Pelukis Tahu Tentang Sorga

sorgaku- uploadKalau mau tahu tentang sorga, tanyalah pada pelukis. Sebab seorang pelukis sudah bisa mengimajinasikan bagaimana sorga itu. Setidaknya, itulah yang dibayangkan oleh pelukis Amang Rahman (alm) ketika ditanya mengapa menyukai warna biru. “Kata kakek saya, sorga itu berwarna biru,” ucap pelukis surealis yang juga melukis kaligrafi itu.

Bahwa apa yang dilakukan pelukis itu memang berada di wilayah imajinatif. Seorang pelukis bebas mengimajinasikan apa saja ke atas kanvasnya. Mulai dari yang tampak mata, yang dipikirkan, yang dirasakan, ataupun sesuatu yang absurd sekalipun. Di depan bentangan kanvas, pelukis adalah seorang penguasa yang mampu menciptakan apa saja. Termasuk, mengimajinasikan sorga. Kebebasan berimajinasi itulah yang menjadi modal utama seorang pelukis dalam berkarya.

Maka sah-sah saja Amang Rahman mengimajinasikan bahwa sorga itu berwarna biru sebagaimana kata kakeknya. Toh kakeknya sendiri, ketika mengatakan itu, tentu belum pernah pergi ke sorga. Apalagi Amang, waktu itu, tentu saja. Namun yang menjadi substansinya adalah, bahwa seorang Amang telah menciptakan sorganya sendiri di atas kanvasnya. Tidak peduli apakah memang betul bahwa sorga itu berwarna biru atau kuning sekalipun. Tidak penting lagi pembuktian itu, lantaran imajinasi memang sudah menjadi fakta tersendiri, fakta imajinatif, dan bukan fakta empiris.

Ketika kemudian “Biruku Sorgaku” dijadikan tema dalam sebuah pameran lukisan, maka saya memaknai sebagai “sejauh mana pelukis memiliki kekayaan imajinasi sebagai modalnya dalam berkarya”. Melalui karya-karyanya, kita bisa tahu, apakah pelukis itu hanya memindahkan obyek visual tanpa muatan apa-apa, ataukah dia telah menciptakan sebuah dunia tersendiri yang sarat makna. Bahwasanya lukisan, dan juga senirupa pada umumnya, adalah seni visual. Artinya, visualisasi yang tampak itulah yang menjelma menjadi abjad-abjad yang dapat dibaca sebagai teks tersendiri. Bisa jadi sebuah imajinasi melahirkan teks, atau malah sebaliknya, bahwa teks itu kemudian melahirkan imajinasi baru yang sama sekali malah tidak dibayangkan oleh pelukisnya.

Pertanyaannya kemudian, seberapa banyak pelukis yang telah memiliki modal besar berupa kekayaan imajinasi ini? Seberapa mampu pelukis menciptakan imajinasi, mengelola imajinasi, untuk kemudian diwujudkan menjadi karya seni rupa? Sekali lagi, seni rupa adalah karya visual. Karena itu berlaku parameter, bahwa apa yang nampak di atas kanvas itulah yang “dipertaruhkan” apakah lukisan itu telah mampu berbicara sendiri. Sebab, bisa jadi seorang pelukis memiliki cerita berpanjang-panjang terhadap apa yang dilukisnya, namun justru yang nampak secara visual malah tidak bicara apa-apa. Lebih bagus ceritanya ketimbang lukisannya.

Tentu saja, lukisan yang kaya imajinasi tidak selalu berupa karya surealistis. Bahkan lukisan realis atau naturalis sekalipun mampu menguarkan kekuatan imajinatif tersendiri kalau dikerjakan secara intens dan lahir dari dalam hati, bukan sekadar memindahkan objek optik belaka. Persoalannya memang bukan apa yang dilukis, tetapi bagaimana, dari mana, mengapa, dan dengan cara apa melukiskannya. Karena itu, bisa jadi sebuah karya fotografi sekalipun lebih mampu menghadirkan imajinasi tersendiri ketimbang lukisan. Siapa tahu?

Henri Nurcahyo, penulis seni budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: