Mengolah Gerak Semangat Tradisi

Catatan Festival Karya Tari se-Jawa Timur

Henri Nurcahyo

IMG_1120

Bahasa utama dalam seni tari adalah gerakan tubuh. Lewat gerak tubuh itulah penari sedang berbicara kepada publik lantaran sedang menerjemahkan apa yang dimaui oleh panata tari lewat koreografinya. Karena itu, penguasaan gerak penari menjadi elemen sangat penting agar gagasan koreografer dapat sampai kepada penonton. Apalagi, masih ditambahi beban “harus berangkat dari seni tradisi”.

Itulah yang terjadi dalam Festival Karya Tari se-Jawa Timur yang berlangsung di Taman Krida Budaya (TKB) Malang, 28 Mei 2013 yang lalu. Sebanyak 31 karya dari kota/kabupaten di Jatim ditampilkan dengan beragan gaya dan gagasan. Dan ternyata, setidaknya menurut pernyataan ketua Dewan Pengamat, Arief Rofik, masih ada sejumlah daerah yang menampilkan penari-penari yang masih lemah dari sisi teknik. Jangankan menterjemahkan gagasan koreografer, bagaimana menari dengan baik saja masih belum kesampaian.

Bukan persoalan penari saja, dari sisi koreografinya pun masih ada yang “tidak jelas apa maunya”. Misalnya saja, ada yang tiba-tiba tidur atau juga yang tiduran sambil mengangkat kaki ke atas. Tidak jelas maksudnya. Aspek kepenarian agaknya masih menjadi persoalan untuk beberapa daerah. Para penari masih butuh pembinaan untuk menari yang bagus, sementara beberapa daerah lain sudah mengedepankan ekspresi dan gerak-gerak yang artistik. Bagaimanapun sebuah gerak memang harus didukung oleh kemampuan teknis. Kalau hanya sekadar mengisi, malah akan melemahkan.

Arief Rofik dan Elly Luthan yang menjadi pengamat juga mencatat masih banyak penari yang terkesan bergerak teknis belaka, kurang menghayati musik. Padahal musik itu dikreasi dengan susah payah, dan bukan hanya sekadar mengiringi gerak belaka. Elly menyebut beberapa contoh lain ada sejumlah penari yang sepertinya antara gerakan tangan dan kaki yang tidak sinkron. Juga sikap berdiri yang tidak jenak. Itu sebabnya Elly Luthan menyayangkan mengapa tidak ada dialog terbuka dengan kalangan pelaku tari sehingga mereka bukan sekadar tampil untuk kompetisi namun menjadi paham apa yang dilakukannya. Penari juga menjadi paham betul apa yang diinginkan oleh koreografernya. Mereka bisa belajar bagaimana memaknai gerak.

Beberapa contoh yang masih berkutat soal teknis gerak ini misalnya dalam penampilan Kota Malang yang menyajikan tema Ken arok yang ternyata aspek penarinya masih lemah. Demikian pula kabupaten Jombang, penarinya masih tahap belajaran. Dengan modal yang lemah seperti itu maka meski gagasannya kuat namun tidak akan bisa sampai. Karena itu gerak harus berkarakter, kalau masih belajar, teknik saja belum sampai, apalagi gagasan. Mialnya saja penari yang satu kakinya ke kanan sedangkan penari lainnya ke kiri. Ada juga penari yang hanya sekadar mengikuti gerak temannya.

Lantaran festival ini memang berangkat dari semangat tradisi maka ada persoalan bagaimana kekuatan tradisi tersebut dapat diangkat. Koreografer ditantang untuk menterjemahkan tradisi menjadi sebuah gagasan dalam bentuk koreografi baru. Jadi tidak sekadar mengangkat tradisi, namun tradisi tersebut harus dikemas dalam sebuah gagasan yang jelas. Disamping itu tentu saja, harus didukung oleh kekuatan penarinya sendiri.

Peserta dari Banyuwangi misalnya, memang penampilannya tradisinya kuat, gagasan menarik, hanya saja ketika diangkat jadi karya terkesan kurang tergarap dengan baik. Gagasan mengenai kejiman (kerasukan) tidak diolah dalam koreografi yang bagus sehingga sejak awal hingga akhir pertunjukan selalu nampak adegan terus kejiman terus. Dari menit pertama hingga ketujuh, nampak sama saja. Masih “beruntung” gerak-gerak Banyuwangian tertutup oleh musik yang dinamis sehingga kelemahannya tidak begitu kelihatan.

Peserta yang lain, bagaimana menerjemahkan “tradisi” itu nampaknya dipahami dengan sikap yang beragam. Kabupaten Kediri memgambil petilan kisah Panji yang mengetengahkan kisah Galuh Ajeng dan kakak tirinya, Candra Kirana. Lamongan memilih sedekah bumi, Ponorogo dengan Reyognya, Pacitan mengetengahkan mitos pantai selatan, Kabupaten Madiun mengangkat Dungkrek dan sebagainya. Terlepas dari apa tradisi yang dipilih, bagaimana mengolahnya menjadi koreografi yang menarik itulah yang penting.

Beberapa peserta yang sudah dinyatakan menjadi penyaji terbaik, dinilai sudah tepat memilih gagasan dan tidak sekadar elementary belaka. Ada keberanian untuk memilih gagasan yang tidak biasa. Misalnya saja, peserta Surabaya yang mengangkat semangat Cak Durasim sudah melakukan eksplorasi gerak sedemikian rupa yang membutuhkan kemampuan beberapa aspek agar gagasan tersebut dapat terwujud. Hal ini diungkapkan melalui penataan gerak yang didasari dengan motivasi untuk menyampaikan apa yang diinginkan. Sayang penataan musiknya cenderung kemrungsung sehingga gagal terpilih dalam tiga penata musik terbaik, meski digarap oleh penata musik langganan juara, Subiyantoro, yang biasanya mewakili Sidoarjo. Beda dengan musik Sidoarjo, digarap Suwandi, terkesan lebih sumeleh, ikut memperkuat karakter penarinya.

Demikian pula kabupaten Ponorogo yang sudah menampilkan karya dengan gagasan yang tidak biasa-biasa saja. Sementara kabupaten Sidoarjo sebetulnya tidak terlalu kuat gagasannya, namun garapan musik dan penarinya menunjukkan karakter yang menarik. Pilihan toloh “Saropah” kurang kuat argumentasinya, sebab dalam legenda Sarip Tambakoso, nama Saropah hanya tercatat sebagai adik Sarip yang tidak memainkan peranan vital. Beda kalau misalnya yang diangkat adalah sosok ibu Sarip, pasti kuat karekternya.

Dari sepuluh penampilan terbaik, memang yang tercatat aspek kepenariannya sudah selesai. Tuungagung misalnya, mustinya layak masuk katagori penata tari terbaik, namun lantaran kuotanya hanya tiga, jadi cukup puas masuk dalam sepuluh besar penyaji terbaik. Menurut kesaaksian Rofik, dalam festival tahun lalu sebenarnya sudah nampak kekuatan mengangkat tradisi itu namun sekarang eksplorasi tradisi tersebut dirasa makin kuat.

Dan yang juga menarik dicatat, ternyata banyak nama-nama “baru” yang menjajal kemampuan dalam arena ini, sementara nama-nama lama masih bertengger. Subiyantoro misalnya, orang Sidoarjo yang langganan juara itu kali ini menggarap peserta Surabaya namun gagal masuk tiga besar penata musik terbaik. Demikian pula Bimo Wijayanto dari Tulungagung dan Intrasminah (Kota Pasuruan) hanya berhasil mengantarkan penyajiannya dalam sepuluh besar terbaik.

Kalau ada hal teknis yang perlu dikritik, lampu di belakang kanan kiri panggung yang masih bocor, nampak dari pengunjung seperti sorot bulan, sehingga mengganggu estetika. (*)

Berikut ini data lengkap hasil pengamatan:

Tiga Penata Tari Terbaik Nonranking:
– Moh. Hariyanto, S.Pd, Kota Surabaya
– Budi Alvan, Kabupaten Sidoarjo
– Wisnu Hp, Kabupaten Ponorogo

Tiga Penata Rias/Busana Terbaik Nonranking:
– Sekar Alit Santya Putri, S.Pd, Kota Surabaya
– Teguh Waluyo, Kabupaten Sidoarjo
– Wisnu Hp, Kabupaten Ponorogo

Tiga Penata Musik Terbaik Nonranking:
– Suwandi Widoanto, Kabupaten Sidoarjo
– Purnomo, S.Sn, Kabupaten Lamongan
– Masrondi, Kabupaten Tuban

Tiga Penulis Naskah Terbaik Nonranking:
– Kabupaten Ponorogo
– Kabupaten Banyuwangi
– Kabupaten Ngawi

Sepuluh Penampilan TERBAIK Non Ranking
– Kabupaten Lamongan
– Kabupaten Ponorogo
– Kabupaten Gresik
– Kota Surabaya
– Kabupaten Sidoarjo
– Kabupaten Ngawi
– Kabupaten Tulungagung
– Kota Pasuruan
– Kabupaten Bojonegoro
– Kabupaten Tuban

Sepuluh Penampilan UNGGULAN Non Ranking
– Kabupaten Kediri
– Kabupaten Situbondo
– Kabupaten Nganjuk
– Kabupaten Trenggalek
– Kabupaten Magetan
– Kota Probolinggo
– Kabupaten Banyuwangi
– Kota Malang
– Kabupaten Sumenep
– Kabupaten Pamekasan

Sebelas Penampilan HARAPAN Non Ranking
– Kota Madiun
– Kabupaten Pacitan
– Kabupaten Mojokerto
– Kabupaten Jombang
– Kota Blitar
– Kabupaten Probolinggo
– Kota Batu
– Kabupaten Mojokerto
– Kabupaten Malang
– Kabupaten Bangkalan
– Kabupaten Pasuruan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: