Surat Terbuka buat Ahok: Apresiasi pada Tukang Ojek Jakarta

Bapak Ahok yang terhormat

Terima kasih telah mengapresiasi surat saya yang lalu mengenai saran mengatasi macet, berupa “penghapusan hari libur”. Tinggal saya menunggu, apakah saran saya itu memang dapat dilaksanakan ataukah tidak.

Kembali saya berkirim surat kepada Bapak Ahok karena hanya alamat email Bapak yang saya ketahui setelah beberapa waktu lalu mengumumkannya secara terbuka. Memang ada niatan berkirim surat ke Bapak Jokowi, tapi saya pikir sama saja. Bukankah Jokowi – Ahok adalah dwi-tunggal?

Kali ini saya ingin mengajukan usulan, yaitu agar Pemerintah DKI Jakarta memberikan penghargaan khusus kepada para tukang ojek sepeda motor yang banyak bertebaran di seluruh pelosok Jakarta.

Pertimbangan saya, sebagian besar berdasarkan pengalaman saya sendiri, adalah:
1. Selama puluhan tahun saya menggunakan jasa ojek sepeda motor di Jakarta, tidak satupun saya pernah ditipu, dikerjai dan bahkan saya malah banyak mendapatkan pertolongan dari jasa tukang ojek. Padahal, mereka tahu persis bahwa saya bukan warga Jakarta, masih asing dengan daerah-daerah di Jakarta, sehingga sebetulnya dapat menjadi mangsa empuk kalau saja mereka berniat berbuat jahat.

2. Bukankah sering kita dengar banyak orang yang ditolong tukang ojek ketika terjebak kemacetan? Bukan hanya orang biasa, melainkan para selebritas, pejabat negara dan tokoh-tokoh masyarakat pernah secara langsung merasakan jasa tukang ojek ini. Menurut saya, sudah saatnya para tukang ojek itu mendapatkan apresiasi yang layak, bukan sekedar berbaik hati memberikan ongkos berlebih saja, sebab itu hanya bermanfaat sesaat, tidak substantif.

3. Tukang ojek adalah dewa penolong ketika saya tersesat atau bermaksud mencari suatu alamat yang tidak saya ketahui utara selatannya. Saya cukup tunjukkan catatan alamat tersebut maka Bang Ojek akan mengantarkannya. Atau, kalau dia juga tidak tahu, maka dengan sabar Bang Ojek membantu menanyakannya pada sesama tukang ojek dengan alasan solidaritas, sampai akhirnya alamat tersebut dapat ditemukan. Bayangkan, betapa sulitnya mencari alamat di sebuah perumahan yang tidak jelas nama kecamatan dan kelurahannya. Padahal nama perumahan selama ini seringkali tidak mengacu pada nama daerahnya. Misalnya saja, apa bedanya Perumahan Indah Permai dengan Indah Sentosa? Sepanjang pengalaman saya, hanya satu kali saya gagal menemukan alamat dengan bantuan tukang ojek. Mungkin ini kasuistis karena dia kurang “cerdas” menemukannya.

4. Menyangkut ongkos, selama ini saya tidak pernah bertengkar soal besarannya. Saya biasanya mengira-ngira sendiri kira-kira berapa ongkos yang cukup. Tapi kemudian biasanya saya bertanya: “Cukup Bang?” Dan selalu jawabannya adalah, “Cukup Pak, terima kasih.” Padahal, dia punya kesempatan bagus untuk “memeras” saya karena memang sejak awal tidak ada perjanjian sebelumnya mengenai berapa ongkos yang harus saya bayar. Kadang ada yang sebelum saya naik, dia sudah berkata menyebut tarifnya: “Dua puluh ya Pak”. Saya iyakan saja tanpa menawar, dan malah memberi lebih karena saya merasa lumayan jauh. Bahkan, beberapa kali saya memberikan ongkos yang sangat berlebih karena saya merasa sangat tertolong dan menghargai usahanya mencarikan alamat yang saya cari dengan cara bertanya kesana kemari tanpa bosan. Saya saksikan, betapa “berlebihan” mengucapkan terima kasih dan mendoakan saya mendapatkan rejeki dan sehat wal afiat. Dalam hati saya berkata, “mudah-mudahan kamu sendiri juga sehat dan mendapat rejeki melimpah, bisa memperbaiki nasib dan meningkat statusnya, tidak jadi tukang ojek abadi.” Saya bayangkan, meski uang tersebut memang lumayan besar untuk ongkos ojek, namun berapa ongkos yang saya keluarkan kalau naik taksi. Masih tidak sebanding. Namun pernah juga uang saya tidak cukup, ada uang ratusan ribu yang dia kesulitan memberi kembaliannya. Tapi pengojek yang baik hati itu berkata: “Sudahlah Pak, itu saja cukup kok.” Hal ini tidak pernah terjadi pada supir taksi. Biasanya penumpang taksi selalu memberi ongkos berlebih di atas argonya. Tetapi bagaimana kalau uangnya kurang? Apakah supir taksi bersedia menerima ongkos sedikit lebih rendah dibawah argonya?

5. Dibandingkan dengan taksi, ongkos ojek jauh lebih murah dan lebih praktis untuk mencari alamat atau menembus kemacetan karena dapat menelusup ke jalan-jalan tikus. Pengalaman saya dengan taksi Jakarta, saya sering jengkel karena mendapat pertanyaan: “Lewat mana Pak?” Menurut saya, ini pertanyaan menguji, sebab kalau saya salah menjawab, dia langsung tahu bahwa saya bukan warga Jakarta atau asing dengan rute yang lancar. Saat itulah dia akan leluasa mengerjai saya agar argo lebih banyak. Untuk menghindari hal ini, kadang-kadang pertanyaan itu saya jawab: “Ya lewat mana saja Bang, yang penting lancar dan cepat, kalau Abang berbuat baik maka saya akan merekomendasikan teman-teman saya untuk naik taksi ini. Kalau Abang menipu saya, akan jadi publikasi buruk buat taksi Abang.”

6. Para tukang ojek itu dimana-mana selalu punya semacam organisasi berdasarkan tempat mangkalnya. Mereka secara swadaya membentuknya, membuat aturan sendiri, membeli seragam sendiri, bahkan menyisihkan sebagian pemasukan untuk tabungan bersama. Kalau diantara mereka ada yang sakit, maka uang tabungan itu bisa untuk santunan. Demikian pula kalau ada hal-hal mendesak yang membutuhkan pertolongan. Bahkan saya pernah tahu ada organisasi pengojek yang secara rutin menyisihkan tabungannya untuk disumbangkan ke mushola atau masjid. Mereka sudah membuktikan bahwa mereka selama ini sudah memberi, dan tidak pernah meminta kepada pemerintah atau siapapun. Kalau toh mereka mendapat rejeki dari penumpangnya, itu memang sudah menjadi rejekinya. Kalau mereka sendiri sudah secara swadaya mengurus dirinya sendiri, pertanyaannya adalah, apakah pemerintah pernah memikirkan hal ini? Para pengojek itu juga warga negara yang punya hak sama dengan warga negara lainnya. Saya tidak tahu, apakah mereka sudah punya Kartu Sehat dan Kartu Pintar?

7. Terkait dengan organisasi ini, selama ini saya tidak pernah melihat (mudah-mudahan jangan sampai) para pengojek dimanfaatkan oleh parpol tertentu. Saya tidak bisa membayangkan kalau para pengojek itu bekerja mengantarkan penumpang dengan mengenakan seragam partai misalnya. Menurut saya, kesadaran berorganisasi ini harus mendapat perhatian tersendiri. Pemerintah, atau siapa saja, perlu memberikan pelatihan manajemen organisasi agar apa yang sudah mereka lakukan dapat menjadi lebih baik dan berfungsi maksimal. Bisa saja organisasi itu menjadi semacam koperasi agar bermanfaat secara sosial dan ekonomi, asal jangan menjadi ormas atau apalagi organisasi politik. Mereka sudah memulai dengan caranya sendiri, sebisa-bisanya, tinggal meningkatkan kualitasnya. Apakah pemerintah masih tetap berdiam diri saja melihat fakta ini?

8. Memang selama ini ada berita mengenai tukang ojek yang nakal, merampok bahkan memperkosa penumpangnya. Tetapi alhamdulillah saya tidak pernah mendengar kasus negatif itu di Jakarta. Mudah-mudahan nama baik pengojek Jakarta masih tetap terjaga untuk selama-lamanya. Mudah-mudahan mereka tetap mempertahankan reputasinya meskipun pemerintah tidak (belum) memberikan apresiasi yang layak. Para pengojek itulah yang sebetulnya layak menjadi ikon Jakarta untuk menjaga Jakarta Aman. Seharusnya kepolisian juga memberikan perhatian kepada mereka agar mendapatkan pengetahuan serta ketrampilan menjaga Kamtibmas. Para pengojek itulah ujung tombak kepolisian dalam menjaga keamanan wilayah Jakarta. Kenapa hal ini tidak (belum) dilakukan? Apakah para pengojek itu sudah punya SIM? Kalau belum, bagaimana kalau kepolisian membantu kemudahannya? Saya bayangkan ada perusahaan sepeda motor yang memberikan kredit murah untuk para pengojek. Selama ini hanya saya lihat di televisi, para pengojek menggunakan sepeda motor satu merek sebagai sarana iklan. Padahal kalau hal itu diwujudkan dalam realita, apa salahnya?

Demikianlah curhat saya mengenai para pahlawan Jakarta bernama tukang ojek. Tentu masih banyak yang dapat diceritakan mengenai kebaikan mereka sebagaimana yang dialami orang lain. Kebetulan yang saya ingat masih sebatas itu. Semoga mereka mendapatkan limpahan rejeki yang barokah, keselamatan lahir batin, diberikan kesehatan hingga ajal menjemput. Jasa-jasa mereka pasti akan mendapat imbalan dariNYA. Amin ya robbal alamin.

Bungurasih, Sidoarjo, 4 Mei 2013

Henri Nurcahyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: