Festival Majapahit, Pentas Ulang Festival Ramayana Prambanan

Catatan Henri Nurcahyo

IMG_7713Jawa Timur pernah mencatat peristiwa kesenian yang besar, yaitu Festival Ramayana Internasional di Taman Candra Wilwatikta, Pandaan, tahun 1971. Peristiwa bersejarah itu kini diulangi lagi di tempat yang sama setelah 42 tahun berlalu. Hanya sayangnya, Direktorat Jenderal Kebudayaan sudah menggelar Festival Ramayana Internasional di panggung terbuka candi Prambanan Yogyakarta, 6-9 September 2013. Alhasil, dengan peserta dan pertunjukan yang sama, pentas di Pandaan itu diberi nama lain, yaitu Festival Majapahit Internasional.

Satu-satunya penampilan yang menyajikan cerita Majapahit hanyalah salah satu delegasi Indonesia, yaitu STKW Surabaya, dengan pertunjukan berjudul “Surya Majapahit”. Itupun juga pentas ulang di tempat yang sama beberapa waktu yang lalu. Wakil Indonesia yang lain adalah ISI Denpasar, Bali. Maka pergelaran di Pandaan ini bagaikan pentas ulang festival di Prambanan, minus peserta dari Yogyakarta. Apa boleh buat, momen bersejarah itu sudah direbut oleh Prambanan, yang selama ini sudah rutin menggelar pergelaran Ramayana. Disamping itu, relief terlengkap epos Ramayana memang ada di Candi Prambanan.

Tapi ya sudahlah, terlepas dari pementasan ulang, patut disyukuri bahwa Taman Candra Wilwatikta kembali dihidupkan sebagai venue pertunjukan kolosal berskala internasional. Sebab keberadaan kompleks panggung terbuka itu memang sengaja dibangun untuk penyelenggaraan Festival Ramayana Internasional tersebut. Sayangnya, hajatan besar itulah yang pertama dan terakhir kalinya sampai dengan kali ini. Berbagai upaya untuk menghidupkan kembali dengan acara-acara serupa gagal dilakukan lantaran tidak sebanding dengan keluasan sarana yang tersedia. Sampai akhirnya, kepemilikan dan pengelolaan oleh Yayasan Wilwatikta itu diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Candra Wilwatikta, Pandaan.

Pergelaran di Pandaan ini setidaknya memberi kesempatan pada masyarakat luas yang tidak bisa menyaksikan Festival Ramayana di Pandaan. Apalagi, ini pertunjukan terbuka untuk umum, gratis, berbeda dengan di Prambanan yang eksklusif.

Penampilan India

Penampilan India

Pada acara pembukaan Rabu malam, tampil tiga peserta, yaitu India (Sayembara Mendapatkan Sita), Kamboja (Penobatan Bharata) dan Indonesia (STKW) yaitu “Surya Majapahit”, setelah didahului dengan tari pembuka Bedaya Triloka. Sajian pertunjukan ini benar-benar menyegarkan, apalagi India yang selama ini secara psikologis sudah akrab dengan masyarakat Indonesia. Kebudayaan India sudah dikenal melalui film-filmnya. Bahkan, dalam film-film itu mereka “sudah pandai berbahasa Indonesia”. Dan bukan India namanya kalau tanpa tarian dan lagu-lagunya yang khas. Penampilan mereka sedemikian dinamis, dengan jumlah pemain sekitar 25 orang, namun mampu menguasai panggung.

Maka pada bagian awal pertunjukan ini, disemarakkan dengan nyanyi dan tari India yang nyaris tak pernah berhenti bergerak sedetikpun. Baru beberapa saat di ujung pertunjukan, disajikan adegan-adegan dialog dalam bahasa yang tentu saja tidak dapat dipahami penonton. Meski demikian, ceritanya sudah bisa ditebak, lantaran sudah ada sinopsis dan kisah mengenai sayembara Sita itu sudah populer dalam sastra wayang. Kisah ini menceritakan keberhasilan Rama dalam lomba memanah (berhasil membengkokkan busur) sebagai syarat mendapatkan Sita.

Bagaikan Ritual Budhis

Berbeda dengan penampilan India yang meriah, giliran Kamboja (Cambodia) suasananya bagaikan ritual sembahyang umat Budhis. Ngelangut seperti di vihara. Gerakan-gerakan penyajinya sedemikian lambat, seperti meditasi gerak. Jumlah pemainnya hanya sedikit. Maksimal hanya 8 orang yang berada di atas panggung. Permainan mereka hanya berpusat di sekitar altar di tengah panggung, sementara dua sayap panggung dibiarkan kosong. Satu hal yang menarik, dalam gerak-gerak tarinya sering memperagakan satu kaki yang diangkat menekuk.

Penampilan Cambodia

Penampilan Cambodia

Kisah yang dihadirkan oleh peserta Cambodia ini mengenai penobatan Bharata dan pengasingan Rama. Dikisahkan, saat Rama pulang ke Ayodhya, Dasaratha ingin menjadikan Rama sebagai raja. Namun istri Dasaratha, Kaikeyi tidak setuju karena hasutan Kubja, pelayan kesayangannya. Kubja membujuk Kaikeyi untuk supaya Dasaratha mengasingkan Rama dan menobatkan Bharata sebagai raja. Dasaratha memenuhi janjinya terhadap Kubja. Dasaratha mengusir Rama (juga Shinta) pergi ke pengasingan. Namun ketika Dasaratha wafat, Bharata, adik kedua Rama menolak tahta dari Dasaratha kemudian pergi ke hutan memanggil Rama untuk kembali ke Ayodhya menjadi raja. Namun Rama tetap tidak mau pulang. Rama kemudian memberikan alas kakinya kepada Bharata untuk dibawa pulang. Di Ayodhya, Bharata sebagai pengurus tahta menggelar upacara penobatan raja secara in absentia dengan menaruh alas kaki Rama di kaki tahta sebagai simbol. Bharata lalu menunggu kepulangan Rama.

Sebuah kisah yang menarik. Disajikan dengan intonasi yang tenang, seperti alunan air yang membuai. Pilihan pertunjukan ini ditempatkan di tengah, mengapit pertunjukan India dan Indonesia (STKW) rasanya tepat karena menjadi jeda diantara dua pertunjukan yang sama-sama bergemuruh.

Fragmen kisah Ramayana seperti ini memang relatif kurang populer. Selama ini yang banyak ditonjolkan adalah peperangan Rama melawan Rahwana. Ketika Cambodia menyajikan proses pengasingan Rama akibat hasutan ini, seperti menghadirkan sebuah pelajaran mengenai kebaikan, keteguhan dan kesabaran.

Epos Ramayana memang lahir di India dan menyebar ke banyak negara, termasuk Indonesia. Di masing-masing negara itu, epos ini berkembang sesuai karakter dan budaya masyarakat. Namun di
negara-negara Indo Cina, semisal Myanmar, Laos, dan Thailand, epos ini berkembang nyaris seragam. Sementara di Indonesia sendiri, epos ini tak hanya berkembang menjadi produk kesenian. Namun juga filosofi kehidupan.

Satu-satunya Majapahit

Satu-satunya pementasan selain Ramayana adalah “Surya Majapahit” yang disajikan oleh tim kesenian Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Barangkali lantaran pementasan inilah maka nama festival inipun layak disebut Festival Majapahit Internasional, dan bukan Festival Ramayana. Setidaknya dengan adanya pertunjukan ini maka delegasi yang lain mendapatkan sajian yang berbeda dengan Festival Ramayana di Prambanan minggu sebelumnya. Repertoar ini sudah pernah dipentaskan di tempat yang sama setahun yang lalu, ketika dilangsungkan pembukaan Temu Taman Budaya se-Indonesia. Fragmennya juga disajikan dalam pembukaan Pekan Seni Pelajar di Taman Surya Surabaya. Bahkan pernah juga disajikan di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Surya Majapahit, delegasi STK

Surya Majapahit, delegasi STK

Kisahnya mengenai sosok Gayatri, figur penting dalam kerajaan Majapahit yang hampir kalah populer dengan raja-raja Majapahit lainnya. Padahal ibu dialah yang menjadi think tank kerajaan ketika Gadjah Mada menjadi Mahapatih dan kerajaan dipimpin Tribuana Tunggadewi, puterinya. Gayatri menjadi ibu suri yang sangat berpengaruh, bahkan setelah raja Majapahit dijabat oleh Hayam Wuruk. Sosok mengenai hayam Wuruk itu juga dihadirkan sisi berbeda yang selama ini juga kurang ditonjolkan. Bahwa Hayam Wuruk adalah raja yang bijaksana, suka berkunjung ke rakyatnya seperti blusukan gaya Jokowi. Bahkan Hayam Wuruk adalah juga seniman topeng yang handal.

Sebagai tuan rumah, Tim STKW memang tampil lebih siap sebagai satu-satunya peserta yang paling banyak menghadirkan pemain. Tatalampu juga dimanfaatkan semaksimal mungkin, menjadi satu-satunya penyaji yang glamour, menggunakan sorot lampu dari belakang panggung. Sayang klip on yang digunakan Hayam Wuruk beberapa kali mati, padahal sudah diganti setiap kali masuk ke belakang panggung. Dan kesan secara umum, pertunjukan kali ini tidak sebagus tahun yang lalu. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: