Reportase Budaya Jepang dalam Balet

Catatan Henri Nurcahyo

IMG_0895Membaca nama Hifumi Takimoto sebagai bintang tamu dalam Festival Balet Surabaya, terus terang saya berusaha mencari posisi sedemikian rupa agar tidak salah. Jangan sampai saya over estimate karena koreografer itu dari Jepang, namun jangan sampai pula saya under estimate karena namanya tidak saya temukan di Google. Apalagi selembar brosur bolak-balik yang menyertai pertunjukan hanya mencantumkan biodata singkat 11 penarinya dan sama sekali tidak menyebutkan sedikitpun biodata sang koreografer. Satu-satunya informasi dari Google yang saya dapatkan adalah bahwa Hifumi adalah Chairman of Etoile Ballet Itsuha, juri kompetisi balet di Lenmarc Surabaya akhir bulan Mei ini. Mungkinkah saya harus ketik dengan huruf Kanji untuk menemukan referensinya.

Pertunjukan ini disajikan sebagai puncak acara Festival Balet Surabaya di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur (26/5), setelah sehari sebelumnya tampil karya-karya koreografer muda Surabaya. Keseluruhan acara dalam hari kedua itu hanya menampikan karya-karya balet dari Jepang ini. Jujur saja, label “Jepang” itu sendiri sedikit banyak menciptakan efek psikologis tersendiri yang bisa jadi membuat orang minder. Jangan-jangan Hifumi ini orang hebat, atau setidaknya karena dia orang Jepang maka cenderung diposisikan lebih tinggi ketimbang seniman balet domestik.

Ternyata, memang tidak ada klaim bahwa Hifumi adalah seorang koreografer, dia adalah pimpinan sanggar balet yang ada di kota Osaka, Jepang. Dialah yang mengkordinasi 11 penari Jepang itu untuk menampilkan karyanya masing-masing. Karena itu dari 10 repertoar yang disajikan selama sekitar satu jam itu masing-masing memiliki warnanya sendiri. Ada yang klasik, modern bahkan ada juga yang pop. Bahkan, tidak semua karya yang disajikan sepenuhnya dapat disebut (tari) balet. Nampaknya apa yang mereka suguhkan ini adalah sebuah reportase mengenai Negeri Matahari Terbit dalam perspektif balet. Paling tidak kehadiran 11 penari balet Jepang ini memberikan gambaran mengenai kondisi budaya Jepang saat ini. Bahwa Jepang bukan hanya dikenal sebagai negara modern yang akrab dengan modernisasi Barat namun sekaligus masih memelihara tradisi mereka. Jepang juga masih merawat dengan baik karya-karya seni klasik sebagai pusaka tak benda (intangible hetitage).

Karena itu, tidak semua balet yang disajikan adalah balet klasik. Yui Aoki misalnya, yang membawakan karya Fiesta Tropicana jelas bukan balet klasik, bahkan sulit disebut (tari) balet melainkan tarian pop dengan beberapa penguatan teknik balet. Apalagi lagu Copacabana yang digunakan sebagai iringan sudah jelas menunjukkan nuansa pop modern. Bahkan, dialah satu-satunya penari yang di tengah pertunjukannya menyempatkan diri turun dari panggung dan memberikan salam tangan dengan penonton di deretan paling depan. Padahal, penampilannya kali ini kontras dengan karya yang disajikan sebelumnya Carmen yang sepenuhnya menonjolkan balet klasik. Yui memang belajar balet klasik sejak usia 3 tahun, beberapa kali tampil di Indonesia dan bekerja sebagai pengajar di Akademi Tari Balet Ochi International.

Para penari yang tampil kali ini tidak semuanya muda. Ada sepasang penari, Ran Hanaoka dan Hiroshi Hanaoka (mungkin suami isteri) yang dengan prima menyajikan dua buah karya, yaitu Gadaru Tsugaru Jamisen dan Sakura. Dua tarian ini memang agak mirip, banyak menghadirkan adegan seperti berdansa ala Barat namun menghadirkan musik tradisi Jepang. Penampilan dua karya ini menegaskan bahwa Jepang adalah negara yang toleran terhadap modernisasi bahkan mampu mengelola modernisasi demi kemajuannya tanpa harus meninggalkan tradisi. Ran Hanaoka mengenakan busana Barat, dengan setelan jasnya. Sementara Hiroshi Hanaoka justru berbusana tradisi Jepang.

Hanya saja, sayang sekali, tidak ada penjelasan apapun mengenai karya-karya yang ditampilkan. Pembawa acara hanya membacakan brosur yang sepenuhnya berisi biodata 11 penari tersebut. Alhasil penonton harus menebak-nebak sendiri mengenai kisah yang dibawakan dalam tarian tersebut. Bisa jadi ini justru membebaskan imajinasi, namun seperti karya terakhir berjudul Nutcraker jelas-jelas sarat dengan muatan cerita, selain mengedepankan teknik balet klasik, namun apa isi cerita tersebut sama sekali tidak ada pengantar apapun berupa sinopsis misalnya. Anak saya yang ikut nontonpun langsung nyeletuk, “mustinya ini ada ceritanya kaan…” Nah lo…

Tapi yang menarik, kehadiran penari laki-laki tidak hanya dihadirkan sebagai “tenaga angkat-angkat” melainkan mampu tampil mandiri sebagai penari yang mengagumkan. Koji Nakabayashi misalnya, bukan saja banyak berperan dalam memaksimalkan penampilan Marine Sakurazawa dalam karya Le Corsaire, namun Koji sendiri dalam beberapa adegan tampil mempesona dengan teknik-teknik yang sulit, seperti melompat tinggi seolah sedang terbang. Mengabadikan adegan ini dengan teknik levitasi dalam fotografi jadi hasil yang menarik. Berbeda dengan malam sebelumnya, saya hanya pasrah dengan foto otomatis standar biasa. Hasilnya banyak yang kabur… hihihi….

Ya sudahlah, memang pertunjukan ini bukan bagus-bagus amat untuk ukuran balet profesional. Tapi setidaknya memberikan banyak pelajaran mahal bagi sebuah repertoar dari Jepang yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi pebalet Surabaya. Dan pesan itu sudah ditegaskan oleh Ran Hanaoka lewat punggungnya yang tertempel bendera Indonesia – Jepang. (*)

Foto-foto lainnya ada di: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10200411266619176.1073741832.1081249068&type=1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: