Representasi Negeri ini dalam Lakon “Sarip Tambak Oso”

Catatan Pengamatan Pementasan Ludruk Lerok Anyar, Malang

Oleh Henri Nurcahyo

FOTO
Sebagai sebuah legenda populer di Jawa Timur, cerita Sarip Tambak Oso sering dipentaskan oleh banyak ludruk. Sebagaimana juga Lakon “Sakerah” isi ceritanya juga sudah dihapal luar kepala oleh masyarakat penggemar ludruk. Yang kemudian membedakan pementasan lakon yang sama dari setiap ludruk adalah bagaimana teknis pementasan dan menginterpretasikan isi ceritanya. Itulah yang ditunggu-tunggu dari pementasan ludruk “Lerok Anyar” dari Malang di Taman Krida Budaya (TKB) Malang Sabtu lalu (29/6).

Diceritakan bahwa Sarip adalah seorang pemuda desa yang dikenal bertemperamen keras namun dia baik hati kepada orang-orang miskin dan tertindas. Di desa Tambak Oso dia hanya hidup berdua dengan ibunya yang sudah menjanda. Pada masa penjajahan Belanda, ketika kisah ini terjadi, rakyat ditindas dibebani pajak berlebihan oleh pemerintah kolonial. Sementara keluarga Sarip tercatat sudah menunggak pajak atas tambak milik almarhum ayahnya. Tentu saja pihak Gubermen terus-terusan menagih pajak tersebut. Sarip merasakan ketidak-adilan karena kenyataannya tambak tersebut digarap dan disewakan kepada Ridwan, pamannya. Logikanya, pamannya itulah yang wajib membayar pajak. Namun Ridwan menolak dengan alasan almarhum ayah Sarip masih punya hutang pada Ridwan.

Ketika Lurah Gedangan datang ke rumah Sarip menagih pajak, ibu Sarip mengiba mengharap belas kasihan. Lurah yang sebetulnya tidak membawahi langsung desa Tambak Oso itu naik pitam dan menyiksa ibu Sarip hingga babak belur. Tiba-tiba Sarip datang dan mengetahui hal itu, terjadilah perkelahian berujung tewasnya Lurah Gedangan di tangan Sarip. Gubermen marah besar karena aparatnya terbunuh, sehingga semakin memperkuat alasan memburu Sarip.

Sementara itu Ridwan yang sakit hati akibat bertengkar dengan Sarip menyuruh Paidi, jagoan desa, membunuh Sarip. Kebetulan Paidi adalah kusir Ridwan dan memang sudah lama memendam kesumat terhadap Sarip. Sampai akhirnya dalam sebuah perkelahian, Sarip tewas di tangan Paidi. Namun di sinilah letak keistimewaan lakon ini. Sarip tidak bisa dibunuh begitu saja. Meski dia sudah tewas, dia bisa hidup lagi hanya dengan tangisan ibunya: “Durung wayahe Nak…” Dalam sebuah versi diceritakan mayat Sarip dilangkahi ibunya sehingga hidup lagi.

Gubermen semakin geram terhadap hal ini sehingga mencari siasat bagaimana betul-betul dapat menghabisi nyawa Sarip. Dan akhirnya, sebagaimana kisah-kisah kepahlawanan pada umumnya, ternyata Sarip dapat dikalahkan lantaran pengkhianatan Mualim, kakak kandung Sarip sendiri. Pengapesan Sarip adalah, dia harus ditembak dengan peluru yang dilumuri minyak babi. Rahasia itulah yang “dijual” Mualim kepada Gubermen. Ibu Sarip tidak dapat menolong lagi karena dia sudah diamankan lebih dulu. Dalam sebuah versi menyebutkan ibu Sarip dibunuh.

Mengapa Sarip dapat hidup lagi meski sudah mati? Kemudian ibunya bercerita, ketika Sarip masih dalam kandungan, ayahnya bertapa di Goa Tapa selama beberapa waktu dan baru kembali pada saat anak keduanya telah lahir dengan membawa sebongkah kecil tanah merah “Lemah Abang”. Selanjutnya tanah tersebut dibelah dan diberikan pada Sarip dan Ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip akan dapat bangkit dari kematian apabila ibunya masih hidup, meskipun ia terbunuh 1.000 kali dalam sehari.

* * *

Jalan cerita seperti itu sudah diketahui banyak orang. Mereka yang suka nonton ludruk tahu persis bagaimana urutan ceritanya. Yang membedakan satu ludruk dengan ludruk lainnya adalah versi ceritanya yang berbeda namun tidak prinsip. Substansinya tetap sama, bahwa Sarip adalah pemuda desa pembela wong cilik, menentang kekuasaan Gubermen yang korup, suka memberi kepada orang miskin, dan sangat setia serta hormat pada ibunya.

Dalam kaitan dengan kecintaan terhadap ibunya inilah dapat menjadi satu sorotan tersendiri yang menjadi salah satu substansi lakon ini. Bagaimana seorang ibu sedemikian menyayangi anaknya dan bagaimana seorang anak harus berbakti dan hormat terhadap ibunya. Ada satu adegan penting ketika Sarip duduk bersimpuh di depan ibunya. Pada saat itulah Sang Ibu menyampaikan nasehat-nasehat kepada Sarip bagaimana menjalani hidup dengan baik. Diantaranya, “Ojok ngerusak pager ayu sebab isok ciloko, nek gak mati awake yo mati sandang pangane. Ojok suka pek pinek barange liyan. Hormatilah ibumu.” Dan sebagainya.

Nasehat tersebut disampaikan secara monolog dengan suara mengharukan yang menyayat. Justru pada adegan inilah yang harus diperhitungkan dengan seksama oleh sutradara ludruk agar seluruh isi monolog itu dapat tersampai dengan baik kepada penonton. Diupayakan monolog ini disampaikan oleh pemain yang piawai olah vokal sehingga artikulasinya dapat diandalkan. Disamping juga aspek intonasi, diksi, dan ritme. Tentu saja, jangan sampai ada gangguan teknis (klip on misalnya) yang menyebabkan ada bagian-bagian monolog yang tidak jelas terdengar. Jujur saja, adegan monolog yang sangat penting ini belum sepenuhnya berhasil dibawakan oleh Ludruk Lerok Anyar.

Substansi lainnya dalam lakon ini adalah spirit perlawanan terhadap korupsi dan tindakan sewenang-wenang penguasa. Seorang Sarip bukan hanya harus berhadapan frontal dengan kekuasaan Gubermen, melainkan juga terhadap egoisme Ridwan, pamannya sendiri, serta arogansi Paidi yang sok jagoan.
Spirit perlawanan ini tidak hanya muncul utuh dari sosok Sarip melainkan juga celetukan isteri Ridwan terhadap suaminya, monolog Mualim, materi lawakan, bahkan menjadi bahan kidungan. Salah satu kidungan tentang semangat anti korupsi itu misalnya, menyebut bahwa korupsi adalah “penggawean sing enteng, gak ngetokno kringet, cukup karo pucuke pulpen”. Juga kidungan pasemon seperti, “Iwak asin dibumbu rujak, regane bensin sak iki mundhak.”

Betapa arogannya Ridwan yang menyuruh Paidi agar membunuh Sarip tanpa takut risiko hukum. Ridwan yakin betul, bahwa hukum itu bisa dibeli. Tinggal, “wani piro?” Isteri Ridwan juga memprotes arogansi suaminya yang mengklaim sebagai pemimpin rumah tangga namun menolak dikritik. “Wong wedok iku surgo nunut neroko katut,” kata Ridwan. Maka sang isteripun membalas, “Opo dadine pemimpin nek gak gelem dikritik karo diprotes. Nek pancene surga nunut neraka katut, makane bojo dikritik supaya aku gak katut nang neroko”.

Berbagai kritik muncul dalam berbagai kesempatan lain. Misalnya protes terhadap penyelewengan pajak muncul dalam dialog: “Pajak bukan untuk membangun jalan tapi nggedekno wetenge dewe”. Penertiban dilakukan secara tebang pilih, tergantung siapa yang mampu membayar. “Katakan tidak pada korupsi, nyatane preet….” Bahkan koran pun tidak luput dari sasaran kritik karena tidak memberi ruang yang memadai untuk berita ludruk. “Mosok ludruk ae jange impor pisan…..”

Jika penonton tertawa ngakak ketika pemain melontarkan banyolan, maka pada saat kritik-kritik sosial itu meluncur penonton bertepuk tangan yang menunjukkan bahwa ada aspirasi mereka yang terwakili dalam kritik tersebut. Memang di sinilah kekuatan lakon Sarip Tambak Oso ini. Kalau sutradara menyadari betul kekuatan ini, maka lontaran dan materi kritik dapat digarap lebih serius sehingga tidak terkesan asal-asalan. Lakon Sarip ini sesungguhnya dapat dijadikan pijakan untuk merepresentasikan situasi negeri ini sekarang. Bayangkan kalau misalnya lakon ini dibawakan oleh Ludruk Mahasiswa dan dipentaskan di lingkungan menengah, pasti banjir kritik sosial akan berbuahkan tepuk tangan berkepanjangan.

* * *

Pementasan Ludruk Lerok Anyar di TKB Malang ini memang merupakan program rutin Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim melalui UPT Taman Budaya Jatim. Lantaran bukan program mandiri, maka acara ini dibatasi dan diatur oleh sejumlah formalitas yang memang sudah seharusnya dilakukan. Karena itu justru pihak ludruk sendirilah yang harus pandai-pandai menyiasati agar apa yang diinginkan dapat sesuai dengan format yang tersedia. Sayangnya, sepanjang pengalaman saya mengamati program pentas rutin ludruk ini, hampir semua ludruk gagal mempertemukan kepentingan yang berbeda itu. Tidak terkecuali Ludruk Lerok Anyar.

Sutradara Marsam sudah berupaya menampilkan adanya kreativitas sebagai sebuah tontonan. Adegan tari Remo tidak dibawakan secara tunggal olehnya sendiri meski kebetulan dia juga penari Remo. Marsam mengkreasi dengan tarian kelompok, lima orang yang tidak sekadar bergerak seragam, dia pemimpinnya. Adegan Bedayan juga diatur sedemikian rupa dengan dua orang tampil dulu, diikuti tujuh penampil pawestri lainnya, dan bukan berdiri sederet sebagaimana biasanya. Kreativitas seperti ini layak diapresiasi.

Hanya saja, faktor sangat penting yang harus diperhatikan adalah masalah manajemen waktu. Sutradara yang baik, harus mampu mengatur manajemen waktu sehingga tidak ada bagian yang berkepanjangan atau malah terpangkas. Dalam hal ini adegan lawak kentara sekali sangat bertele-tele dan menyita banyak waktu, apalagi dengan materi lawakan yang sudah basi. Sudah puluhan tahun banyolan seperti itu disampaikan dalam ludruk, membosankan.

Sementara bagian sangat penting yang justru hilang adalah “mengapa Sarip akhirnya dapat tewas terbunuh?” Lantaran jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.30 maka lakon harus diakhiri, sehingga terpaksa jalannya cerita dipercepat dan menghilangkan adegan yang menjadi substansi lakon ini. Tidak ada adegan pengkhianatan Mualim terhadap adiknya sendiri, Sarip, sehingga jagoan sakti itu dapat terbunuh. Tidak ada monolog Sarip menjelang ajalnya, yang menyebut-nyebut soal heroisme dan nasionalisme. Padahal monolog menjelang ajal inilah yang menjadi pesan sesungguhnya lakon Sarip ini sehingga pemaknaan terhadap sosok Sarip bukan sekadar dipahami permukaannya saja, yaitu sebatas lelaki brandalan.

Lakon yang sebetulnya dinamis ini agaknya juga belum berhasil dibangun kedinamisannya di atas panggung agar penonton terhanyut menahan nafas. Masih terkesan lakon mengarus pada jalannya cerita belaka. Mungkin perlu sentuhan tangan-tangan seniman teater untuk membangun spirit dinamika ini. atau, jangan-jangan pemain ludruk yang sudah kawakan itu sebetulnya mampu melakukannya, hanya tidak ada yang melecutnya.

Lepas dari beberapa kelemahan, pentas rutin ini layak diapresiasi, sebab untuk bisa mendapat giliran pentas tidak gampang, ada proses kurasi tersendiri. Hanya kelompok ludruk yang betul-betul eksis, bukan sebatas punya nomor induk kesenian yang bisa tampil. Lagi pula pementasan ini juga dapat menjadi variasi dari order tanggapan dari orang punya hajat. Bagi kelompok ludruk yang laris, bisa jadi pendapatannya lebih kecil dibanding tanggapan, tetapi bagi kebanyakan kelompok ludruk lainnya, sudah merupakan berkah tersendiri. (*)

3 Tanggapan

  1. Lalu , Saropah sebenarnya adik dari siapa ? Sarip ataukah Paidi ? Mohon pencerahannya. Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: