Eksplorasi Kreativitas Pabrik Gula sebagai Obyek Wisata

Oleh Henri Nurcahyo

Bagaimana menjadikan pabrik gula sebagai obyek wisata? Bukan hanya sekadar membanggakan tampilan fisiknya sebagai cagar budaya, atau bernostalgia dengan masa lampau sebagai peninggalan zaman Belanda. Dibutuhkan kreativitas dan inovasi agar pabrik gula tidak hanya menjadi obyek wisata pasif, melainkan juga aktif, dinamis dan kreatif. Bagaimanakah caranya?

Dimulai dari pertanyaan sederhana: “Siapakah yang sudah pernah masuk Pabrik Gula?” Kecuali karyawan dan keluarganya dan kalangan pejabat terbatas, maka hampir dapat dipastikan masyarakat umum tidak ada yang pernah memasuki kawasan Pabrik Gula. Keberadaan pabrik gula sepertinya hanya dipandang sebagaimana pabrik pada umumnya, yaitu suatu tempat untuk memproduksi sesuatu dan hanya layak diketahui oleh orang-orang yang berkepentingan belaka. Padahal Pabrik Gula adalah sebuah pabrik yang mengandung sejarah panjang terkait dengan sejarah negeri ini. Pabrik Gula bukan sekadar sebutan pabrik untuk memproduksi gula belaka, namun di dalamnya tersimpan jutaan kisah yang dapat menginspirasi banyak orang melahirkan karya-karya monumental.

Dari sisi tampilan fisiknya saja sebetulnya Pabrik Gula memang layak dijadikan obyek wisata, karena semua Pabrik Gula dibangun masa penjajahan Belanda yang berarti sudah berusia ratusan tahun. Sejumlah mesin-mesin kuno dalam Pabrik Gula itu juga banyak yang masih dimanfaatkan dan tentunya juga memiliki kisah yang panjang. Bagaimana ceritanya mesin-mesin besar itu dapat tersebar sampai ke pelosok-pelosok tanah Jawa ketika pada masa itu (baca: abad 17-18) belum ada alat transportasi yang memadai?

Terkait dengan industri gula, tentu orang kota zaman sekarang tidak bakal tahu bahwa pada tempo doeloe pernah ada sapi yang berjalan dengan mata tertutup sebelah, mengelilingi sebuah tonggak yang dihubungkan dengan sepasang silinder besi penggilas tebu. Itu adalah “pabrik gula” milik rakyat yang dapat dipindah-pindah untuk memproduksi gula merah. Keberadaan mesin pengepres tebu seperti ini merupakan bagian dari sejarah Pabrik Gula yang tak layak dilupakan begitu saja.

Dari aspek sejarah, Pabrik Gula adalah sebuah “perpustakaan hidup” yang di dalamnya terdapat banyak kisah yang menginsprasi lahirnya cerita-cerita rakyat terkait dengan Pabrik Gula atau kebun tebu. Sebut saja cerita legendaris dalam ludruk berjudul “Sakerah”, yang konon pernah menjadi mandor Pabrik Gula. Kisah mengenai Sakerah ini adalah cerita fiksi berlatar belakang sejarah kebun tebu di Bangil Pasuruan. Juga sastrawan ternama Pramudya Ananta Toer menjadikan Pabrik Gula Toelangan di Sidoardjo sebagai setting novel tetraloginya “Bumi Manusia”. Dan yang betul-betul merupakan kisah sejarah adalah pemberontakan Kyai Kasan Mukmin dari Gedangan yang antara lain sarat dengan kisah terkait kebun tebu sebagai penyebabnya.
Belum lagi kalau menelusur produksi gula dari hulu ke hilir. Bagaimana pengadaan lahan untuk kebun tebu, hubungannya dengan kalangan petani dan penggarap, budidaya tanaman tebu itu sendiri, proses pengubahan tebu sampai menjadi gula dan siap dipasarkan untuk kemudian menjadi pemanis secangkir teh atau kopi. Sebutan gula merah dan gula putih itu saja sudah memancing asosiasi seperti menyebut bendera negeri ini, merah-putih. Apakah ini sebuah sinyal bahwa sesungguhnya Pabrik Gula memang identik dengan ke-Indonesiaan? Sebab hanya di Indonesia ada gula merah dan putih karena bahan dan prosesnya, sementara di negara-negara Barat bukan menggunakan bahan baku berupa tebu.

Kesemuanya itu merupakan fakta-fakta yang dapat menjadi potensi pariwisata. Kesemuanya harus ditulis, didokumentasikan sepanjang memungkinkan hingga ke tataran fisiknya, dan menjadi bahan cerita bagi wisatawan. Sebab, apalah artinya sebuah fakta kalau tidak disertai data dan cerita?

Eksplorasi Kreativitas

Barangkali lebih dulu perlu memahami apa itu pariwisata. Substansi dari pariwisata adalah realisasi keinginan seseorang untuk pergi ke suatu tempat agar dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahui, atau ingin mengalami sesuatu yang belum dialami. Pada titik inilah maka dapat dikembangkan sebuah konsep bahwa membangun sebuah industri pariwisata adalah bagaimana caranya sesuatu itu “dibuat sedemikian rupa” agar merangsang banyak orang untuk dapat mengetahui atau mengalami secara langsung.

Makna dari “dibuat sedemikian rupa” itu adalah melakukan suatu “rekayasa” agar sesuatu yang nampaknya biasa saja, yang diremehkan dan tidak banyak diperhatikan, dijadikan sesuatu yang istimewa. Dengan kata lain, bagaimana memberi makna terhadap sesuatu agar menjadi berharga. Dengan demikian maka menjadi potensial untuk dijual sebagai obyek wisata.

Dengan batasan seperti itu maka sebetulnya “apa saja” dapat dikemas sedemikian rupa menjadi obyek wisata asal dapat menimbulkan keinginan banyak orang untuk mengetahui apa mengalaminya. Dengan kata lain, teks penting dalam pariwisata sebetulnya bukan “apa” melainkan “bagaimana”. Sebuah contoh sederhana, kalau ada seonggok batu tergeletak begitu saja, tentu tidak akan membuat banyak orang tertarik dengan keberadaan batu tersebut. Ketika kemudian diketahui bahwa batu tersebut adalah satu-satunya prasasti yang membuktikan bahwa ibukota kerajaan Sriwijaya ada di Palembang, maka banyak orang yang ingin mengetahuinya. Rekayasa yang dilakukan adalah, batu itu disimpan dalam sebuah kotak kaca untuk melindunginya, dan dibangunkan pendopo di atas lahan luas lengkap dengan tamannya yang indah di sebuah kawasan yang diberi nama “Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya”.

Dalam kaitan itu maka keberadaan Pabrik Gula sesungguhnya sudah merupakan teks tersendiri yang potensial dijadikan sebagai obyek wisata. Tinggal bagaimana menciptakan konteksnya sehingga mampu menyedot wisatawan untuk mengunjunginya. Konteks itu adalah bagaimana “menyediakan cerita menarik” sehingga wisatawan merasa mendapatkan sesuatu ketika melihat seonggok benda mati di kawasan pabrik gula.

Bagaimana caranya? Ada beberapa tahapan menjadikan Pabrik Gula sebagai obyek wisata yang kreatif. Terus terang, sebagian dari yang ditulis di bawah ini sudah dilakukan oleh Pabrik Gula tertentu namun banyak yang belum, dan apalagi yang dengan sengaja mengemasnya sebagai sajian wisata yang menarik.

Pertama, adalah menyuguhkan tampilan fisik Pabrik Gula itu sendiri, berupa bangunan tua dan mesin-mesin besar yang masih aktif maupun hanya sudah tidak berfungsi. Obyek fisik yang masih berfungsi tentunya adalah peralatan Pabrik Gula itu sendiri. Sedangkan yang sudah tidak berfungsi misalnya, rumah-rumah tinggal administratur dan stafnya yang juga merupakan cagar budaya, termasuk juga benda-benda kuno yang melengkapinya (meski dalam prakteknya masih difungsikan). Wisatawan juga dapat mengetahui sejarah mesin yang digunakan untuk memproses tebu hingga menjadi gula. Sejak mesin tempo doeloe hingga mesin modern, lengkap dengan bagaimana cara kerjanya.

Kalau sebuah Pabrik Gula hendak berniat dijadikan obyek wisata maka setidaknya harus disediakan sebuah ruang yang berfungsi menjadi semacam museum mini terkait dengan Pabrik Gula tersebut. Ruangan itu sekaligus berfungsi menjadi pusat informasi pabrik gula yang menyajikan pajangan foto-foto bersejarah, foto proses pembuatan gula sejak penanaman tebu hingga menjadi gula konsumsi. Bahkan sediakan juga komputer yang dapat menayangkan apa saja informasi yang menarik bagi wisatawan. Kalau perlu dilengkapi LCD Projector layar lebar agar dapat dinikmati secara bersama untuk wisatawan rombongan.

Perlu juga diperhatikan, harus ada sesuatu yang lebih eksklusif dari cerita sederhana mengenai Pabrik Gula. Dan kalau mau digali, pasti banyak kisah menarik yang tersimpan dalam arsip sejarah perjalanan Pabrik Gula selama ini. Masak sudah berusia lebih dari 300 tahun tidak bisa didapatkan cerita eksklusif yang mampu mengundang rasa penasaran publik.

Kedua, suguhan yang berupa sebuah aktivitas. Misalnya saja, proses membuat gula sejak penggilingan tebu sampai dengan menjadi gula siap konsumsi. Untuk banyak kalangan, proses membuat gula merupakan kisah yang menarik diketahui, tetapi masih perlu dimaksimalkan daya tarik lainnya sehingga sepertinya tidak cukup sehari mengunjungi pabrik gula. Misalnya saja, tidak banyak yang tahu bahwa selain gula dipergunakan sebagai pencampur minuman kopi, coklat dan teh, maka tetes atau gula kental pun dapat diolah melalui fermentasi tertentu, diubah menjadi arak atau rum. Nah proses membuat arak atau rum itu tentu menjadi sajian wisata yang menarik.

Ketiga, bukan saja menyaksikan pemandangan atau aktivitas, melainkan wisatawan mendapatkan pengalaman tersendiri. Misalnya saja, dari proses pembuatan gula tersebut, dicari kemungkinan ada tahapan wisatawan dapat ikut serta menjalankannya seolah-olah berperan sebagai karyawan pabrik. Meski hanya peran kecil, itu saja sudah membawa kesan tersendiri.

Kreativitas program tentu harus dikemas sedemikian rupa agar wisatawan merasa menjadi istimewa karena memperoleh pengalaman yang langka. Misalnya saja, selain wisatawan menikmati lokasi pabrik, proses produksi membuat gula, juga berwisata menaiki kereta lori (sudah ada Pabrik Gula yang melakukannya, hn) atau mencoba sendiri “menggantikan sapi” dalam proses pembuatan gula merah oleh industri gula rakyat. Atraksi yang disebut terakhir ini tentu menjadi aktivitas yang menarik, eksklusif dan pasti sangat mengesankan. Termasuk juga, wisatawan diberi kesempatan mengaduk sendiri pembuatan gula merah di wajan besar.

Keempat, menciptakan sebuah aktivitas tertentu sebagai atraksi wisata. Tidak harus aktivitas baru, namun dapat memberdayakan tradisi yang sudah ada. Misalnya, tradisi Manten Tebu sebagaimana yang ada di PG Madukismo Yogyakarta sebagai ritual menjelang musim giling. Ritual ini berupa dua buah batang tebu yang seolah-olah dianggap sebagai pengantin (manten) yang dikirab menggunakan dokar, dibarengi dengan karnaval, disemarakkan dengan tontonan dan keramaian, hingga akhirnya dibawa ke mesin penggiling untuk dijadikan sebagai tebu yang pertama kali digiling.

Sebetulnya tradisi Manten Tebu bisa saja dihidupkan di setiap Pabrik Gula, namun karena selama ini sudah kadung diklaim sebagai tradisi milik PG Madukismo, tentu tidak elok jika kemudian meniru hal yang sama. Yang kemudian dapat dilakukan adalah menghidupkan dan menyemarakkan tradisi pesta rakyat menjelang musim giling sebagaimana yang juga sudah menjadi tradisi di semua Pabrik Gula sejak zaman Belanda dulu. Hanya saja, masing-masing Pabrik Gula perlu memperhatikan kesenian rakyat setempat yang menjadi ciri khas atau setidaknya kesenian yang tumbuh subur di daerah tersebut sehingga dapat membedakan dengan Pabrik Gula lainnya.

Bahkan, jangan hanya sekadar keramaian belaka, pihak manajemen Pabrik Gula dapat bekerjasama dengan Dewan Kesenian misalnya, atau event organizer kesenian, untuk menjadikan pesta rakyat tahunan tersebut dengan tema-tema tertentu yang dapat dibuat berganti-ganti setiap tahun. Bahkan, bukan hanya memberi tempat bagi seni-seni tradisi, melainkan juga seni populer dan seni modern atau kontemporer sekalipun. Kenapa tidak? Bayangkan, kalau di Jawa Timur sekarang ini ada 12 Pabrik Gula, maka dalam setahun ada 12 Pesta Kesenian dengan sajian unggulan yang berbeda-beda. Hal ini dapat dikemas menjadi agenda wisata yang tentu akan diapresiasi kalangan biro perjalanan dan pelaku pariwisata.

Kelima, ada yang perlu ditiru apa yang dilakukan House of Sampoerna (HoS) dalam mengemas pariwisatanya. Masyarakat umum mengenal kata Sampoerna sebagai merk rokok legendaris yang diproduksi di Surabaya. Pada kenyataannya, pabrik rokok Sampoerna sudah diambil alih oleh Phillip Morris, tetapi masih ada sepotong sisa sejarah yang tertinggal di jalan Sampoerna, yang berada di dekat bekas penjara Kalisosok. Masih ada sebuah gedung yang sengaja disisakan untuk memproduksi rokok, ada sebuah ruangan tempat para pekerja membuat rokok lintingan. Dan wisatawan dapat menyaksikan hal itu dari lantai dua.

Yang menarik adalah, proses produksi rokok yang ada di museum HoS itu semata-mata memang disajikan sebagai obyek wisata dan bukan merupakan bagian dari produksi pabrik rokok sebagaimana yang diproduksi untuk dipasarkan. Analog dengan hal ini maka Pabrik Gula juga dapat menyajikan seperangkat peralatan mesin giling tebu yang biasa digunakan di kebun tebu secara mobile. Peralatan kuno pengepres tebu ini dapat ditempatkan di halaman pabrik misalnya atau di tempat lapang, lengkap dengan sapi dan peralatan pembuatan gula merah. Kalau toh tidak untuk bernostalgia, maka menyaksikan (apalagi mencoba mengaktifkan) mesin giling itu adalah sesuatu pengalaman yang sangat berkesan.

Keenam. Pengelola HoS sangat menyadari bahwa keberadaan mereka sendiri belum menjadi magnit kuat untuk menyedot wisatawan. Sehingga diciptakanlah program Wisata Kota gratis yang dimulai dari kompleks HoS, keliling ke obyek-obyek wisata berupa gedung-gedung bersejarah yang ada di kota Surabaya. Pihak HoS menyediakan sarana bus wisata secara cuma-cuma kepada wisatawan, dengan jadwal tertentu atau sesuai perjanjian. Ini terobosan kreatif yang layak ditiru dan tidak perlu tabu meniru sesuatu yang baik.
Wisata Pabrik Gula juga dapat dilengkapi dengan paket keliling ke tempat-tempat terkait produksi gula. Misalnya setelah berkeliling kompleks pabrik dapat mengunjungi lahan perkebunan tebu dengan mengendarai kereta lori. Kemudian juga bersambung dengan mengunjungi sekolah perkebunan (kalau ada), bahkan juga obyek-obyek wisata lain yang tidak ada kaitan langsung dengan urusan gula. Jadi seperti membuat paket wisata Pabrik Gula Plus.

Dengan demikian perlu ada semacam unit tersendiri dalam manajemen Pabrik Gula yang khusus menangani pariwisata, itu kalau memungkinkan. Atau, bagaimana caranya menjadikan keberadaan Pabrik Gula menjadi satu rangkaian paket perjalanan wisata bersama dengan obyek wisata lainnya. Pihak Pabrik Gula harus pro aktif kepada kalangan penyelenggara perjalanan pariwisata, sebab selama ini nyaris tidak ada pernah ada Pabrik Gula yang dimasukkan sebagai salah satu obyek wisata yang layak dikunjungi.

Ketujuh. Dalam kerangka menjadikan Pabrik Gula sebagai salah satu obyek wisata, maka perlu dibangun jaringan dengan para biro perjalanan dan pariwisata, kalau perlu menggerakkan pada pemandu wisata (guide) agar mereka dapat memahami potensi Pabrik Gula sebagai obyek wisata. Perlu diselenggarakan semacam workshop khusus pemandu wisata mengenai sejarah dan seluk beluk serta posisi dan potensi Pabrik Gula dalam industri wisata. Tidak lupa pula, program yang sama juga berlaku untuk para wartawan, penulis dan citizen journalist.

Jadi kalau selama ini orang menyebut obyek wisata itu hanya berupa pemandangan alam, tempat rekreasi, gedung-gedung bersejarah dan sebagainya, maka ke depan harus ditambah satu lagi: Pabrik Gula. Kenapa tidak? (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: