Catatan Pengalaman Umrah (4): Mudah-mudahan Bukan Euphoria

IMG_4954Sampai dengan catatan pengalaman saya yang keempat ini, tiba-tiba saya disergap oleh perasaan khawatir: Jangan-jangan saya euphoria. Mentang-mentang baru pertama kali umrah saja sudah mendramatisasi pengalaman. Belum kalau pergi Haji, yang pasti jauh lebih dahsyat yang dialami. Saya sempat ragu. Tetapi setidaknya menuliskan pengalaman ini bisa bermanfaat untuk yang lain, khususnya yang belum sempat umrah. Saya menuliskannya setidaknya sebagai ibadah untuk berbagi, dan bukan sebagai riya. Naudzubillah min dzalik.

Sudah banyak diketahui, bahwa sering terjadi “keajaiban” selama berada di tanah suci. Setiap orang yang pernah umrah atau haji pasti pernah mengalami hal-hal yang tidak masuk akal terjadi. Baik pada diri sendiri maupun teman satu rombongan. Kisah-kisah ajaib itu sudah banyak ditulis. Bentuknya macam-macam, namun esensinya sama saja, yaitu kita tidak boleh sombong, meremehkan sesuatu, melecehkan seseorang, berkata sembarangan, bahkan hanya sekadar membatin saja sudah ada akibatnya secara langsung. Karena itu kita disarankan sering-sering istighfar, mengucap Astafghfirullah, mohon ampun pada Gusti Allah kalau-kalau kita merasa salah.

Sekadar contoh kecil saja, gara-gara isteri saya mengeluh ketika teman sekamarnya suka kentut, maka dia menjadi sering kentut ketika hendak ke masjid, sehingga ketinggalan rombongan karena harus ambil air wudlu lagi. Gara-gara lihat ada orang sakit gatal-gatal dan hanya membatin saja, keesokan harinya langsung ketularan gatal-gatal. Ada teman yang mengeluh kamarnya sempit selama di Makkah, besoknya dia malah tidak bisa sholat di masjid karena tidak kebagian tempat. Ada lagi yang membatin sinis melihat temannya suka belanja oleh-oleh, akibatnya dia sendiri malah kehilangan tas yang penuh berisi oleh-oleh. Kisah-kisah “kualat” seperti itu masih banyak lagi.

Dan bukan hanya kisah yang berakibat buruk, namun kisah yang berupa manfaat karena berbuat baik juga sering terjadi. Alhamdulillah sejak sebelum berangkat saya sudah waspada untuk tidak bicara macam-macam. Adik saya sudah wanti-wanti betul, jangan sampai sombong, sembrono, meremehkan, dan sok tahu. Cobalah selalu berpikir positif. Ucapkan Astaghfirullah terus menerus. Dan saya sepenuhnya menuruti saran yang sangat baik tersebut. Ketika sedang berjalan misalnya, seperti komando melangkah tuk wak ga pat, saya ganti dengan zikir: Astaghfirullah hal adzim….. Sikap ini penting, sebab sering saya disalip orang bertubuh besar sehingga saya terdesak, disikut leher saya ketika tawaf, “dihalangi” langkah saya oleh orang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan tongkat. Atau ketika ada orang berjalan pincang ada di depan saya, langsung saya istighfar dan berdoa, “Ya Allah mudahkanlah orang itu menjalani umrah ini meski kakinya invalid….”

Mungkin ini semacam sugesti yang langsung terasakan akibatnya, yang baik atau yang buruk. Dan saya, alhamdulillah, hampir tidak pernah kena akibat yang buruk. Kecuali satu hal, gara-gara saya sering keceplosan bilang pada isteri saya, “awas kamu ilang lho…” Lha kok isteri saya bolak-balik ilang, terpisah dari saya. Pernah sampai isteri saya pulang sendiri ke hotel tanpa alas kaki, karena sandalnya saya bawa. Saya sempat stress menunggu dia hampir dua jam. Sambil mencari-cari, saya berulangkali istghfar, dan membagi-bagikan uang satu real untuk para petugas yang mengepel masjid, berdoa agar isteri saya ditemukan. Untung bawa hape, sehingga ada SMS yang masuk dan memberi tahu isteri saya sudah pulang ke hotel. Ada lagi, sudah janjian ketemu di pintu nomor 84 eh lha kok ndilalah dia menunggu lama di depan pintu nomor 85.

Dan peristiwa “kehilangan” isteri yang paling dramatis adalah seusai berhasil mencium Hajar Aswad dalam umrah yang kedua. Waktu jalan tawaf bersama, lagi-lagi saya keceplosan, “Ojok kesusu talah, ngkuk ilang maneh lho….” Betul juga, saya tidak tahu lagi dimana posisi isteri saya di tengah lautan manusia di sekitar Ka’bah itu. Lagi-lagi saya istighfar, mohon ampun atas kelancangan mulut saya. Ya sudah, pasrah saja, Insya Allah nanti ketemu juga. Saya lantas sholat ba’da tawaf, minum air zamzam di sudut pelataran Ka’bah, sambil mengamati kerumunan orang-orang. Memang sempat punya gagasan, apa sebaiknya masing-masing membawa bendera yaa, supaya ketika terpisah bisa mudah menemukan? Sebab memang sangat sulit menemukan orang yang kita cari ketika hampir semua orang berbusana putih-putih.

Kira-kira lewat satu jam, saya mencoba ikut arus tawaf di bagian paling luar. Saya mengamati orang-orang perempuan yang duduk bergerombol dalam batasan pagar karena mendekati sholat Ashar. Tiba-tiba saya spontan berteriak: “Ibuuuu….” Tahu-tahu terdengar sahutan dari arah kerumunan itu: “Bapaaak…..” Alhamdulillah, koyok sinetron ae rek…… isin aku….

Begitulah, karena saya yakin betul bahwa setiap doa diijabahi oleh Gusti Allah, maka saya selalu berusaha membatin yang baik-baik saja. Saya terus menerus berdoa agar tidak batal wudlu saya selama berada di Masjidil Haram dan sekitar Ka’bah. Luar biasa, sejak Dzuhur hingga Isya, saya bertahan tidak kentut dan tidak pipis, meski berulangkali minum zamzam.

Karena yakin dengan sugesti itulah maka ketika wasir saya kumat, maka pada hari kedua di Makkah, saya mencoba melakukan Tawaf Sunnah dengan awalan doa agar wasir saya disembuhkan. Agar selama umrah ini, kalau bisa seterusnya, wasir saya tidak kumat lagi. Waktu itu saya berjalan agak tertatih-tatih, karena tubuh saya masih lemas. Biasanya, ketika wasir saya kambuh seperti ini, saya harus tidur berlama-lama sampai akhirnya sembuh sendiri. Siang itu, setelah sholat dzuhur, saya pelan-pelan mendekat ke arah Ka’bah. Saya saksikan lantai marmer sekitar Ka’bah kinclong-kinclong karena matahari tepat di atas kepala tengadah. Dalam bayangan saya, alangkah panas lantainya. Orang-orang itu kok kuat ya berjalan tanpa alas kaki? Lagi-lagi saya langsung ingat nasehat adik saya, agar mengubah kekhawatiran menjadi harapan baik. Kekhawatiran kepanasan diubah menjadi harapan agar tidak kepanasan, khawatir tidak kuat diubah menjadi doa agar kuat berjalan, khawatir capek harus diubah dengan harapan dan doa agar kuat menjalani tawaf. Lantai marmer yang semula saya kira panas itu ternyata dingin seperti dalam masjid. Subhanallah…..

Alhamdulillah, meski tubuh lemas, akhirnya saya berhasil menjalankan Tawaf Sunnah bersama isteri. Saya berhasil mendekat ke dinding Ka’bah, berhasil mencium Rukun Yamani, meski saya sendiri sebetulnya menganggap tidak perlu begitu. Saya hanya merasa terharu bisa mendekat dan memegang Ka’bah yang selama ini hanya saya lihat fotonya saja. Saya terpesona dan merasa surprise karena berhasil tawaf, mendekat dan mencium serta sholat menghadap Ka’bah yang sering hanya saya lihat di gambar sajadah. Sedemikian terharunya, air mata saya menetes saat mengintip maqom Ibrahim. Tapi seorang askar mengira saya menangis, sehingga dia menghardik saya sambil berbahasa isyarat menunjuk matanya sendiri… “Tidak boleh menangis, syirik,” mungkin begitu kata-kata yang diucapkannya. Mungkin lho, lha wong dalam bahasa Arab.

Saya memang sempat membayangkan, seusai umrah nanti saya akan panggil tukang pijet karena saya merasa kaki saya sangat pegal. Betis saya terasa keras sekali. Tetapi lagi-lagi saya berdoa, “Ya Allah kuatkanlah kakiku, sehingga aku sukses menjalankan umrah ini, juga tidak merasa pegal selepas umrah nanti….” Terus terang, saya memang berdoa agar juga kuat setelah umrah, sebab saya pernah dengar cerita ada orang yang berdoa agar tidak sakit ketika umrah, dan sudah keturutan, namun langsung jatuh sakit berkepanjangan sepulang dari tanah suci. Dan lagi-lagi saya harus mengucap Alhamdulillah, bahwa sampai dengan saya menulis catatan ini, pada hari ketujuh kepulangan dari umrah, saya tidak perlu memanggil tukang pijet, tidak sebagaimana seusai latihan jalan-jalan di masjid Al Akbar sebelum umrah dulu. Kalau toh sekarang masih batuk-batuk, saya pikir wajar saja karena perbedaan cuaca dan jetlag.

Menyangkut soal doa yang mustajab ini, konon berdoa di tanah suci memang ada kawasan khusus yang kalau kita berdoa di sana, Insya Allah mudah diijabahi Gusti Allah. Selain di hamparan Raudlah di dalam masjid Nabawi, juga di seputaran Ka’bah, tepatnya di depan Multazam. Maka sesuai saran keponakan saya, yang sudah pernah umrah, saya menyiapkan buku kecil tempat menuliskan nama-nama dan doa-doa apa saja yang harus saya panjatkan di sana. Buku kecil itulah yang saya sodorkan ke orang-orang yang saya pamiti sebelum berangkat umrah, agar mereka menuliskan sendiri apa yang diinginkannya. Tentu saja, karena sedemikian banyak orang yang minta didoakan, saya kumpulkan nama-nama dalam doa umum, yaitu yang minta diberi berkah, rejeki yang halal, kesehatan, pekerjaan yang lancar, ilmu yang bermanfaat, dan dapat dipanggil umrah atau haji lagi. Sedangkan doa-doa khusus, saya sendirikan, misalnya ada yang minta cepat dapat jodoh (perawan tua, ada yang janda), minta segera diberikan momongan, minta dirukunkan keluarganya (karena gegeran terus) dan sebagainya. Tentu saja saya juga berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anak yang saya sampaikan satu persatu, doa umum dan doa khusus. Soal dikabulkan apa tidak. Insya Allah terkabullah….. (bersambung)

5 Tanggapan

  1. Kalau di Mekah, sama nyatanya dengan belahan dunia lainnya, bolehkah kita mengambil pelajaran, kalau penyerahan diri atas keserbamahaan Allah dan kekhusyukan kita sama baiknya dengan orang-orang yang beribadah umrah dan haji, maka dengan izin-Nya, dimanapun dan kapanpun kita bisa merasakan ” “keajaiban-keajaiban” itu. Ataukah itu hanya privilege untuk yang pergi umrah atau naik haji …. ataukah di belahan dunia lainnya lebih sulit dicapai karena kesibukan duniawi dll …. bener-bener karena penasaran semata saya …🙂

  2. Saya pernah membuat Koran Haji (sayang hanya terbit satu kali), laporan utamanya tentang “keajaiban di tanah suci”. Kalau memang perlu, nanti saya sarikan untuk tulisan edisi berikutnya saja yaa… Intinya, di Tanah Suci itu, khususnya di seputaran Ka’bah, banyak dibuat untuk berdoa, dialog langsung dengan Gusti Allah, jadi memiliki kekuatan magis tersendiri. Agus Mustofa sudah mengulas panjang lebar soal ini dalam serial buku tasawuf modernnya…. Misalnya saja, dalam seri buku berjudul: “Energi Pusaran Ka’bah.” Saya sebetulnya enggan menuliskannya di laporan saya kali ini, sebab sudah banyak diulas, sering diceritakan oleh mereka yang pulang umrah atau haji.

  3. Subhanallah….sangat menarik, sungguh saya percaya kekuatan dan kekuasaan Allah SWT yang menjaga sendiri tempat sucinya Mekkah dan Madinah,jadi bila banyak terjadi keajaiban-keajaiban disana patutlah kita lebih percaya dan bertakwa kepadaNYA.

  4. Info Pengalaman yg sangat bermanfaat. Jazakullah khairan katsiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: