Catatan Pengalaman Umrah (7): Umrah Ritual dan Umrah Sosial

Sebagian anggota rombongan di depan Masjid Quba

Sebagian anggota rombongan di depan Masjid Quba

Islam mengajarkan agar kita memiliki keseimbangan mengurusi dunia dan akherat. Jangan sampai njomplang. Meski saya berangkat umrah dengan semangat “melupakan urusan dunia” ternyata saya malah disadarkan oleh situasi, bahwa urusan dunia itu juga penting. Jangan dilupakan sama sekali meski kita sedang menjalani umrah (juga ibadah haji). Kesadaran ini saya dapatkan ketika sudah merasakan perbandingan selama berada di Madinah dan Makkah. Umrah bukan hanya ibadah ritual, tapi juga sosial.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, perjalanan umrah saya ini boleh dibilang bonek (bondo nekat), karena keputusan berangkat umrah justru ditetapkan ketika persediaan dana saya hampir menipis. Kalau saja saya tidak disubsidi “sisa-sisa” uang reyal dan rupiah dari adik saya dan seorang kenalan baik, hampir-hampir saya tidak membawa sangu sama sekali. Saya memang tidak gelisah meski tidak bawa sangu, toh pihak travel pasti akan mencukupi semua kebutuhan dasar. Dan untuk meyakinkan itu, ketika manasik saya sempatkan bertanya, “andaikata saya tidak bawa uang sama sekali, apakah memungkinkan? Kira-kira apa sih yang harus dikeluarkan secara pribadi?” pembimbing dari travel Sjava itu menjawab, “semua sudah dijamin Pak, kecuali kalau mau beli oleh-oleh….” Lega sudah rasanya.

Modal utama yang saya coba persiapkan dengan sungguh-sungguh adalah “pasrah”. Saya, dan juga isteri, betul-betul mempersiapkan batin agar pasrah total padaNYA. Kami harus bersyukur bisa berangkat umrah. Ini bukan semata-mata menyangkut dana, sebab pada waktu-waktu yang lalu saya juga beberapa kali pernah dapat rejeki yang kalau dibuat berangkat umrah saja pasti cukup. Kata orang, ini menyangkut “panggilan”, sebab meski kaya raya dan punya banyak waktu, kalau belum “dipanggil” tidak akan bisa berangkat umrah atau haji. Kami percaya, kalau “pasrah” itu total padaNYA, maka DIA yang akan memberikan solusinya. Misalnya saja, hanya kurang 5 hari sebelum berangkat, isi dompet saya tipis sejali. Jangankan untuk sangu umrah, anak ragil saya minta bayar SPP satu semester saja tidak bisa saya penuhi. “Bayar sebulan saja dulu yaah,” saya ajukan penawaran.

Pada kondisi ketika saya sudah “lupa” kalau tidak punya uang, pagi itu tiba-tiba seorang teman yang lama tidak bertemu datang ke rumah. “Silaturrahmi,” katanya. Setelah basa-basi sana sini, singkat cerita dia membeli koleksi lukisan sketsa saya dengan nilai enam digit. Alhamdulillah. Siang itu lalu saya menemui teman baik di kantornya, yang berkata sehari sebelumnya, “Mas saya punya sisa umrah, ambil di kantor yaah…” Maka selembar uang 500 reyal diberikan ke saya. Alhamdulillah lagi. Sore hari, ketika saya pulang, isteri saya memberi amplop, katanya dari teman saya yang baru bertamu ke rumah, saya buka isinya uang rupiah enam digit. Lagi-lagi alhamdulillah. Saya betul-betul terharu, bahwa satu hari itu saja saya mendapat rejeki beberapa juta rupiah dari tiga sumber yang sama sekali tidak saya duga. Saya berkata dalam hati, “mungkin karena kami hendak menunaikan urusan akhirat maka urusan dunia DIA yang menyelesaikan.”

Dalam kondisi keterbatasan itulah maka saya harus bersyukur sehingga tidak tergoda menjadi turis selama berada di tanah suci. Saya nyaris tidak membeli oleh-oleh sama sekali, kecuali tiga buah kopiah putih, kain surban dan ikat pinggang untuk ihram. Oleh-oleh saya yang paling “berharga” adalah foto-foto narsis selama memungkinkan memotretnya. Soal kamera ini memang saya sering mengalami “pertentangan batin”. Di satu sisi saya memang betul-betul berniat ibadah umrah, bukan menjadi wisatawan. Tetapi di lain pihak, secara manusiawi tentu saya pingin punya kenang-kenangan, setidaknya saya pernah ke Madinah dan Makkah. Ketika manasik memang dijelaskan, boleh membawa kamera tetapi dilarang motret di tempat-tempat tertentu, khususnya masjid Nabawi dan masjidil Haram. Larangan memotret ini semakin ketat untuk perempuan, bahkan membawa Hape yang ada kameranya saja bisa digeledah.

Dan memang betul, di kedua masjid itu jamaah perempuan selalu digeledah tasnya, kalau ketahuan membawa kamera langsung dilarang masuk masjid. Askar perempuan yang berbusana hitam-hitam dengan cadar yang hanya memperlihatkan matanya itu sangat disiplin. Dengan busana seperti itu, sulit membedakan askar dengan banyak perempuan lain yang juga berbusana sama. Hanya ID Card di bajunya saja yang menunjukkan mereka petugas. Entah kenapa larangan ketat ini hanya berlaku untuk perempuan.

Menurut cerita Pak Farid Dimyati, larangan memotret itu dulu pernah diberlakukan untuk semua. Pengalamannya tahun 2004, semua jamaah dilarang membawa kamera masuk masjid. Pernah Pak Farid digeledah, ketahuan membawa kamera di tasnya, dilarang masuk. Namun setelah “berdebat” dengan bahasa Tarzan, akhirnya dibolehkan. Pak Farid menjelaskan, bahwa tustel itu hanya digunakan tadi sebelum masuk masjid dan nanti setelah keluar dari masjid. Bukan digunakan di dalam masjid. Sungguh beruntung sekarang ini saya mengalami zaman bebas memotret, meski di tempat-tempat tertentu selalu dilarang petugas. Banyak orang yang memotret tempat-tempat yang dinyatakan terlarang, sudah dilarang petugas, tetapi selalu saja masih berlangsung. Sebab larangan itu hanya berupa bahasa isyarat saja, dan bukan tegas seperti berlaku untuk perempuan. Nampaknya antara petugas dan yang melanggar tinggal kuat-kuatan saja. Satu-satunya larangan tegas yang pernah saya lihat adalah ketika ada seorang jamaah memotret Ka’bah dari posisinya duduk menunggu sholat. Seorang petugas yang kebetulan lewat di depannya langsung menampel kameranya sambil ngomel-ngomel (entah apa). Hampir saja kamera itu terjatuh. Tapi ya hanya sebatas itu saja.

Maka ketika hari pertama saya tiba di Madinah, tanpa terasa saya menjadi narsis di depan masjid Nabawi. Potret-potret sendiri dengan latar belakang masjid. Namun ketika masuk masjid, saya mencoba taat tidak memotret meski dalam tas kecil yang selalu saya bawa ada kamera. Ternyata, saya sering melihat orang dengan bebas memotret interior masjid, memotret raudlah, bahkan makam Nabi Muhammad yang jelas-jelas dilarang dipotret. Petugas hanya melarang dengan isyarat tangan, dan selalu kuwalahan untuk bisa melarang satu persatu. Saya bertahan untuk tidak mengeluarkan kamera, meski setelah pulang, seringkali ditanya tamu soal foto makam yang berlapis emas itu. Sebagai ganti rasa penasaran, saya minta Mbah Google saja. Termasuk foto Raudlah. Untungnya ada. Dan saya bisa beralasan, “di sini gak boleh motret lho….”

Terus terang, saya seringkali harus menghapus naluri jurnalistik saya untuk selalu memotret obyek-obyek penting yang sebetulnya bisa menjadi bahan cerita, seperti Maqom Ibrahim, Hajar Aswad dan Multazam misalnya. Saya ingin benar-benar khusuk. Masak tawaf sambil motret? Nafsu narsis saya mulai bangkit ketika selesai umrah atau tawaf, dan mulai foto-fotoan dengan latar belakang Ka’bah, sekadar kenang-kenangan saja. Saya juga bisa bebas mengambil lansekap Ka’bah dari masjidil Haram lantai dua dan tiga. Bahkan saya ambil dengan format video sehingga bisa saya tunjukkan sebagai oleh-oleh untuk menggambarkan betapa ramainya orang tawaf ketika umrah. “Umrah saja sudah ramai seperti ini, entah bagaimana kalau haji…..” Begitu rata-rata komentar tamu.

Kadang-kadang saya terusik dengan pertanyaan saya sendiri, “apakah umrah saya ini tidak ternoda karena saya rajin motret?” Apakah yang disebut umrah itu hanya dimaknai sebagai rangkaian rukunnya yaitu “mengambil miqat, tawaf, sa’i dan tahallul?” Apakah seluruh perjalanan saya ini adalah umrah? Saya mencoba menghibur diri sendiri, bahwa ada kalanya saya khusuk tidak mengeluarkan kamera sama sekali, sementara pada saat-saat tertentu saya mencoba mengabadikan obyek yang perlu. Untuk menghapus keraguan ini, saya sesekali mengucap Bismillah atau Astaghfirullah setiap kali memotret. Setidaknya saya merasa sudah nuwun sewu kepadaNYA, kalau-kalau aktivitas memotret saya ini dianggap bersalah. Tentu saja ketika sedang City Tour, saya sepenuhnya menganggap sebagai wisata. Bebas saja potret sana sini tanpa sadar bahwa memory card saya terbatas. Hadah….

Saya juga mencoba meneguhkan diri sendiri untuk selalu bersyukur bahwa perjalanan saya kali ini tidak sepenuhnya untuk diri sendiri. Saya dan isteri sejak awal sudah punya tugas khusus, yaitu ikut menjaga sepasang suami isteri yang sudah berusia sekitar 80 tahun. Mereka berdua harus naik kursi roda, terutama “Yang Ti” alias Eyang Putri (79 tahun), begitu kami memanggilnya. Saya amati Yang Kung atau Eyang Kakung (81 tahun) terlihat lebih sehat dibanding isterinya. Hanya pada saat-saat tertentu dia membutuhkan kursi roda. Seringkali dia malah asyik jalan sendiri, bercengkerama dengan saudara-saudara kandungnya, sementara isterinya di atas kursi roda didorong cucu-cucunya. Kalau ada yang tanya, mengapa bukan dia yang menemani isterinya? “Biar saja, sudah ada cucunya.” Yang Kung ini memang humoris, pembawaannya selalu ceria, bahkan terlihat lebih sehat dibanding jamaah lain yang usianya lebih muda. Begitu tiba di Jeddah, tawa kami langsung meledak melihat Yang Kung memakai sepatu terbalik kiri dan kanannya. “Soalnya sudah sesak, jadi gak terasa kalau kebalik,” kilahnya.

Saya dan isteri, mencoba memaknai bahwa ikut menjaga Yang Kung dan Yang Ti itu sebagai umrah sosial kami. Bahwa umrah itu bukan hanya ritual, tapi juga umrah sosial. Dijalani saja dengan ikhlas, meski harus “mengorbankan” keinginan untuk bisa berlama-lama di masjid karena harus antar jemput mendorong kursi roda. Khususnya isteri saya, ketika Yang Ti sholat di masjid, harus ada makhramnya yang menenami, sebab anggota keluarganya semuanya laki-laki. Kami juga harus rela dan bersyukur menjaga dan menemani mereka berdua tawaf Wada’ dengan kursi roda, meski saat itu kami teringat belum sempat berusaha masuk ke Hijir Ismail. Sementara kami sudah pernah berhasil (meski sebetulnya tidak ada keharusan) mencium Rukun Yamani, mencium Hajar Aswad, atau mengusap-usap dinding Ka’bah.

Saya juga mencoba mewajibkan diri sendiri untuk punya kepedulian terhadap Pak Misdi (72 tahun), duda sepuh yang sendirian umrah agar tidak terpisah dari rombongan. Hal ini juga dilakukan beberapa jamaah, sehingga kadang Pak Misdi melontarkan kebingungannya, “saya ini disuruh kemana? Kesana apa ke situ?” Saya mencoba menghibur, bahwa itu semua karena rasa sayang kami terhadapnya. Pernah kejadian Pak Misdi tidak muncul saat makan pagi di hotel, kemudian ada telepon masuk ke pembimbing kami, bahwa seseorang menemukan Pak Misdi tersesat jalan tak bisa kembali ke hotel. Ternyata kopiah yang selalu dikenakannya sangat membantu untuk dikenali sebagai orang Indonesia, sehingga dia ditolong orang Indonesia juga. Toh Pak Misdi tak kehilangan rasa humornya. Ketika ada peserta yang berpesan, “duduk di situ saja lho Mbah, jangan kemana-mana.” Ternyata komentarnya, “ditaleni ae (diikat saja).”

Selain itu juga ada peserta sepuh lainnya, sepasang suami isteri yang selalu rukun jalan bersama bergandengan tangan, Pak Bambang (67 tahun) dan Bu Bambang (64 tahun). Pensiunan pegawai Pemkab Bojonegoro ini seringkali jalannya tertatih-tatih, tapi semangatnya luar biasa untuk bisa mengikuti semua acara. Isterinya selalu mengawal kemana-mana, sehingga digoda seperti pengantin baru. Yang membuat saya kagum, meski tempat sholat berbeda, karena memang harus dipisah di masjid, mereka selalu terlihat berangkat dan pulang bersama-sama. Ketika isteri saya sempat “hilang” saya contohkan mereka, “masak kalah sama Pak Bambang dan Bu Bambang, bisa barengan terus.” Ketika saya tanya, mereka membagi kiatnya, “yang penting kami selalu janjian bertemu di depan pintu nomor satu. Pintu King Abdul Aziz.” Begitulah, ketika mereka hendak keluar dari masjidil Haram, tentu agak bingung sebab semua pintu sekilas sama saja. Bu Bambang selalu bertanya pada orang berwajah Melayu, dimana pintu satu? Kadang dia sendiri tidak yakin dengan jawaban yang ditanya, sebab petunjuknya dirasa agak rumit. Karena itu Bu Bambang juga mengandalkan feeling, kira-kira yang ditanya ini memang betul-betul tahu atau asal jawab saja. Apapun jawabannya, selalu dibilang, “terima kasih.”

Sepertinya Pak Bambang berusaha sebaik mungkin menuruti semua petunjuk dalam buku panduan, juga membaca doa-doanya. Ketika tanpa disengaja saya bertemu suami isteri itu jalan bergandengan saat Sa’i pada putaran ketiga, saya berusaha terus mendampingi karena memang peserta lain sudah tidak terlihat entah dimana. Mereka jalan agak tertatih-tatih, namun tetap bersemangat menyelesaikan perjalanan menirukan Siti Hajar antara Safa dan Marwah itu. Lama-lama saya “tidak sabar juga” (Astaghfirullah…), namun tetap dengan itikat baik, karena mereka jalan lebih lama sebab sambil membaca doa dari buku. Saya coba sarankan, “sudahlah Pak Bambang, tidak usah dibaca persis, baca apa sajalah, berdzikir sebisanya, kalau perlu ditambah pakai bahasa Indonesia malah lebih baik.” Alhamdulillah Bu Bambang mendukung usul saya. “Iya, Gusti Allah itu ngerti kok dengan maksud kita,” katanya.

Semangat membara Pak Bambang juga terlihat ketika ada kesempatan umrah kedua kalinya. Saat hendak mengambil miqat di masjid Ji’ronah, pembimbing sudah mengingatkan, agar mereka yang sudah sepuh tidak usah memaksakan diri ikut umrah lagi. Toh sudah pernah sekali. Umrah kali ini boleh ditujukan untuk keluarga yang sudah meninggal, ayah atau ibu atau siapa saja, untuk mewakili salah satu diantaranya. Tapi Pak Bambang mengangkat tangannya ketika ditanya umrahnya kali ini apakah untuk dirinya sendiri. Saya juga angkat tangan, sebab saya merasa umrah pertama saya kurang sreg dan merasa tidak mantap. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata Pak Bambang tidak terlihat dalam rombongan kecil umrah kedua yang dilakukan secara mandiri itu. “Lho kemana Pak Bambang, kok dia tidak ada?” Cetus Abah Ali (62 tahun), teman sekamar saya. “Dia sudah ambil Miqot lho, gak bisa dibatalkan,” tambahnya. Abah Ali yang sudah beberapa kali naik Haji ini mengatakan, bahwa selama masih terikat dengan niat umrah, maka semua larangannya masih berlaku. Kalau misalnya berkumpul dengan isteri itu sudah termasuk zinah. Astaghfirullah hal adzim….. Saya harus menyampaikan pesan ini pada Pak Bambang.

Hari terakhir di Makkah, saya segera temui Pak Bambang, saya sampaikan pendapat Abah Ali tersebut. “Trus, gimana?” tanyanya. Saya sendiri tidak bisa menjawab. “Minta maaf sama Tuhan saja yaaa, soalnya kaki saya tiba-tiba terasa sakit sekali, tidak bisa jalan….,” katanya. Ya sudah, saya setujui saja solusinya. Dan dengan perasaan lega, permintaan maaf itu sudah dilakukan di depan Ka’bah ketika menjalankan Tawaf Wada’. “Lho, anehnya kok ketika tawaf terakhir itu kaki saya malah kuat berjalan yaaa….,” kata Pak Bambang. Alhamdulillah…. “Terima kasih ya Pak Eko, sudah diingatkan,” tambahnya.

Begitulah, dari 20 anggota rombongan umrah saya kali ini memang rata-rata orang yang sudah sepuh. Dr. Erick yang menjadi pembimbing kali ini harus ekstra sabar karena selalu saja ada anggota rombongan yang terpisah. Meski sudah ditentukan tempat berkumpulnya, namun pasti tidak pernah lengkap sebagaimana berangkatnya. Mungkin dengan itikad baik, ketika ada satu peserta yang belum ketemu, ada peserta lain yang berinisiatif membantu mencari. Tapi ketika yang dicari sudah ketemu, yang mencari malah belum balik. Dan itu terjadi berulangkali. Oalah Gusti….. sing sabar ae yoo….

Kesabaran, pasrah, ikhlas, istighfar, itulah yang harus selalu terus menerus diingat setiap saat. Tentu saja kalau bisa bukan hanya selama umrah ini saja. Sebab, bukankah umrah ini adalah sarana latihan? Harus sabar juga ketika keluar dari hotel di Makkah jalanan berdesakan, menerobos keruwetan lalulintas dan PKL yang bertebaran (saya jadi ingat Jalan Nyamplungan di kawasan Masjid Ampel), ditambah lagi debu beterbangan dari bangunan yang sedang dihancurkan. Belum lagi para pengemis yang seringkali langsung menghadang langkah kaki sambil menengadahkan tangan. “Musafir.. Musafir….” dan entah kata apa lagi yang diucapkannya. Selalu istighfar itu penting, apalagi sepanjang jalan saya sering melihat pengemis dengan kaki atau tangan buntung tiduran di tengah jalan sambil mengucapkan kalimat syahadat atau apa saja sekadar sebagai penanda kalau dia sedang meminta-minta.

Namun setelah beberapa kali saya bolak-balik perjalanan dari hotel ke masjidil Haram, saya tersentak oleh sebuah kesadaran baru, bahwa ada pesan yang tersimpan di balik keruwetan perjalanan ini. Kalau semula saya agak menggerutu karena jalanan tidak setenang seperti di Madinah, sekarang saya menjadi tercerahkan oleh kondisi ini. Bahwa untuk mendapatkan ketenangan batin di masjidil Haram dan Ka’bah, saya harus melampaui perjuangan tersendiri. Sebuah perjuangan melawan rasa amarah, bosan, egois, menggerutu dan semacamnya. Keberadaan PKL yang agresif itu seperti menyadarkan saya bahwa urusan dunia itu juga penting, jangan hanya mikir akhirat saja. Kalau semula saya “iri” dengan ketenangan di Madinah, juga sempat membandingkan dengan ketenangan saat retret di Vihara Bali, kali ini saya harus istighfar, bahwa kondisi ruwet dan bising ini adalah sebuah halaman dari sebuah kitab pelajaran yang harus saya pahami maknanya.

Hanya dalam dua hari terakhir, kesadaran seperti itu baru saya dapatkan di Makkah. Hati saya menjadi tenang karena merasa berhasil membaca halaman “kitab tanpa tulisan” ini. Perjalanan umrah saya selama sembilan hari saya lampaui dengan perasaan tenang, seperti terlahir kembali. Namun belakangan ini, ketika sudah seminggu berada di rumah, saya sedikit terusik dengan pertanyaan baru, “benarkah saya mendapatkan ketenangan batin? Tenang atau senang?” Wuaduh…. saya agak gelisah. Jangan-jangan saya hanya senang karena bisa umrah, dan bukan malah tenang. Soal tenang dan senang ini dibahas nanti saja yaaa….. Biar agak penasaran gitu lho…. hihihi…. niru-niru sinetron gitu lhoh…. . (bersambung)

2 Tanggapan

  1. wah, pengemisnya kok sebut sebut nama saya sih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: