Dunia Jawa dalam Surealitas Widodo Basuki

Catatan Henri Nurcahyo

??????????
Mencoba menikmati karya-karya seni rupa Widodo Basuki ini seperti berhadapan dengan dunia Jawa yang surealistis. Widodo memang dikenal sebagai sastrawan (bahasa) Jawa dan sekaligus wartawan majalah berbahasa Jawa, Jayabaya. Namun sesungguhnya dia juga seorang pelukis yang lahir dari pendidikan tinggi formal, STKW Surabaya dan IKIP PGRI (sekarang UNIPA) Surabaya. Muatan filosofi Jawa itulah yang menjadikan karya-karyanya tidak semata-mata merupakan karya visual yang bermakna optik, namun ada kandungan filosofi tersendiri yang bisa jadi membuat orang langsung gagap.

Kegagapan itu misalnya ketika Widodo mengikutkan aksara Jawa dalam karyanya. Jujur saja, siapa sih sekarang ini yang masih mampu membaca aksara Hanacaraka itu dengan baik? Tidak banyak. Terus terang, saya sendiri juga tidak becus mengeja huruf-huruf itu. Tetapi saya mencoba tidak gagap dan tidak berusaha mencari tahu apa makna bacaan tulisan berhuruf Jawa dalam lukisan Widodo. Saya malah khawatir pemaknaan saya terhadap lukisan menjadi terganggu gara-gara bisa membaca (dan mengerti maksud) kalimat berhuruf Jawa itu. Biarlah huruf-huruf Hanacaraka itu berbicara sendiri secara visual dan bukan secara tekstual.

Bahwasanya lukisan memang bukan poster, apalagi rambu lalulintas, yang sekali dilihat langsung paham makna satu-satunya. Lukisan selalu mengandung makna yang multi tafsir, sekalipun berupa lukisan naturalis sekalipun. Karena itu saya hanya mencoba memaknai karya-karya Widodo ini menurut apa yang saya rasakan berdasarkan “abjad-abjad visual” yang dapat saya baca. Karena itu, penafsiran saya ini bukan satu-satunya dan saya tidak bermaksud mempengaruhi siapapun, apalagi memonopoli penafsiran. Sekali lagi, saya tetap beranggapan bahwa karya seni yang baik itu memang multi-interpretable. Termasuk, berbeda tafsir dengan senimannya sendiri.

Karena lukisan adalah karya seni visual, maka apa yang tertangkap oleh mata itulah yang pertama kali menjadi pintu masuk untuk menelaah apa yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, bahwa yang namanya Seni Rupa itu yang dilihat adalah rupanya, bukan menurut kata perupanya.

Saya ambil contoh sebuah lukisan misalnya. Dalam pembacaan visual terhadap lukisan karya Widodo Basuki ini, saya melihat ada lima lelaki duduk berpencar yang dengan posisi berjauhan. Makin ke belakang makin kecil sehingga menciptakan dimensi kedalaman, bahwa makin kecil makin jauh. Mereka sama-sama dalam posisi bersamadi atau meditasi. Posisi tangannya hampir sama, namun sebetulnya berbeda. Rambut panjangnya sama-sama berkibar ke belakang seperti dihembus angin kuat dari arah samping.

Ada bentuk-bentuk bulatan kemerahan dan kuning bersebaran yang mengisyaratkan sel telur atau ritus kelahiran. Seperti kuning telor atau bercak darah. Bahkan sebaran warna kuning dan kemerahan yang hampir merata di semua bidang itu semakin menguatkan kesan ritus kelahiran itu. Tidak terlalu salah kalau kemudian ada yang menafsirkan bahwa lukisan ini menggambarkan asal-usul manusia, sedulur papat lima pancer. Tetapi, tentu saja, itu bukan satu-satunya penafsiran. Karena Widodo memang melukiskan sesuatu yang absurd, bukan yang realis. Dia sedang membuat lukisan, bukan rambu lalu lintas.

Secara keseluruhan lukisan ini dapat disebut sebagai karya surrealis. Keberadaan lima lelaki duduk bersamadi itu semakin menguatkan kesan surrealistik tersebut. Bentuk-bentuk melingkar, melengkung, membulat dan sebagainya itu mengesankan seperti cairan yang mbleber kemana-mana. Tampilan ini menciptakan kesan seperti cairan itu melebar di sebuah bidang, kemudian kita melihatnya dari atas. Tetapi dengan adanya lima lelaki bersila yang berbeda ukuran itu justru menunjukkan dimensi kedalaman. Perhatikan posisi duduk mereka, seperti bersila di atas awan yang semakin menjauh. Disinilah muncul kontradiksi antara “kedataran” (flat) dan kedalaman. Apa yang nampak dekat sesungguhnya jauh, namun pada ketika yang sama, sesungguhnya sesuatu yang jauh itu sangat dekat posisinya.

Dalam penafsiran seperti yang disebut terakhir itulah Widodo seperti hendak mengajak kita untuk berpikir mengenai hukum relativitas dalam kehidupan ini. Dimanakah sejatinya Yang Maha Sejati? Jauh apa dekat? Dimanakah Tuhan berada? Jauh di atas langit ketujuh ataukah bersemayam dalam hati kita sendiri? Bahkan juga, dimanakah diri sendiri? Apakah kita betul-betul sudah mengenal diri kita sendiri, ataukah malah merasa asing seperti melihat makhluk dari planet lain.

Kalau mau membahas lebih detail lagi, perhatikan betul posisi tangan lima lelaki yang bersamadi itu. Masing-masing posisi itu sesungguhnya memiliki makna sendiri-sendiri. Tidak asal-asalan. Hal ini mengingatkan pada posisi tangan Budha yang biasanya memang diwujudkan dalam patung sedang meditasi. Posisi tangan dan jemari itu sesungguhnya melambangkan sesuatu, namanya Mudra. Masing-masing mudrā memiliki dampak tertentu bagi pelakunya. Beberapa sikap tangan dapat ditemukan baik dalam ikonografi Hindu maupun Buddha. Dan maknanya bisa berbeda-beda di tempat yang berbeda pula.

Ternyata, menurut Widodo sendiri, posisi duduk dan tangan seperti itu karena dia memang menyukai Reiki. Dan memang dalam Reiki juga dikenal teknik meditasi sebagaimana dalam ajaran Budha. Posisi duduknya juga sama, ada yang Lotus dan setengah Lotus. Demikian juga posisi tangannya, ada yang ditangkupkan di depan dada disebut Gassho, kemudian ada juga posisi kedua jari tangan saling dikaitkan (interlocked) seperti posisi berdoa disebut Kai Mudra, lalu ada lagi posisi kedua jari telunjuk dan ibu jari menunjuk ke atas sedang jari tengah, jari manis dan kelingking saling dikaitkan, ini disebut Sha Mudra. Ahh sudahlah, itu terlalu teknis dan menjadi panjang dan melenceng mengulasnya.

Singkat kata, lima lelaki itu sesungguhnya hanya satu namun sekaligus juga lima. Lima tapi satu, dan satu tapi lima. Mereka (atau dia) sedang menoleh ke kanan, melambangkan kebaikan. Mereka tak mengenakan baju, lantaran menolak kepalsuan, atau ada yang mengartikan “tanpa (memperdulikan) agama”. Karena etimologi baju adalah ageman. Bahkan posisi lipatan kakinya tidak jelas terlihat, apakah sedang berposisi teratai ataukah setengah teratai? Tidak penting lagi.

Sementara rambut yang berkibar ke belakang (samping) menunjukkan adanya gerak. Lima lelaki itu seperti sedang duduk namun bergerak dari kanan ke arah kiri (bayangkan seperti duduk di karpet terbang). Namun bisa jadi mereka hanya diam, melawan angin yang bergerak dari kiri ke kanan. Nah, ini lagi-lagi ada makna dualisme yang dihadirkan Widodo. Antara bergerak atau diam. Diam yang bergerak ataukah bergerak yang diam. Bukankah pergerakan paling dinamis itu justru ketika diam? Siapa bilang planet bumi yang kita huni itu sedang diam? Bumi ini dalam kondisi bergerak terus menerus dalam rotasi dan sirkulasi dengan keteraturan yang mengagumkan.

Dinamika kontradiksi itulah yang agaknya menjadi benang merah karya-karya Widodo lainnya. Ada kontradiksi antara Dewa Ruci dengan Werkudara dalam hal ukuran tubuh, kontradiksi sosok yang menyerupai Habieb Rizieq FPI dengan Begawan Yamadipati, serta juga berbagai sikap (divisualkan dengan beberapa isyarat tangan) terhadap tindakan Hanoman yang membakar kerajaan Alengka, dan sebagainya.

Satu hal yang layak saya sampaikan dalam catatan ini, bahwa Widodo Basuki bukan hanya sekadar menghasilkan karya visual semata-mata, melainkan membabar cerita yang tidak akan habis untuk mengulasnya. Terlalu panjang kalau harus mengulas satu persatu karyanya, karena masing-masing karya memiliki muatan makna dan kandungan cerita yang lumayan panjang. Begitulah seni rupa Widodo Basuki, karya seni yang sarat cerita dan makna. Selamat berpameran tunggal yang pertama. (*)

Henri Nurcahyo, penulis seni budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: