Catatan Pengalaman Umrah (1): Meditasi Vipassana di Tanah Suci

IMG_4934Meski sudah punya keinginan lama sekali, tidak pernah terbayangkan saya akhirnya benar-benar bisa berangkat umrah secepat ini. Padahal, justru yang saya rencanakan adalah, bahwa awal tahun ini saya akan berangkat retret, ikut meditasi Vipassana di Brama Vihara Arama, Singaraja, Bali, sebagaimana yang pernah saya lakukan persis dua tahun yang lalu. Maka membandingkan pengalaman retret di Vihara Budha dengan Umrah di Makkah, sungguh menarik. Dari sudut pandang inilah tulisan ini saya bermula.

Januari 2011, saya tertarik dengan tawaran seorang teman Budhis yang mengajak ikut meditasi Vipassana selama 10 (sepuluh) hari. Meski tempatnya di sebuah vihara, tempat ibadah kaum Budhis, ternyata peserta retret meditasi itu dari berbagai agama, juga datang dari berbagai negara. Masing-masing dipersilahkan menjalankan ritual agamanya masing-masing, asal tidak di tempat terbuka. Kalau Muslim misalnya, silakan sholat di kamar. Tidak diwajibkan ikut ritual Budha, boleh duduk-duduk berdiam diri saja. Selama mengikuti acara itu, dilarang membawa hape, dilarang bicara (tapa bisu), dilarang baca buku, nonton tivi, denger radio, bahkan kalau bisa jangan berpikir apapun. Pedomannya sederhana: Here and now. Tentu tidak sederhana melaksanakannya.

Sekadar tahu, yang dimaksud meditasi itu tidak harus duduk sila, mata terpejam, berdiam diri berlama-lama sebagaimana dipahami awam. Meditasi juga dapat dilakukan sambil berjalan, makan, mandi dan aktivitas seperti biasa. Bedanya, dalam menjalankan semua aktivitas itu harus dilakukan dengan cara yang sangat seksama, dirasakan, dihayati sampai sangat detil, seolah-olah aliran darahpun dapat terasa. Makan harus dilakukan sangat pelan, satu demi satu, jangan mengunyah sambil mengaduk nasi, betul-betul dirasakan dengan khidmat. Meditasi dilakukan selama 24 jam. Berjalan sejauh 25 meter saja bisa ditempuh selama 5 (lima) menit. Meski ada kalanya kita perlu berjalan cepat sebagai variasi, yang penting tetap konsentrasi.

Vipassana, adalah salah satu jenis meditasi. Jenis yang lainnya adalah Samatha. Disebut Vipassana karena yang menjadi objeknya bisa apa saja: rasa sakit di kaki ketika ditekuk, semut yang merambat, desir angin, ingat kerjaan dan keluarga di rumah dan banyak lagi. Semuanya itu tidak usah ditolak, tapi “dicatat” dan lama-lama akan hilang sendiri. Untuk membantu mengembalikan konsentrasi agar tidak melenceng kemana-mana, gunakan salah satu obyek, misalnya mengikuti gerakan perut ketika bernafas. Here and now. Jangan melamun, jangan berpikir macam-macam, konsentrasi saja terhadap apa yang dilakukan di sini dan sekarang ini. Sedangkan meditasi Samatha, harus konsentrasi terhadap satu hal saja. Sejak awal hingga akhir.

Saya membayangkan, kalau saya bisa menguasai metode meditasi Vipassana ini maka saya akan dapat melakukan sholat secara khusuk, tuma’ninah. Mengapa saya tidak mencoba menjadikan ritual sholat sebagai sebuah meditasi juga? Bukankah sholat yang benar itu justru tidak boleh sama sekali tidak peduli sekeliling? Itu sebabnya mata tidak boleh terpejam. Bahkan kalau misalnya ketika kita sedang sholat sendirian, kemudian ada tamu mengetuk pintu, kita bisa langsung membukanya, dan kemudian meneruskan sholat kembali. Mudah-mudahan pemahaman saya tidak keliru.

Itu sebabnya selama ikut retret ini saya malah rajin sholat lima waktu, karena memang tidak ada aktivitas apapun selain meditasi. Memang saya tidak bisa sholat berjamaah, apalagi Jum’atan, tetapi di tempat terpencil di atas bukit seperti Vihara ini mana ada masjid. Apalagi di Bali. Jadwal sholat itupun tepat waktu, setidaknya menurut perkiraan arloji yang selalu saya kenakan terus. Jadi, apa ruginya saya sebagai Muslim ikut acara ini?

Saya tidak punya urusan dengan Budha dan Vihara, meski ada teman yang menyebut saya pindah agama. Seorang Budhis yang menjadi petugas di Vihara itu malah mengatakan: “Budha itu sebetulnya bukan agama, tidak ada nabinya, Budha itu way of lives. Tapi kalau disebut sebagai agama yaa boleh-boleh saja.” Selama ini pemahaman masyarakat terhadap agama banyak didoktrin oleh rezim Orba yang mengharuskan semua warga negara beragama. Dan agama hanya dimaknai sebagai agama Samawi dan monotheistis. Itu sebabnya Konghucu tidak diakui sehingga harus “bersembunyi” bersama Budha di Klenteng yang kemudian dinamakan Vihara. Justru era Gus Dur yang mengakui Konghucu sebagai agama.

Nah saya lebih tertarik dengan prinsip melepas “kemelekatan” dengan cara retret meditasi ini. Singkatnya begini: Selama ini kita banyak tergantung dan sangat mencintai apa yang menjadi milik kita, seperti isteri (suami), anak-anak, pekerjaan, harta benda, pangkat dan banyak lagi. Bahkan satu hari tidak bawa hape saja rasanya seperti kiamat. Retret 10 hari itu mengajarkan kita untuk melepaskan semua kemelekatan itu. Kita memang butuh dan mencintai mereka, tetapi kita harus siap melepaskannya sewaktu-waktu. Semuanya. Bukankah itu semua tidak kita bawa mati? Kita lahir sendiri, mati juga sendiri.

Mustinya pengalaman ini saya tulis dua tahun yang lalu, seusai saya “menghilang” sehingga semua orang mencari. Tapi entah mengapa belum juga tergerak menuliskannya, ketumpuk berbagai pekerjaan, sampai akhirnya saya berangkat Umrah. Justru dengan pengalaman umrah inilah saya temukan banyak persamaan dengan meditasi Vipassana. Saya tidak menyesal menghapus rencana ikut retret meditasi di Bali lagi, meski saya masih tertarik retret meditasi namun bukan di Bali. Saya mau mencoba retret di kawasan Alas Purwo. Ada sebuah komunitas Budha Jawi di tengah hutan sana. Vihara Arama menurut saya kurang menarik, karena sekaligus juga menjadi obyek wisata, banyak dikunjungi turis. Saya juga sudah berjanji meditasi di pekarangan rumah Cak Parmin Ras di Lumajang….

Begitulah, ketika saya mendapat rejeki lumayan bulan Januari yang lalu, pas kebetulan ada keluarga teman yang mengajak bareng umrah. Ya sudah, rencana retret di Bali batal, juga rencana mau membangun ruang kerja untuk perpustakaan pribadi. Kamar depan yang tanpa plafon karena sudah jebol biarkan saja sementara. Biar saja rumah kemasukan air lagi saat air sungai depan rumah meluap. Yang penting bisa umrah dulu. Rejeki pasti tidak akan lari kalau memang dikehendakiNYA. Saya tetap melakukan retret meditasi Vipassana, tetapi di tanah suci Makkah, bukan di Bali. – Bersambung yaa… (ngantuk…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: