnya adalah langkah sederhana yang sudah ada yang memulai di kalangan Pertura sendiri. Sesungguhnya, sudah ada pertura yang berhasil eksis dengan caranya sendiri. Merekalah yang seharusnya menjadi “guru” untuk dapat menularkan pengalamannya. Ceramah ini hanyalah sekadar pemacu semangat agar kita semua tetap dapat bertahan, tetap kreatif di tengah banyak persoalan, dan jangan hanya menghamba pada bantuan pemerintah. Bahwa pemerintah harus membantu pertura itu memang sudah kewajibannya, tetapi nasib pertura sesungguhnya ada di tangan seniman pertura sendiri.

Demikianlah, ini adalah sekadar pengantar untuk berdiskusi. Tidak ada maksud untuk menggarami lautan. Guru terbaik adalah pengalaman dan diri sendiri.

Sekian, mohon maaf dan terima kasih.

Sidoarjo, 16 Juli 2012

Biodata:
Henri Nurcahyo adalah pengamat dan penulis seni budaya, Sekjen Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur.

Kontak
HP : 0812 3100 832,
Email : henrinurcahyo@gmail.com,
Weblog : henrinurcahyo.wordpress.com, brangwetan.wordpress.com.

Catatan: Makalah ini dibawakan dalam acara “Pembinaan Lembaga Pertunjukan Rakyat se-Bakorwil Bojonegoro” 18 Juli 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: