Catatan Pengalaman Umrah (10): Cangkrukan Makan Kurma di Depan Ka’bah

CangkrukanKa’bah itu memang penuh pesona, sakral dan magis. Benda hitam berbentuk kotak itulah yang menjadi kiblat sholat umat Islam di seluruh dunia. Banyak keistimewaan terkait Ka’bah ini, termasuk hal-hal yang tidak masuk akal. Ka’bah adalah bangunan suci. Dan di depan bangunan suci itulah suatu sore saya duduk bersila, berdua dengan isteri saya, sambil makan kurma dan menyeruput minuman yang saya tidak tahu maknanya. Duuh Gusti…. Nikmat apa lagi yang hendak kami dustakan….

Barangkali karena saya baru pertama kali ibadah umrah, maka segala sesuatunya menjadi luar biasa. Bagi yang sudah pernah umrah, apalagi sudah haji, apa yang saya alami mungkin hanya ditanggapi dengan tersenyum saja, karena dianggap biasa-biasa saja dan belum ada apa-apanya. Masih banyak kisah-kisah fantastis yang bisa mereka ceritakan. Karena itu selama menjalani umrah saya berusaha menata perasaan sebaik mungkin, agar betul-betul tepat dan sesuai dengan niat ibadah umrah, dan bukan menjadi wisatawan atau wartawan. Apa yang saya alami dan kemudian ditulis ini betul-betul pengalaman personal saya sebagai pribadi.

Memang saya sering mengalami dilema, antara ingin “mengetahui banyak hal” dengan menjalankan ibadah saja tanpa banyak bertanya. Artinya, sebagaimana naluri “turistik” untuk selalu memotret, saya juga ingin mengendalikan naluri jurnalistik untuk tidak banyak bertanya apa saja. Kecuali, hal-hal tertentu yang menurut saya sangat penting untuk diketahui. Saya tidak tahu, apakah memang berlebihan mempersoalkan hal ini? Yang jelas, saya tidak ingin berada seperti posisi “wartawan haji” yang selalu harus mengetahui segala sesuatu dan memberitakannya sehingga ibadahnya menjadi tidak khusuk.

Konsekuensi dari sikap yang “membingungkan” tersebut, saya jadi kehilangan banyak informasi yang sebetulnya bisa didapatkan kalau saja saya mau bertanya. Yang kemudian terjadi adalah, saya hanya menebak-nebak saja penjelasan dari apa yang saya lihat. Paling-paling hanya mengandalkan referensi cerita orang tentang haji atau buku-buku yang pernah saya baca, atau hanya menerka-nerka sendiri berdasarkan logika. Misalnya saja ketika dari jendela bus saya melihat ada seperti jalan raya di atas, kemudian ada tulisan stasiun dan tanda-tanda terkait dengan kereta api, saya hanya membatin, bahwa itu sebuah persiapan membangun jalur kereta api. Dan ternyata memang betul, dari hasil googling akhirnya saya tahu bahwa pemerintah Arab Saudi sedang mempersiapkan sarana transportasi kereta api dari Jeddah, Madinah dan Makkah. Pasti sarana ini sangat membantu mengatasi kemacetan saat musim haji nanti. Diperkirakan KA itu sudah bisa beroperasi tahun 2014 nanti.

Singkat cerita, apa yang ingin saya katakan adalah, bahwa dalam menulis pengalaman umrah ini saya tidak sedang memposisikan sebagai wartawan yang membuat reportase, juga tidak sebagai wisatawan yang menyampaikan oleh-oleh berupa cerita, apalagi sebagai “ilmuwan” yang menyampaikan cerita ilmiah terkait apa saja yang menjadi pengalaman umrah. Buku-buku tentang umrah dan haji sudah banyak, baik yang berupa pengalaman pribadi (dari berbagai sudut) dan juga buku-buku ilmiah keagamaan atau yang membahas dari sisi ilmu pengetahuan. Kalau mau tahu ulasan dari sisi tasawuf modern, bacalah buku-buku Agus Mustofa. Kalau mau googling pun bisa didapat penjelasan model apapun mengenai umrah atau haji. Semuanya sudah lengkap-kap.

Saya hanya menulis apa adanya, sebagai seorang yang awam (meski tidak sepenuhnya awam), yang bukan berasal dari habitat pesantren, sekadar bisa membaca huruf Arab (asal bukan huruf gundul) namun tidak paham bahasa Arab. Saya tidak pernah belajar Islam secara akademik, dan hanya menjalankan ibadah berdasarkan kebiasaan sejak masih kecil saja. Kadang saya merasa iri dengan mualaf, yang mengalami sebuah transformasi batin dengan berpindah agama, sehingga menjalani ke-Islamannya secara kritis dan berada pada jarak tertentu. Sementara saya tidak memiliki jarak sama sekali dan cenderung menjalani apa yang saya tahu sebagai perintah, dan berusaha menjauhi apa yang dilarang agama. Karena itu maka terkadang saya merasa tidak bersalah ketika tidak menjalani perintah atau ketika melakukan apa yang dilarang agama.

Begitulah, serangkaian agenda perjalanan umrah ini saya jalani satu persatu. Baik yang bersifat wisata maupun yang merupakan bagian dari ritual umrah itu sendiri. Saya hanya menjalani sebagai wisatawan yang baik, yang ikut saja agenda yang sudah dipersiapkan oleh biro travel. Saya juga menjalani umrah sebagaimana petunjuk yang ada di buku panduan. Nyaris tanpa improvisasi sama sekali selama tujuh hari efektif berada di Madinah dan Makkah. Saya hanya terus menerus berusaha memposisikan perasaan bahwa saya sedang menjalani ibadah umrah, bukan berwisata dan bukan sedang menjalankan tugas jurnalistik. Setiap kali kaki melangkah, saya berusaha mengiringi dengan dzikir dan istighfar agar tidak tergoda oleh pandangan mata atau pikiran yang aneh-aneh. Sebagaimana yang berulangkali sudah diingatkan adik saya sebelum berangkat, jagalah mulut dan pikiran, selalu berdoa, jangan mikir yang macem-macem.

Ketika melihat teman-teman rombongan sibuk membeli ini itu, saya berusaha membuang jauh-jauh rasa iri dan menyesal tidak membawa sangu yang cukup. Saya berusaha mendamaikan hati, bahwa sudah bisa berangkat umrah saja sudah Alhamdulillah. Jangankan untuk sangu, untuk mencukupi pemenuhan biaya umrah saja masih membutuhkan tambahan menjual sepeda motor anak saya. “Biar dapat berkah,” kata isteri saya. Justru saya agak “menyesal” mengapa tidak sedari awal saya merencanakan umrah ketika rejeki lumayan besar itu belum turun. Seandainya rencana umrah itu sudah saya canangkan sejak awal, tentu tidak seperti ini jadinya. Namun lagi-lagi saya bersyukur, ketika teman saya “memaksa” saya berangkat umrah. Kalau tidak, pasti saya akan menyesal dalam jangka waktu yang lama.

Rasa syukur itulah yang saya rasakan ketika sore itu duduk berdua dengan isteri saya di depan Ka’bah. Sholat maghrib baru saja usai, thawaf kembali berlangsung, dan sebagian orang masih duduk-duduk di bagian tepi lingkaran thawaf di pelataran Ka’bah. Saya dan isteri ikut duduk di situ, setelah menerima pembagian kurma dan minuman yang saya tidak tahu namanya. Rasa minuman itu seperti jamu, agak pahit tapi ada manisnya. Warnanya keruh. Ah entahlah, saya berusaha menikmati saja. Saya dapatkan kurma dan minuman itu ketika ada kerumunan yang membagikannya. Saya ikut antri, dan mendapatkannya. Dan saya baru ingat, ternyata setiap selesai sholat maghrib selalu ada saja orang yang membagikan kurma dan minuman gratis, kadang ada juga roti Maryam atau Kebab. Hal ini juga terjadi di masjid Nabawi di Madinah. Malah saya pernah melihat orang-orang di masjid Nabawi itu duduk berjajar berhadap-hadapan dengan kurma dan segelas minuman di depannya. Mereka menunggu adzan maghrib berkumandang. Hal ini mengingatkan saya di masjid-masjid di Surabaya ketika menunggu berbuka puasa.

Pada saat minum dan makan kurma itulah saya tiba-tiba terhenyak oleh sebuah kesadaran, bahwa kami sedang berada di depan Ka’bah. Bahkan arahnya persis di depan Multazam dan pintu Ka’bah. Saya tercenung dan tidak bisa memberikan makna terhadap kondisi kami waktu itu. Saya hanya menikmati kurma dan minuman, mengucap Bismillah dan sesudahnya mengucap Alhamdulillah. Saya betul-betul tidak bisa mengerti, bagaimana mungkin pada saat itu kami bisa duduk santai, berbincang-bincang dengan isteri, makan kurma dan minum di depan Ka’bah? Apakah makna peristiwa yang sama sekali diluar kesengajaan ini? Kok bisa yaa…..? Ada perasaan senang campur heran dan bersyukur berada dalam situasi seperti itu. Subhanallah…… Hanya itu yang meluncur dari bibir saya.

Saya berbincang-bincang tentang hal-hal remeh dengan isteri saya, seolah-olah kami sedang berada di beranda rumah. Kami bicara soal pengalaman kami selama sehari itu, soal teman-teman satu rombongan, kadang ada kalimat yang cenderung “ngerasani” yang untungnya segera saya sadari dan disusul mengucap Astaghfirullah. Ketika orang thawaf semakin ramai, tanpa sengaja gelas-gelas plastik bekas minuman tersaruk kaki-kaki mereka. Atau biji-biji kurma yang berserakan lantaran tersapu jubah atau rok panjang jamaah. Kami mengumpulkannya di satu tempat. Memunguti biji-biji kurma. Malah ada beberapa pejalan yang meletakkan biji kurma di tempat pengumpulan kami itu.

Di sela-sela perbincangan itu, isteri saya berkata, “tadi imamnya baca surat Ar Rahman lho….” Saya tahu, itu surat favorit isteri saya lantaran sering dibaca di rumah sebelum atau sesudah shalat wajib. Terus terang, saya tidak pernah memperhatikan. Dan saya baru memahami bahwa yang dimaksut surat Ar Rahman itu adalah surat yang berulangkali berisi ayat: Fabiayyi alaa irobbikuma tukaddibaan. Saya jadi ingat BBM broadcast yang pernah saya terima, bahwa ayat itu artinya: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Belakangan, ketika saya periksa ayat di terjemah Al Qur’an, ternyata sebagian besar dari surat ini menerangkan kepemurahan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti. Dari 78 ayat dalam surat itu, 31 ayat diantaranya berbunyi sama yaitu: Fabiayyi alaa irobbikuma tukaddibaan. Luar biasa. Mengapa saya tidak pernah hirau dengan surat yang luar biasa ini?

Sekarang saya baru mengerti, bahwa peristiwa bisa cangkrukan makan kurma di depan Ka’bah itu adalah sebuah karunia tak terhingga yang diberikan Allah pada kami. Beruntung kami waktu itu menyadari bahwa peristiwa itu adalah sebuah karunia yang harus syukuri. Sampai sekarang saya masih merasa heran, takjub, dan bersyukur: Lho kok bisa-bisanya cangkrukan makan kurma di depan Ka’bah…….

Mohon ampun (Astaghfirullah) dan mengucap syukur (Alhamdulillah) memang dua kata penting yang memang gampang diucapkan namun seringkali sulit dipraktekkan. Mengucap Astaghfirullah, artinya sebuah pernyataan bahwa diri kita berdosa atau melakukan kesalahan sehingga harus mohon ampun. Bukankah manusia adalah mahluk yang nyaris tidak pernah luput dari dosa? Kita tidak pernah tahu berapa banyak kesalahan dan dosa yang sudah kita lakukan, apalagi dosa-dosa yang tidak kita sadari bahwa kita telah melakukannya. Itu sebabnya dalam kartu ucapan Lebaran (yang sudah kalah oleh SMS dan BBM itu) terdapat kalimat: “Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja”.

Kalimat itu nampaknya biasa saja, dan sudah menjadi klise karena sering diucapkan dan ditulis. Padahal maknanya sangat dalam. Bayangkan, “mohon maaf lahir batin”, berarti permintaan maaf itu tidak hanya dilakukan secara lahiriah saja, tetapi juga dinyatakan secara batiniah. Entah bagaimana kongkritnya meminta maaf secara batiniah itu. Yang jelas, sebuah permintaan maaf yang betul-betul tulus, yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Sebuah permintaan maaf yang disertai rasa sesal untuk tidak mengulanginya lagi. Dan permintaan maaf “lahir batin” itu dengan entengnya kita sampaikan kepada teman melalui kartu Lebaran. Bagaimana dengan permintaan maaf kita kepada Gusti Allah? Apakah kita lakukan secara “lahir batin” juga? Bagaimana caranya?

Demikian pula dengan kalimat “baik yang disengaja atau tidak disengaja”. Kesalahan apakah yang telah sengaja kita lakukan kepada teman kita sehingga sampai perlu meminta maaf? Bagaimana dengan kesalahan yang tidak disengaja? Seperti apa itu? Bagaimana pula dengan kesalahan yang masih dilakukan dalam batin atau sekadar berkata-kata dalam bentuk ngerasani misalnya? Apalagi, kesalahan yang sudah kita buat terhadap Allah. Rasanya tidak akan cukup kita mengucap Astaghfirullah jutaan kali.

Demikian pula dengan kata “Alhamdulillah” yang seringkali kita sampaikan dengan ringannya tanpa menyadari betapa besar karuniaNYA kepada kita. Alhamdulillah adalah sebuah pernyataan syukur, ucapan terima kasih kepada Gusti Allah, bahwa kita telah diberikan rezeki, kemudahan, kesehatan, barokah, pangkat, kesejahteraan dan bahkan juga kita sudah diberi sakit, kesusahan, kesulitan, kesedihan, kehilangan pekerjaan dan malapetaka. Semuanya memang harus disyukuri, senang atau sudah, gembira atau sedih, keberuntungan atau kesialan. Semua pasti ada hikmahNYA. Kita tidak bisa sepenuhnya menentukan nasib kita sendiri. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. semua sudah dalam dalam skenarioNYA.

Ketika ziarah ke makam Sunan Ampel, saya pernah menangis sesenggukan sampai berderai air mata membasahi baju saya. Waktu itu, pas tengah malam, saya selesai membaca surat Yasin. Kemudian membaca doa mohon ampun sebagaimana yang biasa dibaca setelah sholat Tahajud. Setelah itu hati saya plong, lega rasanya, seperti kertas yang putih kembali. Tetapi, berapa lama hal itu bisa bertahan? Selang beberapa lama, saya kembali melakukan dosa-dosa yang saya tahu persis seharusnya tak boleh dilakukan. Saya kembali membangkang perintahNYA karena saya merasakan ada “kenikmatan” ketika itu. Lantas, apa maknanya doa minta ampun itu? Apa maknanya Astaghfirullah? Buat apa saya menangis seperti dalam sinetron seperti itu? Mengapa saya masih berani melakukan dosa? Kalau toh Tuhan langsung menghukum saya atas perbuatan tersebut, rasanya saya malah bersyukur supaya tidak mendapatkan hukuman di akhirat nanti.

Di depan Ka’bah itu, mata saya menerawang ke arah Multazam, sebuah posisi diantara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad. Dari posisi saya duduk, saya juga bisa melihat jelas maqom Ibrahim di sela-sela orang thawaf. Seharusnya posisi saya ini adalah tempat yang paling ideal untuk memanjatkan doa dan mohon ampun. Dan saya baru sadar bahwa siang tadi, selepas thawaf, saya sudah menangis di sekitar situ. Saya berdoa dengan penuh haru, mohon ampun atas segala kesalahan dan dosa. Saya juga memanjatkan dengan sepenuh hati doa buat anak-anak saya. Doa buat teman dan saudara-saudara saya. Dan khusus untuk diri saya sendiri, saya ucapkan berulangkali agar betul-betul dikabulkan Allah. Pertanyaannya kemudian, apakah saya akan mengulangi tangisan yang sama sebagaimana di makam Sunan Ampel dulu? Ini pernyataan mohon ampun yang tidak main-main lho. Diucapkan di depan Ka’bah, persis depan multazam, sambil nangis-nangis segala…… Dan, mengenakan pakaian Ihram.

Mata saya menerawang, sepertinya mau nangis lagi. Beruntung terdengar adzan sholat Isya, dan isteri saya kemudian memisahkan diri ke belakang, berkumpul dengan jamaah perempuan di sebuah cekukan pelataran Ka’bah itu. Saya merasa sholat Isya waktu itu benar-benar saya jalankan dengan khusuk, setidaknya lebih khusuk dibanding biasanya….. Subhanallah….

Bersambung.

2 Tanggapan

  1. Subhanallah !

  2. yaalllah aku jadi mau nangis baca ini, udah diikutin dari part ke 10, sekarang lanjut part 11 ya pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: