In Memoriam Hardono: Tak Menyerah Melukis dengan Tangan Kiri

Oleh Henri Nurcahyo

FOTO - 4BERITA DUKA. Innalillahi wainna ilaihi rajiun…Telah meninggal dunia Bpk. Hardono (pelukis/sketser) di kediamannya Rabu dinihari td pk. 00. 30 wib Kita doakan semoga amal ibadah almarhum semasa hidupnya diterima Allah Swt, dan mendapat tempat terindah di sisiNya. Serta diampuni semua kesalahannya. Rumah duka kompleks Perumahan Pejaya Anugerah F 22 Trosobo Sidoarjo.

SMS itu saya terima dari Amang Mawardi, meneruskan SMS Toto Sonata yang mendapat kabar dari keluarga almarhum. Jarum jam di HP saya menunjukkan pukul 08.32. Segera saya sebar SMS tersebut ke puluhan seniman yang saya perkirakan belum mengetahuinya, juga beberapa kontak BBM. Namun saya sengaja tidak menyebarkan dalam broadcast BBM lantaran tidak semua kontak saya adalah seniman. Dan saya selama ini memang tidak pernah broadcast BBM sama sekali. SMS tersebut juga saya copy-paste menjadi status di FB. Kabar merebak dengan cepat, meski ada saja yang complain kenapa dirinya tidak saya kabari, padahal namanya ada di kontak BBM saya. Toh dia akhirnya tahu dari status BBM saya.

Saya baru bisa meninggalkan rumah sekitar pukul 10.30, dan ternyata begitu sampai di rumah duka, almarhum sudah dikebumikan pukul 09.00. Hal ini karena anaknya yang ditunggu datang dari Makasar sudah sampai. Saya tidak bertemu satu orangpun yang saya kenal di situ. Satu-satunya yang saya kenal hanyalah isterinya, karena sering bertemu ketika diajak Hardono. Itupun, saya malah baru tahu namanya saat itu, ketika saya terus terang menanyakannya.

FOTO - 3Di kalangan seniman, Hardono dikenal sebagai pelukis sketsa atau sketser. Sejak dia aktif dalam dunia kesenian beberapa tahun belakangan ini, sengaja dia mengkhususkan diri melukis sketsa, meskipun juga mampu melukis biasa. Saya mengenalnya ketika sekian tahun yang lalu dia sering bertamu ke rumah Lim Keng, sketser hebat yang pernah dimiliki Surabaya. Hardono terang-terangan mengagumi Lim Keng, sampai-sampai lukisan sketsanya mirip karya Lim Keng. Dalam perkembangannya tentu Hardono semakin menemukan ciri khasnya, meski masih tercium aroma pengaruh Lim Keng.

Pilihan Hardono menjadi sketser sangat tepat, karena pelukis yang mengkhususkan diri dalam sketsa terbilang langka. Di Surabaya ada Lim Keng (sudah almarhum), Tedja Suminar (kemudian menetap di Bali), ada Thalib Prasojo (juga sudah meninggal). Sementara generasi di bawahnya baru ada Nonot Sukrasmono. Hardono sangat menyadari kelangkaan ini. Dia berusaha mengkampanyekan pentingnya sketsa, meski dia juga sadar apresiasi masyarakat, juga kolektor, terhadap sketsa masih rendah.

FOTO - 2Bersama dengan pelukis asal Lamongan yang pernah berdiam di Bali, Imam Mukhlis, Hardono tahun 2010 pernah membentuk Komunitas Pelukis Khusus Sketsa di Surabaya yang bernama Komunitas JB43. Hardono sendiri juga pernah tinggal di Bali setahun. Ada sekitar 25 pelukis (sebagian masih pemula) yang bergabung dalam komunitas ini. Nama JB43 itu sendiri merujuk sebuah rumah yang dijadikan sarana pertemuan mereka, yaitu Jalan Joyoboyo 43. Bangunan kuno itu dulunya dihuni almarhum ayah Hardono yang menjadi pegawai PJKA.

Keberadaan Hardono sebagai sketser menjadikan dia bagian dari sesuatu yang langka tersebut. Beruntung Bank Jatim sempat memberikan apresiasi yang bagus terhadap karya-karya Hardono. Selama dua tahun berturut-turut (2011-2012) Bank Jatim mengeluarkan kalender khusus yang memuat karya-karya sketsa Hardono. Saya merasa mendapat kehormatan karena Hardono sendiri yang datang ke rumah saya memberikan hadiah kalender tersebut. Juga ada tiga buah sketsanya yang dihadiahkan ke saya sebagai bentuk penghormatan. Memang, nampaknya Hardono terkesan sekali dengan saya sebab ketika dia pameran tunggal sketsa di sebuah Resto Gallery di Jalan Sonokembang, saya membuat ulasannya di Harian Kompas edisi Jatim.

Lelaki bersahaja yang selalu ramah itu juga dikenal rajin hadir dalam banyak pameran lukisan atau acara-acara kesenian. Seringkali dia juga mengajak isterinya, bahkan juga cucu laki-lakinya yang nampaknya memiliki bakat menggambar sebagaimana ayahnya, yaitu anak sulung Hardono. Demikian pula ketika terakhir kali saya bertemu dalam acara Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2013 di Jx Internasional Mei yang lalu. Semangat melukisnya masih sama, membawa kertas gambar dan alat-alat melukis. Hanya bedanya, kali ini dia melukis menggunakan tangan kiri. Sekitar setahun belakangan tangan kanannya memang terserang stroke, lumpuh, sehingga mau tak mau harus memaksimalkan tangan kiri. Termasuk melukis.

Masih terngiang dalam ingatan saya ketika dia mengatakan, “Lha iyo orang yang tidak punya tangan sama sekali saja masih bisa melukis dengan mulut atau kaki, masak saya hanya tangan kanan yang lumpuh saja tidak bisa melukis.” Kalimat itu dia katakan dengan ringan, tidak ada kesan jumawa, disusul tawanya yang khas. Memang di arena PSLI itu ada pelukis tuna daksa yang selalu menyewa stand dalam PSLI setiap tahun. Mereka tergabung dalam AMFPA (Association of Mouth and Foot Painting Artists).

Iseng-iseng saya tanyakan pengalamannya melukis menggunakan tangan kiri, lagi-lagi dia merendah, “yaa masih belajaran lah.” Padahal, saya sempat melihat hasilnya, tidak ada bedanya dengan melukis menggunakan tangan kanan. Hanya saja, waktu itu Hardono melukis sketsa dengan model seseorang, sehingga bukan sketsa “gaya Lim Keng” sebagaimana biasanya.

Dan ternyata, ketika saya takziah ke rumah duka itu, isterinya memberi kesaksian yang mengejutkan: “Lukisannya yang pakai tangan kiri malah lebih bagus,” katanya sambil menunjuk sebuah lukisan berwarna di atas kanvas yang ada di serambi rumah. Sayang saya tidak sempat melihat sendiri semua karya-karyanya yang dihasilkan dengan tangan kiri sehingga tidak bisa membuat perbandingan.

FOTO - 1Begitulah, pelukis sketsa itu sudah sangat langka, ternyata semakin langka lagi karena seorang Hardono pergi untuk selama-lamanya. Tidak ada tanda-tanda sakit apapun yang mengawali kepergiannya. Mungkin serangan jantung, atau memang sudah waktunya untuk menghadap Illahi. Dalam karier kepelukisannya yang relatif singkat, dia sudah menorehkan catatan yang sangat berarti. Hardono memang pernah bekerja di perusahaan bahan kimia, pensiun tahun 2009. Kemudian berprofesi menjadi pengacara, sebelum akhirnya menenggelamkan diri sebagai pelukis sketsa.

Lahir di Madiun, 13 Juli 1944, Hardono meninggalkan seorang isteri dengan nama awalan sama, Hartini, perempuan kelahiran Surabaya 30 April 1956. Anak sulungnya, lelaki, meninggal dalam usia muda, masih 27 tahun, yang memberinya seorang cucu laki-laki. Anak keduanya, perempuan, tinggal di Makasar dengan tiga anaknya. Sementara si ragil juga perempuan, belum menikah, tinggal serumah dengan orangtuanya. Selamat jalan Mas Har, semoga sampeyan damai di sisiNYA. Amiiiin…. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: