PROBLEMATIKA “DUNIA DALAM” KARYA SENI RUPA

Catatan Henri Nurcahyo
Celeng Dibyo
1. Sajak Sebatang Lisong – WS Rendra.
Menghisap sebatang lisong/ melihat Indonesia Raya,/ mendengar 130 juta rakyat,/
dan di langit/ dua tiga cukong mengangkang,/ berak di atas kepala mereka
Matahari terbit./ Fajar tiba./ Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak/ tanpa pendidikan.
Aku bertanya,/ tetapi pertanyaan-pertanyaanku/ membentur meja kekuasaan yang macet,/ dan papantulis-papantulis para pendidik/ yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak/ menghadapi satu jalan panjang,/ tanpa pilihan,/ tanpa pepohonan, tanpa dangau persinggahan,/ tanpa ada bayangan ujungnya./ …………………
Menghisap udara/ yang disemprot deodorant,/ aku melihat sarjana-sarjana menganggur/ berpeluh di jalan raya;/ aku melihat wanita bunting/ antri uang pensiun.
Dan di langit;/ para tekhnokrat berkata:/ bahwa bangsa kita adalah malas,/ bahwa bangsa mesti dibangun;/ mesti di-up-grade/ disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang./ Langit pesta warna di dalam senjakala/ Dan aku melihat/ protes-protes yang terpendam,/ terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,/ tetapi pertanyaanku/ membentur jidat penyair-penyair salon,/ yang bersajak tentang anggur dan rembulan,/ sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya/ dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan/ termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan/ berkunang-kunang pandang matanya,/ di bawah iklan berlampu neon,/ Berjuta-juta harapan ibu dan bapak/ menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra./ ………………
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing./ Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan./ Kita mesti keluar ke jalan raya,/ keluar ke desa-desa,/ mencatat sendiri semua gejala,/ dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku/ Pamplet masa darurat./ Apakah artinya kesenian,/ bila terpisah dari derita lingkungan./ Apakah artinya berpikir,/ bila terpisah dari masalah kehidupan.
(Potret Pembangunan dalam Puisi, 1977).

2. Seniman dan persoalan sosial. Seperti apakah relasi yang terjadi antara seniman dengan persoalan sosial yang ada di sekitarnya?
• Apakah seorang seniman harus merespon segala persoalan sosial menjadi bahan baku yang kemudian diekspresikan melalui karyanya?
• Apakah seorang seniman harus rajin baca koran, nonton berita televisi dan internet agar tidak ketinggalan isu dan bisa menjadi “gaul” dengan persoalan-persoalan yang sedang terjadi di masyarakat?
• Apakah seniman juga harus rajin baca buku agar menjadi seorang intelektual yang menguasai banyak ilmu?
• Apakah seniman boleh menolak kesemuanya itu dan mengatakan bahwa di dalam dirinya telah lengkap semuanya. Tidak perlu belajar apa-apa dari luar.

3. Seniman Akademis – Otodidak
. Pada dasarnya dunia pendidikan formal memang tidak bisa melahirkan seniman. Lembaga pendidikan tinggi kesenian hanyalah melahirkan ilmuwan seni, pendidik kesenian, dan bukan seniman. Kalau toh kemudian ada seniman yang memiliki latarbelakang pendidikan tinggi kesenian, maka dia menjadi seniman akademis, tapi bukan berarti akademi itu yang melahirkan seniman. Sebaliknya, seniman yang tidak lahir dari lembaga pendidikan kesenian, sering disebut sebagai seniman otodidak. Pertanyaannya adalah;
• Apakah mereka yang mengklaim dirinya sebagai seniman otodidak benar-benar telah belajar (didak) secara mandiri? (oto, auto).
• Apakah mereka justru menolak segala model pendidikan formal dan dengan percaya diri bahwa pembelajaran dapat dilakukan dimana saja, dari mana saja, oleh siapa saja?
• Jangan-jangan mereka yang mengaku otodidak itu hanyalah “oto” saja tapi tanpa “didak” sama sekali. Mereka menolak segala hal yang berbau pendidikan formal, namun mereka sendiri sesungguhnya tidak pernah belajar apa-apa?
• Bagaimanapun dunia akademis memang mengajarkan metodologi dan sistematika, tetapi bukan berarti hanya itu satu-satunya cara belajar kehidupan. Apalagi metodologi dan sistematika itu telah dimonopoli oleh pemikiran Barat. Tetapi dengan menolak Barat itu kemudian kita sudah menjadi Timur? Apakah kita memiliki metodologi sendiri untuk belajar mengenai kehidupan? Atau lagi-lagi kita menolak belajar apapun, tetap “oto” saja tanpa “didak” sama sekali karena hidup hanya berjalan berdasarkan naluri dan hukum alam.

4. Jiwa ketok S. Sudjojono. Tokoh senirupa modern Indonesia itu terkenal dengan kredonya yang disebut “Jiwa ketok” atau “Jiwa Katon”. Menurut Sudjojono, “Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian ialah jiwa ketok. Jadi kesenian ialah jiwa.” Menurut Bambang Bujono, kritikus seni rupa, tampaknya Sudjojono mengerucutkan “watak’ menjadi “jiwa”, karena jiwa adalah bagian dari watak. Menurut kamus, watak adalah sifat lahir dan batin yang merangkum budi pekerti dan tabiat, tingkah laku, jiwa, dan pemikiran. Masalahnya kemudian adalah jiwa seperti apa yang bisa ditampakkan dan itu merupakan buah kesenian yang tinggi. Soedjojono beranggapan, bahwa seni lukis harus bisa mengungkapkan ekspresi jiwa yang kuat. Ekspresi jiwa yang merefleksikan suatu kondisi sosial yang ada di sekelilingnya. “Ayunkan pensil, lemparkan teknik,” itu kata Emiria Soenassa, anggota Persagi, perempuan pelukis yang langka. Kemudian Soeromo, juga anggota Persagi, mengungkapkan bahwa yang penting adalah isi hati pelukis. Jadi pekerjaan seni itu bukan kepandaian teknik. Bukan kepandaian melukis tetapi kata hati yang padat karena banyak menahan sesuatu yang harus diungkapkan.

5. Teater SAE, adalah sebuah kelompok teater yang pernah berjaya tahun 1990-an. Teater ini disutradarai oleh Boedi S. Otong yang banyak berdiskusi dengan Afrizal Malna. Penyair yang sajak-sajaknya dikenal absurd dan suka menjungkir-balikkan logika. Kadangkala Teater SAE mengangkat lakon-lakonnya berdasarkan naskah yang ditulis oleh Afrizal Malna. Ketika orang menonton pertunjukan Teater SAE, mereka sering mengira bahwa Boedi S. Otong sedang merefleksikan persoalan-persoalan sosial yang sedang terjadi saat itu. Mereka mengira bahwa Boedi sedang protes terhadap ketidak-adilan, penindasan, pemerkosaan, pembunuhan, korupsi, penghisapan sumberdaya alam, dan sebagainya. Tetapi, apa yang dikatakan oleh Boedi sendiri? Ternyata, lakon-lakon yang dipentaskannya bukan merupakan protes sosial terhadap berbagai persoalan di masyarakat, melainkan ekspresi persoalan dari dalam dirinya sendiri. Apa yang disebut-sebut dengan korupsi, penindasan, penipuan, pemerkosaan dan sebagainya itu, semuanya ada dalam diri sendiri. Boedi mengakui bahwa dirinya sendiri sebetulnya sudah melakukan penipuan, penindasan, pemerkosaan, korupsi dan sebagainya. Boedi tidak sedang protes kepada siapapun, melainkan hanya mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya sendiri.

6. Filosofi Kotak Wayang. Kredo Teater SAE kurang lebih sama dengan filosofi wayang dengan kotaknya. Bahwasanya seluruh perwatakan dalam pewayangan yang sedemikian banyaknya itu semuanya terdapat dalam satu kotak wayang. Dalam satu kotak itulah terdapat tokoh jahat raksasa, pemberani Bima, tokoh licik Sengkuni, manusia bijak Yudistira, sang nasionalis Kumbokarno. Dalam kotak wayang itulah terdapat dialog dan pertarungan dalam diri sendiri sebagaimana disimbolkan dalam tokoh kembar Sugriwa dan Subali. Keraguan Arjuna berperang melawan saudara kandung sendiri. Dalam satu kotak wayang itulah terdapat Dunia Kecil (Jagad Alit) yang merupakan representasi dari Dunia Besar (Jagad Bhuwana), mikrokosmos dari makrokosmos. Ketika Gunungan ditancapkan, maka saat itulah awal dari akhir dan akhir dari awal. Tancep kayon.

7. Jakarta Biennale 2013. Pameran yang sekarang masih berlangsung itu secara umum menggambarkan persoalan dunia luar yang bergemuruh dan hiruk pikuk. Para seniman meresponnya dengan karyanya dalam bentuk mural di tempat-tempat strategis di kota, merekam dalam video art dengan penafsiran tersendiri, mengungkapkan dalam seni instalasi, fotografi, performance art, dan hampir-hampir meninggalkan dunia seni rupa konvensional yang elitis dan bermanis-manis. Karya-karya mereka melampaui dinding-dinding galeri, bersenyawa di ruang-ruang publik, melukisi gerobak sampah dan membawa ke ruang pameran, Pilihan venue di areal parkir lantai bawah tanah Teater Jakarta itu saja seperti mendekonstruksi kesakralan senirupa itu sendiri. Rasa-rasanya menjadi sulit mencari deskripsi mengenai karya seni itu sendiri, karena semua dan apa saja menjadi sah sebagai karya seni yang layak dipamerkan di Jakarta Biennale ini. Misalnya saja, sebuah ruang kelas dengan meja dan kursi serta papan tulis, sebuah ruang sembahyang dengan hamparan beberapa sajadah, bahkan juga “promosi” helm inovatif. Karya seni telah dikembalikan menjadi Teks dalam Konteks. Bahwasanya sebuah teks tertentu telah dicabut dari konteksnya dan ditempatkan dalam konteks yang baru, sehingga menghasilkan teks yang baru pula.

8. Private Room. Lantas, seperti apakah ungkapan personal dlm Ruang Pribadi (Private Room) yang telah dilakukan oleh para perupa dalam Jatim Biennale V – 2013 kali ini? Bagaimanakah mereka menerjemahkan konsep pribadi dalam bentuk visual sebagai sarana komunikasi berupa simbol, ikon, warna dan lainnya? Apakah mereka telah melipat rapat semua persoalan sosial menjadi kotak wayang dalam diri mereka sendiri? Apakah mereka sudah melampaui semua perdebatan sengit mengenai kehidupan dan telah berdiam dalam kontemplasi yang hening?

9. Surrealistis. Dalam pengamatan sekilas dari karya-karya yang disajikan dalam pameran kali ini. Saya menangkap adanya kecenderungan surrealistis dalam sebagian besar karya. Saya merasakan adanya dialog yang berlangsung dalam diam. Ada suasana kesunyian, damai, tenang dan sejuk serta kontemplatif. Saya tidak melihat ada yang teriak dan marah-marah secara verbal. Bahkan karya nonfiguratif pun disajikan dalam tampilan abstrak yang ramah. Kalau toh ada semacam protes, mereka hanya menyindir, nyemoni, menyampaikan kritik dalam cara-cara yang humoris, seperti uang dalam satuan Art, bukan rupiah atau dollar, yang dikeluarkan dari Bank of Art. Meski sekilas seperti karya dekoratif yang bermanis-manis, ada yang bercanda dengan menampilkan sebuah bola dunia dengan posisi pulau yang dibolak-balik. Mereka bercanda dengan memain-mainkan imaji mengenai Van Gogh dan Monalisa, John Lennon, atau Jimmy Hendrix. Meskipun, ada juga karya yang bermanis-manis dekoratif sehingga lebih cocok untuk dekorasi kamar hotel atau desain kaca hias. Ada yang mencoba mengais-ngais artistik. Sementara dari aspek teknis, agaknya beberapa perupa sudah meninggalkan kemahiran individual melalui tangannya sendiri. Mereka lebih enjoy menggunakan teknik digital print. Mereka sudah jadi “penindas.”

10. Ada Celeng. Sepintas lalu sepertinya mereka tidak mau tahu dunia luar, jauh berbeda dengan Jakarta Biennale yang hiruk pikuk itu. Tetapi saya menangkap ada yang berbeda dengan karya “Celeng”, tak ada apa-apa lagi selain celeng. Sedemikian besarnya celeng itu sampai hampir memenuhi seluruh bidang kanvas selebar dua meter. Perut celeng yang sedemikian besar itulah yang menjadi fokus. Di dalam perut celeng itu terdapat keserakahan, korupsi, penindasan, penipuan, pencurian, perampokan, penghisapan, dan semacamnya. Dan kesemuanya itu, tidak perlu divisualkan, cukup ada dalam imajinasi siapa saja yang memandangnya. Bagi saya, inilah seni visual tanpa visualisasi.

11. Terakhir, meskipun hari ini Hari Guru, saya memang bukan guru atau dosen yang mengajarkan sesuatu secara kongkrit. Saya bukan ilmuwan yang memberikan ilmu akademis. Saya tidak memberikan instruksi, dogma atau petunjuk untuk dapat diikuti. Pelukis boleh saja mengabaikan pengamat, kiritikus, akademisi, komentator dan sebagainya. Pelukis tetap bisa melukis tanpa kritikus dan kurator sekalipun. Saya malah menawarkan kebingungan. Saya menularkan kegelisahan, karena dengan menjadi gelisah maka orang akan bertanya, mencari dan berekspresi melalui karya. Menurut saya, seniman yang tidak punya kegelisahan ibarat sudah mati sebelum ajal. (*)

Sidoarjo, 29 November 2013.

Makalah ini disampaikan dalam diskusi Jatim Biennale V – 2013 di Orassis Gallery Surabaya, 29 November 2013.
• Henri Nurcahyo, penulis kebudayaan (cultural writer). Beberapa buku terkait seni rupa yang ditulisnya misalnya: * Ambang Cakrawala Amang Rahman * Koempoel the Maestro * Ah Cuma Sketsa * Problematika Seni Lukis Kontemporer * Seni Keramik Nuzurlis Koto * Tantangan Perupa – Sosiologi Seni Rupa * Dunia Bunga Nana Tommy * Dunia Bahari Mozes Misdy, dan puluhan artikel yang tersebar di banyak buku katalog pameran lukisan, makalah seminar serta artikel di koran dan majalah.
• Kontak: henrinucahyo@gmail.com, webblog: henrinurcahyo.wordpress.com

3 Tanggapan

  1. Matur nuwun

    Salam Budaya
    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT

  2. pak selama ini saya senang dengan lukisan koempol dan mozes walau lukisan koempol sdh jarang klo blh tau dmn saya bsa beli buku bpk?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: