Bergulung-gulung di Tanah Sebagai Karya Tari

Catatan Henri Nurcahyo

IMG_4810Tidak sebagaimana lazimnya sebuah karya tari, kali ini penarinya hanya bergulung-gulung di atas tanah dan menari dalam posisi duduk. Nyaris tidak pernah berdiri sama sekali. Tari garapan Hariyanto ini berangkat dari ritual “Lur-Gulur” masyarakat Sumenep, yang memang mengedepankan tarian topeng hanya dengan bergulung-gulung di tanah. Mahasiswa ISI Surakarta ini mempresentasikan karyanya sebagai tugas akhir studi Pasca Sarjana di dusun Mandele Laok, desa Larangan Barma, Kec. Batu Putih, Sumenep, dalam sebuah pertunjukan di arena yang dibangun khusus untuk itu.

Bayangkan sebuah arena berhampar pasir putih, berukuran sekitar 20×20 meter persegi, berpagar bambu yang di atasnya bisa untuk tempat duduk dua tingkat. Selain duduk dan berdiri di sekeliling arena tadi, penonton juga bisa menyaksikan pertunjukan di atas pagar tersebut layaknya duduk di tribun. Tentu saja, kursi panjang bertingkat dari bambu ini sepintas nampak ringkih. Sesekali terdengar teriakan sejumlah penonton ketika bambu dikira hendak roboh. Sore itu, Selasa, 30 Juli 2013, di dalam kotak arena yang berbukit kecil di tengahnya itulah 2 penari wanita dan 4 penari pria (termasuk Hariyanto) menari dengan cara bergulung-gulung ke sana kemari, meliuk-liukkan tubuh, mengangkang dan merunduk, ibarat berkelejat-kelejat kepanasan selama 40 menit.

Hamparan pasir itu memang sengaja disediakan untuk sarana pertunjukan, di sekitar areal persawahan kering dusun Mandele Laok. Di dekat situ terdapat sumur kuna yang ditumbuhi pohon besar di dalamnya, yang airnya meluber ke kolam kecil dan mengalir kemana-mana. Konon pembuatan sumur ini dilakukan selama setahun, pembuatnya bernama Juk Romong dan Juk Jejeh melakukan tirakat, tidak makan nasi, hanya makan buah mengkudu muda. Menurut Juru Kunci Monakim, penduduk setempat menggelar acara selamatan dua kali setahun di areal sumur ini, yaitu sebelum bulan puasa, dan saat tengah musim kemarau. Di mata air inilah tempat sesaji diletakkan, doa dipanjatkan oleh sesepuh desa, setelah ritual tari Lur-Gulur berjalan dari halaman sebuah rumah menuju tempat ini.

IMG_4566Ritual Tari Lur-gulur merupakan tradisi masyarakat desa setempat yang sudah punah. Belakangan ada yang mencoba menelisik asal-usulnya, mementaskan kembali sebagai bagian dari sumber inspirasi penggarapan seni pertunjukan kontemporer. “Saya tertarik dengan penampilan visualnya, dimana penari hanya menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa berdiri, hanya duduk dan bergulung-gulung saja,” ujar Hariyanto, pemuda asal desa Tamberu Barat, kec. Sokobanah, Sampang, yang berbatasan dengan Pamekasan. Makna harafiah Lur-gulur adalah bergulung-gulung.

IMG_4608Sebagaimana pentas sore itu di halaman sebuah rumah kuna, sebuah meja berisi aneka sesajen diletakkan di atas tikar lebar. Di sekeliling meja itulah seorang lelaki bertopeng menari hanya dengan posisi duduk, kemudian bergerak menjulurkan badannya mengelilingi meja itu. Sepanjang dia menari dengan iringan gending Gunungsari itu, sama sekali dia tidak berdiri. Dan ketika tarian usai, sang penari berdiri dan minum air dari sesajen, kemudian berjalan membawa tombak, diiringi beberapa warga membawa sesajen dari atas meja tadi, berjalan beriringan menuju mata air abadi yang bersumber dari sumur tua di tengah areal sawah itu tadi.

Ritual Kesuburan

Hariyanto menjelaskan, tradisi yang hanya ada di desa Larangan Barma itu dimaksudkan untuk menyuburkan tanah. Namun tradisi itu sekarang sudah punah. Tahun 2009, ketika Eko Wahyuni dari Unesa mengadakan penelitian di desa tersebut, tradisi itu sudah tidak ditemukan lagi. Yang kemudian menari pada kesempatan rangkaian dengan ujian Pasca Sarjana Hariyanto itu adalah Asnawi, cucu pencipta Tari Topeng Lur-gulur yang sudah berlangsung selama lima generasi. Hanya saja, ketika tarian akan dimulai, seorang pengantar ritual tersebut menjelaskan cerita yang berbeda. Dikatakan, asal usul tradisi tersebut berangkat dari sebuah cerita mengenai seorang lelaki yang bertahan membujang lantaran ingin memuaskan kenakalan syahwatnya. Ibunya jengkel, sehingga kemudian menghukum anak lanangnya itu dengan sengatan kalajengking pada kemaluannya. Maka jadilah lelaki itu berkelojotan di atas tanah menahan sakit.

IMG_4633Sebagai sebuah folklore, bisa saja sebuah tradisi memiliki latar belakang cerita yang berbeda, tergantung siapa yang menafsirkannya. Sebutlah Subiyantoro, ketika melakukan observasi terhadap tradisi ini tahun 2010 mendapatkan cerita bahwa substansi Lur-gulur memang berkaitan dengan pesan penyadaran pada masyarakat agar senantiasa menjaga kelestarian alam demi kehidupan semesta. Ritual tersebut biasanya digelar para petani menjelang musim tanam untuk mengharap kesuburan. Atas dasar itulah kemudian seniman yang bekerja di Dinas Kominfo Jatim ini menggarap seni pertunjukan berjudul “Lur Gulur E Tana Kapor sebagai duta seni Jawa Timur pada Temu Taman Budaya se Indonesia di Riau, Juli 2010. Ritual yang awalnya berlangsung di sawah berlumpur, oleh Subiyantoro sebagai penata musik dan Sri Mulyani yang menggarap koreografinya, “dipindahkan” ke hamparan “kapur” ketika menjadi sebuah pertunjukan.

Dalam penelusuran Subiyantoro, sebagaimana ditulis dalam blog Lontar Madura, ditemukan cerita bahwa ketika masih menjadi sebuah tradisi ritual, sajian tari Topeng Lur-gulur ini cukup rumit pelaksanaannya, berlangsung selama tujuh minggu. Melibatkan warga desa yang menyerahkan sebagian hasil buminya, kemudian bersama-sama berarakan ke tengah sawah untuk menggelar ritual. Selama ritual berlangsung juga dilakukan pembacaan kitab suci Al Qur’an.

Penafsiran Topeng Lur-gulur sebagai ritual mensyukuri hasil bumi juga disampaikan oleh Syaff Anton WR, budayawan Sumenep dalam sebuah tulisan di blognya. Menurutnya, Topeng Gulur ini oleh masyarakat setempat digunakan sebagai peristiwa ritual dan diyakini sebagai bentuk persembahan kepada Sang Pencipta melalui penyatuan diri dengan bumi. Masyarakat Madura sendiri banyak yang tidak mengenalinya karena memang Topeng Gulur tidak digelar di suatu ruang publik sebagaimana Topeng Dalang, serta jenis seni tradisi lainnya di Madura.

Topeng Gulur digelar sebagai bentuk kegiatan ritual masyarakat, yang dipercaya sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kehadirat Yang Maha Kuasa, yang telah banyak memberikan nikmat, khususnya dalam bidang pertanian. Sehingga masyarakat merasa berkewajiban menumbuhkan ungkapan melalui simbol-simbol dalam bentuk eksplorasi seni. Menurut Syaff, dalam prosesi Topeng Gulur, pelaku diperankan oleh tiga orang dengan mengenakan topeng (tatopong) dengan nuansa berkarakter keras dengan warna merah dan mengenakan ikat kepala kain merah, berambut hitam panjang (yang terbuat dari rajutan benang), baju sejenis rompi berwarna hitam berasisoris manik-manik, berkalung bunga-bunga yang menggantung sampai perut, sabuk, serta kalung gungseng di kaki.

Karena mitos masyarakat setempat sangat mengikat terhadap ritual ini, mereka selalu melibatkan diri dan secara serempak mereka berbondong-bondong ke arena Topeng Gulur dengan membawa sebagian hasil tani mereka seperti jagung, ketela pohon, kacang-kacangan, padi atau apa saja dalam bentuk hasil tani yang mereka garap dan mereka miliki sebagai hasil tani. Kemudian mereka meletakkan hasil tani tersebut berjejer secara melingkar, sehingga terkesan di tempat itu terdapat ragam hasil tani. Dan diantara tumpukan hasil tani tersebut dipancang sejumlah colok (obor) yang nantinya akan mengelilingi perhelatan ritual. Maksud dari obor tersebut, merupakan simbol agar hasil tani yang dijejer selalu mendapat petunjuk dan penerangan dari Yang Maha Kuasa. Sedangkan ragam hasil tani itu, menjadi simbol bahwa itulah yang selama ini mereka hasilkan.

Garapan Seni Pertunjukan

Sebagai sebuah seni pertunjukan kontemporer, Hariyanto tidak mempemasalahkan asal usul ritual tradisi ini yang ternyata memiliki versi berbeda. Dia hanya menggelar kembali sajian Topeng Lur-gulur sebagai prosesi awal menuju pertunjukannya sendiri. Hariyanto setidaknya ingin menciptakan suasana, bahwa apa yang dilakukannya merupakan refleksi dirinya terhadap ritual Topeng Lur-gulur tersebut. Karena itu sajiannya kali ini sama sekali jauh dari kesan ritual, melainkan lebih mengeksplorasi gerak-gerak enam penari di atas hamparan pasir putih.

IMG_4684Ketika rombongan ritual Lur-gulur masih berada di areal mata air, keenam penari itu melakukan pemanasan di areal berpasir dengan cara menekuk-nekuk tubuhnya sedemikian rupa sehingga menjadi lentur. Sementara sejumlah pemusik yang menabuh gamelan melantunkan irama minimalis yang monoton dan seronen (seruling Madura). Kemudian peniup seronen itu berdiri dan berjalan mengelilingi arena berpasir. Saat itulah para penari yang berada dalam posisi tidur mulai menggerak-gerakkan tubuhnya.

Pada mulanya, Hariyanto menempati posisi duduk di atas gundukan kecil di tengah arena, sementara lima penari yang mengitarinya tidur telentang, kedua lengannya terbuka lebar, dan kaki dilipat seperti posisi bersila teratai dalam meditasi. Posisi meditasi ini semakin disempurnakan dengan kedua tangan di depan dada, jadi seperti orang duduk meditasi namun menghadap ke langit dengan punggung menempel di tanah. Pelan-pelan seorang penari menggelindingkan dirinya, dikuti yang lain.

IMG_4714Pada adegan-adegan berikutnya, keenam penari itu menjelajah setiap sudut arena dengan bergulung-gulung atau gerak melata , kadang maju kadang mundur. Dan ketika berada di satu titik, masing-masing penari mencoba mengeksplorasi berbagai macam gerakan tubuh. Tidak terhindarkan, ada sejumlah posisi gerak yang bernuansa erotis, seperti kedua kaki mengangkang dengan badan telentang. Bagi masyarakat pedesaan Madura, apalagi mereka agamis, bisa jadi mereka merasa risih ketika pandangan langsung berhadapan dengan kaki perempuan yang mempertontonkan selangkangan persis di depan pandangan mereka. Toh mereka hanya senyum-senyum saja. Atau, beberapa orang komentar dengan berteriak namun tertawa ketika ada posisi gerak yang dianggapnya erotis.

IMG_4773Apa yang tertangkap dari eksplorasi gerak ini adalah, bahwa tanah adalah salah satu elemen semesta yang selama ini belum banyak dikenali oleh manusia sebagai penghuninya. Tanah hanya diambil hartanya, dikuras airnya, dieksploitasi tanpa dikenali sama sekali, apalagi sempat berucap terima kasih. Barangkali itu sebabnya dalam ritual Lur-gulur versi aslinya, gerakan bergulung-gulung ini dilakukan di tanah becek berlumpur di sawah. Tapi hal itu mungkin saja dilakukan dulu kala, ketika tanah di Madura (mungkin saja) belum kering kerontang. Dalam hal inilah maka bisa dipahami ketika Hariyanto mengubah tanah berlumpur itu menjadi pasir pantai, sebagaimana ekologi pesisir utara pulau Madura. Sedangkan Subiyantoro dalam pertunjukan tahun 2010 menerjemahkannya dengan mengubah menjadi tanah kapur.

IMG_4718Dari perhitungan teknis artistik, andaikata Lur-gulur ini dilakukan di lahan berlumpur, akan mengingatkan pada Meta Ekologi yang pernah digarap Sardono tahun 80-an di Jakarta, dimana dia menciptakan sawah di halaman TIM. Lagi pula, tingkat orisinalitasnya kurang mengesankan, karena beberapa seniman lain sudah sering melakukan hal yang sama. Termasuk bergelut dengan Lumpur Lapindo. Sementara Subiyantoro, yang memilih tanah kapur dengan pertimbangan sesuai dengan kondisi geografis Madura. Toh dalam pertunjukan di atas panggung, yang disebut “tanah kapur” itu dimanipulasi dengan rekayasa teknologi belaka. Sedangkan Hariyanto, memilih pasir pantai justru lebih memberikan keleluasaan gerak-gerak yang rumit lantaran kelenturan pasir.

IMG_4724Dari gerakan-gerakan yang horisontal itu memperlihatkan bahwa keenam penari tersebut merefleksikan keterikatan tubuh manusia terhadap tanah. Mereka seolah-olah ditarik oleh gaya gravitasi bumi yang sangat kuat untuk tidak meninggalkan tanah. Bagaimanapun mereka bergerak, berjumpalitan, bergulung-gulung, bahkan sesekali ada yang melompat, toh akhirnya harus kembali ke tanah. Terlentang pasrah, menyerahkan diri kepada tanah, tempat manusia akan kembali ke alam baka. Mereka harus sedemikian rupa melenturkan tubuhnya, agar tidak hancur ketika bersetubuh dengan tanah. Kepada hamparan tanah (pasir) itu mereka seolah berkata sambil telentang, “ya sudah milikilah tubuhku, semuanya, jangan ada yang tersisa.” Sebuah kepasrahan yang transendental.

IMG_4743Hanya saja, mengamati berbagai pose gerak keenam penari itu, nampaknya mereka sangat “menyelamatkan” wajahnya. Padahal semua bagian tubuh mereka bersentuhan dengan pasir, yang karena sempat dibasahi secukupnya menjadikan pasir menempel di kostum ketatnya. Mungkin ini alasan teknis, agar pasir tidak ikut terhisap hidung atau masuk mata. Sebetulnya alasan teknis itu bisa disiasati agar seluruh bagian permukaan tubuh secara total bersentuhan dengan tanah (pasir). Misalnya saja, menatapkan wajah ke pasir dalam hitungan detik saja dengan mata terpejam dan menahan napas. Alasan penyelamatan wajah ini sangat kentara ketika mereka menjatuhkan diri dalam posisi telungkup, selalu menahan wajahnya dengan juluran lengan lebih dulu. Aspek totalitas penyerahan tubuh terhadap tanah menjadi sedikit terganggu.

IMG_4769Lantaran pertunjukan ini lebih berdimensi horisontal, maka memang lebih nyaman menikmatinya dari posisi atas. Itu sebabnya sengaja dibangun tempat duduk bertingkat dari bambu itu. Hanya saja, nampaknya konsep koreografinya tidak dibuat sedemikian rupa agar pertunjukan dapat dinikmati dari semua sisi. Meski tidak semua, masih banyak adegan-adegan yang justru hanya nyaman disaksikan dari satu sisi saja, dimana para penguji ujian tugas akhir ini duduk mengamati.

IMG_4801Rasanya tidak salah kalau ketentuan akademis ISI Surakarta mengharuskan mahasiswa Pasca Sarjananya ujian bukan di atas panggung prosenium atau di lingkungan kampus yang elitis. Konon ini pengaruh Sardono W. Kusumo, yang menjadi pembimbing Hariyanto, agar ujian tugas akhir ini dilakukan di habitat aslinya. Alhasil, pertunjukan ini betul-betul membuahkan makna tersendiri yang kontekstual. Tentu saja, tangkapan kalangan akademis dengan warga desa yang menyaksikannya sangat mungkin berbeda. Itu bukan masalah.

IMG_4817Kalau pertunjukan ini diawali dengan peniup seronen yang berkeliling arena, maka peniup itulah yang juga memungkasi pertunjukan. Dia kembali berkeliling arena, meniup seronen, dan keenam penari itu bergulung-gulung mendekatkan tubuhnya kepada sang peniup yang berdiri di tengah arena. Tiupan berhenti, tangan sang peniup merengkuh tangan menari, membantunya berdiri. “Sudahlah Nak, bumi ini sudah menerima persembahan tubuhmu. Sudah waktunya kalian bediri….,” barangkali seperti itulah kalimat bisu yang dikatakannya. (*)

3 Tanggapan

  1. take care…..mas har…..”bravo madura”

  2. menarik…. bisakah kiranya karya ini disajikan di luar ruang sosialnya…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: