Catatan Pengalaman Umrah (6): Berwisata di Madinah, Umrah di Makkah

Di depan Masjid Nabawi

Di depan Masjid Nabawi

Ketika berada di Madinah, terus terang saya masih merasa sebagai wisatawan. Setidaknya seperti sedang ikut wisata religi atau wisata ziarah. Hotel tempat saya menginap lumayan mewah, jalanan yang lapang menuju masjid. Makanan yang disediakan juga selalu berlebih, dengan menu yang aneka macam. Tetapi ketika berada di Makkah, betul-betul harus diuji kesabaran saya. Hotel yang biasa-biasa saja, sempit, dan ruang makan berdesakan. Begitu keluar hotel sudah dihadang keruwetan lalulintas, parkir mobil dan bus-bus wisata, menyelinap di sela-sela lapak pedagang kaki lima, debu yang beterbangan karena pembangunan gedung dan sebagainya. Kondisi itulah yang saya hadapi setiap kali hendak menuju Masjidil Haram atau tawaf di Ka’bah.

Barangkali ada untungnya paket umrah yang saya ikuti ini harus singgah di Madinah dulu selama tiga hari. Jadi dari Surabaya, transit di Jakarta 4 jam, langsung ke Jeddah dalam perjalanan 9 jam, disambung naik bus 6 jam menuju Madinah. Pada mulanya berkumpul di Juanda sebelum waktu Subuh, sampai di Madinah persis tengah malam waktu setempat, atau pukul 04.00 dini hari WIB (perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi selisih 4 jam). Jadi sekitar 24 jam perjalanan yang saya tempuh dihitung dari saat keluar rumah di Bungurasih. Tentu capek, semuanya langsung tidur, sehingga hanya sebagian kecil yang terlihat ikut sholat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi.

Pilihan paket lain adalah dari bandara King Abdul Azis di Jeddah mengambil Miqat di pesawat, langsung menuju Makkah dulu, melakukan umrah, dan baru menuju Madinah untuk ziarah. Saya memang sempat berpikir, mungkin lebih enak yang langsung ke Makkah, umrah dulu yang menjadi tujuan utama, baru berwisataria di Madinah sehingga tidak ada beban. Tetapi bagi orang anyaran seperti saya ini ternyata lebih menguntungkan menikmati Madinah dulu untuk menjalani proses adaptasi. Maklum, baru pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi, baru sekali ke tanah suci, ya ikut paket umrah di Sjava Tour & Travel ini. Meski saya bukan pertama kali ke luar negeri, (setidaknya pernah ke Singapura, Thailand dan Australia), tetapi kedatangan saya di Madinah ini memiliki perasaan yang sangat berbeda. Sejak sebelum berangkat, saya selalu menekankan kuat-kuat sebuah tekad, bahwa saya menjalani ibadah umrah, bukan berwisataria. Sebab godaan menjadi turis ini pasti selalu ada dan sangat sulit untuk ditolak. Yang bisa dilakukan hanyalah mengendalikan kesenangan berlebihan. Beruntung BB saya tidak aktif, sehingga tidak tergoda untuk sedikit-sedikit upload di Facebook, check in fourquare, atau memajang foto narsis sebagai status. Di BB sayapun masih tersimpan status lama sebelum berangkat, “Black Berry Mesenger OFF”.

Pukul 04.00 pagi waktu Madinah, pembimbing sudah meminta semua peserta kumpul di lobby hotel, untuk bersama-sama sholat berjamaah di Masjid Nabawi. Ternyata hanya beberapa gelintir yang nongol. Ketika kamar-kamar diketuk, banyak yang masih tidur. Jadwal sholat Subuh di Madinah baru pukul 05.28, sudah terlalu siang kalau di Indonesia, tetapi di sana masih lumayan gelap. Suasana terang benderang bagaikan siang bukan karena matahari, melainkan sekian banyak lampu yang menerangi jalanan lebar menuju masjid. Alhamdulillah posisi hotel Madinah Harmony tempat saya menginap sangat dekat dengan masjid, mungkin sekitar 500 meter. Begitu melewati belokan dari hotel, sebuah pemandangan luar biasa menyentak di depan saya. Masjid Nabawi, yang sebelumnya hanya bisa saya saksikan di foto internet ini (juga di kalender) sangat luar biasa megahnya. Lampu-lampu menerangi semua sudut-sudutnya dalam komposisi yang mempesona.

Kesan pertama masuk dan sholat di masjid, masih biasa-biasa saja. Hanya saya merasa sangat damai dan tenteram bisa sholat Subuh berjamaah di masjid yang dibangun Rasulullah ini. Apalagi saya jarang sholat Subuh berjamaah di masjid besar. Paling-paling di musholla waqaf belakang rumah. Yang agak beda adalah bahwa masjid ini sedemikian luasnya, konon sampai tiga kali lapangan Senayan, di halaman dan sebagian masjid yang terbuka ada payung-payung yang terbuka otomatis manakala siang hari atau saat hujan. Galon-galon air zamzam tersedia di mana-mana, siapa saja boleh minum di tempat dengan gelas-gelas yang selalu tersedia, atau ada juga yang mengisi dalam botol-botol kecil. Banyak PKL yang bertebaran di trotoar dan jalanan depan masjid, ini pemandangan yang sama di Indonesia. Tapi karena trotoar dan jalanan sangat luas, keberadaan mereka sama sekali tidak mengganggu jamaah yang pergi-pulang dari masjid. Mereka berjualan apa aja, mulai dari sajadah, jilbab, baju, tasbih, surban, atau topi Haji, yang hampir semuanya berlabel Made in China.

Dalam bangunan masjid inilah terdapat makam Rasulullah Muhammad SAW, yang bagian luarnya dilapisi emas murni. Juga ada yang namanya Raudlah, yaitu sepetak lantai di antara mimbar dan makam Rasulullah. Konon di atas karpet hijau inilah tempat yang paling mustajab untuk memanjatkan doa, karena di sini pula Rasulullah sering menerima wahyu dari Allah SWT. Nanti setelah kiamat, konon Raudlah inilah yang akan langsung dipindahkan Tuhan ke surga. Itu sebabnya Raudlah juga dinamakan Taman Surga. Karena itu banyak orang yang berebut bisa masuk ke sini, berdesak-desakan, sikut-sikutan, berebut sholat Sunnah di situ meski sebetulnya tidak ada dalilnya. Cukup memanjatkan doa saja. Boleh sambil berdiri, seperti yang saya lakukan lantaran saya tidak mau terinjak kepala saya kalau saya sujud dalam sholat. Khusus jamaah perempuan memang kurang beruntung, karena hanya tersedia waktu yang pendek selepas Dluha bisa masuk ke sini, sementara laki-laki dapat kapan saja.

Acara hari pertama di Madinah itu hanya sholat di masjid Nabawi, berdoa di Raudlah dan mengunjungi makam Rasulullah yang kesemuanya masih satu lokasi. Inilah pertama kalinya saya menjalankan sholat berjamaah lima waktu di masjid. Lha wong memang tidak ada kesibukan apa-apa lagi. Saya hanya mencoba menenangkan perasaan saja supaya tidak kaget berada di tanah suci, adaptasi situasi di luar negeri. Sedikit-sedikit mengeluarkan kamera saku mengambil gambar di halaman masjid. Saya cukup mahir memotret diri sendiri dengan latar belakang pemandangan yang saya sukai, tidak perlu bantuan minta tolong orang lain.

Acara hari kedua hanya wisata kota. Berkunjung ke masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah. Ada hadits yang menyatakan, “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah”. Setelah itu mengunjungi Jabal Uhud, yaitu lokasi perang Uhud, dimana terdapat makam pahlawan perang Islam, Hamzah, dan makam para syuhada yang gugur dalam peperangan yang dimenangkan kaum kafir itu. Dalam perang inilah terkenal nama Khalid bin Walid, panglima perang yang waktu itu belum masuk Islam. Tidak ada yang istimewa di pemakaman ini. Hanya sebidang tanah luas begitu saja, namun ditutup rapat dengan pagar, pengunjung hanya bisa mengintip di dinding pagar yang berlubang.

Perjalanan hari itu tidak sempat mampir ke masjid Qiblatain (masjid dengan dua kiblat) dan masjid Sab’ah (masjid tujuh, yang didirikan sebagai pos dalam perang Qandak), tapi langsung menuju Kebun Kurma. Ibu-ibu tentu berlomba belanja di sebuah kedai di lokasi ini. Padahal yang dijual juga hampir sama dengan yang di Ampel. Seperti kacang, kismis, coklat, dan puluhan macam kurma. Yang istimewa memang kurma Ajwa, kuma Nabi, ini jenis kurma paling mahal, tidak boleh icip. Posisinya di tengah kotak, dikelilingi jenis-jenis kurma lain. Harga sekilo 120 Reyal (sekitar Rp 300 ribu). Hanya kurwa Ajwa dan coklat ini saja yang saya beli secukupnya, sekadar oleh-oleh buat famili dan keponakan-keponakan. Waktu itu saya belum terbayangkan akan ada rombongan besar tetangga yang datang menjenguk, dan pasti harus disuguhi oleh-oleh. Biar saja, dipikir nanti saja.

Dalam perjalanan wisata kota itu saya sempat saksikan taman-taman kota yang indah, ada bukit yang dihiasi air terjun buatan selebar belasan meter, bunga-bunga berwarna-warni di jalur hijau, dan pohon-pohon kurma serta pohon penghijauan di sepanjang jalan. Dan yang menarik, ternyata di setiap lokasi tanaman itu, dan juga di dekat pangkal setiap pohon, sudah dipasang pipa yang siap menyemburkan air untuk menyiram tanaman pada jam-jam yang sudah ditentukan. Jadi jangan bayangkan ada truk tangki yang menyempot taman kota seperti pemandangan di Surabaya…..

Perjalanan City Tour itu harus diakhiri sebelum dluhur, agar masih sempat sholat berjamaah di masjid Nabawi dan mendapatkan pahala seribu kali lipat. Acara berikutnya, yaa sholat saja di masjid, sesekali menyempatkan diri berdesak-desakan masuk ke Raudlah agar bisa memanjatkan doa di tempat paling mustajab. Dan setiap ke masjid selalu minum zamzam, sambil belajar menghapal doanya: Allahumma inni As’aluka ‘ilman Naafi’an Wa Rizqon Waasi’an Wa Syifaa-an Min Kulli Da-in Wa Saqomin. Birahmatika Yaa Arhamar Raahimin (Ya Allah aku mohon kepadaMU ilmu yang bermanfaat, rizki yang luas dan kesembuhan dari segala penyakit. Dengan RahmatMU Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dari segenap yang kasih). Doa ini harus segera saya hapalkan, sebab pasti akan sering sekali saya minum zamzam, dan ternyata sangat berguna ketika saya menjamu tamu-tamu yang berkunjung ke rumah seusai umrah. Saya melafalkan doa itu sebelum mereka meminum zamzam dalam sloki yang disuguhkan isteri saya. Ya sloki kecil saja, kalau kurang ya minum air aqua biasa, nanti gak cukup, biar merata.

Pengalaman sebagai turis itulah setidaknya yang saya saksikan pada peserta tour ini. Hanya 20 orang anggota rombongan saya, sebagian besar ibu-ibu, sebagian sudah tua sekali. Bisa diduga, acara belanja menjadi menu yang tak terhindarkan. Ketika mereka ke masjid, sudah biasa kalau tidak langsung pulang ke hotel, melainkan mampir belanja dulu. Maklum, kompleks sekitar masjid Nabawi itu penuh dengan toko-toko. Hotel-hotel megah di sekitarnya, bagian bawahnya justru berupa toko-toko kecil menjual aneka macam barang. Saya pikir-pikir ini sebuah kolaborasi yang bagus. Hotel mewah itu tidak steril untuk pedagang kecil.

Pembicaraan yang saya dengar ketika makan misalnya, berkisar soal jenis dan harga-harga barang itu saja. Soal keberhasilan masuk ke Raudlah, khususnya untuk perempuan, karena memang waktunya sempit. Dan yang membuat saya heran, saya temui banyak orang yang mengambil makanan berlebihan. Aneka jenis makanan sampai menumpuk tinggi di piringnya. Padahal aneka menu itu disediakan sebagai pilihan, dan tidak untuk diambil semua oleh setiap orang. Sudah begitu, tidak jarang yang masih membawa makanan ke kamar, belum tentu dihabiskan juga. Minuman juga dibawa di gelas dan juga botol. Kalau saya dan isteri, jujur saja, ikut-ikutan membawa jeruk ke kamar, langsung saya masukkan koper. Soalnya itu jeruk enak yang harus diiris dulu untuk bisa dimakan. Jadi mending dibawa pulang ke Indonesia saja… hehee…

Soal menu makanan ini, ternyata pihak travel memang sengaja memesan menu masakan Indonesia. Meski awal-awalnya masih tercampur menu Londo dan ada masakan daging unta. Saya sempat nyicipi. Saya lebih suka sarapan roti dan minum susu, makan siang nasi dan sayur, makan malam cukup sup jagung saja. Ketersediaan menu ini diluar dugaan saya, sebab saya kira disediakan makanan khas Arab. Itu sebabnya H-2 sebelum berangkat, isteri saya mengajak ziarah ke Ampel, sekalian ingin merasakan makanan khas Arab, Gule Kacang Hijau dan Roti Maryam. Eh ndilalah malah di Arab ketemu makanan Indonesia. Gak papa, perhitungannya memang agar peserta tidak mengalami persoalan soal makanan.

Alhamdulillah, setelah tiga hari di Madinah, perasaan saya sudah tenang, sudah bisa beradaptasi dengan situasi Tanah Suci. Badan capek karena bolak-balik jalan kaki tidak saya rasakan. Kalau saja ada kesempatan umrah lagi, mungkin saya akan melewatkan saja acara City Tour. Mending berlama-lama saja di masjid, sholat sunnah, berdoa di raudlah, membaca Alqur’an (padahal di rumah jarang buka, hihi… isin aku). Kalau perlu, melakukan sholat 40 kali (Arbain) di masjid Nabawi agar mendapatkan barokah luar biasa. Bayangkan, siapa yang tidak tergiur membaca hadits ini: “Barangsiapa shalat di masjidku empat puluh kali sholat (arbain) dengan tanpa ketinggalan satu sholat pun, maka ditulis baginya selamat dari api neraka dan keselamatan di hari kiamat” (H.R. Tabrani). Subhanallah…..

Memang ada paket khusus umrah yang lebih lama, 16 hari, yang menyertakan agenda Sholat Arbain di dalamnya. Sedangkan paket yang saya ambil ini hanya 9 hari. Itupun dipotong dua hari untuk perjalanan. Yaa disyukuri sajalah. Syukur alhamdulillah sudah bisa berangkat umrah. Kapan-kapan kalau mau naik Haji minimal sudah tidak katrok lagi. Sudah tahu tempat-tempatnya, sudah bisa merasakan sebagian situasinya, sehingga ibadah bisa lebih khusuk. Memang sejak awal saya sudah berkeinginan, lebih baik umrah dulu sebagai latihan sebelum pergi Haji.

Perasaan katrok itulah yang sara rasakan ketika pertama kali masuk Makkah. Menginap di hotel yang biasa-biasa saja, tidak semewah Madinah Harmony, kamar yang sempit, jalanan penuh sesak dengan pedagang dan mobil-mobil. Berjalan menuju Masjidil Haram rasanya tidak khusuk sama sekali. Berbeda dengan ketenangan di Madinah. Apalagi dibandingkan dengan ketenangan sewaktu menjalani retret meditasi di Brama Vihara Arama, Bali. Vihara yang berada di puncak bukit itu sangat tenang, sejuk, pemandangannya indah, sehingga meditasi menjadi khusuk di sini. Cepat-cepat saya buang perasaan meremehkan Mekkah ini. Astaghfirullah hal adziiiiim…..

Jujur saja, ketika saya pertama kali melihat Ka’bah saya merasa “kurang terkesan” dan langsung diserbu banyak pertanyaan. Ka’bah yang saya lihat sekarang ini ternyata tidak sebesar dan tidak semegah yang saya bayangkan. Bangunan kotak hitam itu dikelilingi oleh masjidil Haram, yang sebagian masih taraf renovasi, sehingga tidak bisa sepenuhnya bisa keliling Ka’bah dari atap masjid. Dan di sekitar masjid, berdiri megah hotel-hotel mewah, yang jauh lebih tinggi ketimbang menara masjid. Dari kejauhan sosok masjid seperti terjepit di sela-sela bangunan pencakar langit. Terus terang, saya terganggu dengan pemandangan ini. Seperti juga di Makkah, para PKL juga menggelar lapaknya sehari semalam lima kali, menyesuaikan waktu sholat. Dan tidak usah heran kalau rata-rata mereka menawarkan dalam bahasa Indonesia: “Ayo, ayo, lima reyal, lima reyal…. Haji, Hajjah, murah-murah……” Mereka juga mau menerima pembayaran dalam uang rupiah.

Saya sempat berpikir, apakah pemerintah Arab Saudi tidak membongkar saja bangunan-bangunan sekitar Masjidil Haram ini agar halamannya menjadi luas? Memang ada yang sedang dibongkar, akan dibongkar, tapi ada juga yang malah sedang membangun lagi. Bukit-bukit batu dihancurkan, dibangun hotel di atasnya. Bahkan persis di depan hotel tempat saya menginap, di ujung delta jalan, dibangun hotel yang tidak begitu luas yang dibangun meninggi dan melebar di bagian atas. Jadi, apa makna yang tersimpan dibalik keriuhan di sekitar Masjidil Haram ini? Saya mencoba berpikir keras, pasti ada hikmahnya yang belum saya tangkap. Jadi saya bersabar dulu, istighfar, jangan sampai mengeluh karena merasa tidak nyaman pulang pergi ke masjid. Harus disyukuri lokasi hotel ini terhitung dekat masjid. Nantilah saya ceritakan hasil renungan itu. Sekarang cukup di sini dulu yaaah…. Arep resik-resik, akan ada banyak tamu rombongan dari Jombang dan Trawas.. hehehe…..

Bersambung

4 Tanggapan

  1. Kulinernya yg belum ada dlm tulisan, haturnuhun….

    • Seperti sudah saya singgung, bahwa menu sehari-hari adalah masakan Indonesia, karena memang sengaja dipesan oleh travel penyelenggara umrah. Jadi, apa yang bisa diceritakan?

  2. bagus, asyik dan mencerahkan.

  3. menarik, jadi gambaran untuk saya yang juga baru mau merasakan. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: