Catatan Pengalaman Umrah (8): Tak Ada Tabur Bunga di Kuburan

Di depan makam Hamzah

Di depan makam Hamzah

Pada dasarnya umrah (dan juga) haji adalah sebuah ritual ziarah. Di dekat Ka’bah itu dikuburkan Nabi Ismail dan Ibunya (Siti Hajar). Zaman Nabi dulu orang berkunjung ke Ka’bah menyebutnya sebagai ziarah. Tapi makna ziarah di Arab ini benar-benar diberlakukan sesuai dengan hukum Islam, tidak ada acara tabur bunga dan membaca Yasin di kuburan. Para penjaga (askar) akan selalu menjaga lokasi-lokasi makam agar tidak dijadikan ritual syirik.

Lantaran kesadaran bahwa umrah itu adalah ziarah maka saya menyempatkan diri melakukan ziarah terlebih dulu ke makam kedua orangtua saya, yang dimakamkan terpisah. Ayah disemayamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sidoarjo, sedangkan ibu di pemakaman kampung Bungurasih. Mendahulukan ziarah kedua orangtua ini, menurut saya, sangat penting ketimbang ziarah ke makam nabi sekalipun. Ayah dan ibu saya adalah orang yang telah dipilih Allah sebagai sarana untuk menjadikan saya hadir di dunia ini. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Saya pun tidak bisa memilih dilahirkan dari siapa. Banyak orang yang sedemikian bersemangatnya ziarah ke makam Wali Lima atau Wali Songo, tetapi malah melupakan ziarah ke makam orangtuanya sendiri.

Kebetulan saya tidak pernah ikut wisata ziarah ke makam para wali itu. Hanya secara pribadi saya pernah ke makam Sunan Ampel, Sunan Malik Ibrahim, Sunan Giri dan Sunan Drajat, bahkan juga ke makam Syech Jumadil Kubro di Troloyo, Trowulan, yang konon justru merupakan pendahulu sebelum syiar Islam yang dilakukan Wali Songo. Diantara para wali itu, makam Sunan Ampel yang paling sering saya kunjungi. Tentu saja menjalankan sholat sunnah atau wajib di masjidnya.

Sehari sebelum berangkat umrah, saya bersama isteri menyempatkan diri melakukan ziarah lagi ke kompleks pemakaman Sunan Ampel. Waktu itu menjelang tengah malam, hari Jum’at, karena kebetulan memang baru ada kesempatan di sela-sela pekerjaan yang harus saya selesaikan sebelum berangkat. Di pemakaman itu banyak orang membaca Surat Yasin, ada yang berzikir, bahkan ada sekelompok orang yang melafalkan kalimat syahadat sedemikian keras, berirama, dengan artikulasi yang seolah-olah terdengar seperti irama musik perkusi, tidak jelas lagi apa yang mereka ucapkan. Saya tidak berani berprasangka buruk, biar sajalah, toh maksudnya baik. Saya hanya membaca surat Yasin, dengan suara pelan, dan langsung juga saya baca artinya. Setelah itu saya mencoba meditasi, berdiam diri saja, sambil mendengar suara-suara orang mengaji dan berdoa yang terdengar seperti dengung lebah.

Ketika berada di masjid Nabawi, saya tahu bahwa di dalamnya juga terdapat makam Rasulullah Muhammad SAW. Konon makam itu dilapisi emas murni, selalu dijaga askar agar tidak didekati para peziarah. Dilarang keras memotretnya, meski nampaknya askar yang hanya dua orang itu kuwalahan melarang orang memotret. Paling-paling mereka selalu berteriak “syirik-syirik” setiap kali ada yang mendekat dinding makam, mengelus-elus, bahkan ada yang menciumnya. Sebetulnya saya bisa saja bandel memotret, tapi saya bertahan tidak mengeluarkan kamera. Sambil berjalan berdesakan, melangkah setapak demi setapak karena memang berjubel, berulangkali saya lambaikan tangan sambil mengucap “Assalamu’alaika ya Rasulullah…. “ Dan kemudian saya kecup tangan isyarat cium jauh. Sebenarnya doanya lumayan panjang, namun saya tidak hafal, dan tidak memungkinkan membacanya. Salam singkat dan cium jauh itu saja saya kira sudah cukup.

Tentu saja tidak mungkin saya membaca Yasin di depan makam itu, sebagaimana yang bisa dilakukan di pemakaman para Wali. Posisi makam Rasulullah itu bukan berada di sebuah areal yang lapang, yang memungkinkan orang bisa duduk atau berhenti sejenak untuk berdoa atau melakukan sesuatu. Makam yang hanya terlihat pintunya dengan motif ukiran berwarna dan terbuat dari emas murni itu bisa dicapai ketika kita berdesakan masuk ke raudlah, yang ada di arah utara mimbar, kemudian bergerak ke kiri dan keluar lewat pintu sebelah utara. Otomatis orang hanya bisa berjalan berdesak-desakan dan terus terdorong ke luar masjid.

Padahal sebagaimana artikel yang pernah saya baca: Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi pekuburan lalu membaca surat Yasin, maka pada hari itu Allah meringankan siksaan mereka, dan bagi yang membacanya mendapat kebaikan sejumlah penghuni kubur di pekuburan itu.” (Tafsir Nur Ats-tsaqalayn 4/373). Toh kesempatan untuk itu tidak harus dilakukan persis di depan makam. Saya masih bisa membaca Yasin di bagian lain di dalam masjid Nabawi. Yang penting saya sudah berniat ziarah ke makam Rasulullah, meskipun tidak pergi haji, setidaknya ingin mendapatkan barokah sebagaimana hadits ini: “ Barang siapa pergi untuk berhaji lalu ziarah ke kuburku setelah aku mati, maka bagaikan mengunjungiku ketika aku masih hidup.” Alhamdulillah, saya berkesempatan melakukan hal itu setidaknya empat kali selama di Madinah, seusai berdoa di Raudlah.

Nampaknya makna ziarah bagi umat Islam di Indonesia dengan di Arab memang jauh berbeda. Islam di negeri Pancasila ini sudah berbaur dengan peninggalan Hindu Budha yang dijalankan sebagai bagian dari kebudayaan. Sementara di Arab mengharamkan mengaji di kuburan, apalagi sampai menabur bunga segala. Keberadaan kuburan di sana tidak ada yang istimewa secara fisik. Jangan bayangkan kuburan Nabi itu dikijing sedemikian rupa mewahnya.

Karena itu, ketika saya melewati pemakaman Baqi di Madinah, dimana para jamaah Haji yang meninggal banyak dimakamkan di sini, saya tidak melihat keistimewaan apa-apa. Hanya hamparan tanah datar dengan patok-patok kecil yang seragam. Pemandangan yang sangat biasa juga saya temukan ketika “mengintip” kompleks pemakaman para syuhada perang Uhud di perbukitan Uhud. Makam yang luas itu dipagari rapat, namun para peziarah berusaha melihat isi di dalamnya dari lobang pagar yang terbuat dari fiber glass itu. Di dekat situ ada bangunan yang bertuliskan “Hamzah bin Abdul Mutholib” dalam huruf Arab. Sama sekali tidak ada yang istimewa.

Padahal menurut kisah yang pernah saya baca, dalam perang Uhud inilah umat Islam mengalami kekalahan yang sangat menyedihkan. Panglima perang kaum Quraisy waktu itu adalah lelaki pemberani dan cerdas bernama Khalid bin Walid, ketika belum masuk Islam. Umat Islam menderita kekalahan lantaran tergoda merebut pampasan perang meski pertempuran belum berakhir. Bahkan Nabi Muhammad sendiripun hampir saja terbunuh dalam perang ini. Berita “Muhammad sudah tewas….” sudah menyebar ke segala penjuru, meski sebetulnya Muhammad hanya pingsan karena hantaman senjata musuh.

Saya sudah mengenal kisah Perang Uhud ini ketika masih Sekolah Dasar. Kebetulan saya sekolah di madrasah Ibtidaiyah, diteruskan ke SMP NU meski kemudian pindah ke SMP swasta. Saya masih ingat cerita guru saya, betapa pasukan muslim berperang habis-habisan dalam perang di Jabal Uhud itu. Nampaknya mereka masih terbuai euforia atas kemenangan dalam perang sebelumnya, yaitu perang Badar. Sementara kaum Quraisy justru makin waspada dan meningkatkan kualitas pasukannya melawan kaum Muslim. Saya mengelilingkan pandangan ke bukit-bukit batu sekitar lokasi, membayangkan dimana kira-kira lokasi peperangan yang menyedihkan itu. Beruntung di dinding luar sebuah bangunan, dilukiskan peta peperangan Uhud dalam sebuah diorama, sehingga pengunjung dapat memperkirakan jalannya perang.

Saya tidak bisa membayangkan sebuah peristiwa yang sangat mengenaskan, dimana panglima perang kaum Islam, Hamzah bin Abdul Muthalib, tewas terbunuh dengan muka robek, tubuhnya dicabik-cabik, dan dada berlobang lantaran jantungnya diambil oleh musuh. Menurut kisah, jantung Singa Padang Pasir itu sengaja “dipesan” oleh seorang wanita yang sangat dendam karena ayahnya terbunuh oleh Hamzah dalam perang Badar. Maka Hamzah menjadi target yang harus dibunuh oleh pembunuh bayaran, seorang budak yang ingin bebas, dan mendapatkan bayaran berlimpah. Sementara jantung Hamzah kemudian dikunyah mentah-mentah oleh wanita bernama Hindun itu. Astaghfirullah…..

Kisah sadis dan mengerikan itu sama sekali tidak tergambar di lokasi pemakaman itu. Tidak ada patok-patok yang terlihat di areal berpagar rapat itu. Para syuhada perang Uhud itu dimakamkan secara kolektif, tidak satu persatu, lantaran sedemikian banyak yang tewas dan waktu yang pendek. Dan saya gagal dapat membayangkan suasana syahdu sebagaimana ketika berada di pemakaman Sunan Ampel, Sunan Giri atau makam Wali-wali yang lain, atau bahkan di pemakaman kampung yang tenang dan sejuk. Saya tidak bisa menghirup harum bunga kamboja yang mistis, karena di situ suasananya sangat profan. Padahal saya kepingin mengenang dengan tenang kepahlawanan syuhada Uhud dan panglima Hamzah, namun suasananya sedemikian riuh, panas, justru diramaikan oleh pedagang kurma, asesoris dan berbagai barang lainnya.

Keberadaan makam atau kuburan di Arab nampaknya bukan sesuatu yang istimewa secara fisik. Konon di sekitar Ka’bah terdapat 300 makam nabi, dan di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad terdapat 70 makam nabi. Saya tidak tahu, dimana persisnya lokasi makam sekitar Kabah itu. Jangan-jangan areal makam itulah yang setiap saat “diinjak-injak” oleh para jamaah yang melakukan thawaf. Saya tidak bisa membayangkan, ketika saya menginjak atau melangkahi kuburan saja saya merasa berdosa, gak ilok, kualat, namun di sini yang namanya makam atau kuburan itu justru tidak berbekas sama sekali. Kalau mau baca Yasin ya baca saja, kalau mau berdoa yaa berdoa saja, gak usah dan dilarang menghadap makam. Tetap menghadap kiblat. Beruntung saya membawa buku kecil Yasin dan bacaan Tahlil, yang saya peroleh dari acara tahlilan tetangga saya beberapa hari sebelum berangkat umrah. Di sela-sela waktu sholat, saya sempatkan membaca Yasin dan Tahlilan itu. Sendirian saja, tidak berjamaah seperti tahlilan di kampung.

Terkait dengan soal makam ini, ada satu yang sering menimbulkan salah paham. Di sebelah utara Ka’bah itu ada bangunan kecil bercungkup yang disebut Maqom Ibrahim. Orang sering salah arti dikira itu makam atau kuburan Nabi Ibrahim. Padahal di dalamnya terdapat batu bekas injakan kaki Ibrahim ketika membangun Ka’bah. Saya sempat mengintip dari balik kaca, dan menyaksikan sendiri bekas telapak kaki di batu itu. Saya lafalkan “Assalamu’alaika ya Nabiyullah Ibrahiiiim”. Saya betul-betul terharu, sampai mengeluarkan air mata, namun askar di dekat saya mengira saya menangis. “Syirik-syirik…..,” katanya.

Terus terang, saya sempat kebingungan untuk “menempatkan perasaan” saya dalam ritual ziarah ini. Kalau betul ibadah umrah ini adalah sebuah ziarah, dimanakah kesyahduannya? Apakah saya telah salah membayangkan bahwa ziarah umrah ini memang tidak seperti ziarah ke makam para Wali? Gambaran umum bahwa sebuah kompleks pemakaman itu adalah lahan yang sepi, tenang, syahdu, beraroma sakral bahkan cenderung mistis, sama sekali tidak saya temukan selama umrah, juga di sekitar Ka’bah ini. Di lokasi yang konon merupakan tempat pemakaman para Nabi ini malah tidak ada tanda-tandanya sama sekali sebagai sebuah kompleks pemakaman, apalagi makam manusia istimewa setingkat Nabi. Jadi ziarah seperti apakah yang sebetulnya terjadi dalam ibadah umrah ini? Saya teringat dengan makam Bung Karno dan membayangkan kemegahan makam Soeharto di bukit eksklusif.

Kemudian saya menduga-duga, apakah bentuk ziarah tersebut berupa mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, yang disebut tawaf itu? Memang seharusnya ada doa yang diucapkan dalam tawaf pada setiap putaran. Saya tidak membaca (apalagi menghafalkan) doa yang panjang itu. Paling-paling saya hanya baca sekadar tahu, termasuk artinya. Nah ketika istirahat di hotel, saya sempatkan membaca lagi lebih teliti doa tawaf yang mungkin ada hubungannya dengan ziarah ini.

Ternyata secara umum doa-doa pada setiap putaran itu isinya hampir sama. Pada putaran yang pertama, berkisar mengenai mengagungkan nama Allah, memohon ampunan, kesehatan, kesejahteraan, memperoleh sorga dan terhindar dari neraka. Putaran kedua, memohon agar dicintakan pada iman dan bencikan pada perbuatan kufur, fasiq, maksiat dan durhaka. Putaran ketiga, berlindung dari murka Allah dan neraka, fitnah kubur, fitnah kehidupan dan derita kematian. Pada putaran keempat, berharap menjadi Haji Mabrur, Sa’i diterima, perdagangan yang tidak rugi selamanya, dikeluarkan dari kegelapan, dianugerahi dan sifat hemat. Tawaf pada putaran kelima, berharap minuman dari telaga Nabi Muhammad SAW dengan suatu minuman yang lezat dan nyaman sehingga tidak haus selamanya. Memohon kebaikan yang diminta Nabi dan berlindung dari kejahatan. Harapan agar dicukupkan dengan rizki yang halal terdapat dalam doa tawaf pada putaran keenam. Dan pada tawaf putaran terakhir, memohon iman yang sempurna, rizqi yang luas, hati yang khusyu, lidah yang selalu berzikir, taubat dan ketenangan sebelum mati, keampunan dan ketenangan sesudah mati dan dihisap.

Ternyata, tidak ada yang menyebut-nyebut arwah Nabi sebagaimana yang saya duga kalau berdoa terkait ziarah. Jadi, menurut pemahaman saya (yang mungkin keliru) bahwa tawaf itu bukan bentuk ziarah dalam pengertian ziarah sebagaimana yang saya kenal selama ini. Lantas, apakah sebenarnya makna tawaf ini? Mengapa harus tujuh kali? Mengapa bacaan doa dalam setiap putaran berbeda-beda? Mengapa berputar ke arah kiri berlawanan dengan arah jarum jam (mungkin yang satu ini sudah diterangkan Agus Mustofa dalam bukunya “Pusaran Energi Ka’bah”). Pada saat umrah kali ini, saya memang tidak sedang melakukan investigasi, tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut masih mengusik saya hingga saat ini. Yang jelas saya hanya berusaha bahwa apa yang sudah saya lakukan selama umrah saya jalani dengan perasaan yang betul-betul pasrah, ikhlas, menyerahkan semua padaNYA. Saya hanya berharap semoga umrah saya diterimaNYA. Amin ya robbal alamin…..

Terkait dengan ziarah sebagaimana diulas di atas, secara manusiawi saya masih menjadi orang yang menempatkan roh leluhur sebagai sesuatu yang layak dihormati. Mungkin ini pengaruh budaya Hindu Budha yang kemudian menjelma menjadi “Islam Jawa”, dan banyak dianut oleh warga NU. Karena itu saya harus “hormat” pada makam, tidak boleh berlaku seenaknya, harus tetap berziarah tidak dalam jarak waktu yang terlalu lama, agar minimal masih tetap mengingat jasa dan keberadaan ayah ibu dan leluhur saya. Budaya menghormati leluhur ini berbeda dengan penganut Muhammadiyah, yang lebih steril terhadap hal-hal yang berbau bid’ah atau syirik. Warga Muhammadiyah tidak mengenal talqin karena menganggap orang mati tidak bisa diajak bicara. Untuk apa diingatkan dengan kalimat-kalimat jawaban yang benar ketika nanti ditanya malaikat?

Seorang teman saya yang Muhammadiyah pernah menggerutu soal talqin ini ketika bersama-sama mengantar jenazah teman kami ke pemakaman. Namun saya punya alasan tersendiri, bahwa meski jenazah itu sudah tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Pak Modin itu, namun arwahnya masih belum sepenuhnya pergi (apakah arwah tidak bisa mendengar?). Lagi pula, bukankah pesan untuk arwah itu juga berlaku untuk para peziarah sendiri? Hal yang kira-kira sama juga terjadi dalam acara pra-mantenan. Dalam Walimatul Urusy itu biasanya didatangkan penceramah yang bercerita mengenai bagaimana berumahtangga yang baik, kewajiban isteri dan suami, dan hal-hal sekitar itu. Kalau hendak dikritisi, mengapa nasehat seperti itu disampaikan secara terbuka kepada undangan? Mengapa tidak disampaikan saja kepada kedua mempelai dalam pembicaraan pribadi? Jawabannya adalah, pesan-pesan tersebut juga berlaku untuk para undangan mantenan itu. Persis sama dengan doa talqin saat mengantar jenazah ke liang lahat.

Dalam pengalaman ibadah umrah saya ini, satu-satunya ritual yang terkait dengan urusan jenazah adalah adanya Sholat Jenazah setiap kali selesai sholat wajib. Sepanjang sholat berjamaah di Madinah dan Makkah, saya hanya mengalami satu kali sholat wajib tanpa sholat jenazah. Semula saya memang bertanya-tanya, masak tiap hari selalu ada orang yang mati dan selalu minta disholatkan di masjid Nabawi atau Masjidil Haram. Saya memang tidak menyelidiki ada tidaknya jenazah di masjid, namun kata isteri saya, dia diceritai oleh peserta umrah dalam rombongan saya, pernah melihat ada dua keranda jenazah saat sholat berjamaah di Masjidil Haram. Saya lantas menyimpulkan sendiri, mungkin keluarga almarhum atau almarhumah memang sengaja memilih kedua masjid itu untuk sholat jenasah dibanding masjid biasa. Bukankah sholat biasa saja mendapatkan pahala ribuan kali lipat?

Dalam kebingungan saya memaknai umrah sebagai ritual ziarah ini akhirnya saya hanya berusaha memposisikan perasaan saya bahwa saya sedang menziarai diri sendiri. Saya sudah berserah diri hanya mengenakan dua lembar kain dalam pakaian ihram. Saya membayangkan bahwa sedang dibungkus kain kafan sebagaimana kalau nanti saya meninggal dunia. Barangkali ibadah umrah ini adalah “latihan menghadapi mati”. Apakah begitu?

Bersambung

7 Tanggapan

  1. Assalamualaikum bro sedulur, sama seperti yang aku lakukan sebelum berangkat haji th 2008 yl, kemakam ortu lebih dulu, walau mereka tak pernah lepas dalam do’a usai sholat wajib dan sunnah kita.
    Kesyahduan itu boleh jadi tak pas waktu kita baru pertama menginjakkan kaki atau bersujud didalamnya, ia butuh waktu, memang.
    Kalau pengalamanku rasa syahdu itu datang ketika aku mendaki ke Goa Hira’ dimana Muhammad pertama kali mendapat wahyu dari Allah lewat perantaraan malaikat Jibril, dari atas bukit itu aku bisa melihat kota Mekkah,..baru kemudian terlintas perjalanan nabi, perjuangan nabi sampai agama ini menjadi Rahmatanlilalalmin..

    • Waalaikumsalam sedulur….. terima kasih komentarnya. Mohon maaf belum bisa melaksanakan rencana meditasi di pekarangan rumah Lumajang…. Tetap ada dalam agendaku. Salam buat nyonya yaah…

  2. banyak pengetahuan baru yang belum pernah saya dengar, bermanfaat kalau kelak bisa kesana..

  3. tidak boleh ziarah disana karena kaum penguasa saudi disana adalah gologan wahabi yang berpaham syirik terhadap makam…golongan Muhammadiyah banyak dipengaruhi aliran ini…. kalo wali-wali dan sunan kita …mereka dari golongan ahlul baiht (cucu rasul) pak…cara2 mereka lebih demokratis, ga gampang bilang bid ah dan syirik… karena itu mereka berhasil masuk dan menguasai Indonesia yang dulu mayoritasnya Hindu….jadi saya harap Bapak jangan mengartikan bahwa Islam sebenarnya yang seperti mereka…ini hanya masalah aliran saja…saya sependapat dengan Bapak…. makam harus syakral dan dihormati dengan bacaan2 doa yang baik… selain untuk mengenang dan mendoakan yg sudah meninggal…untuk kesadaran kita manusia yang masih hidup…

  4. Alhamdulillah..bagus sekali blognya..semoga bapak selalu dirahmati Allah. Maaf masukan dari saya…semoga perjalanan umrah ini membuat Allah menggerakkan hati bapak untuk belajar lebih giat lagi tentang agama Islam yg haq, berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW dan pemahaman salaful salih…caranya adalah cocokkan segala sesuatu yang menjadi kebimbangan dan pertanyaan2 di hati bapak kepada Quran dan Hadits2 shahih misal seperti Muslim dan Bukhari.

    Ingatlah, ukuran kebenaran suatu amalan bukan dari banyak sedikitnya orang yg melakukan amalan tersebut. Ukuran kebenaran adalah yg dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan dilakukan oleh para sahabat sebagai generasi Islam terbaik, bukan oleh para wali songo, kiyai, ulama, walaupun pengikutnya ada ratusan bahkan ribuan.

    Ziarah dan adab-adabnya sudah diberikan contoh oleh Nabi dan diikuti oleh para sahabat. Apakah boleh membaca yasin, talqin, dsb akan terjawab jika bapak belajar lebih jauh tentang hadits2 seputar ziarah. Adapun jika suatu saat bapak timbul pertanyaan lagi tentang suatu amalan apakah boleh atau tidak, mudah saja. Cocokan amalan tersebut apakah pernah dianjurkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan diikuti para sahabat atau tidak.

    Semoga Allah selalu menjaga keimanan bapak dan selalu menuntun bapak di jalan yang benar, jalannya Rasulullah SAW.

  5. di ajar deui ahh kanu agamana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: