Menuju Profesionalitas Pertunjukan Rakyat Madura

Catatan Henri Nurcahyo

1. Berbicara mengenai “Peran Lembaga Pertunjukan Rakyat sebagai Sarana Penyebarluasan Informasi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat” sebenarnya ibarat abujâi saghârâ ketika ditujukan pada seniman dan warga Madura pada umumnya. Sebab sejarah seni pertunjukan rakyat (pertura) di Madura sebetulnya justru sudah biasa membawakan pesan-pesan untuk disampaikan pada penontonnya. Hal ini sudah berlangsung sejak lama sekali, ketika para Wali menyebarkan agama Islam dengan menggunakan pertura sebagai sarana dakwah. Jadi apa lagi yang musti disampaikan? Bukankah budaya Madura sangat kaya dengan peribahasa dalam jumlah yang sangat besar? Sangat banyak sekali ca’-oca’an dalam bentuk parèbhâsan, bhâbhâsan, saloka, parocabhân, atau juga parompamaan, parsemmon, dan bângsalan.

2. Pertura di Madura juga sudah banyak memanfaatkan bahasa tutur seperti Lalongèdan atau Jhung-kèjhungan (kidung), puisi yang dinyanyikan dengan susunan seperti pantun, syiir dan paparèghân (sejenis gurindam). Demikian pula di Madura juga dikenal bâng-tembhângan¸ yang tidak berbeda banyak dengan tembang macapat dalam budaya Jawa yang dibagi dalam bentuk-bentuk seperti sinom, maskumambang, kasmaran, pucung, megatruh, dandanggula dan sebagainya. Pergelaran bâng-tembhângan ini umumnya dilakukan melalui mamacan, yaitu pembacaan bersama sebuah kakawin sering diiringi dengan seperangkat kecil gamelan, gambang atau hanya seruling saja. Barangkali ini mirip kentrung di Jawa.

3. Bentuk pertura lainnya yang mirip mamaca namun tanpa iringan musik adalah diba’i dan barzanji yang sering dijadikan mata acara tetap dalam perkumpulan arisan. Sedangkan bentuk yang mirip namun dengan iringan musik rebana adalah Hadrâh, lalu ada samman dengan iringan gendang, organ dan seruling, musik gambus dengan iringan mandolin, biola, akordion dan bas, untuk mengiringi lagu yang dibawakan sambil menari. Masih ada lagi yang populer untuk kaum wanita yaitu samrah.

4. Dari berbagai pertura tersebut, yang nampaknya harus bertahan di tengah gempuran modernisasi dan seni pop adalah luddruk atau kadang disebut dengan katopra’ atau ajhing atau juga bâjâng topeng dhâlâng, pertura yang dianggap seni teater khas Madura yang juga hidup di daerah pandalungan. Demikian juga profesi pendongeng atau tukang cerita tidak lagi berkembang dan tumbuh subur sebagaimana dulu. Meskipun, di Sumenep ada kawasan bernama Bhujhânggân yang berarti desa tempat pemukiman para pujangga.

5. Masih banyak contoh-contoh pertura di Madura sebagaimana berhasil dideskripsi dengan baik oleh antropolog Perancis, Hélène Bouvier, dalam buku yang sudah diterjemahkan berjudul “Lèbur! Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura”. Dan satu hal yang pantas menjadi catatan tersendiri adalah, bahwasanya peranan pertura di Madura memiliki posisi yang khas, bukan menjadi hiburan atau hanya menyampaikan pesan-pesan sosial belaka, melainkan banyak bernuansa agamis. Hal ini nampaknya merupakan jejak tersimpan dari kebiasaan yang dilakukan para Wali dalam berdakwah menyebarkan agama Islam.

Potensi Pertura Madura

6. Menyimak catatan pengamatan di atas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya Pertura di Madura memiliki potensi besar sehingga seharusnya dapat memberikan kontribusi besar dalam perubahan sosial di masyarakat. Pertura di Madura sudah sepantasnya menjadi elemen penting dalam suprastruktur berbagai program pemerintah ataupun kalangan yang berkepentingan dengan infiltrasi nilai-nilai baru di masyarakat. Pertura adalah sarana paling efektif untuk menyampaikan pesan kepada rakyat dengan cara-cara yang tidak dogmatis, namun mampu menghibur. Pada posisi ini sesungguhnya Pertura berada di pihak yang dibutuhkan, dan bukan membutuhkan. Pertura adalah subyek, bukan obyek. Namun sangat disayangkan, dalam prakteknya justru Pertura sendiri yang memposisikan dirinya sebagai pihak yang membutuhkan demi keberlangsungan kehidupannya. Hanya dengan perut mereka menggadaikan harga dirinya. Padahal, logikanya, sebagai pihak yang “dibutuhkan” seharusnya Pertura memiliki posisi tawar yang kuat dan tidak mudah dikendalikan oleh siapapun yang berusaha memperalatnya hanya demi kepentingan pihak yang menanggapnya. Silakan saja menjadi juru bicara pemerintah, sponsor perusahaan, calon gubernur, bupati atau anggota DPR. Tetapi jangan jadi korban ketika kemudian si pemesan ternyata tidak disukai masyarakat.

7. Persoalannya kemudian, bagaimana meningkatkan posisi tawar tersebut? Jawabannya adalah membangun profesionalitas Pertura itu sendiri. Dalam kondisi Pertura yang profesional, maka Pertura tidak akan diombang-ambingkan oleh siapapun hanya demi mempertahankan kelangsungan kehidupannya. Bukan berarti Pertura tidak boleh menyampaikan pesan-pesan titipan (politik, komersial, etika atau apapun) tetapi Pertura seharusnya memiliki kesempatan untuk menseleksi dan mengelola sedemikian rupa muatan pesan itu sehingga tidak semata-mata hanya menjadi alat belaka. Pertura dapat tampil dengan gagah, bermain dengan bagus, tetap disenangi penontonnya, namun sekaligus dapat menyampaikan pesan-pesan yang dititipkan sponsornya.

8. Untuk menjadi profesional, Pertura harus mampu tampil menjadi pertunjukan yang mampu memikat penonton. Mengambil contoh pertura ludruk misalnya maka daya pikat itu dapat dibangun melalui: (a) sajian lakon yang sarat humor; (b) adegan laga yang atraktif; (c) daya pikat dengan pemain perempuan atau pavestri yang cantik; (d) memaksimalkan elemen musik tidak sekadar menjadi iringan belaka; (e) mengetengahkan lakon atau dagelan yang sarat kritik sosial; (f) pertunjukan yang singkat, padat namun tetap mempesona. Dan seterusnya dan sebagainya. Hanya saja, khusus Pertura Madura, diantara elemen-elemen tersebut perlu ada muatan agamis dalam menyampaikan pesan-pesan sosialnya. Bahwasanya berdakwah melalui pertura akan lain ceritanya ketimbang disampaikan dalam ceramah yang monoton ataupun yang berapi-api sekalipun.

9. Seni Pertura Alalabang adalah sebuah contoh kasus yang menarik. Seni pertunjukan ini merupakan kreativitas yang menggabungkan mamaca dan topeng dhalang. Kendala bahasa dalam mamaca untuk penonton yang tidak memahami bahasa Madura, dapat diatasi dengan sajian Topeng Dalang yang visual. Arti harafiah Alalabang adalah mengamen dari pintu ke pintu (Labang). Alalabang dapat disajikan sebagai pertunjukan sakral sebagaimana dipesan untuk acara-acara ritual. Tetapi pada saat yang lain ditampilkan sebagai seni hiburan dalam acara hajatan. Kedua karakter ini harus ditentukan lebih dulu untuk kemudian dapat dieksplorasi lebih dalam agar mampu tampil maksimal. Apakah pertunjukan memang dikesankan sebagai sajian yang sakral, ataukah sebuah pertunjukan yang menghibur, interaktif dan penuh gelak tawa penonton. Namun terlepas dari hal ini, kreativitas mengkreasikan Alalabang ini patut diapresiasi dan terus diseriusi agar pertura Madura tidak punah digilas zaman.

10. Profesionalitas juga menyangkut pengelolaan manajemennya. Sudah menjadi rahasia umum banyak Pertura yang dikelola dengan pola Manajemen Juragan. Begitu sang Boss meninggal dunia, maka Pertura itu menjadi berantakan. Jarang ada Pertura yang dikelola dengan tatanan organisasi sederhana yang rapi. Bahwa ada grup seni pertunjukan yang sudah dikelola dengan rapi, ternyata mampu berjalan dengan baik tanpa harus tergantung pada sosok juragan. Bahwa juragan mereka adalah sistem, bukan person. Manajemen kelembagaan ini sangat penting agar pertura tidak langsung menyerah pada modernisasi dan menganggap bahwa seni tradisi memang pantas mati. Yang seringkali terjadi, seni tradisi harus larut menggadaikan pakemnya hanya semata-mata ingin laris. Padahal, persoalannya bukan pada konten pertunjukannya, melainkan bagaimana manajemen produksinya, seperti promosi dan strategi marketing yang seringkali belum dijalankan sama sekali. Jangan langsung menyalahkan televisi dan orkes dangdut kalau pertura memang belum melakukan pembenahan manajemen kelembagaan. (contoh kasus: gedung ludruk digusur, diganti dangdut atau disko karena dianggap lebih disukai masyarakat. Wayang beber yang statis dapat disukai masyarakat kalau tahu bagaimana cara menyajikannya). Dibutuhkan SDM manajer untuk menangani pertura atau seni tradisi agar tidak mati tergilas zaman. (contoh G-Walk Festival di Surabaya, seni tradisi menjadi tontonan yang mengasyikkan).
11. Profesionalitas adalah juga bagaimana menjadikan sebuah kelompok Pertura menjadi semacam Home Industri dengan diversifikasi usaha yang kreatif. Pertura dapat dikelola dengan pendekatan ekonomi kreatif, sehingga pemasukan dari hasil pertunjukan bukan menjadi pendapatan yang utama. Sebuah grup Pertura dapat memberdayakan seluruh pemain dan krunya di luar urusan pertunjukan, bahkan termasuk juga anggota keluarganya. Masih banyak lapangan kerja yang dapat diciptakan yang terkait dengan main bussiness sebagai kelompok seni pertunjukan itu sendiri. Tidak perlu mencari usaha terlalu menyimpang, tetapi yang terkait saja, dan terus melebar, meluas, sampai berjaringan dengan kelompok-kelompok lain.

12. Profesionalitas pertura harus dibangun sedemikian rupa secara serius agar pertura bukan hanya berhasil menyampaikan pesan-pesan sosial atau juga untuk kepentingan dakwah, melainkan juga dapat memberikan kontribusi dalam hal “Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”. Inilah bahan renungan itu. Apakah potensi pertura yang sangat kaya di Madura dapat berdaya secara ekonomi? Apakah pertura di Madura hanya akan tersisa menjadi kenangan belaka? Atau hanya dijalankan semata-mata menuruti proyek pemerintah saja?

Peranan Pemerintah

13. Beberapa “rumus” di atas memang lebih mudah disampaikan ketimbang dijalankan. Tetapi yang paling penting adalah berani memulai, berani gagal, berani mencoba lagi, berani bertahan, berani kompetisi dan sebagainya. Ini bukan resep ajaib untuk menyembuhkan sebuah penyakit parah melainkan sesungguhnya adalah langkah sederhana yang sudah ada yang memulai di kalangan Pertura sendiri. Sesungguhnya, sudah ada pertura yang berhasil eksis dengan caranya sendiri. Merekalah yang seharusnya menjadi “guru” untuk dapat menularkan pengalamannya. Karena itu dalam hal ini pemerintah memiliki peranan penting agar beberapa aspek tersebut di atas dapat tumbuh dengan baik. Sebab tugas utama pemerintah adalah menjadi fasilitator yang baik

14. Kedua, instansi pemerintah sebaiknya melakukan koordinasi dan kerjasama yang baik untuk menangani persoalan yang senada, dalam hal ini terkait seni pertunjukan rakyat. Tugas membina pertura bukan hanya ada di Dinas Kominfo, melainkan juga Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan. Jujur saja, apakah ketiga institusi ini telah memiliki semacam MoU untuk menangani pertura, khususnya di daerah-daerah? Adakah forum bersama yang kontinyu dan saling mendukung demi perkembangan pertura yang lebih baik ke depan? Perlu diingat, dalam institusi Dinas Pendidikan itu saja ada bidang kesenian pelajar, ada bidang nilai tradisi, ada juga yang menangani pendidikan nonformal. Sementara di tingkat provinsi, Dinas Pariwisata juga membawahi Taman Budaya. Lebih ke atas lagi, Departemen Pariwisata sudah berkolaborasi dengan Ekonomi Kreatif (Parekraf). Sementara di tingkat daerah ekonomi kreatif ini masih berada dalam lingkup Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Padahal, yang disebut ekonomi kreatif itu juga termasuk yang berbasis seni budaya. Dan itu sudah ada Direktoratnya sendiri di Kementerian Parekraf.

15. Karena itu, ceramah ini hanyalah sekadar pemacu semangat agar kita semua tetap dapat bertahan, tetap kreatif di tengah banyak persoalan, dan jangan hanya menghamba pada bantuan pemerintah. Bahwa pemerintah harus membantu pertura itu memang sudah kewajibannya, tetapi nasib pertura sesungguhnya ada di tangan seniman pertura sendiri. “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau tidak ada upaya untuk berubah dari kaum itu sendiri”. Demikian pula pertura, termasuk di Madura. Guru terbaik adalah pengalaman dan diri sendiri.

Sekian, mohon maaf dan terima kasih.

Sidoarjo, 26 Agustus 2012

Biodata:
Henri Nurcahyo adalah pengamat dan penulis seni budaya, Sekjen Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur.

Kontak
HP : 0812 3100 832,
Email : henrinurcahyo@gmail.com,
Weblog : henrinurcahyo.wordpress.com, brangwetan.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: