Buku Tebal Sejarah Pabrik Gula, Siapa Mau Baca ?

Oleh Henri Nurcahyo

foto-1Membahas keberadaan Pabrik Gula di negeri ini dalam konteks sejarah, ibarat membaca sebuah buku tebal yang sarat kisah. Kalau kemudian Pabrik Gula hendak dijadikan objek wisata sejarah, siapakah yang bersedia, mau dan mampu membaca buku tebal itu? Jangan-jangan pengembangan wisata sejarah Pabrik Gula hanya dimaknai secara dangkal belaka, sebatas berfotoria dengan latarbelakang gedung kuno dan mesin-mesin tua belaka.

Dari berbagai literatur dapat diketahui, bahwa Indonesia (tentu masih bernama Hindia Belanda) pernah menjadi negara eksportir gula terbesar di dunia, disamping Kuba. Negeri ini pernah punya ratusan Pabrik Gula yang tersebar di pulau Jawa dan Sumatera. Dan terbilang ribuan “pabrik” manakala dimaknai sebagai mesin pengepres tebu yang mobile dan dioperasikan langsung di kebun-kebun tebu untuk menghasilkan gula merah.

Dalam “buku tebal” itu juga dapat dibaca kisah pada abad ke-8 ketika air tebu masih dianggap barang mewah, lantaran bahan pemanis masih menggunakan madu dan umbi-umbian, sampai dengan ditemukannya alat pengepres tebu oleh orang Tionghoa abad ke-15. Maka dua abad kemudian pengepresan tebu berjalan profesional di Batavia yang dikelola orang-orang Tionghoa pula, sampai kemudian beralih ke tangan VOC. Sejak itu berlangsunglah pasang surut produksi gula lantaran persaingan global dan sebab-sebab internal, yang kemudian beralih pada produksi arak oleh pedagang besar Inggris.

Sejarah Gula di Jawa juga berkaitan dengan sistem kulturstelsel, kerja rodi kaum pribumi, perampasan tanah-tanah rakyat untuk perluasan kebun tebu dan berbagai kisah dramatis yang kemudian menginspirasi lahirnya karya-karya sastra bahkan juga sejarah nyata. Novel Tetralogi Pramudya Ananta Toer yang terkenal itu mengambil setting Pabrik Gula Toelangan. Demikian pula pemberontakan Kyai Kasan Moekmin. Sementara legenda Sakerah yang populer menjadi cerita ludruk juga menceritakan konflik seputar kebun tebu dan Pabrik Gula.

Sedemikian vitalnya posisi Pabrik Gula di negeri ini sampai perlu ada Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula atau BP3G, juga ada bengkel besar dengan nama De Bromo sebagai tempat perbaikan pabrik, penyediaan suku cadang dan tempat perbengkelan mesin berat. Kisah tentang institusi-intitusi itu saja sudah membutuhkan penjelasan yang lumayan panjang. Belum lagi kisah rontoknya Pabrik Gula sampai akhirnya hanya tinggal hitungan belasan saja.

Di Jawa Timur saja, Pabrik Gula yang berada dalam naungan PTPN X ada 11 buah, tidak termasuk PG Candi di Sidoarjo yang dikelola swasta. Sementara Sidoarjo sendiri dulu sempat punya sekitar 16 Pabrik Gula, sampai akhirnya menyusut menjadi 5 pabrik, dan sekarang hanya 4 pabrik, termasuk PG Candi. Asal tahu saja, markas Arhanud di Sruni sekarang ini dulunya adalah Pabrik Gula juga. PG Wonoayu berubah menjadi markas polisi. Begitu pula PG Porong menjadi Pusdik Brimob, sementara yang lain ada yang berubah menjadi Puskesmas, Kantor Kecamatan dan sebagian lain hancur tanpa jejak.

Kisah PG Kremboong

Betapa kisah soal Pabrik Gula merupakan sejarah yang menarik antara lain dapat disimak sejarah PG. Kremboong Sidoarjo sebagai salah satu contohnya. Mengutip arsip yang diberikan kepada penulis oleh Arie Chandra selaku Sekretaris Umum PG Kremboong, bahwa PG itu didirikan Oleh N.V. Cooy dan Coster Van Voor Hout pada tahun 1847 di Desa Krembung, kabupaten Sidoarjo. Pada saat itu Pabrik Gula Kremboong memproduksi gula masih dengan tenaga manusia yang dibantu dengan peralatan yang masih sederhana, dan masih bersifat Home Industry.

Pada saat Belanda mengalami kekalahan perang atas tentara Jepang, sehingga kedudukan Belanda di Indonesia digeser oleh Jepang, maka Pabrik Gula Kremboong pada masa kedudukan Jepang tidak hanya digunakan untuk memproduksi gula, tetapi juga digunakan untuk pembuatan senjata Perang.

Selang beberapa tahun pecah Perang Dunia II antar Jepang melawan Sekutu, Jepang mengalami kekalahan sehingga terjadi kevakuman kekuasaan di negara Indonesia sehingga pada tahun 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Selanjutnya Pabrik Gula yang dikuasai oleh Jepang diambil alih oleh Indonesia. Pada saat itu PG. Kremboong belum dapat memproduksi gula karena situasi negara yang masih belum stabil.

Setelah Perang Dunia II pada tahun 1948, Belanda masuk lagi ke Indonesia, sehingga perusahaan-perusahaan Belanda yang ada di Indonesia dikuasai lagi. Baru pada tahun 1950 PG. Kremboong, dibangun lagi dan mulai berproduksi kembali.

Pada tahun 1957, saat terjadi perebutan Irian Barat, semua perusahaan di Indonesia yang dikuasai oleh bangsa asing diambil oleh bangsa Indonesia. Pada tahun itu kepengurusan ditangani oleh Kementrian Perkebunan (Perusahaan Perkebunan Negara) diubah menjadi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP). Kemudian tahun 1973 PNP diubah lagi menjadi PTP (Perseroan Terbatas Perkebunan). Dengan terbentuknya PTP ini maka PNP XXI dan PNP XXII dilebur menjadi satu yaitu PTP XXI-XXII. Dimana PG. Kremboong termasuk di dalamnya. Sampai kemudian diadakan penggabungan beberapa PTPN sehingga PG Kremboong menjadi salah satu bagian dari 11 PG di Jatim yang dibawah PTPN X.

Dari sekelumit kisah itu dapat disimak, betapa berartinya posisi Pabrik Gula sampai harus menjadi “rebutan” penguasa yang ada pada zaman itu. Dan yang menarik, sebagaimana dikisahkan di atas, PG Kremboong pernah dimanfaatkan untuk pembuatan senjata perang pada zaman penjajahan Jepang. Bukankah sekelumit kisah ini sangat menarik manakala ditelusuri lebih jauh?

Pertanyaannya adalah, siapa yang tertarik dengan kisah sekarah semacam itu? Wisatawankah? Menurut penuturan Candra, dari sejumlah wisatawan asing Belanda yang pernah mengunjungi PG ini mereka hanya tertarik foto-fotoan belaka. Mungkin mereka merasa nostalgia dengan kehidupan masa Hindia Belanda, dimana bisa saja orangtua atau kakek neneknya pernah bersangkut-paut dengan Pabrik Gula ini. Sebab, pernah ada sekelompok wisatawan dari Belanda yang sengaja khusus datang ke PG ini tanpa melalui jasa biro wisata.

Di kompleks pabrik itu memang masih berdiri tegak sebuah cerobong besar dengan angka tahun 1847 terpampang besar di bagian atasnya. Angka yang sama juga tertulis jelas di dinding pintu samping menuju areal penggilingan. Sementara ada lonceng kuno berangka tahun 1890 yang masih difungsikan. Di bagian lain juga masih terdapat lokomotif kereta uap yang sudah tidak berfungsi, sebagaimana mesin-mesin raksasa yang sebagian besar memang hendak dipensiunkan. Harap maklum, PG ini memang sedang mengalami modernisasi, dengan penggantian sejumlah peralatan kuno dengan yang modern untuk mengejar ketertinggalan produksi.
Kalau toh PG ini hendak dijadikan objek wisata sejarah, nampaknya menjadi dilematis karena perlahan namun pasti, yang namanya “sejarah” itu hanya tinggal kenangan saja ketika satu demi satu artefak kuno berganti menjadi modern. Paling-paling cerobong raksasa itu saja yang tersisa, serta bekas-bekas mesin besar yang tak lagi terpakai, juga lokomotif uap yang tersimpan di kandang.

Kepada penulis, secara pribadi Chandra mengakui tertarik dengan gagasan menjadikan Pabrik Gula sebagai objek wisata. Diapun berangan-angan menjadikan rumah dinas Administratur PG menjadi semacam museum, mungkin seperti Museum Gula di PG Gondang Baru di Klaten, lengkap dengan sajian kulinernya. Tetapi seiring dengan modernisasi yang sedang berlangsung di PG Kremboong, nampaknya PG Toelangan yang lebih cocok menjadi objek wisata lantaran masih bertahan dengan kekunoannya.

Wisata Sejarah

Hakekat wisata sejarah adalah sebuah pariwisata yang mengandalkan muatan sejarah sebagai objek utamanya. Artinya, meski sedemikian unik dan menarik sebuah nampakan fisik misalnya, tidaklah berarti apa-apa manakala tidak memiliki kandungan sejarah sama sekali. Tetapi sebuah artefak yang jelas-jelas mengandung sejarah, kalau tidak diketahui kisahnya, atau sudah diketahui tetapi tidak diceritakan kepada wisatawan, juga tidak berarti apa-apa.

Jadi wisata sejarah itu ibarat dua sisi dari satu mata uang yang sama. Yaitu pihak penyelenggara wisata atau pemilik/pengelola objek wisata di satu sisi, dengan pihak wisatawan di sisi yang lainnya. Kedua belah pihak musti berpijak pada landasan yang sama, yaitu sama-sama menjadikan aspek sejarah sebagai muatan utama aktivitas wisatanya.

Pihak wisatawan akan berangkat dengan motivasi “ingin melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sudah diketahui melalui bacaan” sementara pihak penyelenggara wisata atau pemilik dan pengelola objek wisata sudah harus siap menyediakan kisah sejarah yang melekat pada artefak yang ada. Percuma saja wisatawan ngotot ingin mengetahui kisah sebuah artefak misalnya, kalau ternyata tidak ada yang bisa menerangkan. Sementara pihak penyelenggara wisata atau pemilik objek wisata juga percuma saja berbuih-buih menerangkan kandungan sejarah sebuah artefak kalau wisatawannya hanya asyik foto-fotoan belaka.

Kesimpulannya, menjadikan Pabrik Gula sebagai objek wisata sejarah sebetulnya merupakan tahapan tersendiri yang lumayan tinggi. Jangankan menjadi objek wisata sejarah, Pabrik Gula sebagai objek wisata biasa saja masih terbilang agak asing atau setidaknya belum populer. Masih banyak yang harus dibenahi kalau ingin menjadikan Pabrik Gula menjadi objek wisata, apalagi Wisata Sejarah. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: