Pergelaran Teater Tradisi: Ketoprak Mastuti Budaya

Lakon “Padepokan Putat Selawe: Labuh Tresno Sabaya Pati”

Oleh Henri Nurcahyo

Alkisah di kabupaten Ngawi ada suatu padepokan yang diasuh oleh Ki Hajar Sidikoro yang mempunyai puteri cantik bernama Mustikasari. Kabar kecantikan Mustikasari telah menyebar kemana-mana hingga sampai ke Kadipaten Barat. Sang Adipati pun berniat mempersuntingnya, namun di tengah perjalanan berpapasan dengan rombongan Raden Sanggoro dari Kademangan Jagaraga yang juga bemaksud melamar Mustikasari. Terjadilah kesalahpahaman hingga kedua rombongan berkelahi.

Karena banyak pemuda dan berbagai kalangan yang bermaksud melamar Mustikasari, maka Ki Hajar Sidikoro menyerahkan sepenuhnya kepada Mustikasari untuk menentukan pilihannya sendiri. Dan Mustikasari meminta waktu 40 hari untuk menentukan calon pendamping hidupnya. Ternyata Mustikasari memilih Adipati Maospati, Tumenggung Sidarto.

Itulah inti cerita lakon ketroprak Mastuti Budaya dari Ngawi yang menampilkan lakon “Padepokan Putat Selawe: Labuh Tresno Sabaya Pati.” Sebuah kisah sederhana yang banyak bertebaran di berbagai lakon seni tradisional lainnya. Tantangannya kemudian adalah, bagaimana menyampaikan lakon tersebut secara memikat dan mampu mempesona penonton. Maklum era kejayaan ketroprak sudah berlalu. Dalam pemahaman masyarakat sekarang, yang namanya ketoprak identik dengan dagelan sebagaimana yang sering muncul di televisi. Bahkan anak-anak muda bisa jadi lebih mengenal ketoprak sebagai salah satu jenis makanan khas Jakarta. Apa boleh buat, demikianlah nasib seni pertunjukan tradisi di tengah industri hiburan yang didukung kapitalis sekarang ini.

Drs. Agus Santosa, M.Si, Kepala Dinas Budparpora Kab. Ngawi menyatakan, bahwa pertunjukan ketoprak perlu memperhitungkan selera masyarakat agar dapat disukai. Ini sebuah saran normatif yang wajar-wajar saja disampaikan pejabat. Tugas para pelaku ketropraklah yang musti menerjemahkan bagaimana caranya mempertimbangkan selera tersebut. Selera yang seperti apa? Apakah masyarakat memang menyukai humor sebagaimana pilihan yang dilakukan ketoprak dagelan di siaran televisi itu? Apakah masyarakat menyukai pemain yang cantik-cantik seperti pertunjukan musik dangdut misalnya? Atau juga mungkin masyarakat lebih menyukai adegan laga seperti yang disaksikan dalam film-film laga.

Karena itu, tidak salah jika kemudian ketoprak Mastuti Budaya mengedepankan selingan hiburan yang memakan waktu lama dengan alasan untuk memenuhi “tuntutan” menyenangkan penonton. Dimulai dari tampilnya dagelan, dan disusul penyanyi campursari. Hanya saja, sajian yang mustinya selingan ini ternyata malah berlarut-larut hingga menghabiskan waktu satu jam. Apalagi penyanyi lantas mengundang Kepala Taman Budaya Jatim untuk tampil menyanyi di panggung. Alhasil, penonton mulai berbondong-bondong keluar gedung. Sajian campursari yang semula dimaksudkan untuk menghibur penonton malah menjadi bumerang lantaran sudah jauh keluar dari konteks pertunjukan ketoprak itu sendiri. Kalau hanya sekitar 15 menit saja tidak masalah, tetapi ketika berlangsung sangat lama dan tidak ada pesona apapun, tentu saja penonton bosan. Ini pelajaran pahit yang musti diambil hikmahnya.

Sepertinya ada kekhawatiran bahwa ketroprak tidak lagi disukai penonton sekarang, sehingga diperlukan selingan yang mampu memikat penonton masa kini. Padahal, mengamati sajian ketoprak ini secara keseluruhan, sebetulnya kekhawatiran itu berlebihan, sebab kadar ketopraknya (mengutip komentar pengamat seni tradisi, Jumiran) “terlalu ringan” bagi penggemar ketroprak itu sendiri. Kalau toh dihadirkan selingan, cukup belasan menit saja. Itupun bisa dilakukan sedikit-sedikit sebagai acara selingan sebagaimana siaran iklan dalam acara televisi.

Adegan laga atau perkelahian, memang juga merupakan pertunjukan yang disukai penonton berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak hingga usia tua. Karena itu diperlukan ketrampilan tersendiri agar adegan ini mampu tampil baik dan mengesankan. Berbagai teknik akrobat perlu dipelajari untuk menghadirkan perkelahian yang seperti sungguh-sungguh. Bagi penonton televisi yang sudah biasa menyaksikan smackdown, perkelahian yang biasa-biasa tentu akan dianggap sepele. Tantangannya adalah, bagaimana menampilan adegan memukul namun tidak sampai kena. Seperti menendang namun tidak sampai menyentuh lawan. Begitu pula saat memukul dan sebagainya. Justru di situlah memang letak kesulitannya.

Ketika menyaksikan adegan perkelahian ini, penonton cenderung didorong mengamati dan menebak-nebak, apakah pukulan atau tendangan itu betul-betul mengenai lawan atau hanya aksi pura-pura belaka. Tentu saja karena ini sebuah pertunjukan kesenian, maka dibutuhkan kemasan artistik agar adegan perkelahian itu benar-benar tampil cantik sebagai tontonan. Sebab ini bukan pertandingan olahraga, yang betul-betul diharapkan ada yang jatuh tersungkur terkena pukulan yang sesungguhnya. Pertunjukan akan dinilai bagus kalau mampu menampilkan adegan perkelahian yang hanya “seolah-olah berkelahi,” bukan berkelahi sungguhan, sebagaimana sebuah akting dalam seni pertunjukan.

Itulah sebabnya penonton langsung berkomentar dan tahu ketika ada pukulan yang betul-betul kena lawannya, dan bukan hanya berpura-pura belaka. Dan sebagai sebuah pertunjukan, kalau ternyata pukulan atau tendangan itu memang kena sungguhan, itu berarti sebuah kegagalan. Sayangnya, pertunjukan ketoprak kali ini ternyata belum berhasil menyajikan adegan perkelahian yang cantik, yang menghibur, melainkan masih tampil kasar dan kurang artistik.

Jadi, elemen untuk memikat pengunjung itu, selain sajian hiburan, dagelan dan adegan laga, juga menghadirkan pemain-pemain yang cantik. Sayang sekali, kelompok ketoprak ini nampaknya mengalami krisis regenerasi, khususnya pemain perempuan muda yang berpenampilan menarik. Tokoh utama puteri kerajaan bernama Mustikasari sepertinya sudah berumur atau setidaknya gagal menampilkan sebagai perempuan muda yang cantik sehingga memang layak menjadi rebutan para lelaki.

Dan akhirnya, sebagai catatan pengamatan dari pertunjukan ini adalah:
Pertama, diperlukan banyak latihan yang intensif untuk menghadirkan adegan perkelahian yang bagus sehingga mampu tampil artistik sekaligus mempesona sebagai sebuah perkelahian yang seolah-olah terjadi betulan. Kalau perlu cukup dua tiga pasang saja pemain yang berkelahi, sedangkan yang lainnya lebih bagus diposisikan sebagai “perkelahian dagelan” saja. Sebab tanpa kemampuan berkelahi secara artistik, bukan berkelahi sungguhan, akan menyebabkan kecelakaan yang tidak diharapkan. Dan hal ini sudah terjadi.

Kedua, selingan campursari harus dibuat singkat, jangan bertele-tele sampai memakan waktu berjam-jam sehingga penonton bosan. Kalau memang ingin tampil berlama-lama, sebaiknya dibuat berseri saja, berselang-seling dengan jalannya cerita, seperti selingan iklan di televisi.

Ketiga, peranan adegan dagelan masih bisa dieksplorasi lagi, bukan hanya sekadar mbanyol demi menyenangkan penonton. Dalam dagelan dapat berisi informasi sekilas mengenai jaannya cerita, sengaja disampaikan sepotong-sepotong saja sebab tujuan utamanya untuk merangsang penonton agar menjadi penasaran mengikuti jalannya cerita sampai akhir. Justru cerita utama dalam lakon ini dapat dijadikan bahan baku lawakan agar tetap nyambung dengan jalannya cerita.

Keempat, kehadiran pemain yang cantik memang sepertinya sudah menjadi keharusan untuk bersaing dengan dunia hiburan yang glamour. Tokoh utama cerita ini, Mustikasari, lantaran dituntut mampu bermain bagus (bukan hanya cantik) memang sulit mencari pemain yang tepat. Solusinya, perlu dicari pemain yang memang mampu (tampil) cantik, syukur yang masih muda, sehingga memang layak memerankan puteri kerajaan yang menjadi rebutan para Bupati. Kalau perlu, manakala ada pemain cantik yang kurang pandai akting, porsi dialognya dikurangi sehingga tidak kedodoran.

Kelima, manajemen pertunjukan nampaknya belum digarap serius. Iringan gamelan masih belum membantu pertunjukan hingga tampil bagus. Tatalampu yang seadanya, sehingga panggung terlihat kosong, tidak sebanding dengan jumlah pemain yang sedikit. Tidak ada permainan lampu follow sehingga mampu “mempersempit” panggung. Demikian pula setting panggung yang maunya digarap minimalis seperti teater modern, tidak banyak membantu pertunjukan karena tidak ditunjang dengan elemen-elemen lainnya.

Keenam, secara keseluruhan pertunjukan ini bisa tampil lumayan andaikata selingan campursari tidak berlama-lama. Muatan ceritanya ringan-ringan saja, sehingga justru tidak membebani penonton ketoprak yang masih awam.

Sidoarjo, 11 September 2012

Henri Nurcahyo
Pengamat Independen

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: