Catatan Pengalaman Umrah (12): Mencari Makna dalam Ritual Sa’i

Istirahat setelah Sa'i

Istirahat setelah Sa’i

Sebagai rangkaian dalam ibadah umrah adalah Sa’i, yaitu berjalan dari bukit Shafa ke Marwah bolak-balik sebanyak tujuh kali. Ritual ini adalah napak tilas Siti Hajar, isteri Nabi Ibrahim, mencari sumber air ketika ditinggalkan sendirian di padang tandus. Sebagai orang yang baru pertama kali umrah, saya berusaha membayangkan peristiwa ratusan tahun yang lalu itu. Sayangnya, saya gagal mendapatkan kesan tersendiri dari ritual ini.

Menurut kisahnya, Ibrahim diperintah Allah untuk meninggalkan isterinya, Siti Hajar, di gurun bersama puteranya Ismail yang masih bayi dengan perbekalan seadanya sebagai ujian bagi keimanannya. Saat perbekalan tersebut habis, Siti Hajar mencari bantuan. Berharap untuk dapat memperoleh air, ia mendaki bukit terdekat, Shafa, untuk melihat barangkali saja ada pertolongan atau air di dekat situ. Saat ia tidak melihat siapapun di sana, ia pindah ke bukit lainnya, Marwah, agar bisa melihat ke tempat lebih luas. Tetapi dari bukit itu pun tak tampak apa yang dicarinya sehingga ia terus bolak-balik sambil berlari di atas panasnya pasir gurun sampai tujuh kali. Tetapi saat dia kembali ke Ismail, dia melihat air telah memancar dari tanah di dekat kaki bayi yang sedang menangis itu. Zamzam, itulah nama air yang seringkali malah “dikeramatkan” sekarang ini.

Meski cerita mengenai Siti Hajar tersebut sedemikian rupa, namun sejak awal saya sadar, bahwa kondisi seperti aslinya, minimal yang mendekati, memang tidak mungkin ditemukan sekarang ini. Bahwa yang namanya padang tandus itu tentu sudah tidak ada lagi di sekitar Ka’bah. Sedangkan yang disebut “bukit” ternyata hanyalah batu-batuan kasar yang tidak seberapa tinggi. Bahkan yang disebut “gunung” di Arab Saudi konon hanya setinggi kurang dari 300 meter. Ketika saya masih berada di pesawat menjelang mendarat di Jeddah, pemandangan padang pasir dengan bukit-bukit batu itulah yang saya saksikan dari atas. Saya bayangkan, justru di tempat tandus itulah Nabi-nabi besar lahir dan berdakwah. Dan ketika berada di Makkah, saya masih menemukan bukit-bukit di kawasan tidak jauh dari Masjidil Haram, terjepit bangunan tinggi hotel. Ada yang tengah proses dihancurkan, namun ada juga yang dibiarkan berdiri tegak dengan bangunan-bangunan bertengger di atasnya.

Maka selepas menjalankan thawaf, saya bergerak mengarus saja di jalanan lebar menuju jalur Sa’i. Segera saya dapati rombongan orang-orang yang sedang menjalankan Sa’i, kemudian menuju posisi bukit Shafa yang menjadi titik awal memulai ritual ini. Saya tercenung melihat bukit Shafa itu. Bahwa meski bernama “bukit” ternyata sama sekali tidak mengesankan sebagaimana namanya. Jalanan menuju ke Shafa memang sedikit menanjak, kemudian di puncaknya ada batu-batuan kasar yang sama sekali tidak terlihat puncak bukitnya karena sudah ditutup oleh atap bangunan. Yang ada sekarang, bukit Shafa itu hanyalah nampak batu kasar terkungkung bangunan dan orang sama sekali tidak dapat mencapainya secara langsung.

Selintas muncul dugaan, bahwa bisa jadi kondisi bukit yang memiliki makna istimewa ini sengaja dibuat terkungkung seperti itu agar tidak dijadikan sarana melakukan perbuatan syirik oleh jamaah haji dan umrah. Apalagi di bukit Shafa inilah nabi Muhammad pernah duduk lama menerima orang-orang Quraisy menyatakan diri masuk Islam setelah rombongan kaum Muslimin menaklukkan Makkah dengan cara damai. Maklum, para asykar rasanya sudah capek menghalau orang-orang yang berlaku sedemikian rupa sehingga dapat dikatagorikan syirik. Betapa mereka menciumi dinding Ka’bah, maqom Ibrahim, bahkan sekadar pagar Hijir Ismail. Padahal bisa jadi ini adalah persoalan kultural, bahwa menciumi itu adalah sebuah ekspresi kecintaan tersendiri, bukan bermaksud syirik. Ya sudahlah, anggap saja aturan di Arab memang melarangnya.

Kondisi bukit Marwah juga sama. Terkungkung oleh atap bangunan. Ada bagian batu yang melebar sehingga bisa diinjak dan orang-orangpun merasa puas bisa berdiri di atas batu ini. Berjalan dari Shafa ke Marwah lebih kurang sejauh 400 meter, tersedia jalanan lebar dan mulus empat lajur, yang tentunya sudah diuruk sehingga lebih tinggi daripada asalnya. Lajur paling luar untuk pulang balik, sedangkan dua lajur di bagian dalam disediakan khusus jamaah yang berkursi roda. Kipas angin ada dimana-mana, udara sangat sejuk, disediakan galon air zamzam yang siap minum. Ibadah Sa’i yang sekarang ini ibarat seperti berjalan di sebuah bangunan rumah yang memanjang. Sama sekali tidak menggambarkan bagaimana penderitaan Siti Hajar ketika dulu berjalan bolak-balik di padang pasir saat tengah terik matahari.

Kondisi tempat ritual Sa’i seperti itu sudah sering dikemukakan oleh siapa saja yang menuliskan catatan pengalaman umrah atau haji. Rata-rata mereka juga tidak jauh berbeda kesannya dengan yang saya dapatkan. Karena itu saya tidak kaget, meski masih saja terus berpikir mengapa hal itu bisa terjadi, namun pada saat yang sama saya berusaha memakluminya. Ya sudah, mengalir saja, dijalani apa adanya, jangan sampai mengeluh. Tetap istighfar. Yang lebih penting adalah bagaimana dapat benar-benar menghayati ritual Sa’i ini sehingga tidak hanya menjadi mekanis belaka. Saya mencoba memposisikan perasaan saya untuk memaknai ritual Sa’i ini sebagai sebuah “ritual pencarian”. Karena dengan berjalan bolak-balik tujuh kali itu, Siti Hajar melakukannya untuk mencari mata air, mencari orang lain yang bisa menolongnya, atau mencari apa saja yang sekiranya mampu membantu mengatasi kesulitannya. Secara filosofis, memang Siti Hajar yakin betul bahwa Tuhan akan menolongnya sebagaimana dikatakannya kepada Ibrahim ketika meninggalkannya seorang diri di padang tandus ini. Tetapi kalau hanya pasrah, tanpa usaha, tentu pertolongan tidak akan jatuh begitu saja dari langit.

Ternyata di belakang hari saya tahu bahwa penafsiran seperti itu memang tidak keliru. Dalam buku “Haji dalam Perspektif Metafisika” (H. Harry Sidharta) disebutkan bahwa Sa’i itu makna harafiahnya adalah “usaha” adalah sebagai refleksi atas cinta kasih seorang ibu yang bertanggung jawab kepada anaknya, yaitu saat Siti Hajar kebingungan mencari air untuk anaknya, Ismail, yang kehausan di padang tandus. Dengan cinta kasih serta semangat tanggung jawabnya terhadap kelangsungan hidup Ismail, dia berlari-lari sampai akhirnya menemukan mata air zamzam. Hal itu dikandung maksud agar dalam kehidupan dunia ini manusia selalu memelihara sesamanya dengan cinta kasih serta bertanggung jawab walaupun harus bekerja sekeras apapun yang akhirnya mendapat kemudahan. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Surat Alam Nasyrah 6).

Dalam buku yang sama diuraikan, dari sudut pandang metafisik, Sa’i tersebut tidak lain sebagai pendakian yang harus dilalui oleh manusia yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Artinya, saat manusia masih hidup harus selalu meningkatkan keimanannya serta taqwanya dengan selalu berusaha mendekat/menyatu dengan Allah SWT melalui tahap-tahap syariat, tarekat, hakekat dan akhirnya makrifat.

Sedangkan dalam hubungan Sa’i sebagai akhir penutup rukun Haji dapat dijelaskan sebagai berikut; setelah menerima ilmu pengetahuan di Arafah, menemukan kesadaran saat mabit di Muzdalifah, menggunakan ilmu pengetahuan serta kesadarannya dalam kehidupan dunia di Mina, dilanjutkan dengan Tawaf Ifadha di Baitullah Ka’bah sebagai bentuk permohonan, pengampunan, penyerahan diri secara total setelah menjalani hidup, dan akhirnya melakukan Sa’i sebagai bentuk pendakian ma’rifat mencapai tujuh lapis tertinggi (langit lapis tujuh) yang pada akhirnya manusia akan menyatu kembali dengan pemiliknya, yaitu Allah SWT. Karena itu, saat Sa’i mulai berangkat dari Shafa menuju Marwah dan pada perjalanan terakhirnya di Marwah, dan bukan kembali lagi ke Shafa. Dengan demikian telah selesai fragmentasi atau proses kehidupan manusia dari mulai terjadinya manusia sampai akhirnya mendaki untuk menyatu dengan Sang Pencipta (penerbit Citra Mandala Pratama, 2004).

Karena Siti Hajar sudah pasrah total kepadaNYA, sudah melakukan usaha, sehingga Tuhan mengganjarnya dengan mengirim malaikat Jibril untuk menunjukkan bahwa tepat di kaki bayi Ismail tersimpan mata air berlimpah yang tak akan pernah kering. Itulah makna yang tersembunyi, mengapa Tuhan memerintahkan Ibrahim agar meninggalkan isterinya di tempat itu. Berawal dari mata air zamzam maka tempat itu didatangi para kafilah, padahal tidak berada pada lajur perjalanan kafilah lantaran dianggap tidak ada apa-apanya. Namun Tuhan sudah punya skenario sendiri, lokasi terasing itu kemudian menjadi pemukiman, menjadi kota yang ramai sehingga padang tandus yang kering kerontang itu justru menjadi sumber rejeki bagi banyak orang. Ibrahim sendiri mungkin tidak menyangka, bahwa lokasi isterinya ditinggalkan akhirnya menjadi pusat kunjungan umat manusia seluruh dunia. Bisa jadi, seandainya tidak ada umrah dan haji, maka kota Makkah akan sepi dari kunjungan banyak orang. Berkah yang menimpa kota Makkah ini setidaknya sesuai dengan doa Ibrahim ketika meninggalkannya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Surat Ibrahim, 37).

Dengan niat agar mendapatkan makna ketika menjalankan Sa’i, dan bukan sekadar mekanis, saya mencoba mencarinya melalui doa-doa yang terdapat dalam buku panduan. Ketika mendaki bukit Shafa misalnya, ada sebuah doa yang artinya sebagai berikut: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, aku mulai dengan apa yang telah dimulai oleh Allah dan RasulNYA. Sesungguhnya Shafa dan Marwah sebagian dari syiar-syiar (tanda-tanda kebesaran) Allah. Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah ataupun ber-umrah maka tidak ada salahnya untuk melakukan Sa’i pada keduanya (Shafa dan Marwah). Dan barang siapa yang berbuat lebih baik lagi, maka sesungguhnya Allah Maha Menerima dan Maha Mengetahui”.

Sebagaimana banyak doa-doa lainnya dalam ibadah umrah ini, memang tidak mungkin semuanya saya hafalkan. Namun setidaknya saya berusaha mengetahui artinya, sehingga kalau toh saya tidak membacanya maka sudah bisa membayangkan kira-kira apa niat atau apa yang harus saya bayangkan ketika menjalankannya. Nah, terkait dengan doa mendaki bukit Shafa itu tadi, rasanya tidak ada yang istimewa dan spesifik. Begitu pula ketika berada di Bukit Shafa, ada doa yang intisari artinya berkisar pada puji-pujian kepada Allah, yang menghidupkan dan mematikan, yang menolong hambaNYA dan menghancurkan musuh dengan ke-ESA-annya. Dalam doa ini juga tidak ada yang spesifik.

Dan dalam tujuh kali perjalanan Sa’i tersebut, pada setiap perjalanan ada doanya sendiri-sendiri. Misalnya saja, pada perjalanan pertama, ada doa yang isinya sekitar puji-puijian kepada Allah, yang menepati janjiNYA, hanya ditanganNYA-lah terletak kebajikan dan hanya DIAlah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Perjalanan Sa’i yang kedua, berisi doa mengenai permohonan ampun atas dosa-dosa kita, mengharap anugerah dunia akhirat. Perjalanan ketiga, juga masih berkisar pada permohonan ampunan. Demikian pula doa perjalanan Sa’i yang keempat, selain permohonan ampunan juga pernyataan bahwa Allah Maha mengetahui yang gaib, memohon agar jangan mencabut Islam pada diri kita sampai meninggal dunia. Berharap mendapatkan cahaya terang dalam hati, telinga dan penglihatan. “Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah bagiku segala urusan. Aku berlindung dari was-was simpang siur urusan dan fitnah kubur. Berlindung atas kejahatan yang tersembunyi, siang, malam dan yang terbawa angin lalu”.

Dibandingkan doa sebelumnya, doa pada perjalanan keempat ini sedikit lebih panjang dan lebih lengkap. Sedangkan doa perjalanan kelima, “cintakan kami kepada iman dan hiaskanlah hati kami, bencikanlah kami kepada perbuatan kufur, nifaq dan durhaka. Masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” Meski sedikit berbeda, tetap saja masih belum spesifik. Dalam perjalanan Sa’i keenam, isi doanya berisi permohonan petunjuk untuk pemeliharaan penjagaan dan kekayaan, berlindung dari murkaNYA dan neraka. Berlindung dari pailit, malas, siksa kubur dan fitnah kekayaan serta kemenangan memperoleh surga. Dan dalam perjalanan Sa’i yang terakhir, isi doanya malah sama dengan doa-doa sebelumnya, soal cintakan kepada iman, ampunan dan semacamnya.

Dalam setiap perjalanan Sa’ itu, pasti melewati apa yang disebut “pilar hijau”. Tandanya adalah deretan lampu neon berwarna hijau. Ketika melewatinya, jamaah laki-laki disarankan berlari-lari kecil, yang perempuan jalan biasa saja, dan mengucapkan doa: “Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, serta hapuskan apa-apa yang Engkau ketahui dari dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau Ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah.” Selain doa-doa tersebut, dalam setiap perjalanan Sa’i itu, pasti selalu mendekati bukit Shafa dan Marwah, dan membaca doa sebagaimana sudah disebutkan di atas.

Ketika selesai mengerjakan Sa’i, ada doa yang harus dibaca, yang artinya: “Ya Allah, kami mohon diterima doa kami, afiatkan dan ampunilah kami, berikanlah pertolongan kepada kami untuk taat dan bersyukur kepada-MU. Janganlah Engkau jadikan kami bergantung selain dari-MU. Matikanlah kami dalam Islam yang sempurna sedangkan Engkau ridha kepada kami. Ya Allah, rahmatilah diri kami sehingga tidak berbuat hal yang tidak berguna. Karuniakanlah kepada kami keridhaan-MU. Wahai Tuhan yang bersifat Maha Pengasih lagi Penyayang.”

Saya sengaja membeberkan semua doa dalam Sa’i ini untuk mencari makna dari ritual yang merupakan napak tilas Siti Hajar ini. Saya masih bertanya-tanya, mengapa dalam semua doa itu sama sekali tidak pernah disebut-sebut Ibrahim atau Siti Hajar? Kalau toh makna Sa’i ini adalah sebuah ritual pencarian, sebagaimana tafsir Ali Syariati dalam bukunya tentang Haji yang terkenal itu, mengapa dalam semua doa yang saya beberkan tadi tidak menyebut-nyebut soal pencarian? Karena semua doa sepanjang ritual Sa’i ini tidak menyebut-nyebut soal Siti Hajar, terus terang saja, saya menjadi bingung.

Selama menjalankan Sa’i saya memang tidak membaca doa-doa tersebut. Doa-doa itu hanya saya baca sebelumnya agar tahu artinya, dan kemudian saya cukup mengingat arti itu ketika menjalankannya. Sebagaimana ketika thawaf, sepanjang perjalanan Sa’i saya hanya berdzikir: “Subhanallah walhamdulillah wala illah haillallah allahuakbar….” Dan ketika sedang melewati pilar hijau, saya membaca doa sapujagad: “Robbana atina fiddunya hasanah,” dan seterusnya. Justru selama berjalan bolak-balik tujuh kali itu saya berusaha keras membayangkan seorang ibu bernama Siti Hajar yang berharap sedemikian rupa agar mendapatkan pertolongan untuk bayinya. Saya bayangkan dia lari-lari diantara dua bukit itu, berdiri sejenak di atas bukit Shafa dan Marwah, berteriak-teriak memanggil-manggil entah siapa. Sementara dalam hatinya dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti akan menolongnya. Saya bayangkan bahwa apa yang dilakukan Siti Hajar itu dalam kondisi panas terik di padang tandus, kehausan, sementara saya sedang napak tilas perjalanannya justru dalam ruangan yang sejuk. Saya memang capek, tapi tentu sangat tidak sepadan dengan penderitaan Siti Hajar. Saya tidak pantas mengeluh.

Kondisi yang sangat berlawanan antara perjalanan Siti Hajar ini adalah, bahwa isteri Ibrahim itu melakukan perjalanan bolak-balik Shafa-Marwah hanya seorang diri. Sementara jamaah umrah (juga haji) menjalankannya dalam kerumunan banyak orang, berjejal-jejal, yang pasti akan semakin sesak ketika ibadah haji, bukan saat umrah sebagaimana yang saya alami. Beberapa rombongan yang melintas dipimpin oleh seorang Mutawwif yang membaca doa-doa Sa’i yang kemudian ditirukan jamaahnya. Saya juga melihat beberapa orang yang sibuk dengan kamera atau HP-nya, juga kamera video.

Jadi apa sebenarnya makna Sa’i ini? Setelah memotong sebagian rambut sebagai syarat tahallul, saya duduk dengan kaki berselonjor di dekat bukit Marwah, ada beberapa orang yang juga seperti itu. Saya merenung, memandang kerumunan orang-orang yang masih lalu lalang, dan entah mengapa saya seolah-olah sedang mencari barangkali ada “Siti Hajar” diantara mereka. Saya istghfar, mohon ampun manakala ritual Sa’i, dan juga umrah ini, saya jalankan tidak dengan semestinya. Duh Gusti, berikanlah syafaat kepada Siti Hajar, Ibrahim dan juga Ismail yang telah memberikan teladan bagi ibadah haji dan umrah ini. Saya bertanya dalam hati, apakah betul saya memang telah menjalankan umrah? Jangan-jangan hanya mekanis saja, sekadar mengikuti petunjuk belaka. Jangan-jangan saya hanya berjalan keliling Ka’bah namun tak pantas disebut thawaf. Jangan-jangan saya hanya berjalan mondar-mandir dari Shafa ke Marwah, tanpa layak disebut Sa’i. Jangan-jangan, selama ini saya hanya jungkar-jungkir lima kali sehari semalam, padahal itu semua belum pantas disebut sholat.

Saat itu saya merasa kecil, sangat keciiil sekali. Duduk tak berdaya di bukit Marwah bagaikan mahluk yang hina. Diam-diam air mata saya menggenang…. Subhanallah…..

Bersambung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: