Kali Porong Dulu Penyelamat Banjir, Kini Luapan Lumpur

Henri Nurcahyo dan Buku Sidoardjo Tempo Doeloe

??????????Sejarah Sidoarjo kini tidak lagi hanya sebentuk lisan. Cerita kawasan di selatan Surabaya itu kini telah dibukukan oleh Henri Nurcahyo dan Dukut Imam Widodo. Seperti apa Sidoarjo tempo dulu dan bagaimana penulisannya?

MIFTAKHUL FS

Menulis sejarah tak ubahnya bermain puzzle. Penulisannya harus menggabungkan telaah akan dokumentasi, benda-benda peninggalan, beragam cerita, dan juga literasi menjadi catatan yang utuh. Mereka juga harus membongkar memorinya tentang segala hal yang pernah dibaca dan didengarnya tentang sejarah yang hendak ditulisnya.
Begitupula yang dilakukan Henri Nurcahyo ketika menuliskan perjalanan Sidoarjo. Laki-laki 54 tahun tersebut harus membuka beragam literasi yang bersinggungan dengan Sidoarjo. Ribuan buku yang tersimpan di empat lemari di rumahnya harus dibongkar dan dibaca kembali.

Tidak hanya itu, Henri juga blusukan ke beberapa tempat. Tidak sekedar melihat, tapi dia berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan memotretnya. Baik dalam wujud gambar yang sesungguhnya melalui kamera maupun dalam bentuk memori otaknya. ”Jadi ini bukan kerja tiga tahun sejak munculnya ide pembuatan buku. Tapi, ini kerja puluhan tahun sejak kami memulai membaca,” ungkapnya.

Kami, ya Henri memang tidak sendiri membukukan sejarah Sidoarjo. Lelaki kelahiran Lamongan tersebut bahu-membahu dengan karibnya Dukut Imam Widodo. Mereka berdua saling mengisi dan mengoreksi. Dan yang mereka tulis memang bukan sekedar hasil riset hitungan hari. Tapi, sejak puluhan tahun. Mereka sepakat membukukan sejarah Sidoarjo merupakan hasil riset 25 tahun.

”Kenapa? Karena buku ini juga penggabungan hasil bacaan sejak muda dan rangkuman cerita yang pernah kami dengar,” kata Henri. Selain itu, juga berisi berbagai dokumen baik berupa foto maupun naskah yang sudah dikumpulkan sejak beberapa tahun silam. Hampir semua dokumen tersebut pun dilampirkan dalam lembaran buku Sidoardjo Tempo Doeloe tersebut.

Ide pembukukan sejarah Sidoarjo itu sendiri datang pada awal 2010 silam. Ketika itu, Bupati Sidoarjo waktu itu -Win Hendrarso- dalam pidato dalam sebuah acara di Pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo mencurahkan kebingungannya jika ditanya tentang sejarah tempatnya memimpin. Sebab, selama ini memang tidak ada buku yang secara khusus membahas tentang Sidoarjo.

Selama ini, cerita dan sejarah tentang Sidoarjo hanya sebentuk lisan yang dikisahkan dari mulut ke mulut. ”Selepas acara itu, saya kemudian mendatangi beliau untuk mengajukan diri menulis Sidoarjo,” kenang Henri. Gayung pun bersambut. Win menyepakatinya. Dalam hitungan hari, Henri langsung bergerak.

”Saat itu saya terpikir Dukut. Sebab, dia memiliki banyak foto dan dokumen sejarah. Kami pun sepakat untuk menulis bersama-sama,” terang pria yang memilih drop out dari bangku kuliah di kampus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada tersebut.

Sejak itu, Henri membongkar koleksi bukunya. Begitupula memorinya tentang berbagai cerita rakyat. Dukut pun sama. Dia membuka satu persatu dokumentasi yang telah puluhan tahun dikumpulkannya. Baik itu yang terkumpul dari blusukannya di Indonesia maupun di Belanda-negeri yang banyak menyimpan banyak dokumen tentang Indonesia.

Tak hanya itu, Henri juga blusukan ke berbagai wilayah Sidoarjo. Ke Terung, Krian salah satunya. Di tempat tersebut pria yang pernah bekerja dan memimpin berbagai media itu mencermati berbagai peninggalan yang ada di Terung. Henri tidak berjalan sendiri. Dia ditemani Jansen Yasin-seniman setempat. ”Dari (Jansen) Yasin saya belajar tentang Terung dan keyakinan dirinya kalau tempat yang dikeramatkan atau disebut wingit penduduk setempat pasti tersembunyi peninggalan sejarah,” ujarnya.

Keyakinan tersebut tak sepenuhnya keliru. Bersama Jansen, Henri menyelusuri kuburan dan juga barongan-tempat tumbuhan pohon bambu yang ada di Terung. Hasilnya Henri melihat beberapa peninggalan sebentuk candi dan bermacam prastasi. ”Dari situ saya akhirnya menulis bahwa Terung dulu adalah pakuwon atau komplek perumahan sebelum Majapahit. Terung juga berkembang menjadi kadipaten,” bebernya.

Dari proses-proses seperti itulah Henri menulis Sidoarjo. Karena menulis berdua, tidak jarang antara Henri dan Dukut menulis tema yang sama. Salah satunya tulisan mengenai Sarip Tambak Oso. ”Kalau ada tulisan yang sama, kami diskusi. Mana yang datanya lebih lengkap itu yang dipakai. Kebetulan tentang Sarip tulisan saya yang dipakai,” ceritanya.

Sejatinya tak hanya tulisan yang sama yang didiskusikan. Setiap tulisan juga diperlakukan sama. Tulisan Henri dikirimkannya ke Dukut. Kalau dirasa Dukut ada yang bisa ditambah akan ditambahi. Begitu sebaliknya, Dukut pun mengirim tulisannya ke Henri dan dikoreksinya.

Akhirnya mereka menghasilkan 73 tulisan yang terhampar dalam 300 halaman buku Sidoardjo Tempo Doeloe. Banyak tulisan yang cukup membelalak mata karena selama ini nyaris tidak pernah terungkap. Diantaranya adalah deretan fakta bahwa nama Sidoarjo sebenarnya tidak pernah ada sebelumnya dan juga Kali Porong.

Yang dikenal dulu adalah Sidokare. Nama itu tertulis Siedokarie dan muncul pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808. Sebelumnya yang ada dalam peta adalah nama Djenggala. Dalam Besluit Staatsblad van Nederlandsh Indie yang menyatakan bahwa Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua pada 31 Januari 1859 pun tidak tersebut nama Sidoarjo. Yang tertulis dalam surat keputusan itu adalah Kabupaten Surabaya dan Sidokare.

Tanggal keluarnya Besluit Staatsblad van Nederlandsh Indie itu sendiri yang dijadikan hari jadi Sidoarjo. Nama Sidoarjo sendiri baru muncul pada 28 Mei 1959 dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie (lembaran negara Hindia Belanda) dengan tulisan Sidho-Ardjo. Dengan fakta itu, Henri dan Dukut pun memberi judul tulisannya sudah benarkah hari jadi Kabupaten Sidoarjo?

Tulisan lain yang cukup mengagetkan adalah tentang Kali Porong. ”Kali itu baru ada pada abad ke 10,” jelas Henri. Kali tersebut ada ketika masa kejayaan Airlangga. Kala itu Kali Brantas yang mengalir ke utara (Surabaya) pada tahun 959 Caka (1037 M) aliran kali tersebut meluap dan mengalir ke timur. Banjir tersebut menggenangi rumah-rumah penduduk dan merusak tanaman. Airlangga kemudian membuat bendungan besar di Waringin Pitu. Tak hanya itu, pemerintahan Airlangga juga membuat sudetan ke timur yang kemudian dikenal dengan Kali Porong. ”Tujuannya bukan saja untuk mengatasi banjir, tapi juga untuk sistem irigasi. Jadi, Kali Porong dibuat sebagai penyelamat,” jabar Henri.

Selang 900 tahun kemudian, Kali Porong kembali menjadi penyelamat. Luapan Lumpur Lapindo yang muncrat sejak 2006 dan tidak terbendung hingga saat ini akhirnya dialirkan ke Kali Porong agar hanyut ke laut. Pengaliran ke Kali Porong dimaksudkan untuk meminimalisir luberan lumpur Lapindo yang kini sudah merendam enam desa.

Bicara lumpur, karya Henri dan Dukut tersebut juga membeberkan kalau lumpur sejatinya bukan hal baru di Sidoarjo. Tanah yang dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Jenggolo tersebut awalnya memang endapan lumpur dan rawa. ”Karena itu, wilayah ini kaya minyak dan gas. Sebab, di sini tersimpan fosil berbagai jenis binatang air yang meninggal beratus-ratus tahun yang lalu,” kata Henri.

Lumpur pun sudah muncrat dari perut bumi Sidoarjo sejak masa Majapahit. Tepatnya di kawasan Buncitan, Sedati. Semburannya pun masih ada hingga saat ini, meski skalanya sangat kecil. Di dekat semburan berdiri Candi Tawangalun. Candi itu disebut sebagai tempat memanjatkan doa agar semburan lumpur tidak membesar.

”Jadi soal lumpur ini sudah identik dengan Sidoarjo. Sidoarjo itu masuk depresi kendeng alias daerah yang mengandung lumpur. Data ini kami peroleh dari berbagai buku yang kami baca,” sebut Henri.

Di luar kisah-kisah tersebut, cerita lainnya pun menarik untuk disimak. Apalagi, Henri dan Dukut menuliskannya di luar pakem buku sejarah. Mereka menulis Sidoardjo Tempo Doeloe dengan bahasa yang cukup slengean. Pembacanya akan menemukan banyak sekali bahasa Suroboyan yang blak-blakan. Alur ceritanya pun tak kaku.

”Ini memang bukan buku sejarah. Ini bacaan umum yang berdasar sejarah. Karenanya kami menuliskannya dengan slengean agar masyarakat tidak mengereyutkan dahi dan memakai kacamata tebal saat membacanya,” pungkas Henri. (*)

Jawa Pos, 23 November 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: