Kepahlawanan Sakera dalam Ludruk Karya Budaya

Catatan Henri Nurcahyo
001Sebagai salah satu lakon legendaris dalam ludruk, tidak gampang mementaskan “Sakerah”. Konflik dalam lakon ini bukan sekadar perselingkuhan istri muda dengan keponakan, namun juga perlawanan rakyat jelata terhadap pejabat lokal yang korup, bahkan juga berkobarnya api semangat kepahlawanan melawan penjajah. Ludruk sekualitas “Karya Budaya” sekalipun harus bersusah payah menggarapnya.

IMG_3386Cerita kepahlawanan Sakerah ini hidup di daerah Bangil, Pasuruan, yang dipercaya masyarakat setempat memang pernah benar-benar terjadi pada masa penjajahan Belanda. Ada persamaan dengan Sarip Tambak Oso, yang diduga kuat merupakan kisah nyata di Sidoarjo dan juga sudah menjadi lakon legendaris dalam ludruk. Salah satu kesamaannya adalah, bahwa Sakerah dan Sarip merupakan representasi rakyat kecil melawan kesewenang-wenangan penguasa.

Sebagai cerita rakyat, dikisahkan seorang warga desa berdarah Madura bernama Sadiman yang pernah belajar di perguruan persilatan. Sadiman bekerja sebagai mandor di perkebunan tebu milik pabrik gula. Ia dikenal sebagai seorang mandor yang baik hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja hingga dijuluki Pak Sakera atau Sakerah. Konon dalam bahasa Kawi Sakera memiliki arti ringan tangan, akrab/mempunyai banyak teman.

Sakerah adalah sosok yang tidak bisa melihat wong cilik diperlakukan semena-mena. Karena itu ketika dia menyaksikan upah para kuli dipotong oleh bawahannya, Sakerah meminta mereka agar memberikan hak para kuli sepenuhnya. Tindakan itu dianggap sebagai tantangan, Sakerah dilaporkan pada pimpinan pabrik. Sakerah yang buta huruf, berada di posisi yang salah, karena membubuhkan cap jempol di bukti pembayaran. Sakerah dituduh korupsi.

Ketika Herman, administratur pabrik gula menodongkan pistol di kepalanya, Sakerah tak kuasa menahan emosi, ia tepiskan pistol Herman dan Sakerah langsung membacoknya dengan celurit. Akibatnya, hukuman penjara 25 tahun harus ia terima. Ia mendekam di penjara kolonial Kalisosok Surabaya.

IMG_3439Ada versi lain mengenai penyebab Sakerah masuk penjara. Konon suatu saat setelah musim giling selesai, pabrik gula tersebut membutuhkan banyak lahan baru untuk menanam tebu. Karena kepentingan itu orang Belanda sebagai pimpinan ambisius ingin perusahaan ini membeli lahan perkebunan yang seluas-luas dengan harga semurah-murahnya. Dengan cara yang licik Belanda menyuruh carik untuk bisa menyediakan lahan baru bagi perusahaan dalam jangka waktu singkat dan murah, dan dengan iming-iming harta dan kekayaan hingga carik bersedia memenuhi keinginan tersebut. Carik Rembang menggunakan cara-cara kekerasan kepada rakyat dalam mengupayakan tanah untuk perusahaan.

Sakerah melihat ketidak-adilan ini mencoba selalu membela rakyat dan berkali-kali upaya carik Rembang gagal. Carik Rembang melaporkan hal ini kepada pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan marah dan mengutus wakilnya Markus untuk membunuh Sakera. Suatu hari di perkebunan pekerja sedang istirahat, Markus marah-marah dan menghukum para pekerja serta menantang Sakerah. Sakerah yang dilapori hal ini marah dan membunuh Markus serta pengawalnya di kebon tebu. Sejak saat itu dia menjadi buronan polisi pemerintah Hindia Belanda.

Suatu saat ketika Sakerah berkunjung ke rumah ibunya, di sana ia dikeroyok oleh carik Rembang dan polisi Belanda. Karena ibu Sakerah diancam akan dibunuh maka Sakerah akhirnya menyerah, Sakerah pun masuk penjara Bangil (bukan Kalisosok).

Saat dipenjara, tiba-tiba ia bertemu pamannya, Pak Tas. Paman Sakerah sengaja mencuri sapi agar dapat dihukum dan menemui keponakannya. Menurut penuturan sang paman, perilaku mandor semakin tidak terkendali. Selain itu istri muda Sakerah, Marlena kerap dirayu Brodin, keponakan Sakerah.

Sakerah yang memiliki kekuatan untuk melenturkan besi berhasil kabur dari penjara. Dengan sekali tebas, dia membunuh Brodin. Tak hanya itu, Sakerah juga membunuh carik dan petinggi. Tak ayal, dirinya pun jadi target pengejaran Gubermen. Sakerah dijebak dalam suatu pesta tayub. Tokoh legendaris Madura itu berhasil ditangkap, dan akhirnya dihukum mati.
IMG_3469
Kisah Sakerah memang beragam versi, termasuk penyebutan nama-nama desa dan juga nama penjaranya. Bahkan lakon ini juga pernah diangkat ke layar lebar dengan Sutradara dan penulis skenario BZ Kadaryono (1982). WD Mochtar sebagai Sakerah, sedangkan pemain lainnya Alan Nuari (Brodin), Minati Atmanegara (Marlena, isteri muda) Chintami Atmanegara, Tien Kadaryono (Kinten, istri tua), Usbanda, Chaidar Djafar, Sofia WD.

Kisahnya sedikit berbeda, dalam film ini disebutkan Sakerah menghalangi para cecunguk Belanda yang ingin merampas tanahnya. Pengkhianat-pengkhianat ini bekerja pada meneer Belanda, Van De Reck. Dengan memungut pajak yang tinggi, mereka akhirnya akan merampas tanahnya apabila tidak mampu membayar pajak.

Melalui pengadilan Bangil, akhirnya divonis hukuman gantung sampai mati. Meski demikian, Sakerah berjanji meski ia mati namun semangat Sakerah akan tetap hidup. Sebelum digantung, permintaan Sakerah terakhir adalah untuk melakukan Sholat subuh. Dalam berbagai pementasan ludruk, ending inilah yang justru sangat penting sebagai pesan terakhir bernuansa heroik, seperti misalnya penghujatan terhadap pengkhianat atau pesan-pesan nasionalistik.
IMG_3493
Versi Karya Budaya

Dalam pementasan di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu lalu (22/12) Ludruk Karya Budaya nampaknya hanya ingin menampilkan fragmen sederhana saja. Cerita langsung dimulai pada persoalan perselingkuhan Brodin dan Marlena. Diceritakan bahwa Sakerah memiliki dua istri yang tinggal serumah, Marlena (istri muda) dan Buk Sakerah (istri tua). Tak ada penjelasan lengkap mengapa Sakerah dipenjara. Juga tidak ada kisah pertentangan kelas sosial sebagaimana dituturkan di atas.

Adegan awal menampilkan kisah percintaan Brodin dan Marlena, kemudian dipergoki Pak Tas yang digambarkan sebagai lelaki yang juga menyenangi Marlena namun kalah bersaing dengan Brodin yang lebih muda. Pak Tas sengaja mencuri sapi agar masuk penjara dan dapat bertemu Sakerah. Yang menggelikan, dia masuk sel lengkap dengan pakaian jasnya. Begitu pula Sakerah masih mengenakan ikat pinggang lengkap. Sama sekali tidak ada pelucutan sebagaimana tahanan pada umumnya.

Adegan yang seharusnya sangat menyayat adalah ketika Sakerah hendak menebas leher Brodin. Terjadi pergulatan batin yang hebat dalam diri Sakerah, sehingga berulangkali celuritnya batal mendarat di leher keponakannya sendiri. Sementara itu Brodin terus menerus melolong mohon ampun, mengaku bersalah dan minta jangan dibunuh. Dan saat celurit betul-betul menebas leher Brodin, mungkin akan lebih pas jika digambarkan Brodin bangkit melawan dengan meraih pisau hendak menusuk Sakerah sehingga sang Paman menjadi tega menghabisi nyawanya.

Sayang adegan ini hanya terjadi pengoloran waktu saja, tidak terasa ritme pergulatan batin Sakerah, apalagi hanya diiringi musik yang monoton padahal seharusnya musik punya potensi menggambarkan konflik batin Sakerah. Karena yang terjadi di atas panggung, Brodin belum berhasil melantunkan tembang tangisan yang memilukan hati sehingga gagal memancing empati. Akan lain kesannya kalau misalnya jeritan Brodin diperkuat oleh suara musik gesek seperti rebab misalnya.

Setelah itu, mengapa Sakerah juga membunuh Carik dan Lurah? Tidak ada penjelasan yang cukup untuk dapat dipahami. Yang terkesan seolah-olah pembunuhan itu merupakan tindakan pembungkaman agar Sakerah tidak dihukum karena sudah membunuh Brodin. Tidak ada dialog sama sekali sebelum Carik Pajaran ditebas lehernya. Sementara dialog dengan Lurah Tampong kurang memberikan informasi yang memadai bahwa memang Sakerah “pantas” membalas dendam atau setidaknya mengeksekusi Lurah yang korup itu.

Memang ada sebagian adegan yang blank bagi penonton yang tidak paham bahasa Madura dalam dialog antara Sakerah dengan Pak Tas dalam penjara atau dengan Brodin dalam pertengkarannya. Tetapi ini bukan alasan kalau saja mereka membawakannya dengan artikulasi yang bagus. Lagi pula, kalau memang ada informasi yang sangat penting dimunculkan untuk penonton, mengapa cukup satu dua kalimat tidak disampaikan dalam bahasa Jawa?

Haji Asik dan Haji Bakri, teman seperguruan yang berkhianat harus menangkap Sakerah, juga tidak memperlihatkan motif yang logis sehingga Sakerah berhasil diringkus. Mengapa Sakerah malah diajak berlatih silat untuk menghangatkan reuni? Bukankah dengan cara itu seharusnya membuat Sakerah lebih siap bertarung, dan bukan malah lengah? Apa kelemahan Sakerah sehingga berhasil dikalahkan? Ludruk Karya Budaya hanya mengakhiri cerita sampai di sini.
IMG_3533
Padahal masih ada satu adegan penting yang menjadi intisari moral cerita Sakerah ini. Tidak ada adegan eksekusi hukuman mati bagi Sakerah. Pesan terakhir apakah yang dikatakan Sakerah sebelum dihukum tembak atau hukum gantung? Pesan moral inilah yang juga terjadi pada lakon Sarip sebelum dia menghembuskan ajal karena peluru berlumur minyak babi. Persamaannya, mereka sama-sama dikhianati kerabatnya.

Bisa jadi, Ludruk Karya Budaya (LKB) sejak awal menyadari bahwa lakon ini memang berat karena butuh aktor yang mumpuni. Tidak heran kali ini tokoh Sakerah dan Brodin harus ngebon dari Probolinggo karena LKB tidak punya stok aktor yang pantas untuk itu. Hanya Sukis yang mampu memerankannya namun dia sudah keluar dari kelompok Ludruk dari Mojokerto ini.

Kekuatan Ludruk pimpinan Edy Karya ini sebetulnya ada pada lawakannya. Selepas ditinggal Supali meninggal dunia terlihat sempat kelimpungan. Beruntung sekarang masuk pemain “kecil” bernama Amin, mantan pemain ludruk remaja dari Malang. Remaja yang mirip Adul ini memang mampu tampil kocak dan menghibur penonton. Kalau betul Amin seterusnya bergabung dengan LKB, maka dia akan menjadi magnit baru bagi ludruk Karya Budaya.

Tak ayal LKB lantas menyediakan waktu satu jam lebih hanya untuk adegan dagelan ini. Celakanya, sudah satu jam berlalu ternyata tidak ada tanda-tanda menjadikan isu listrik (PLN) sebagai bahan lawakannya. Padahal pementasan ini juga disponsori PLN. Hanya tiga menit terakhir disampaikan pesan-pesan dari PLN. Itupun informasi yang tidak penting dan sangat terkesan sebagai tempelan belaka. Saking panjangnya lawakan sampai lupa bahwa suguhan utamanya adalah Sakerah. Bahkan adegan dagelan ini saja sudah seperti lakon tersendiri.

Pertanyaannya sekarang, mengapa LKB memilih aspek perselingkuhan sebagai cerita utama Sakerah ini? Pesan moral yang disampaikannya adalah: Angok pote tolang atembeng pote matah. Lebih baik mati (berputih tulang) ketimbang malu. Mengapa LKB justru mengabaikan substansi lakon ini yang bercerita mengenai konflik rakyat kecil melawan penguasa? Kalau mau diperdebatkan, Sakerah itu pahlawan atau pembunuh? Jangan-jangan Sakerah itu seperti Antasari, yang sengaja dijebak supaya “membunuh” agar dapat dipenjarakan.

Memang sah-sah saja LKB memilih sudut pandangnya sendiri untuk menggarap lakon Sakerah ini. Dari sebuah cerita yang berlatar belakang konflik sosial, disederhanakan menjadi konflik rumah tangga belaka. Akibatnya, lakon Sakerah yang heroik dan nasionalistis itu menjadi seringan cerita sinetron belaka. “Kepahlawanan” Sakera hanya dimaknai sebagai “pahlawan” kepala rumah tangga. Ludruk Karya Budaya tidak memberikan tafsir baru mengenai lakon yang legendaris ini. Bahkan, membuat ulangan pementasan yang sudah mentradisi saja boleh dibilang belum berhasil.

Yang jelas, nama besar LKB dan pilihan lakon, ternyata mampu menyedot penonton sanggup memenuhi kursi gedung Cak Durasim tanpa sisa, termasuk di balkon. Bahkan tayangan layar lebar di pendopo juga dipadati penonton. Ini sebuah keberhasilan yang layak dicatat tersendiri. Sebab sepanjang pementasan periodik teater tradisi di Taman Budaya, baru kali ini ludruk berhasil menembus gedung Cak Durasim, bukan hanya puas pentas di pendopo belaka. Artinya, keberhasilannya memang sebatas pentas hiburan. Apa boleh buat. (*)

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: