Wisata Nostalgia Wisman Belanda ke Pabrik Gula

Oleh Henri Nurcahyo

Tidak dapat dipungkiri, bahwa keberadaan Pabrik Gula di negeri ini memang lahir karena jasa pemerintahan Hindia Belanda. Suka atau tidak suka, puluhan Pabrik Gula yang tersebar di seluruh pulau Jawa sekarang ini menjadi monumen bersejarah yang tak bisa dianggap remeh. Bagi sebagian warga Belanda pada masa sekarang ini, Pabrik Gula tak ubahnya potret masa lalu moyang mereka. Bukankah ini potensi bisnis wisata yang menarik?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim pada Juni 2012 wisatawan mancanegara (wisman) asal Belanda yang berwisata ke Jatim sebanyak 255 orang atau naik 13,33 persen dibandingkan sebelumnya yang hanya 225 orang. Dengan kata lain, selama semester I pada 2012 wisman Belanda yang ke Jatim 1.268 orang. Wisman asal Belanda telah memberikan kontribusi 1,46 persen dari total wisman yang ke Jatim selama Juni 2012.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Irlan Indrocahyo, mengatakan, wisman Belanda yang ke Jatim selain berwisata menikmati pemandangan alam seperti Gunung Bromo, Kawah Gunung Ijen, Pantai Plengkung juga napak tilas peninggalan Belanda di Jatim. Tempat-tempat yang sering dikunjungi wisman Eropa khususnya Belanda adalah wisata kereta api lokomotif uap di pabrik Gula Semboro Kencong Jember, Makam Kristen Kembang Kuning di Surabaya, KBS, bangunan peninggalan Belanda di Surabaya.

Dari berita tersebut ternyata Pabrik Gula termasuk salah satu yang dikunjungi wisman Belanda tersebut, meski “hanya” melihat keberadaan kereta api lokomotif uap di PG Semboro, Kencong, Jember. Padahal, potensi sejati Pabrik Gula sebagai objek wisata sebetulnya justru bukan pada keberadaan kereta api lokomotif uap tersebut. Pabrik Gula adalah mutiara terpendam yang belum digosok sehingga belum ketahuan kelebihannya. Sebab kalau hanya KA lokomotif uap saja, justru hal itu bukan potensi khas Pabrik Gula, namun lebih condong ke aset perkereta-apian. Dengan kata lain, Pabrik Gula memang belum menjadi salah satu objek wisata yang sengaja dikunjungi wisatawan Belanda. Padahal, Pabrik Gula merupakan industrial heritage yang menarik sebagai objek wisata.

Lantas, apa menariknya Pabrik Gula? Di Jawa Tengah ada Museum Gula yang konon merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. Museum yang berada di lingkungan PG Gondang Baru Klaten ini memiliki koleksi peralatan tradisional penanaman tebu bibit tebu, lokomotif kuno pengangkut tebu, peralatan tradisional pemeliharaan tanaman tebu dan alat-alat, mekanisme atau fabrikasi dari pabrik gula, serta beberapa foto pabrik gula lama, upacara giling pertama, tiruan visualisasi ruang administrasi lama dan foto para pejabat terkait PG tersebut. Termasuk pula, maket pabrik gula (secara umum), beberapa toples berisi beberapa produk pabrik gula sampai limbahnya (seperti gula pasir, tetes tebu, dan ampas tebu). Proses penanaman tebu hingga menjadi gula konsumsi, bahkan dipajang pula hama pengganggu tanaman tebu.

Meskipun setiap Pabrik Gula memiliki potensi membangun museum gula, namun memang tidak harus membangun seperti yang dimiliki PG Gondang Baru tersebut. Tetapi setidak-tidaknya ada semacam “ruang informasi” di setiap Pabrik Gula yang menyediakan berbagai informasi terkait keberadaan PG tersebut. Sebab gedung kuno yang bersejarah, mesin-mesin besar yang sarat kisah, serta berbagai peralatan di Pabrik Gula tersebut hanya akan menjadi benda mati manakala tidak diberikan makna melalui data, fakta dan cerita.
Wisata Nostalgia

Bagaimanapun fakta bahwa keberadaan Pabrik Gula merupakan peninggalan masa Hindia Belanda, merupakan satu potensi tersendiri yang layak dijual menjadi promosi wisatawan Belanda. Meskipun bisa jadi mereka secara pribadi tidak punya kaitan apapun dengan tanah Jawa, namun sentimen negeri sendiri tentu akan memancing rasa ingin tahu mereka. Analog hal ini dapat disebutkan negeri Suriname yang banyak memiliki warga asal Jawa, tentu merupakan daya tarik bagi warga Indonesia, khususnya suku Jawa, ketika berkunjung ke Suriname.

Sebagai contoh sederhana, kalau saja di Pabrik Gula dipajang foto-foto pejabat atau pegawai Pabrik Gula zaman Hindia Belanda (apalagi ada data lengkap yang menyertainya), tentu akan menarik perhatian ketika ada wisatawan Belanda yang berkunjung ke PG tersebut. Manakala informasi ini dijadikan bahan promosi, bisa jadi juga akan menarik wisatawan Belanda lain penasaran ingin pula mengetahuinya. Siapa tahu diantara foto-foto itu terdapat saudara atau kenalan dari orangtua dan kakek-nenek mereka ketika tinggal di tanah Jawa?

Antara Pabrik Gula dan Negeri Belanda memiliki jalinan historis yang sangat menarik sehingga layak dijual sebagai objek wisata. Ratusan industri gula yang pernah terdapat di negeri ini menjadikan “Indonesia” merupakan negara eksportir gula terbesar di dunia disamping Kuba. Meski jumlah Pabrik Gula yang ada sekarang ini sudah jauh berkurang dibanding dulu, namun ternyata yang masih sisa itupun berfungsi dengan baik dan tidak ada yang mampu menggantikan Pabrik Gula yang baru.

Lantaran keterkaitan dengan masa lampau dan aspek emosi itulah maka jenis wisata Pabrik Gula bagi wisatawan Belanda ini merupakan sebuah Wisata Nostalgia. Wisatawan Belanda dapat bernostalgia terhadap masa-masa ketika orangtua atau kakek-nenek mereka tinggal di pulau Jawa dan menjadi bagian dari Pabrik Gula. Atau, kalau toh mereka tak punya ikatan keluarga dengan orang Belanda yang pernah tinggal dan menjadi bagian dari Pabrik Gula, setidaknya ada jalinan emosional sebagai warga Belanda yang pernah selama ratusan tahun menjadi bagian dari (negeri) Hindia Belanda. Wisata nostalgia ibarat napak tilas kehidupan generasi tua mereka.

Bukankah lantaran nostalgia itu pula yang membuat mereka tertarik dengan gedung-gedung tua bersejarah? Barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa keberadaan Pabrik-pabrik Gula sebetulnya termasuk dalam wilayah arkeologi industri, sebuah disiplin arkeologi yang kurang populer di negeri ini. Bahwa yang namanya arkeologi itu tidak harus berurusan dengan candi-candi dan situs-situs purbakala berusia ribuan tahun. Pabrik-pabrik gula itu sudah memiliki potensi sebagai obyek wisata arkeologi industri dengan adanya gedung-gedung tua (bekas) pabrik, mesin-mesin besar yang dulu pernah (atau masih) berfungsi, lokomotif uap sebagai sarana transportasi mengangkut tebu, serta berbagai peralatan terkait pabrik gula.
Pertanyaannya, apakah kepada wisatawan Belanda itu dijelaskan perihal makna arkeologi indusri ini? Jangan-jangan pemandunya sendiri tidak memahaminya, sehingga kedatangan wisman hanya sebatas jalan-jalan dan cuci mata belaka.

Beberapa Tantangan

Jika memang serius menjadikan Pabrik Gula sebagai objek wisata, tantangannya sekarang adalah, apakah pihak Pabrik Gula sendiri memang sudah siap, bersedia dan bahkan bersikap proaktif memposisikan diri sebagai objek wisata? Jangan-jangan malah hal ini dianggap “menambah kerjaan yang merepotkan.” Sebab untuk menjadikan Pabrik Gula sebagai objek wisata tidak semudah mengatakannya. Mendeklarasikan diri sebagai objek wisata berarti siap menjadi pihak yang harus melayani keingin-tahuan banyak orang yang beragam kemauannya, siap repot, dan tidak boleh bosan.

Karena yang namanya pariwisata itu adalah sebuah industri jasa. Dan sebagai bisnis jasa, maka andalan utamanya adalah informasi dan pelayanan. Wisatawan harus mendapatkan informasi yang tepat, cepat dan akurat terkait objek wisata tersebut. Dan menyangkut pelayanan, termasuk pelayanan informasi, akan menjadi sarana promosi yang sangat efektif, baik yang bersifat positif atau negatif. Artinya, dalam sektor bisnis yang mengandalkan jasa, faktor pelayanan ibarat pisau bermata dua. Sekali wisatawan mendapatkan perlakuan yang memuaskan, dia akan cerita dari mulut ke mulut mengenai rasa puasnya itu. Demikian pula sebaliknya. Apakah Pabrik Gula sudah menyiapkan diri dengan hal-hal seperti ini? Apakah Pabrik Gula sudah menyiapkan tenaga pemandu wisata yang siap melayani wisatawan kapan saja?
Tantangan kedua, siapa yang menjadi “operator” paket wisata Pabrik Gula ini? Apakah kesemuanya memang harus dikerjakan oleh pihak Pabrik Gula sendiri? Ataukah ditangani langsung oleh PTPN X? Kalau betul PTPN X memang serius menjadikan Pabrik Gula sebagai objek wisata, apakah memang sudah ada unit tersendiri yang menangani hal ini? Sejauh mana jajaran Pabrik Gula sudah terintegrasi dengan rencana besar yang tidak boleh dikerjakan main-main ini?

Ketiga, dalam wilayah PTPN X ada belasan Pabrik Gula, lantas apakah semua Pabrik Gula tersebut dinyatakan sebagai objek wisata, dimana wisatawan bebas memilihnya? Atau, hanya ditetapkan satu atau beberapa Pabrik Gula saja sebagai contoh? Bukankah antara Pabrik Gula yang satu dengan yang lainnya isinya toh sama saja? Sebutlah di Sidoarjo, sekarang ini ada 4 (empat) Pabrik Gula yang masih aktif, yaitu Candi, Krembung, Tulangan dan Watutulis. Pabrik Gula manakah yang ditetapkan sebagai objek wisata? Daripada menggarap dan menyiapkan semua Pabrik Gula sebagai objek wisata namun hasilnya setengah-setengah, maka pemilihan selektif akan memaksimalkan hasilnya.

Keempat, yang namanya pariwisata itu sebuah industri jasa yang integrated antara satu elemen dengan elemen lainnya. Tidak bisa hanya PTPN X saja yang berambisi menjadikan Pabrik Gula sebagai objek wisata, sementara PG-nya sendiri malah bersikap pasif. Demikian pula elemen lain yang menunjangnya, mulai dari sarana transportasi, akomodasi hingga sarana penunjang lainnya. Apakah pihak PTPN X hanya menyediakan objek wisata (Pabrik Gula) sementara operasionalnya diserahkan Biro Perjalanan Wisata?
Kelima, kalau menjadikan wisman Belanda sebagai target pasar, sudahkah dilakukan promosi “jemput bola” di Negeri Belanda sendiri? Mau tak mau, harus ada promosi di Belanda mengenai “Objek Wisata Pabrik Gula” agar masyarakat Belanda tertarik datang ke Indonesia dengan motivasi utama berkunjung ke Pabrik Gula. Bukan seperti yang terjadi sekarang ini, wisman Belanda sama sekali tidak memiliki informasi mengenai potensi Pabrik Gula sehingga mereka hanya sempat “dimampirkan” melihat lokomotif kereta uap yang kebetulan lokasinya ada di Pabrik Gula Semboro Jember. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: