Ada Balet Rasa Sunda

Catatan Henri Nurcahyo

Rasa SundaLama tidak nonton pertunjukan balet, saya terkejut, ternyata ada perkembangan baru yang menarik. Bahwa balet tidak lagi identik dengan citarasa asing dan musik-musik klasik, namun sudah merambah citarasa etnis lokal. Dalam pertunjukan di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jatim, Sabtu malam (25/5) ada pertunjukan balet “rasa Sunda”, bahkan ada pula yang menyisipkan musik Madura. Ini pertunjukan yang menarik, sayang tidak banyak yang menonton, apalagi nyaris tidak ada apresiasi dari kalangan pelaku tari tradisi.

Sudah sejak lama balet diposisikan sebagai kesenian yang eksklusif sehingga sedikit sekali kalangan seniman yang tertarik untuk menonton pertunjukannya. Tapi nampaknya hal ini terjadi di Surabaya, sebab yang saya tahu apresiasi yang bagus terhadap balet saya saksikan di Solo, juga Jakarta. Sementara di Surabaya, meski diberi undangan gratis yang seharusnya beli ratusan ribu, masih saja tidak tergerak untuk datang ke gedung pertunjukan.

Saya jadi teringat Linda Josephine dari Elles Ballet yang sekian tahun lalu sedemikian getol mempromosikan balet di Surabaya agar “dianggap” oleh kalangan seniman bahwa balet itu juga bagian dari seni tari. Maka setiap pertunjukan dia menyediakan beberapa lembar undangan VIP gratis untuk orang-orang tertentu yang dia anggap bersedia memberikan support. Namun Linda harus menelan ludah lantaran kecewa. Padahal niatan itu antara lain dilakukan lantaran posisinya kebetulan sedang menjabat di Biro Tari Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Namun yang juga perlu dipertanyakan adalah, sejauh mana apresiasi kalangan pelaku balet sendiri untuk menimba wawasan dengan menonton pertunjukan balet yang bukan dari sekolahnya sendiri. Selama ini pertunjukan penuh penonton kalau berupa pertunjukan tahunan yang melibatkan semua siswa sekolah balet yang ditonton oleh keluarganya sendiri.

Satu hal yang layak dipuji dari Linda adalah ketika mengajak seniman tari Bimo Wiwohatmo dari Jogjakarta untuk melakukan kolaborasi balet dan tari kontemporer serta pernah pula menggandeng koreografer tari tradisi Surabaya, Arief Rofik untuk berkarya bersama. Pentas kolaborasi ini sempat diadakan beberapa kali dalam pertunjukan khusus, dan bukan pertunjukan rutin tahunan sebagaimana kewajiban sekolah-sekolah balet biasanya. Namun seiring dengan kepindahan Linda menetap di Kanada, hilang pula upaya-upaya menjadikan balet sebagai kesenian non-eksklusif dan memberikan citarasa tradisi pada tarian yang berasal dari Italia dan berkenbang di Prancis ini.

Sampai akhirnya, saya terhenyak ketika menyaksikan “Festival Ballet Surabaya dan Temu Koreografer Muda” di Gedung Cak Durasim itu. Ada 6 (enam) koreografer muda yang tampil malam pertama itu, sebab besok malamnya (26/5) ada pergelaran khusus dari Hifumi Takimoto dari Jepang. Keenam koreografer tersebut adalah Dislav (Belle Ballet School), Dewi Rani (Dewi Ballet School), Sylvi Panggabean (Premier Ballet School), Ekawati Loekito (Center Point Ballet), Uut Suwardani, dan Yuvita Intyanirma.

Perihal pengertian balet itu sendiri, sebetulnya berasal dari nama teknik dalam menari, yang kemudian digabung dengan beberapa elemen lain sehingga menjadi Tari Balet. Pemahaman gampangnya, ciri-ciri (tarian) balet biasanya menampilkan teknik pointo work (kaki jinjit), dan mengangkat kaki tinggi-tinggi. Itu sebabnya Linda Josephine dulu berkemauan kuat agar semua penari, termasuk penari tradisi dan kontemporer sebaiknya menguasai (teknik) balet agar memperkaya gerakannya. Dengan demikian, koreografer yang bermaksud membuat karya tari kontemporer berbasis balet tidak akan kesulitas menemukan penari. Tetapi yang kemudian terjadi adalah sebaliknya, justru penari-penari balet itu sendiri yang mencoba mempelajari aneka ragam gerak tari tradisi.

Nama Linda memang harus disebut untuk urusan kolaborasi balet dan tari tradisi ini, meski sebetulnya di tataran nasional ada nama Farida Faisol (Farida Oetoyo) dengan karya-karyanya yang bercitarasa nusantara.

Ya sudahlah, itu proses dan menjadi sebuah dinamika sendiri dalam blantika tari di negeri ini. Dalam pertunjukan kali ini, ketika tampilan pertama muncul dari Dislav dengan karya “Paquita” memang masih terasa balet sebagaimana umumnya. Lalu muncul karya Yuvita dengan judul “Gelas-gelas Alasan” yang mencoba menyajikan balet dengan citarasa tari kontemporer. Disusul “Fragmen” dari Dewi Rani yang kaya warna itu. Nah, pada penampilan keempat, saya tidak menduga bahwa dengan judul “Rise of Pasundan Spirits” ternyata betul-betul menjadikan nuansa Sunda sebagai roh tarian ini, bukan sekadar tempelan. Apalagi dikuatkan dengan tampilan busana bawahan motif batik. Lepas dari kualitas pencapaiannya, setidaknya sudah ada upaya untuk menyusupkan nafas etnis Sunda dalam karya balet yang selama ini cenderung dianggap bukan milik bangsa sendiri.

Setelah penampilan kelima dari Ekawati Loekito dalan karya “Melody Kehidupan” ada sedikit kejutan lagi dengan karya terakhir dari Uut Suwardani dengan judul “Circle”. Pada bagian awal karya yang terdiri dari beberapa segmen ini sempat mencuat musik Madura. Karya ini dipungkasi dengan segmen instalatif yang menggunakan properti kain putih memanjang dan sangkar. Bagian terakhir ini nyaris sudah keluar dari pakem balet konvensional dan sanggup menawarkan persepsi imajinatif perihal kelahiran manusia hingga menuju alam keabadian.

Dan seperti biasanya, dalam seluruh pertunjukan balet, selalu saja miskin penari laki-laki. Dari keseluruhan pertunjukan dari enam koreografer kali ini, hanya dua lelaki yang tampil, yang satu dalam karya Circle (Uut Suwardani) dan satu lagi dalam karya yang disajikan Center Point Ballet (Melody Kehidupan).

Sayang sekali, pertunjukan yang lumayan bagus ini “dinodai” oleh akustik yang bocor di gedung Cak Durasim sehingga sempat terdengar pertunjukan wayang kulit yang ada di pendopo. Beruntung dalam pertunjukan hari kedua (26/5) yang menampilkan seniwati Jepang, tidak berbarengan dengan pertunjukan wayang kulit lagi atau yang lainnya. Saya akan membuat catatan lagi. (*)

Foto-foto lebih banyak lagi ada di: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10200402577361950.1073741831.1081249068&type=1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: