Pasang Surut Seni Tradisi, antara Hidup dan Mati

Catatan Henri Nurcahyo

1. Nasib seni tradisi terpuruk, terusir dari perkotaan, mengais-ngais di pedesaan yang juga semakin mengkota. Banyak pemain ludruk yang mengeluh karena jarang ada tanggapan, sementara ada yang tetap saja laris dalam jadwal yang penuh dalam sebulan. Sementara pergelaran wayang kulit, masih saja disukai di desa maupun kota. Sedangkan jenis kesenian tradisi yang masih stabil bahkan terus meningkat penggemarnya adalah Campursari, sebuah modifikasi yang mengkreasikan beberapa kesenian menjadi satu paket. Pelajaran seperti apakah yang dapat dibaca dari realitas seperti ini?

2. Tidak satupun kelompok ludruk yang sekarang ini berani nobong alias bermain menetap dalam satu lokasi selama berminggu-minggu bahkan bulanan sebagaimana yang pernah terjadi sekian waktu yang lalu. Biaya operasional yang tinggi serta kurangnya dukungan pemerintah menyebabkan Ludruk Tobong bangkrut. Banyak pihak (termasuk aparat pemerintah) yang justru menjadikan Ludruk Tobong ibarat sapi perah, sehingga bukannya dibantu malah diperas dengan segala macam alasan. Fakta yang terjadi selama ini, untuk dapat bertahan hidup kelompok ludruk harus mengandalkan undangan pentas dari hajatan di desa-desa. Namun nasib baik ini hanya dinikmati satu dua kelompok ludruk saja, sementara banyak kelompok ludruk lainnya masih berharap-harap cemas mendapatkan undangan tanggapan. Bisa pentas 50 kali dalam setahun saja sudah terbilang bagus. Akibatnya, banyak kelompok ludruk yang hanya berupa nama dan nomor induk, sementara pemainnya bongkar pasang dan menjadi bon-bonan alias bergabung dengan kelompok ludruk mana saja yang mau mengajaknya.

3. Ludruk sebagai kesenian hiburan harus bersaing keras dengan berbagai jenis hiburan lainnya. Itu sebabnya kelompok ludruk yang laris manakala masih dinilai mampu menghibur masyarakat. Kuncinya, ada pada adegan lawaknya, atau pemain yang terus menerus melucu sepanjang permainan sehingga menjadi Ludruk Dagelan. Faktanya, kelompok ludruk yang sudah ditinggal mati pelawaknya, mengalami penurunan yang siginifikan dari jumlah penonton dan datangnya undangan tanggapan. Ludruk ternyata belum bisa berada pada posisi sebagai seni tradisi yang utuh, yang disukai semua elemennya (remo, kidungan, jula-juli, lawak dan cerita), bukan hanya lawaknya. Sesungguhnya ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tarik ludruk agar dapat disukai penonton, namun sangat tergantung pada kemauan pelakunya sendiri. Selain aspek dagelan, potensi lain yang dapat dieksplorasi untuk meningkatkan daya tarik misalnya, adegan laga, eksplorasi musik yang bukan hanya sebagai pengiring, mengedepankan pemain pavestri atau perempuan sekalian, mengangkat isu aktual melalui kritik sosial dan sebagainya. Ironisnya, selama ini yang masih menjadi daya tarik ludruk hanya aspek dagelannya belaka. Sementara aspek ceritanya nyaris tak bisa diharapkan sebagai daya tarik agar masyarakat menontonnya.

4. Kesenian tradisi yang kemudian terjebak menjadi industri hiburan, adalah akibat kultur masyarakat yang serba instan, jenuh pada kerumitan keseharian, dan dampak tontonan televisi yang serba dangkal. Campursari, tayuban dan tandhakan lantas digemari dimana-mana karena mampu memberikan hiburan yang dibutuhkan. Tandhak, Sindir atau Sinden menjadi pekerjaan yang dapat mendatangkan penghasilan yang lumayan. Tetapi, adakah kebutuhan batiniah yang bisa didapatkan dari seni tradisi seperti ini?

5. Sementara itu, pergelaran wayang kulit ternyata masih disukai dimana-mana, di kota dan di desa, dengan penonton yang nyaris fanatik, khususnya kalangan masyarakat bawah. Dari keseluruhan pertunjukan wayang kulit, sebetulnya amat sedikit aspek hiburannya, paling-paling hanya adegan gara-gara, namun toh masih saja memikat penonton untuk bertahan menyaksikan sampai dini hari. Mengapa penonton wayang kulit sepertinya lebih militan ketimbang penonton ludruk atau pertunjukan kesenian tradisi lainnya? Seolah-olah ada semacam magnit yang mampu menjadikan penggemar wayang kulit bersikap fanatik. Hanya pertunjukan wayang kulit yang betul-betul jelek yang akan ditinggalkan penontonnya. Parameternya sederhana saja, pertunjukan wayang kulit disebut berhasil manakala mampu mendatangkan para bakul yang banyak. Sehingga ada julukan bagi dalang-dalang tertentu yang disebutnya “disukai bakul”. Mereka sampai tergerak secara kolektif, rombongan, untuk mengikuti kemana dalang itu pentas.

6. Apakah betul masyarakat sudah semakin tidak menyukai seni tradisi? Pentas ludruk di berbagai desa masih banyak yang menontonnya. Ludruk nyaris tanpa penonton manakala main di kota, di tempat yang steril, termasuk dalam kompleks THR Surabaya (sebagai contoh) yang hanya ditonton oleh keluarga pemainnya sendiri. Lantas, mengapa Ludruk Tobong semakin sepi penonton dan kemudian mati? Jawabannya adalah, masyarakat enggan mengeluarkan uang untuk menonton ludruk. Mereka maunya gratisan, yang dengan bebasnya bisa datang dan pergi kapan saja tanpa harus merasa rugi karena sudah mengeluarkan uang. Seorang Juragan kelompok seni tradisi yang menaungi berbagai jenis kesenian (wayang, ludruk, jaranan dan campursari) pernah sesumbar, “kami tidak pernah sepi tanggapan, selalu laris masyarakat masih menyukai kami.” Faktanya adalah, yang disebut “laris” itu adalah sering mendapat tanggapan, dan bukan pementasan mandiri yang harus memungut bayaran dari penonton. Satu-satunya parameter untuk mengatakan pertunjukan seni tradisi betul-betul disukai penonton adalah dengan cara menggelar pentas mandiri berupa Tobong. Coba saja.

7. Pemerintah sebetulnya tidak berdiam diri menyikapi kondisi seni tradisi seperti tersebut di atas. Untuk kasus Jawa Timur, Taman Budaya Jatim (sebagai UPT Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) sudah melakukan upaya pelatihan peningkatan profesionalitas seniman tradisi, memberi kesempatan pentas rutin secara bergilir melalui sebuah seleksi tersendiri. Sedangkan di tingkat kabupaten atau kota peranan ini dilakukan langsung oleh Dinas Pariwisata. Dinas Pendidikan melalui UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Sekolah (Dikbangkes) melakukan pembinaan seni tradisi melalui program Pendidikan dan Pengembangan Seni Tradisi (PPST) yang memilih sasaran sekolah-sekolah tingkat SD hingga SMA sesuai dengan ruang lingkupnya. Sementara Dinas Komuninasi dan Informasi (Kominfo) juga memiliki program pengembangan Pertunjukan Rakyat (Pertura) melalui pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Kepentingan Kominfo adalah, melalui pertura dapat disebarkan “pesan-pesan pembangunan” sebagaimana Kelompencapir (Kelompok Pendengar Pembaca dan Pemirsa) zaman Orde Baru dulu. Melalui serangkaian pembinaan sosialisasi dan festival Pertura, Kominfo nampaknya tidak hanya egois menjadikan pertura yang informatif (berhasil menyampaikan pesan) namun juga yang artistik (sebagai seni pertunjukan yang berkualitas). Hanya saja persoalannya, masing-masing instansi itu masih berjalan sendiri-sendiri, tidak dibangun kerjasama yang baik dan seharusnya bisa saling mendukung.

8. Sementara itu, bagaimana sikap pelaku seni tradisi sendiri? Sangat disayangkan, selama ini mereka justru bersikap pasif, pasrah pada kondisi, dan nyaris tidak ada niatan untuk meningkatkan SDM dan profesionalitas mereka sendiri agar dapat disukai penonton. Jangankan pelaku yang masih terbelenggu urusan perut, para pelaku seni tradisi yang sudah punya nama dan mampu hidup layak saja kalau diajak diskusi selalu ogah-ogahan. “Awak-awak iki gak usah diajak diskusi, tanggapan ae…..” katanya. Seorang ketua kelompok ludruk sampai pernah harus mengemudi mobil sendiri, melakukan antar jemput pemain satu persatu ke dan dari rumah masing-masing hanya sekadar agar mereka mau datang latihan rutin bulanan. Itupun dia masih harus memberi makan dan uang saku sekadarnya. Mana ada kelompok seni tradisi yang mau latihan rutin tanpa harus tergantung ada tidaknya tanggapan? Disamping itu, adanya Manajemen Juragan menjadikan kelompok seni tradisi tidak dapat berkembang secara profesional sebagaimana sebuah kelompok seni pertunjukan. Tidak ada kaderisasi. Tidak ditunjang oleh manajemen marketing yang memadai. Ludruk (dan seni tradisi lainnya) bisa saja mati karena kelakuannya sendiri. Bukan salah pemerintah, bukan salah televisi, bukan juga salah penonton yang kemudian meninggalkan mereka.

9. Yang kemudian bisa dilakukan adalah melakukan pendampingan. Pelaku seni tradisi tidak bisa sepenuhnya disalahkan kalau enggan meningkatkan kemampuan SDM dan profesionalitas pertunjukannya. Sebagian besar dari mereka masih terbelit urusan perut masing-masing. Pihak pemerintah tidak bisa hanya sekadar menghabiskan anggaran melakukan pelatihan dan memberi subsidi pentas tanpa upaya pendampingan yang efektif. Subsidi untuk pentas rutin yang digratiskan bagi penonton sama sekali tidak memberikan efek bagi peningkatan profesionalitas, dan bahkan tidak mampu menyedot penonton (yang diharapkan) menyukai seni tradisi. Berapapun subsidi yang dikucurkan dengan cara seperti ini ibarat mengisi beras di karung yang bocor. Pertunjukan rutin ludruk dan seni tradisi di THR Surabaya adalah salah satu contohnya. Kelompok seni tradisi menjadi bergantung pada kebaikan pemerintah untuk selalu berharap memberikan subsidi semacam itu terus menerus. Sampai kapan?

10. Keberadaan seni tradisi yang masih bertahan hingga saat ini adalah karena kecintaan mereka pada kesenian secara alamiah. Mereka tahu dan sadar betul bahwa dengan bermain ludruk atau seni tradisi lainnya tidak bisa menghidupi anak istri, toh ada saja banyak juragan yang masih ngotot membina kelompok seni tradisi meski selalu saja tekor setiap kali ada tanggapan. Meski ada seniman tradisi yang mampu hidup lumayan dari hasil keseniannya, toh kecintaan mereka pada seni tradisi jauh di atas alasan ekonomi semata. Mereka sadar betul, bahwa “bekerja sebagai seniman adalah sebuah pekerjaan sambilan yang mampu memberikan hiburan batin, bukan semata-mata mencari nafkah yang memang tak bisa diharapkan. Bahkan tidak jarang pelaku seni tradisi yang menjalaninya sebagai “laku” dalam meniti jalan hidupnya. Kepada pelaku seni tradisi yang sudah memberikan dedikasinya tanpa pamrih seperti ini sangat layak diberikan penghargaan yang setimpal.

11. Seni tradisi pada akhirnya sampai pada sebuah jalan simpang, antara industri hiburan dan sarana katarsis. Sebagai industri hiburan, terapi yang perlu dilakukan adalah diberlakukan manajemen modern agar seni tradisi dapat bertahan hidup dan dapat menjadi sarana hiburan yang sekaligus sumber nafkah yang layak bagi pelakunya. Sementara sebagai sarana katarsis, seni tradisi memang seharusnya mampu memberikan santapan rohani bagi penonton dan sekaligus pelakunya. Dalam budaya tradisi ada konsep seni kagunan, bahwa seni (yang baik) memang harus dapat mendatangkan manfaat, punya nilai guna. Pada tataran inilah barangkali seni tradisi dapat menjadi harmoni bagi keseharian yang profan, seni tradisi menjadi konsumsi batin yang dapat menyeimbangkan kesibukan duniawi. Seni tradisi adalah sebuah dunia tersendiri yang nyaman sebagai tempat istirah bagi jiwa-jiwa yang lelah. Bagaimana mencapai semuanya itu? Tidak perlu impor ilmu dari Barat, karena sesungguhnya memang itulah kekayaan dan potensi dunia Timur yang belum digali dan selalu saja dianggap remeh. Kebudayaan yang serba instan adalah sebuah tantangan berat yang harus dihadapi. Apa boleh buat.

Itu saja, mudah-mudahan dapat mengantarkan diskusi yang bermanfaat. (*)

• Naskah ini disampaikan dalam diskusi seni tradisi dalam rangka Festival Seni Tradisi Indonesia di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, 27 November 2012.
• Henri Nurcahyo, Direktur Lembaga Ekologi Budaya (Elbud), Sekjen Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur.
• Kontak: mobile – 0812 3100 832, email – henrinurcahyo@gmail.com, blog – https://henrinurcahyo.wordpress.com.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: