Catatan Pengalaman Umrah (13): Bagaikan Adam dan Hawa

IMG_4862Mereka yang pernah umrah dan haji pasti tahu yang namanya Jabal Rahmah. Konon di gunung inilah dulu Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah berpisah 100 tahun (ada yang bilang 200 tahun). Maka setiap orang yang mengunjunginya selalu berdoa mengenai hal-hal terkait kerukunan rumahtangga. Yang belum punya jodoh berharap mendapat jodoh. Konon ada cerita seorang suami berdoa agar dapat berpoligami, sementara isteri yang mengamini di sebelahnya tidak tahu persis apa yang diucapkan suami dalam doanya itu.

Berbahagialah suami isteri yang berkesempatan pergi umrah atau haji bersama-sama. Makanya ketika saya bilang akan umrah pada beberapa kerabat, pertanyaan yang sering mereka lontarkan adalah “sekalian?” Maksutnya, bersama isteri? Saya jadi ingat pelukis Amang Rahman (alm) ketika mendapat undangan ibadah haji dari Menteri Agama. Tentu saja gratis. Waktu itu kok kelihatannya sedemikian “mudah” orang bisa pergi haji atas undangan pemerintah. Dan bisa pergi saat itu juga, tanpa harus menunggu beberapa tahun kemudian. Amang sama sekali tidak menduganya. Surprise. Padahal beberapa waktu sebelumnya dia juga diajak berangkat sama-sama pergi haji oleh Arifin Hidayat (alm), pelukis juga, yang pergi bersama isterinya, dan juga ada pelukis lainnya, Sochieb namanya.

Arifin mengajaknya karena tahu Amang punya cukup uang hasil penjualan lukisannya pameran di Arab Saudi. Tapi ternyata, “wah uangnya sudah saya belikan tanah di sebelah rumah,” jawab Amang. Maka Arifin pun berolok-olok, “ya memang itu godanya orang punya uang, yang dipikirkan hanya harta, bukan ibadah.” Amang tercenung. Tak bisa berkata apa-apa karena mengakui kebenarannya. Tapi siapa sangka ketika Arifin baru saja berangkat ke tanah suci, datang undangan Haji gratis dari Menteri Agama tersebut. Amang tersenyum, dan merencanakan siasat konyol ketika nanti akan ketemu Arifin di sana. Singkat cerita, Amang sengaja memperlihatkan diri di dekat Arifin namun pura-pura tidak kenal. Bahkan selalu melengos ketika didekati.

Saya tidak akan menceritakan detail pertemuan Arifin dengan Amang itu, tetapi terkait dengan topik “Jabbal Rahmah” ini adalah soal isteri Amang sendiri. Meski Amang adalah lelaki keturunan Arab, tetapi dia satu-satunya dalam keluarganya yang belum pernah pergi Haji. Pernah ke Arab Saudi tapi ikut pameran lukisan bersama. Saat itulah dia menjadi kaya karena lukisan kaligrafinya yang sangat khas itu laris manis. Hanya dengan bekal selembar surat undangan dari Menteri itulah Amang kesana kemari mengurus segala sesuatunya ke pemerintah provinsi dan sebagainya. Diam-diam Bu Amang mengawasi kesibukan suaminya itu, yang selalu nampak gupuh. Sepertinya dia iri. Sampai suatu ketika;

“He Mang, apa Pak Menteri itu gak tahu tah kalau kamu punya isteri?” tanyanya suatu saat.
Amang tidak langsung menjawab, sambil menebak-nebak arah pertanyaan tersebut.
“Memangnya kenapa,” tanya Amang balik.
“Lha iya, apa Pak Mentri itu kok hanya mengundang kamu sendirian saja….”

Di sinilah letak “misteri” soal ibadah Haji dan Umrah itu terjadi. Siapa sangka, Amang Rahman yang tidak bisa berangkat haji ketika diajak Arifin, tahu-tahu bisa berangkat sendiri atas undangan Menteri Agama. Dan mengenai Bu Amang, tanpa diduga tahun berikutnya dia juga sudah berangkat bersama rombongan pengajiannya, tentu saja tanpa Pak Amang. Dari mana datangnya keberuntungan tersebut? Tidak bisa dijelaskan secara rasional. Menjalankan ibadah umrah atau haji itu memang sebuah “panggilan” tersendiri, dan bukan soal punya uang apa tidak.

Jabbal Rahmah, sering dimaknai sebagai Bukit Kasih Sayang. Jadi bagi yang berangkat umrah atau haji secara berpasangan, maka di Jabbal Rahmah itulah mereka bisa berdoa bersama-sama agar diberi kelanggengan berumahtangga. Tentu saja isi doanya harus sama, jangan hanya isterinya saja yang ingin rumahtangganya rukun dan langgeng, sementara suaminya malah berdoa agar dapat berpoligami. Memang pernah ada cerita seperti itu. Entah benar apa tidak. Atau ada lagi cerita lagi seorang suami sengaja berdoa dalam suara yang kurang jelas didengar, sementara isteri di sebelahnya hanya bilang “amin… amin…”. Padahal, si suami sedang berdoa agar “diijinkan” berpoligami. Dan apa yang terjadi di tanah air? Tentu saja isterinya mencak-mencak ketika suaminya menyatakan niatnya hendak berpoligami.
“Lho, kan kamu sudah setuju?”
“Kapan aku pernah bilang begitu?”
“Lha waktu di Jabbal Rahmah itu, kamu sudah mengaminkan doaku…”

Maka di Jabbal Rahmah, para jamaah haji selalu berusaha dapat mendaki bukit berbatu yang sebetulnya tidak seberapa tinggi itu, sekitar 60-70 meter. Barangkali hampir sama dengan perjalanan kaki mendaki anak-anak tangga di makam Sunan Giri. Bayangan romantisme Adam Hawa itulah yang membuat kalangan wisatawan ingin mengunjungi dan berfoto-ria serta berdoa di Jabbal Rahmah ini. Lagi-lagi pedagang kaki lima berserakan di berbagai titik dalam hamparan tanah luas yang mengitari bukit itu. Ada unta yang dihiasi dengan semacam kursi khusus di punggungnya, dan orang bisa duduk di situ sambil menikmati naik unta. Atau, cukup berfoto saja di dekatnya. Tentu saja harus membayar.

Menuju puncak bukit, sepanjang tangga beberapa pengemis merintih-rintih, melafalkan doa atau apa saja, bahkan tiduran di tengah jalan bertangga itu. Semuanya orang-orang berkulit hitam, berbusana hitam, dan sepertinya nampak invalid atau mungkin tangannya sengaja ditekuk sebatas siku. Ada keranjang atau kantong yang dibiarkan terbuka di sebelah mereka. Lumayan banyak uang yang didapatkannya. Entah mengapa semua pengemis yang saya temui kelihatannya berasal dari (suku) bangsa yang sama. Sepertinya mereka itu yang disebut Badui (bukan Baduy di Jawa Barat lho).

Persis di puncak bukit, terdapat sebuah tugu berwarna putih di bagian atas dan hitam di bawahnya. Tingginya kira-kira hampir dua meter. Dari posisi ini dapat memandang keluasan Padang Arafah yang mengitari Jabbal Rahmah. Dari sebuah foto yang saya tahu di internet, terlihat bahwa Jabbal Rahmah merupakan satu-satunya gundukan batu di Padang Arafah yang sangat luas itu. Di tempat inilah sebetulnya dapat disaksikan saat-saat matahari memberikan pesona indahnya saat terbit (sunrise) dan terbenam (sunset) dengan sinar jingganya. Waktu itu, memang suasananya lumayan sepi, maklum hanya dikunjungi beberapa bus wisata umrah. Namun ketika musim Haji nanti, padang Arafah di sekitar Jabbal Rahmah akan penuh dengan jutaan umat manusia dari berbagai penjuru dunia, mengitari Jabbal Rahmah. Di sinilah mereka diwajibkan wukuf (berdiam) di Arafah sebagai salah satu rukun Haji. Dalam hati saya merasa ingin sekali mendapatkan pengalaman wukuf tersebut, namun sayang kesempatan yang baru saya peroleh kali ini masih sebatas umrah. Insya Allah suatu saat saya bisa pergi Haji, bisa wukuf di Arafah. Itulah kesempatan saya untuk meditasi di tempat sakral ini.

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa para malaikat mengingatkan Adam dan Hawa setelah keduanya diturunkan ke bumi. Hal ini dimaksudkan agar mereka mengakui (mengetahui; ‘arafa) atas dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah SWT. Kemudian Adam dan Hawa telah mengetahui (arafa) akan kesalahan dan dosa-dosanya. Mereka juga diberitahu (yu’rafu) cara bertobat. Arafah berarti kenal, mengenal, tahu atau mengerti. Hal ini mengandung makna bahwa jamaah haji yang berdiam di tempat tersebut diajak untuk memahami dan mengenali lebih dalam tentang dirinya sendiri, sebagaimana Nabi Adam dan Hawa yang mengenali diri mereka sebagai makhluk yang pernah mengundang murka Allah. Orang yang wukuf di Arafah harus bisa mengerti dan mengenali diri sendiri. Hanya dengan mengenali diri sendiri kita akan sanggup mengenal siapa sesungguhnya Tuhan kita. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa bisa mengenali diri sendiri sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Jamaah haji yang wukuf di Padang Arafah hendaknya meneladani Nabi Adam dan Hawa. Setelah sebelumnya melakukan perbuatan dosa, keduanya berketetapan hati untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari, sebab dosa hanya akan membuat manusia menanggung penderitaan yang berkepanjangan. Sewaktu berada di Arafah, para jamaah haji dianjurkan bertaubat, memperbanyak istighfar, dan berjanji tidak melakukan kedurhakaan lagi kepada Allah SWT sepanjang sisa hidupnya.

Saya teringat lagu Bimbo yang berkisah mengenai Jabbal Rahmah. Saya coba ingat-ingat syairnya, hanya sepotong-sepotong, dan kemudian hari saya bertanya pada Mbah Google. Jawabnya, dalam lagu itu ternyata Bimbo sama sekali tidak bercerita deskripsi Bukit Kasih Sayang tersebut:

Ada padang pasir Arafah
Terbentang amat luasnya
Ada gunung kecil bernama Jabal Rahmah
Berdiri dengan kukuhnya

Ada tugas berat selesai
Dua puluh tiga tahun
Terdengar dalam amanat-Nya

Di Jabal Rahmah
Lelaki agung itu
Salawat dan salam baginya
Dia sampaikan firman dari Tuhan
Hari ini telah Kusempurnakan agamamu
Dan telah Kucukupkan nikmatKu bagimu
Dan telah Kurelakan Islam jadi agamamu

Alangkah mulia tugasnya
Rahmat bagi alam semesta
Alangkah besar syukur kita
Salawat dan salam baginya

Ternyata, di Padang Arafah itulah Rasulullah Muhammad yang sedang wukuf mendapat wahyu terakhir dari Allah SWT. Wahyu tersebut termuat dalam QS Al-Maidah (5) : 3, “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu. …..” Turunnya ayat ini membuat para sahabat bersedih, sebab mereka merasa akan kehilangan Rasulullah dan tak berapa lama kemudian, Rasulullah dipanggil menghadap oleh Allah SWT.

Tugu di puncak Jabbal Rahmah tersebut dulu semuanya berwarna putih, mungkin karena semakin banyak orang yang menuliskan namanya dengan spidol, maka kemudian dihapus dengan cat hitam. Toh masih saja orang menggoreskan namanya di situ. Ini mengingatkan penyakit vandalisme anak-anak remaja yang suka mencoret-coret dan menggores apa saja, termasuk batu candi dan pepohonan. Berdoa saja mungkin dirasa kurang cukup, sehingga masih harus menuliskan namanya dan pasangannya agar diberi kelanggengan berumahtangga. Bagi yang berusia lanjut atau tidak kuat mendaki, sebetulnya cukup berdoa di bawah bukit, kemudian melambaikan tangan ke arah tugu sambil cium jauh. Hanya saja, posisi ketika berdoa dilarang keras menghadap tugu. Harus menghadap Ka’bah. Hal kecil ini seringkali dilupakan banyak orang, termasuk ketika berdoa di depan makam. Kalau ketahuan Askar bisa dimaki-maki: “Syirik…. syirik….”

Belakangan saya berpikir ulang, benarkah di tempat seperti itu Adam dan Hawa dipertemukan? Berarti sebelumnya mereka pernah berpisah. Kapan? Apakah setelah Adam makan buah khuldi di surga, kemudian mereka diturunkan Tuhan ke bumi dan terpisah satu sama lain? Ada tulisan yang menyebut, Nabi Adam diturunkan di negeri India, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Irak. Setelah keduanya bertaubat untuk memohon ampun, akhirnya atas ijin Allah mereka dipertemukan di bukit ini. Setelah pertemuan ini, Adam dan Hawa melanjutkan hidup mereka dan melahirkan anak-anak keturunannya sampai sekarang. Jujur saja, saya meragukan kebenaran informasi ini. Tapi dengan adanya monumen itu, berarti pemerintah Arab Saudi merasa yakin betul bahwa di situlah Adam dan Hawa bertemu.

Saya bertambah bingung ketika dihubungkan dengan teori evolusi manusia, yang mengatakan bahwa nenek moyang manusia itu “seperti” Simpanse. Wuaduh, apa kira-kira Adam seperti itu Simpanse? Asraghfirullah. Kalau yang dibayangkan bahwa sosok Adam adalah seperti manusia yang sekarang, yang bisa bicara lancar, berarti sudah masuk katagori manusia modern (Homo sapiens). Padahal keberadaan manusia di muka bumi ini sudah ada jutaan tahun yang lalu. Sebelum Homo sapiens ada Homo erectus, dan sebagainya sampai dengan Australopithacus yang hidup 7 juta tahun yang lalu. Entahlah… (Kapan-kapan saya mau menulis khusus soal yang satu ini).

Di Jabbal Rahmah, melewati jalanan anak tangga yang penuh sesak, saya bersama isteri berusaha mendaki hingga mendekati monumen di puncaknya. Nampaknya isteri saya memiliki kepuasan tersendiri bisa langsung menempelkan tangannya di tugu itu. Asal tidak ikut-ikutan coret-coret saja. Saya cukup memotretnya. Hampir semua orang mengabadikan dengan kamera di dekat tugu bersama pasangannya masing-masing. Ada yang potret sendirian. Masih banyak juga pedagang asongan dan tukang foto amatir dengan kamera polaroidnya. Dan seperti biasa, untuk memotret diri sendiri saya hampir tidak pernah membutuhkan pertolongan orang lain.

Terus terang, ketika berada di Jabbal Rahmah, saya seperti diposisikan di depan “ruang pengakuan” dimana saya harus jujur dengan perasaan saya sendiri terhadap isteri. Saya harus mengakui bahwa meskipun selama hampir 29 tahun kami berumahtangga baik-baik saja, toh saya seperti meragukan diri sendiri sebagai suami yang baik. Saya masih suka terpesona melihat perempuan lain. Tergoda untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Saya seperti ditodong untuk menjawab pertanyaan: Benarkah saya seorang suami yang baik? Benarkah saya sebagai suami sudah memperlakukan isteri saya sebagaimana seharusnya?

Di puncak Jabbal Rahmah, dimana Adam dan Hawa menyatukan kembali cintanya, saya merangkul isteri saya, menghadap Ka’bah, dan berdoa agar keluarga kami bisa rukun-rukun saja sampai ajal menjemput. Agar kami dijauhkan dari godaan yang menyebabkan goncangan dalam rumah tangga. Agar kami dapat menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Dan doa-doa lain seperti itu yang tentu saja semuanya dalam bahasa Indonesia dan dengan volume yang dapat didengar isteri saya. Jadi meskipun dia mengucapkan “amin” namun tidak perlu mencurigai saya berdoa agar bisa berpoligami. Dalam suasana agak berdesakan di puncak bukit yang sempit itu, tentu saja doa kami didengar orang. Maka salah seorang nyeletuk: “Adam Hawa……”

Bersambung.

2 Tanggapan

  1. Memantapkan kasih Jabbal Rahmah di hadapan Allah swt

  2. mohon maaf pak itu teori Evolusi itu banyak yg meragukan…jadi kita seharusnya lebih percaya dan memang seharusnya percaya akan sejarah adam dan hawa hingga menurunkan kita manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: