Catatan Pengalaman Umrah (3): Melepas Kemelekatan, Menuju Kematian

Mulai miqat di masjid Bir Ali

Mulai miqat di masjid Bir Ali

Umrah adalah haji kecil. Dan sesungguhnya haji itu adalah sebuah ujian untuk berani melepas kemelekatan terhadap duniawi. Bukankah Ibrahim sudah memberikan contoh yang luar biasa ketika diminta melepas kemelekatannya terhadap istri dan anak kesayangannya? Kemelekatan memang harus dilepaskan sebagai latihan menuju kematian. Maka saya langsung terhenyak ketika mengenakan pakaian ihram, serasa sedang membungkus tubuh sendiri dengan kain kafan.

Pelajaran tentang “melepas kemelekatan” itu saya dapatkan ketika mengikuti retret meditasi Vipassana di Brama Vihara Arama, Singajara Bali, dua tahun yang lalu. Selama sepuluh hari saya dikondisikan untuk melupakan semua urusan sehari-hari, semua kebiasaan, dan melepaskan semua benda-benda yang selama ini seolah-olah kiamat kalau tidak tersedia. Bahkan juga, tidak mengingat siapapun, tidak berpikir apapun, tidak melamun, namun tetap konsentrasi terhadap diri sendiri, saat ini dan di sini.

Dipikir-pikir, esensi dari pelajaran ini sama dengan apa yang terdapat dalam sebuah Hadits. Bahwa manusia mati itu tidak dapat membawa apa-apa, kecuali tiga hal, yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan doa anak yang soleh. Bedanya dengan retret, saya memang tidak mengaktifkan BB, namun masih membawa HP jadul dengan nomor Arab lantaran keperluan teknis berurusan dengan pembimbing dan urusan teknis lain. Selama umrah saya juga masih membaca (buku tentang haji dan umrah serta Al Qur’an, masih bicara (urusan teknis sehari-hari) dan bukan tapa bisu seperti masa retret. Jadi dalam takaran tertentu, dalam umrah ini saya masih dibolehkan berurusan dengan dunia, dan bukan sama sekali melepaskannya sebagaimana ketika retret. (Perbedaan ini juga mengasyikkan dibahas tersendiri nanti).

Teladan “melepas kemelekatan” yang diajarkan Ibrahim adalah ketika dia diperintah Tuhan untuk meninggalkan isteri dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tanpa perlidungan apa-apa. Padahal, sudah puluhan tahun Ibrahim mendambakan seorang anak. Sebagaimana sering dikisahkan, isteri Ibrahim, Siti Hajar harus berlari-lari dari bukit Safa dan Marwah untuk mendapatkan air, sampai akhirnya muncullah mata air yang kemudian bernama zamzam itu. Di tempat itulah kemudian dibangun Ka’bah dan berkembang menjadi kota yang ramai bernama Makkah. Barangkali Tuhan “cemburu” karena kecintaan Ibrahim terhadap anaknya (juga pada isterinya) terlalu berlebihan. Maka Ibrahim harus melepaskan kemelekatan itu.

Teladan kedua, ketika Ismail sudah berusia remaja, Ibrahim mendapat perintah lagi untuk membunuh anak satu-satunya itu. Ini perintah yang sama sekali “tidak masuk akal” dan rasanya merupakan satu-satunya perintah paling aneh dalam sejarah manusia. Toh Ibrahim menurut saja, bahkan Ismail sendirilah yang mendesak ayahnya agar segera melaksanakan perintah itu. Seperti diketahui kemudian, ketaatan Ibrahim untuk melepas kemelekatan (baca: kecintaan berlebihan) terhadap anak lelakinya itu diganjar oleh Tuhan dengan membatalkan perintahNYA dan mengganti dengan perintah menyembelih seekor kambing. Kisah ini sudah sangat populer dalam Idul Qurban.

Mengapresiasi terhadap dua kisah itu, saya memandangnya dari perspektif “melepas kemelekatan” dan bukan semata-mata “menjalankan ketaatan” perintah Tuhan. Begitulah, ketika malam itu dua lembar kain putih membungkus tubuh saya di masjid Bir Ali, tanpa terasa air mata saya menggenang. Sejak mengambil miqat, saya gumamkan kalimat Talbiyah yang mengharukan: Labbaik Allahhuma Labbaik…… (Aku penuhi panggilanMU). Terus terang saya sempat ragu, apakah betul bahwa Allah memang memanggilku untuk umrah ini? Apakah betul umrahku ini memang dikehendakiNYA? Apakah betul bahwa saya telah memang tulus untuk bertobat atas semua dosa-dosaku selama ini? Apakah betul bahwa Allah akan membukakan pintuNYA untuk umrahku ini? Berderet-deret keraguan terus menerus mengganggu pikiranku, sementara mulutku terus komat-kamit: Labbaik.. Allahhuma Labbaiiiiik….. (Ketika mengetikkan alinea inipun air mata saya menetes pelan…..)

Jujur saja, keraguan itulah yang masih menghantui pikiranku ketika menginjakkan kaki memasuki Masjidil Haram, ketika sholat Tahajud, memandang Ka’bah dan perlahan berjalan mendekatinya. Hatiku tergetar menyaksikan orang-orang bergerumbul berdesak-desakan dalam perjalanan melingkar menjalankan tawaf. Beruntung saya segera teringat pesan adikku, yang sudah pernah umrah dan haji, bahwa sangat penting untuk selalu berpikir positif, jangan pernah ragu-ragu, jangan khawatir dan punya rasa takut sedikitpun. Pasrah. Serahkan saja semua padaNYA. “Ya Allah, kukerjakan tawaf ini karena beriman kepadaMU dan beriman kepada kitabMU dan mengikuti sunnah RasulMU Muhammad Sallahu’alaihi wasalam. Bismillahi Wallaaah…..hu akbar”. Kulambaikan tangan ke arah Hajar Aswad, dan kukecup sebagai cium jauh.

Ya sudahlah, lupakan saja semua. Lupakan rasa was-was meninggalkan dua anak perawan di rumah, lupakan urusan dunia, lupakan rasa capek, sakit dan ragu-ragu yang menggoda hati. Lupakan saja semuanya. Tetap saja melangkah, berkeliling Ka’bah. Semua keraguan dan kehawatiran itu saya ubah menjadi optimisme: Ya Tuhan, kuatkan langkahku menjalani umrah ini. Terimalah taubatku. Terimalah kedatanganku. Aku pasrahkan semuanya padaMU.

Kulirik jam tanganku, tepat pukul 00.00 waktu Makkah. Sebuah kebetulan yang mengharukan. Langkah demi langkah kujalankan tawaf. Aku tidak hafal doa apa yang harus kubaca saat seperti ini. Mau membaca buku petunjuk rasanya kok jadi ribet dan khawatir tawaf menjadi tidak khusuk. Paling-paling saya hanya melafalkan: “Subhanallah walhamdulillah, walahillah haillallah allahuakbar……” Begitu terus menerus dan berulang-ulang. Hanya saja, yang saya ingat, melewati Rukun Yamani menuju Hajar Aswad harus membaca doa sapu jagad yang sudah populer itu: Robbana aatina fiddunn yaa khasanah. Wafil aakhiroti khasanah, waqinaa adzaban nar….. Wa adhilnal Jannata ma’al abroori yaa ‘aziizu ya Ghoffaru ya robbal ‘alamiiiin…. (Ya Allah berilah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka. Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik. Ya Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Pengampun dan Tuhan Yang menguasai seluruh alam).

Tiba-tiba saya teringat ketika menjalankan “tawaf” di Borobudur setahun yang lalu. Waktu itu saya berkeliling melingkari stupa raksasa itu sejak lantai pertama hingga ke puncak stupa dengan arah berlawanan dengan jarum jam. Persis seperti arah tawaf. Padahal seharusnya saya melakukan Pradaksina (berjalan searah jarum jam). Lydia Kieven, arkeolog Jerman yang melakukan pradaksina bersama sejumlah seniman waktu itu, keheranan dan menegur lantaran berpapasan dengan saya di lantai tiga. Saya tersenyum saja, karena dalam hati saya memang sedang tidak menjalankan pradaksina, tapi tawaf. Waktu itu, saya hanya latihan batin menjalankan tawaf di Borobudur ini saja, sebelum bisa benar-benar tawaf di Ka’bah. Siapa sangka setahun setelah itu ternyata Tuhan mengabulkan doa saya tawaf di Ka’bah…..?

Bedanya, saya “tawaf” sendirian dan berjalan santai di Borobudur, sementara di Ka’bah harus jalan berdesak-desakan dan sering disikut kanan kiri. Saya mengamati sekilas relief demi relief di sepanjang dinding Borobudur dan membayangkan sosok Budha, sedangkan di Ka’bah saya hanya melantunkan doa sambil membayangkan sesuatu Yang Maha Kuasa. Di Borobudur saya hanya mengenakan pakaian biasa, malah berkaos dan bercelana sebatas lutut, sedangkan di Ka’bah saya mengenakan pakaian ihram, yang saya rasakan seperti sedang dibungkus kain kafan. Saya sedang berwisata di Borobudur, sementara di Ka’bah saya seolah-olah sedang mempersiapkan diri menuju kematian diri sendiri. (Apa betul saya benar-benar siap mati….? Saya sendiri masih ragu).

Alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan tawaf dengan lancar, berdoa depan Multazam, minum air zamzam, bolak-balik berjalan dari Safa ke Marwah dalam ibadah Sa’i, sampai akhirnya bertahallul dengan memotong sebagian rambut. Lantaran sebelumnya terbiasa gundul, sebulan menjelang umrah memang sengaja rambut saya panjangkan. Toh masih sangat pendek untuk dapat dipotong sebagian. Jadinya kepala saya pethal-pethal. Gak papalah. Nanti digundul saja sekalian.

Sewaktu memulai tawaf itu, kondisi fisik saya tidak betul-betul fit. Sudah bangun jam 4.00 pagi, berangkat ke masjid Nabawi di Madinah, balik ke hotel, sholat di Nabawi lagi, dan selepas dzuhur berangkat menuju Makkah setelah singgah di masjid Bir Ali. Ritual umrah pertama itu saya selesaikan sekitar pukul 03.00 dini hari. Tubuh saya betul-betul lemas, meski batin saya agak lega. Dan apa yang terjadi ketika saya hendak buang air besar di kamar mandi….? Bukan kotoran yang keluar, tetapi darah segar mancuuur….. Subhanallah….. Ini baru hari pertama saya berada di Makkah….. Wasir saya kambuh. Ini memang biasa terjadi kalau saya berada di puncak kelelahan yang amat sangat. Selama tiga-empat hari sebelumnya, sejak dari Madinah, bahkan menjelang berangkat dari tanah air saya memang sedikit istirahat. Ngebut mengerjakan penulisan buku agar tidak menjadi beban ketika berangkat. Dan sekarang kelelahan itu berujung pada berak darah….

Terus terang, saya menangis di kamar mandi. Saya sedih, mengapa wasir saya musti kumat justru ketika saya baru mulai menjalani umrah? Bagaimana kelanjutan hari-hari berikutnya di Makkah ini? Ya Allah… ampuni hambaMU ini. Astaghfirrullah hal adziiiim…. Saya termenung di ranjang, setelah itu saya tertidur, ketinggalan sholat subuh di masjid, begitu juga seluruh anggota rombongan umrahku. Semuanya kecapekan nampaknya. (Masih bersambung yaa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: