Catatan Pengalaman Umrah (2): Amanat Sahabat dari Akherat

foto - 2Umrah itu perlu biaya lumayan mahal (apalagi haji), juga butuh persiapan fisik bagus, harus punya waktu longgar, tidak punya tanggungan urusan dunia, disamping juga tentu harus puya modal ilmu soal umrah itu sendiri. Sementara saya selalu “sok sibuk” setiap hari, fisik juga gak fit, gak pernah olahraga. Soal dana? Apalagi… Bagaimana mungkin bisa punya duit puluhan juta untuk bisa berangkat? Tapi gara-gara amanat seorang sahabat yang sudah meninggal dunia, maka jadilah saya bisa berangkat umrah, beserta isteri. Betul-betul amanat dari akherat….. Subhanallah…..

Seringkali tetangga, saudara, juga sebagian teman yang bertanya: “kapan umrah, kapan haji, kapan ngulon…..?” Ketika saya mengenakan peci putih, seorang tetangga saya yang sudah Haji lantas nyeletuk, “sampeyan wis pantes ngoten lho… mbok ndang bidal…”. Menanggapi semua itu saya cuma tersenyum sambil berkata pelan: Insya Allah….. Padahal dulu-dulu saya selalu senyum saja dan dalam hati berkata, “ah mana mungkin…. saya gak punya tabungan apapun yang bisa diharapkan.” Rupanya ucapan tulus “Insya Allah” itu manjur juga. Sebab kalau memang DIA sudah menghendaki, maka tinggal Kun Fayakun saja kaaan… Terjadilah apa yang seharusnya terjadi.

Soal waktu, saya bisa menyediakan waktu agak panjang bulan Januari – Februari, sebab bulan-bulan itu pada umumya tidak ada banyak acara. Anggaran Gubermen belum turun, sehingga sering tidak ada job untuk jadi pengamat dan semacamnya. Soal kesiapan fisik, bisa latihan olahraga, minimal jalan-jalan pagi. Sepuluh hari sebelum berangkat umrah saya latihan jalan-jalan ke masjid Al Akbar. Dari rumah (Bungurasih) sudah jalan kaki, jalan keliling lokasi masjid, ternyata hanya kuat tiga putaran. Besoknya jalan lagi, hanya dua setengah putaran sudah minta jemput anak saya. Besoknya lagi, panggil tukang pijet… hahaa….

Urusan modal ilmu tinggal googling saja. Di Youtube sudah banyak. Buku-buku juga ada beberapa di rumah. Tapi itu teori, sebab prakteknya saya malah tidak sempat baca-baca buku karena dikejar deadline kerjaan. Bula Google sesekali, juga buka Youtube. Malah dua buku tentang haji saya bawa ketika berangkat. Persiapan teknis makin mepet karena jadwal umrah yang semula tanggal 27 Februari malah dimajukan 23 Februari. Walah…. Sampek kesusu-kesusu menyelesaikan pekerjaan. Maksud saya, supaya tidak ada tanggungan ketika berangkat.

Tapi urusan dana? Memang harus dipersiapkan sebelumnya. Hanya saja, ketika dana sudah tersedia, biasanya malah lupa rencana umrah. Walah….

Maka ketika awal Januari saya mendapat rejeki yang lumayan besar, segera saya buka rencana pengeluaran yang sebelumnya sudah saya siapkan. Antara lain, nyahur hutang (hehee… lumayan besar lho, hampir 20 juta, biaya daftar kuliah anak), beli kamera DSLR, beli motor baru untuk anak, bonus untuk anak-anak dan sebagainya. Trus isteri saya bertanya: “Lha umrahnya mana?” Maka saya jawab singkat, “gak cukup”. Dia mencoba mengingatkan, “sampeyan dulu pernah bilang mau umrah lho, kalau dana buku keluar…” Saya diam saja.

Nah, ketika saya sedang berada di Jakarta, ndilalah kok saya telepon ke rumah, tanya ada kabar apa. Trus isteri saya bilang: “Ada kabar gembira, sampeyan diajak umrah karo mbak Yuni…..” Mak dheg rasanya. Yuni itu isteri sahabat saya semasa kuliah di FKH UGM, namanya Arief Yulianto, baru meninggal dunia menjelang ramadhan tahun lalu. Arief itu teman satu geng semasa kuliah, bersama dengan Wawan (sudah meninggal beberapa tahun lalu), Wiwiek yang sekarang di Jakarta, Ninik dari Solo (kemudian menetap di Semarang), Luluk dari Mojokerto (sekarang di Surabaya) dan Rini asal Jakarta yang saya baru tahu dia sudah meninggal ketika melayat Arief….

foto - 1Dari cerita Yuni, dia dan suaminya memang sudah lama ingin mengajak umrah kedua orangtuanya yang sekarang sudah sepuh, di atas 80 tahun. Tetapi mereka selalu menolak, meski ibunya Yuni sudah pernah naik haji. Ndilalah ibunya Yuni itu kedatangan tamu, isterinya ahli paru-paru terkenal Dokter Kabat (alm) yang sekarang membuka usaha travel melayani umrah dan Haji Plus. Dan ndilalah lagi, lha kok nawari umrah dan mau. Maka urusan administrasi segera ditangani Bu Kabat, bahwa kedua orangtua Yuni siap berangkat umrah. Kemudian Yuni juga mengumrahkan kedua anak lelakinya (semuanya tiga, laki-laki semua). Persoalannya, harus ada yang mengawal kedua orangtuanya. Mereka, terutama ibunya, harus menggunakan kursi roda. Mustinya Yuni harus ikut, tapi katanya: “Saya sudah pernah haji dan umrah, kalau sekarang berangkat lagi hanya untuk mengantar, eman-eman biayanya, mending diberikan untuk yang belum pernah.” Itulah sebabnya saya diajak umrah, dibayari, dengan tugas utama menjaga kedua orangtuanya. Sebab meski ada dua anak lelakinya, Yuni belum sreg, karena mereka masih muda.

Lho, kok justru saya yang diajak? Mengapa tidak saudaranya sendiri? Dari cerita yang saya ketahui kemudian, bahwa almarhum suaminya semasa hidup, sering pesan; “Ojok lali Eko lho Ma….” (Hehe… dia memang manggil saya dengan nama Eko semasa kuliah). Arief dan Yuni pernah beberapa kali ke rumah saya, sebelum sakit berkepanjangan yang akhirnya meninggal dunia itu. Mereka suka membantu anak-anak yatim dan dluafa yang kebetulan ada di TPQ Musholla waqof di rumah saya. Terakhir mereka datang, saya gak di rumah, ketemu isteri saya, menyerahkan sumbangan sejuta rupiah, “terserah untuk apa, buat anak-anak yatim…” Waktu itu, kata isteri saya, wajah Arief sudah nampak membengkak.

Terus terang, saya merasa malu ditraktir umrah oleh Yuni, sementara saya baru saja punya rejeki lumayan banyak dan tidak menganggarkan untuk umrah. Satu hal yang membuat saya ragu adalah, tugas menjaga kedua orang yang sudah sepuh itu tadi. Bukan tidak mau, tapi saya merasa yang cocok itu justru isteri saya. “Wah kalau saya yang berangkat ya gak mau sendiri, harus bareng sampeyan,” begitu kata isteri saya. Lha, terus? “Kan sampeyan sudah diberangkatkan Yuni, ya sekarang sampeyan yang memberangkatkan aku,” begitu katanya.

Ya sudah, untungnya masih ada sisa dana yang mustinya untuk membenahi rumah, dialihkan menjadi biaya umrah. Paspor dan imunisasi saya urus sendiri, biar tidak merepotkan Yuni. Akhirnya saya beserta isteri jadi berangkat umrah. Sementara dalam hati terkenang pada Arief, sahabatku yang sudah beristirahat selama-lamanya, lelaki baik hati yang pernah merasa bingung apa yang akan dikerjakan seusai pensiun dari perusahaan pakan ternak. Di depan Multazam, saya panjatkan doa buatnya, “Ya Allah…. karuniakanlah syafaatMU untuknya. Dia masih saja mengingat saya meski sudah meninggal dunia….”

Jadi, semuanya memang serba ndilalah. Pas saya ada waktu, pas baru dapat rejeki dari penulisan buku, pas ada yang mengajak bareng. Bukankah semuanya itu sudah menjadi skenarioNYA? “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini,” kata Didit Hape, pendiri Sanggar Alang-alang itu….

– Bersambung lagi….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: