Membangkitkan Kembali Sosok Sudjojono

Jopram - WAYANG PANEN dan TEKS NASIONALISME 2013

Jopram – WAYANG PANEN dan TEKS NASIONALISME 2013

Andaikata Sudjojono tidak rajin menulis di media massa, bisa jadi keberadaannya hanya dikenal sebatas salah satu pelukis anggota Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Karena tulisan-tulisannyalah maka dia dikenal sebagai sosok pelukis yang idealis, nasionalis, dan pelukis yang memiliki kredo-kredo heroik. Dengan demikian maka untuk menilai kualitas karyanya sedikit banyak terpengaruh oleh gegap gempita kredonya tersebut.

Karena kredonya itu pula yang membuat Sudjojono “mudah dikenang” hingga sekarang ini. Orang lebih hapal dengan kalimat “Kami Tahu Kemana Seni Lukis Indonesia Kami Bawa” ketimbang memperbincangkan lukisannya. Ketika Sudjojono pernah bilang, bahwa lukisan itu ibarat “Jiwa Ketok” maka ungkapan sakti itu seakan menjadi parameter bagi perupa (bahkan seniman pada umumnya) untuk menghasilkan karya seni yang bagus.

Sudjonono dengan kredonya itu mencoba membuka lembaran baru seni rupa Indonesia yang tidak sekadar melukiskan keindahan alam atau memindahkan pandangan mata. Lewat lukisanlah dapat digelorakan semangat perjuangan dan ekspresi jiwa. Maka Pak Djon, demikian panggilannya, juga dikenal sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru, sebagaimana diamini oleh seorang Aripin Petruk.

Dalam penilaian Chrysanti Angge, Sudjojono begitu detail memotret ketentraman Indonesia dalam karyanya, meskipun hidup menderita tapi semangat gotong royong menjadi tumbuh subur di Indonesia. Dengan pemahaman itulah yang kemudian diterjemahkan Chrysanti melalui karyanya.

Tetapi Sudjojono memang bukan sekadar menjadi pelukis. Dia adalah aktivis organisasi Seniman Indonesia Muda (SIM) dan juga Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), bahkan pernah menjadi anggota DPR mewakili PKI. Belakangan dia terselamatkan dari “pembantaian massal” atau dibuang bertahun-tahun tanpa proses peradilan karena belakangan dia dipecat oleh PKI dan juga diselamatkan oleh Adam Malik. Namun secara ideologis, Sudjojono masih senada dengan perjuangan kaum kiri waktu itu, yaitu membela rakyat kecil, menentang ketidak-adilan, melawan kemiskinan dan kebodohan.

Itulah sebabnya, seorang Jopram mengangankan,seandainya Sudjojono hidup (lagi) di masa sekarang ini.Sebagai seorang seniman yang idealis, tentu dia akan mengkritisi tentang fenomena sosial yang carut marut yang lebih membuat masyarakat miskin semakin menderita. Pak Djon tidak akan terima nasib petani yang selalu lemah dan menderita, karena Pak Djon adalah sosok nasionalis, pejuang yang selalu membela yang lemah.

Sudjojono adalah pelukis yang menabalkan dirinya sebagai juru bicara perjuangan melawan penindasan. Dialah seniman yang tidak cukup hanya melukis begitu saja, melainkan juga peduli pada pendidikan, peduli pada nasib rakyat, dan menyuarakan pikiran-pikirannya dalam kesempatan di muka publik atau melalui media massa. Sudjojono menjadi identik dengan teks mengenai statemennya itu sendiri. “Sudjojono adalah corong, juru bicara, Sudjojono adalah teks,” kata Meirza Said dalam konsep karyanya.

Elyezer - I AM CHRIST FOR FATIMAH 2013 - 150 x 90 cm Akrilik

Elyezer – I AM CHRIST FOR FATIMAH 2013 – 150 x 90 cm Akrilik

Dan yang juga menarik, bukan hanya kredonya saja, melainkan juga perjalanan hidup seorang Sudjojono sendiri dalam berumahtangga. Sejarah mencatat, Sudjojono pernah hidup serumah dengan seorang pelacur yang diangkatnya dari lokalisasi Senen. Elyezer mengaku tergelitik dengan sikap Sudjojono yang berusaha menjadi penyelamat bagi Fatimah (?), pelacur itu, seperti halnya Christus menyelamatkan Magdalena. Riwayat inilah yang terekam dalam salah satu karya masterpieceSudjojonoberjudul “Di depan Kelambu Terbuka” itu.

Kemudian sejarah juga mencatat, Sudjojono menikah dengan seorang wanita bernama Mia Bustam dan dikaruniai 8 anak. Tetapi kemudian bercerai dan menikah lagi dengan Rose Sumabrata, yang kemudian berganti nama menjadi Rose Pandanwangi, dan mendapatkan 3 anak lagi. Rose sendiri juga membawa 2 anak hasil perkawinannya sebelumnya. Kehidupan Sudjojono bersama Rose itulah yang telah mengubah warna hidupnya. Sudjojono yang semula dikenal sebagai sosok proletar dan anti Barat, terpengaruh juga oleh selera borju dan kebarat-baratan. Maka Faizin menggambarkan bagaimana Sudjojono sedang menikmati “selera” Barat tersebut dengan cara berdansa.

Faizin - PAK DJON BERDANSA 2013 - 150 x 140 cm Cat minyak

Faizin – PAK DJON BERDANSA 2013 – 150 x 140 cm Cat minyak

Memang bukan hal yang mudah mempertahanankan idealisme di tengah gempuran godaan yang membuat air liur menetes. Banyak cerita pejuang yang gigih dan idealis namun langsung runtuh idealismenya begitu mendapatkan kenikmatan baru atau kekuasaan yang memabukkan. Karena itu Salamun Kaulam dengan sinis menyatakan, “Kalau mau selamat jadilah penjilat, jangan segan-segan pasang wajah, sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Ikuti arus, jangan menentangnya”.

Tetapi Dukan Wahyudi tidak terlalu hirau dengan semua itu. Dia hanya menangkap semangat perjuangan Sudjojono itulah yang pantas ditiru. Apapun penilaian orang terhadap Sudjojono, namun dia telah tercatat dalam sejarah sebagai sosok pejuang melalui dunia seni rupa. Sudjonono sudah berbuat demi bangsanya menuju kondisi yang lebih baik. Tidak perduli bahwa apa yang diperjuangkannya menabrak tembok tebal. Hal ini dapat dianalogikan dengan perjuangan mahasiswa dan anak-anak muda ketika berusaha merobohkan tembok kokoh kekuasaan Soeharto tahun 1998. Maka perupa Dukan Wahudi, menangkap spirit perjuangan itu sebagai konsep karyanya.

Bagaimanapun, apa yang menjadi “warisan” Sudjojono pantas dikaji dengan baik sebagai peninggalan sejarah yang inspiratif. Hanya mereka yang mau dan mampu menghargai sejarah yang akan dapat memetik hikmahnya. Peninggalan Sudjojono terlalu “kecil” kalau hanya dinilai dari karya-karyanya secara fisik belaka. Tetapi kredo dalam kompleksitasnya itulah yang menarik terus menerus dikaji, dipertimbangkan dan dijadikan pijakan bagi langkah-langkah selanjutnya. Namun sangat disayangkan, bahwa warisan Sudjojono itu sekarang berada di perbatasan, antara bangkit kembali atau tenggelam perlahan. Setidaknya itulah yang ditangkap oleh seorang Djoned Rahadian dalam karyanya.

Semangat zaman yang berbeda, mau tak mau menuntut sikap kritis untuk menilai masa lalu. Apakah peninggalan masa lalu itu memang pantas dicatat dalam sejarah ataukah justru hanya menjadi sampah. Kredo Sudjojono yang heroik itu tentu musti dipertimbangkan dimensi waktunya. Bahwa zaman memang sudah berubah “masih berlakukah kredo “Jiwa Ketok” itu?” tanya Ivan Hariyanto.

Dan sebagai manusia biasa, toh Soedjojono memang punya keterbatasan dan kelemahan. “Sebesar apapun puncak pencapaiannya tidak akan dapat melampaui kapasitasnya sebagai manusia,” tegas Sarwo Prasojo melalui karyanya. Sudjojono juga manusia biasa, bukan nabi, bukan manusia super atau setengah dewa. Namun justru dalam kandungan “positif dan negatif” itulah sosok Sudjojono menjadi teks yang menarik diperbincangkan sepanjang sejarah seni rupa di negeri ini.

Menurut Hannavy, sebagai manusia yang memiliki banyak corak warna kehidupan, semburat garis akan mewarnai liku-liku perjalanannya. Keberagaman warna, pola garis dan corak adalahsuatu ekspresi alamiah di dalam mengungkapkan ekspresi keberagaman.Kita tidak dapat menghindari coretan garis dan pola kehidupan yang beragam, melainkan hanya dengan ‘adaptasi’ yg secara filosofis dapat diartikan “Dimana Kita Berpijak, Di sini Kita Berteduh”

Begitulah ketika para perupa diberi kesempatan merespon sosok Sudjojono melalui karya-karyanya. Nyaris tidak ada yang pernah mengalami, sezaman atau bersentuhan langsung dengan kehidupan Sudjojono secara fisik. Mereka hanya tahu mengenai pelukis legendaris itu melalui dokumentasi karya-karyanya dan terutama pikiran-pikiran serta riwayat hidupnya. Dan begitu itulah cara mereka meresponnya, dengan menjadikan titik pijak konsep karya atau sekadar menjadi perbandingan untuk mengungkapkan ekspresi yang lain.

Maka pameran mengenang “Seabad Sudjojono” ini setidaknya telah menorehkan catatan tersendiri dalam khasanah seni rupa di negri ini. Setidaknya para perupa Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya tidak ingin ketinggalan ikut “memiliki” seorang Sudjojono yang sudah berbuat untuk negeri ini. Selamat mengapresiasi. (henri nurcahyo)

Satu Tanggapan

  1. Matur nuwun …
    Salam Budaya …
    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: