Hardjonoisme – Hardjono WS

OLEH HENRI NURCAHYO

HardjonoSeniman teater yang khusus menekuni dunia anak adalah sesuatu yang langka di negeri ini. Lebih langka lagi manakala bukan hanya sekadar menjadi sutradara, melainkan juga produser, menulis naskah, puisi, cerpen, dongeng, novel, esai dan menciptakan lagu sekaligus memainkan musik. Maka Hardjono Wirjosoetrisno alias Hardjono WS adalah seniman yang langka itu. Jebolan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) itu juga melukis, membuat patung serta memahat. Lengkap sudah kelangkaannya.

Seniman multi talenta itu sudah pergi untuk selama-lamanya, Rabu (23 Januari 2013), justru ketika masa kejayaannya sudah melewati titik puncak. Tak heran banyak wartawan muda yang tidak mengenalnya, serta tidak menganggap penting untuk memberitakan kematiannya. Berita kematian dua koran hari Kamis (24/1) hanya tentang desainer Ramli yang kebetulan meninggal dunia pada hari yang sama, pada usia yang sama, 68 tahun. Hanya dua media online yang memuatnya. Sementara ada koran lokal memberitakannya besar-besaran dengan semangat kelokalannya, tanpa sadar bahwa subjek berita bukan sekelas tokoh lokal.

Masa kejayaan Hardjono adalah ketika tinggal di Surabaya sebagai “kontraktor” (sebutan Hardjono sendiri karena selalu kontrak rumah berpindah-pindah). Tahun 1972 dia membentuk kelompok Kelinci (1972-1983), teater Panti Asuhan Don Bosco (1983-1990) dan teater Ponakan (1992-1995) dengan naskah sendiri dan adaptasi naskah asing seperti Heidi (Jerman), Le petit Prince (Perancis) dan Pak Kampret yang Jempolan (Jerman). Sementara itu naskah teaternya berulangkali menjadi juara naskah teater anak-anak hingga tingkat nasional.

Gaya berteater Hardjono adalah selalu mengedepankan anak-anak sebagai anak-anak itu sendiri, dan bukan dipaksa menjadi orang dewasa. Anak-anak itu memang suka bermain, namun tidak mempermainkan. Dunia anak adalah dunia bermain. Kredo itu diabadikan dalam salah satu puisinya yang terkenal: “Anak kecil bermain-main dan biarkan saja, mereka tak pernah berpikir bahwa hari ini adalah esok dan kemarin. Tak sama dengan kita.” Puisi tersebut sering menjadi puisi wajib dalam lomba baca puisi atau deklamasi tahun 80-an dan menjuarai lomba puisi tingkat nasional.

Teater gaya Hardjono, selalu mempertunjukkan berbagai permainan anak-anak yang kemudian dikemas dalam sebuah lakon. Atau, lakon apapun yang dimainkan, selalu ada bagian yang mempertontonkan permainan anak-anak. Gaya tersebut sempat menjadi tren teater anak-anak dalam berbagai pementasan atau festival teater anak, antara lain karena Hardjono sering menjadi narasumber pelatihan guru teater anak, bahkan juga menulis buku “Yuk Bermain Teater”. Barangkali tidak berlebihan gaya teater Hardjono itulah yang bisa disebut sebagai “Hardjonoisme”.

Hardjono yang pernah menjabat Wakil Ketua Kelompok Pecinta Anak dan Lingkungan (Kepal) ini seolah tidak memperbolehkan anak-anak bermain seperti orang dewasa. Padahal dalam keseharian sering ditemui anak-anak yang bermain “anak-anakan”, atau berperan sebagai ibu yang menggendong boneka sebagai bayinya. Anak-anak juga terbiasa bermain “pasar-pasaran” dengan memposisikan diri sebagai penjual dan pembeli dengan sesama temannya.

Meski sering berperan sebagai Kakek dalam berbagai pementasan panggungnya, lelaki bernama asli R. Soehardjono ini justru bersikap moderat dan memposisikan sederajat dengan anak-anak, termasuk anak-anaknya sendiri. Dalam serial esainya yang dimuat rutin di sebuah koran, Hardjono menyebut ketiga anaknya (waktu itu) sebagai Tikus Pithi, Tikus Thonthong dan Tikus Clurut. Kumpulan esai menarik yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi di rumahnya itu sudah dibukukan dengan judul “Celoteh Para Tikus dan Merpati” (Yayasan Ibunda, 1995).

Kesetaraan posisi itu juga diwujudkan dalam keseharian ketika dia seenaknya memanggil nama anaknya dengan julukan Pairo (aslinya Woro), Paidi (Dimas) dan Paini (Niken). Maka ketiga anaknya membalas Bapaknya dengan panggilan Paidjo (Hardjono) dan menyebut ibunya Paino (Retno). Dalam perjalanan hidupnya, Hardjono kemudian berpisah dengan istrinya, kemudian menikah lagi dengan gadis (Wiwid) asal Bugis yang akhirnya membuahkan seorang anak laki-laki bernama Bintang (sekarang kelas lima SD).

Sekadar menggarisbawahi ketokohan Hardjono dapat disimak catatan prestasi yang diraihnya antara lain: Juara cipta puisi Jawa Timur versi Dewan Kesenian Surabaya. Tiga naskah teater anak-anak juara Jawa Timur versi Dewan Kesenian Surabaya. Tiga naskah teater anak-anak juara nasional versi Dewan Kesenian Jakarta dan Pengembangan Kesenian di Jakarta. Dua naskah teater dewasa juara nasional masing-masing versi Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan dan PGI di Jakarta.

Naskah televisi juara nasional versi TVRI Surabaya. Juara puisi nasional versi sebuah harian di Jakarta. Naskah teater anak anak dan remaja juara Jawa Timur versi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur di Surabaya. Dua naskah cerita pendek juara Jawa Timur versi Dewan Kesenian Surabaya.

Naskah Dongeng juara Indonesia versi BP7 Pusat Jakarta. Naskah novel (cerita bersambung) “Titik Akhir” juara indonesia versi harian Suara Pembaruan di Jakarta. Dua naskah drama menjadi pemenang dalam Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja oleh Taman Budaya Jawa Timur, masing-masing “Nimok Aku Cinta Kamu” dan “Srikandi Edan”. Award khusus Teater dari Lembaga Indonesia Amerika. Naskah drama anak ”Layang-layang” diterbitkan UNESCO Together in dramaland bersama empat belas pengarang Asia Pasifik mewakili penulis teater anak di indonesia. Penghargaan Seni Budaya dari Gubernur Jawa Timur.

Lahir di Bondowoso, 11 Maret 1945, sejak 1997 Hardjono membuka padepokan seni di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Dia bilang kembali ke desa karena sudah jenuh di kota. Di sanggar budaya sederhana ini, setiap bulan Hardjono menggelar kegiatan seni untuk siapa saja. Salah satunya Wayang Arek (Yang Rek), wayang kulit campur teater anak-anak. Ini semacam latihan teater sederhana untuk anak-anak. Hardjono hanya berperan sebagai moderator, pengatur lakon, sementara pemainnya, ya, anak-anak. Penonton pun ikut main.

Pada 2004 Putera dari pasangan orangtua RW Soetrisno dan Rr Roekminiwati ini dipercaya sebagai ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM). Inilah kali pertama dalam sejarah Mojokerto punya Dewan Kesenian. Dan Hardjono jadi ketua pertama. Hardjono memang sosok pencari dan pembagi ilmu. Selain mengenyam pendidikan di Aksera, ketika bermukim di Sumatera Selatan pernah kuliah di Fakultas Hukum tidak selesai dan pendidikan guru hingga selesai. Dia juga pernah menjadi penanggung jawab sekaligus pembawa acara Bina teater di TVRI Surabaya, dan menjadi guru kesenian.

Beberapa tahun belakangan, Hardjono memang hanya serius menjadi penulis. Sesekali memahat sebagai selingan. Selain karena tekatnya sendiri, kondisi fisiknya juga sering sakit-sakitan, hampir tidak pernah keluar dari desanya sendiri di Jatidukuh, Gondang, Mojokerto. Sampai akhirnya, untuk kedua kalinya dia harus opname di Rumah Sakit karena gangguan jantung dan infeksi paru. Pagi itu, dalam kondisi tidak sadarkan diri, Hardjono bernafas tersengal-sengal dengan bantuan tabung oksigen. Sempat saya bisikkan bacaan Surat Yasin, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir menjelang tengah hari di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudiro Husodo, kota Mojokerto. Selamat jalan Mas Har…. (*)

Henri Nurcahyo, penulis lepas

catatan: Ini adalah tulisan asli sebelum dimuat dan diedit oleh redaksi Jawa Pos, 27 Januari 2013

Satu Tanggapan

  1. terima kasih untuk kesan indah yang tertinggal dari bapak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: