Dilema Desakralisasi di Tanah Suci

Oleh Henri Nurcahyo

Royal Clock Tower di tengah hamparan penghancuran.

Royal Clock Tower di tengah hamparan penghancuran.

Terjawab sudah apa yang membuat saya penasaran ketika berada di Tanah Suci Makkah. Ternyata rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan sudah berubah menjadi gedung perpustakaan dan sekolah. Di lahan bekas rumah kediaman Abu Bakar sudah didirikan mal mewah. Dan yang menyedihkan, kediaman Khadijah, isteri pertama Rasulullah, sudah berubah menjadi kakus umum di dekat Masjidil Haram. Astaghfirullah.

Kebetulan pembimbing umrah saya, waktu itu, nampaknya tidak banyak menguasai informasi mengenai hal tersebut. Ketiga tempat yang sangat bersejarah itu sudah musnah lama sekali, entah kapan persisnya. Saya baru mengetahuinya ketika membaca majalah Tempo edisi 18 Agustus 2013 yang lalu pada artikel “Sejarah yang Musnah di Tanah Haram”. Bahwa selama ini memang sedang terjadi penghancuran berbagai situs bersejarah di Makkah dan Madinah atas nama “kemegahan”. Penghancuran itu konon sudah mencapai 95 persen.

Saya juga baru tahu bahwa Royal Clock Tower, gedung jangkung setinggi 601 meter yang ada jam bertuliskan Allah di puncaknya itu, ternyata pada saat perluasannya menghancurkan Benteng Ajhad bersama bukit di bawahnya. Padahal benteng berusia 220 tahun yang dibangun pada zaman Dinasti Ottoman itu didirikan untuk melindungi Ka’bah dari bandit dan merupakan peninggalan bersejarah terbesar bagi umat manusia. Penghancurannya dinilai tak berbeda dengan penghancuran monumen Budha oleh Taliban di Afganistan. Gara-gara penghancuran benteng ini sempat terjadi perang diplomatik antara Arab Saudi dan Turki pada tahun 2002.

Jangan heran kalau pada waktu belakangan ini di sekitar Ka’bah bukan hanya terdengar lantunan talbiyah, namun pada saat yang sama juga bergemuruh suara riuh alat-alat berat menghancurkan berbagai bangunan. Kemerduan dan kesyahduan zikir di masjid beriringan dengan dentuman alat-alat berat. Kota Suci Makkah, khususnya di seputar Masjidil Haram memang sedang mengalami renovasi besar-besaran demi alasan dapat menampung jamaah Haji (dan umrah) lebih banyak lagi. Proyek akbar ini sudah dimulai 26 Agustus 2011, meneruskan penghancuran bangunan-bangunan suci yang sudah dilakukan sejak lama. Itu sebabnya kuota jamaah Haji berkurang setiap negara hingga 20 persen.

Sebagaimana dikutip Tempo, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Arab Saudi, Habib Zain al-Abideen mengatakan, proyek ini bagian dari upaya memberi layanan terbaik bagi jamaah. Kawasan Ka’bah misalnya, kalau sebelumnya berkapasitas 48 ribu jamaah, selama renovasi ini berkurang menjadi 22 ribu jamaah perjam. Namun setelah proyek perluasan 400 ribu meter persegi maka daya tampung Masjidil Haram menjadi 1,2 jura orang dalam satu waktu.

Alat-alat berat siap meratakan bangunan bersejarah demi pelayanan jamaah

Alat-alat berat siap meratakan bangunan bersejarah demi pelayanan jamaah

Sayang sekali mega proyek itu memakan korban. Sebanyak 44 tiang berusia ratusan tahun dari Dinasti Ottoman dan Abasid ikut hancur. Padahal keberadaan tiang yang menjadi bagian dari Masjidil Haram itu memiliki arti sangat penting bagi umat muslim sedunia. Beberapa tiang menandai tempat Rasulullah pernah duduk dan berdoa.

Desakralisasi, Sebuah Dilema

Membaca laporan majalah Tempo tersebut saya jadi teringat ketika menjalani ibadah umrah yang memang baru sekali itu saya lakukan. Betapa makam Rasulullah di dalam masjid Nabawi dijaga ketat oleh askar. Setiap jamaah yang mendekat, apalagi berusaha mencium pagarnya, langsung diusir menjauh. Begitu pula yang berusaha memotret. Namun lantaran hanya berdua, tentu saja askar itu kewalahan. Desakan kerumunan jamaah tak mampu lagi dikendalikan, begitu pula yang mengabadikan makam itu dengan kamera.

Saya bisa memahami perlakuan terhadap makam Rasulullah sangat ketat seperti itu. Mengacu pada makam para Wali di tanah Jawa, banyak orang yang terlalu mengelu-elukan, bahkan berdoa secara berlebihan. Apalagi sosok Rasulullah adalah panutan umat Muslim sedunia hingga akhir zaman, pasti akan diperlakukan istimewa oleh umatnya. Rasulullah sendiri sudah memprediksi bahwa sangat mungkin umatnya akan berlaku berlebihan terhadap makamnya. Karena itu beliau sudah berpesan, ” Ya Allah! janganlah Engkau jadikan makamku sebagai berhala yang disembah.”

Hal yang sama juga terjadi di maqom Ibrahim di seputaran Ka’bah. Para jamaah nampaknya tidak puas hanya dengan melihat dan melongok untuk mengetahui bekas jejak kaki Nabi Ibrahim. Mereka mengelus-elusnya, bahkan menciumi semacam sangkar yang mengurungnya. Begitu pula yang terjadi di Hijir Ismail, ada saja yang mengusap-usapkan tangannya di sepanjang pagar setengah lingkaran itu, bahkan juga menciuminya. Dan yang lebih keterlaluan lagi banyak juga jamaah yang mengusap-usapkan tangan ke dinding Ka’bah, kemudian menempelkan wajahnya dan menangis sambil meremas-remas kain penutupnya. Adegan menangis di dinding Ka’bah ini bisa berlangsung cukup lama, enggan digeser oleh jamaah yang lain. Tentu saja beberapa askar yang berjaga di sekitar Ka’bah pasti akan menghalau para jamaah yang menurutnya sudah bertindak syirik tersebut.

Sepanjang pengamatan saya, perilaku yang lebay ini tidak akan bisa dihalang-halangi oleh askar berapapun dan dengan cara apapun. Saya menyaksikan sendiri, para askar itu sampai teriak-teriak, marah-marah (tentu dalam bahasa Arab yang pasti tidak dipahami, khususnya jamaah Indonesia) namun toh ternyata tidak digubris. Jalan satu-satunya, menurut logika pemerintah Arab Saudi, adalah “menghilangkan” situs keramat tersebut. Sepanjang situs tersebut tidak sangat berpengaruh terhadap ritual ibadah, maka situs itu dihilangkan sama sekali. Seperti misalnya rumah Nabi, rumah Khadijah dan Abubakar, juga tiang-tiang dan gua bersejarah yang berusia ratusan tahun itu. Tetapi manakala situs itu tidak mungkin dihilangkan, maka dilakukan cara sedemikian rupa agar terhindar dari perilaku syirik dari para jamaah.

Contoh dari yang disebut terakhir itu misalnya bukit Syafa dan Marwah. Kedua bukit ini pasti tidak mungkin dihilangkan karena bersangkut erat dengan ritual Sa’i. Tetapi kalau dibiarkan begitu saja maka pasti akan jadi sarana berlaku syirik. Apalagi di bukit Syafa itulah tempat Rasulullah menerima penduduk Makkah yang menyatakan diri masuk Islam, setelah beliau berhasil masuk kembali ke kota Makkkah. Dari bukit Syafa dan Marwah itulah Siti Hajar berlari-lari mencari mata air untuk kebutuhan bayi Ismail yang ditinggal Ibrahim di tanah gersang tanpa tanam-tanaman.

Dan yang saya saksikan sendiri kondisinya, kedua bukit itu sudah ditutupi atap beton sedemikian rupa sehingga jamaah hanya bisa melihat bagian sampingnya dari jarak agak jauh. Sama sekali tidak nampak kesan bahwa itu adalah bukit sebagaimana yang digambarkan sebagai batu besar yang meninggi. Jamaah tidak mungkin mendekat sampai dapat menyentuhnya, apalagi sampai naik di atasnya sebagaimana yang dulu pernah dilakukan Siti Hajar. Jalan diantara Syafa dan Marwah itu sudah ditinggikan sedemikian rupa menjadi jalan yang mulus, sejuk, untuk memudahkan jamaah menjalankan ritual Sa’i pada umrah dan haji. Bisa dibayangkan sendiri kalau saja kedua bukit itu masih dibiarkan sebagaimana kondisi aslinya. Pasti akan jadi tempat berdoa, duduk berlama-lama, bahkan bisa jadi ada acara tangis-tangisan ala sinetron segala.

Sementara Maqom Ibrahim, apalagi Hijir Ismail, tidak mungkin dihilangkan sama sekali untuk mencegah orang berbuat syirik. Bahkan tidak mungkin membuat pagar pembatas di sekitar Maqom Ibrahim misalnya. Paling-paling para askar itulah yang memang harus terus menerus teriak-teriak melarang jamaah berbuat berlebihan pada kedua situs bersejarah tersebut. Para askar tidak bisa bosan melarang jamaah yang mengelus-elus Ka’bah, menangis di dindingnya, bahkan ada askar yang secara khusus menjaga di dekat Hajar Aswad agar jamaah berlaku tertib.

Hajar Aswad memang batu hitam yang sangat istimewa. Banyak jamaah yang menganggap ibadah umrah atau hajinya kurang afdol kalau belum menyentuh bahkan mencium Hajar Aswad. Jujur saja, saya sendiri berjuang keras di tengah kerumunan dan dorong-mendorong ribuan jamaah dengan tujuan supaya dapat mencium Hajar Aswad. Dan ketika saya betul-betul berhasil mendekat dan menciumnya, saya seperti trance. Alhamdulillah…. Allahu Akbar….. Saya teriak dalam keharuan, saya bersyukur, saya menangis. Sementara askar di dekat saya hanya geleng-geleng kepala sambil berkata, “Masya Allah….”

Memang tidak ada kewajiban sama sekali untuk mencium Hajar Aswad. Jamaah ketika thawaf cukup melambaikan tangan sambil mengucap Bismillahi Allahu Akbar…. Namun untuk menjaga perilaku yang berlebihan terhadap batu hitam itulah diperlukan satu askar khusus yang menjaga di dekatnya. Sedemikian istimewanya Hajar Aswad itulah sampai-sampai ada semacam sikap mensakralkan sedemikian rupa seolah-olah batu hitam itu layak “disembah”. Masya Allah. Hal ini pernah diributkan dalam sebuah grup di facebook, ada seseorang yang mengunggah pernyataan bahwa umat Islam juga menyembah batu. Sebuah foto seorang jamaah mencium Hajar Aswad disertakannya. Posting ini tentu saja membuat keributan tersendiri, protes dari mana-mana. Tetapi kalau mau direnungkan dengan tenang, jangan-jangan kita sendiri selama ini sudah memperlakukan Hajar Aswad terlalu berlebihan…… Betapapun sangat istimewanya Hajar Aswad, tetap saja sebuah batu.

Dan sekarang, ketika proses penghancuran situs-situs bersejarah itu masih terus berlangsung di Tanah Suci, bagaimanakah sebaiknya kita menyikapi? Di satu sisi, memang patut disayangkan ketika dilihat dari kacamata sejarah. Bahwasanya situs-situs yang punya nilai sejarah sangat tinggi itu tidak sepantasnya dihancurkan, bahkan diubah sedikitpun yang menghilangkan keasliannya. Itu menyangkut soal heritage, pusaka kebudayaan yang tak ternilai. Persoalannya, sebagaimana yang diceritakan panjang lebar tadi, keberadaan situs-situs bersejarah itu seringkali “disalah-gunakan” sehingga menyebabkan timbulnya perbuatan syirik. Apakah kekhawatiran ini berlebihan? Bisa jadi.

Jabal Rahmah, mudah-mudahan tidak digusur juga....

Jabal Rahmah, mudah-mudahan tidak digusur juga….

Sepanjang pengalaman saya sendiri, saya selalu diingatkan untuk tidak berdoa menghadap makam atau situs keramat sekalipun. Begitu pula ketika berada di Jabal Rahmah, tetap menghadap kiblat, bukan berdoa menghadap tugu peringatan pertemuan Adam dan Hawa tersebut. Kita boleh berdoa di mana saja, tetapi harus tetap menghadapkan wajah ke arah kiblat. Saya teringat apa yang terjadi di Indonesia, banyak orang berdoa justru langsung menghadap makam. Bahkan kompleks makam Sunan Ampel dibangun sedemikian rupa yang mengharuskan peziarah terpaksa berdoa menghadap ke arah makam, bukan kiblat. Sebab posisi makam tersebut ada di sebelah timur, berhimpitan dengan dinding masjid. Sementara areal yang luas untuk peziarah justru ada di sebelah barat.

Akhirnya, ritual ibadah umrah atau haji, memang menjadi ritual yang “murni” sebagaimana ditentukan persyaratannya. Tidak ada lagi perjalanan umrah atau haji yang disertai “wisata sejarah” mengunjungi situs-situs keramat atau napak tilas perjalanan Nabi dan sahabat-sahabatnya. Umrah ya umrah, haji ya haji, tidak lebih. Terlepas dari kebijakan pemerintah Arab Saudi dikendalikan oleh kaum Wahabi, apa boleh buat? Begitulah. (*)

Satu Tanggapan

  1. Saya Umrah waktu malam nispu sa’ban thawaf di makkah bulan Juni 2013.Mekkah sedang renovasi besar-besaran….banyak abu…tapi tidak mengurangi kekhusukan ibadah….saya hampir dekat ke menyentuh Hajar Aswad tapi tidak mau karena saya melihat orang berdesakan dan ada yang menawarkan jasa tapi nantinya minta imbalan….bagi saya tidak suka saya hanya shalat di hijir Ismail…sampai puas berdoa….dan berfoto bagaikan berlatar belakang kain hitam didinding ka’bah.disitu doa makbul .Saya melihat orang yang menangis memeluki dan menyiumi ka’bah dan menggosok bajunya ke kain hitam penutup ka’bah….terlalu…emanggnya kenapa sebegitunya..?…entahlah…saya ngak mau seperti itu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: