Dari JFC hingga Jatim Specta

OLEH HENRI NURCAHYO
Upload
Sejak Kabupaten Jember sukses menggelar Jember Fashion Carnival (JFC), banyak kota mencoba menirunya. Pawai Budaya menjadi wabah. Bupati Banyuwangi malah langsung menyewa arsitek JFC untuk membuat acara serupa yang kemudian sukses dengan nama Banyuwangi Etno Carnival (BEC). Sementara di kota-kota lain gagal bersaing dengan JFC. Mungkin hanya Surakarta yang lumayan berkibar dengan Solo Batik Carnival (SBC).

Model acara seperti Pawai Budaya ini sebetulnya bukan barang baru. Pawai semacam ini sudah jamak dilakukan dimana-mana dalam acara Tujuh Belasan. Begitu juga di mancanegara dengan karnaval bunga Passadena yang legendaris itu. Kota Surabaya, Jakarta dan kota-kota yang lain juga sudah menggelar Pawai atau Kanaval Bunga. Jadi, apa istimewanya? Mengapa ketika Jember sukses dengan JFC lantas menjadi heboh?

Keistimewaan dari JFC yang menonjol adalah kostumnya. Bahwa Jember yang hanya kota kecil, bukan kota busana seperti Bandung, justru mampu menciptakan tren tersendiri dalam hal busana pawai yang spektakuler. Pernah ada yang “meniru” dengan membuat Pawai Busana (bertipe) Daun, ternyata tidak berlanjut. Diperlukan gagasan luar biasa yang sanggup menandingi kehebatan JFC sehingga menjadi tontonan alternatif, dan bukan saling mengalahkan. Seperti apakah itu?

Satu hal yang seringkali dilupakan dalam penyelenggaraan Pawai Budaya selama ini adalah cenderung memaksakan semua jenis seni pertunjukan menjadi Seni Jalanan. Padahal setiap seni pertunjukan itu memiliki karakternya sendiri. Ada yang cocok di panggung prosenium, di arena terbuka, ada juga yang memang hanya cocok disajikan sambil berjalan (moving). Menghadirkan Seni Tayub sebagai peserta Pawai Budaya misalnya, jelas itu sebuah pemaksaan. Apalagi kalau misalnya memaksakan Ludruk. Ini pemerkosaan namanya. Demikian pula sebaliknya, Reyog Ponorogo yang merupakan seni pertunjukan jalanan malah dipaksa tampil di panggung dalam Festival Reyog yang menjadi acara rutin tahunan di Ponorogo sendiri. Tidak heran yang kemudian menang adalah peserta dari kalangan terpelajar, dan bukan seniman rakyat yang biasa tampil di jalanan.

Dalam konteks Jawa Timur, sejumlah contoh seni pertunjukan jalanan adalah Reyog Ponorogo, Reyog Kendhang (Tulungagung), Reyog Cemandi (Sidoarjo), berbagai jenis seni Jaranan atau Kuda Lumping (Tulungagung, Trenggalek dan banyak daerah lain), Singo Ulung (Bondowoso), Bantengan (Mojokerto, Batu), Seni Patrol (ada di banyak daerah), Dungkrek (Madiun), Kebo-keboan (Banyuwangi), Jaran Monelan (Malang) serta kesenian dari China yang sudah membumi di Indonesia yaitu Barongsay dan Leang-leong. Masih ada lagi yang justru diperankan oleh kuda, yaitu Jaran Kencak (Lumajang). Bayangkan, betapa kayanya seni pertunjukan jalanan yang ada di Jawa Timur.

Kalau toh misalnya tetap menghadirkan Kesenian Non Jalanan sebagai peserta pawai, tentu tidak dapat dihadirkan begitu saja, melainkan musti dikolaborasi dengan Seni Jalanan yang sudah ada. Apalagi karakter sebagai seni pertunjukan panggung itu masih dapat disiasati dengan menyajikannya di atas panggung berupa mobil. Memang selama ini belum pernah diterapkan prinsip kuratorial untuk menjadi peserta pawai. Yang penting asal ikut saja. Patut disayangkan, kalau memang ingin menjadi acara pawai yang bagus.

Lantas, bagaimana membuat Pawai Budaya yang berbeda dengan JFC namun tidak kalah spektakuler? Pilihannya adalah menyelenggarakan Pawai Budaya (pada) malam hari. Hal ini sudah dilakukan di Sumenep dalam Festival Musik Dhuk-dhuk (musik Dhaul) yaitu semacam musik Patrol dengan instrumen dari kayu. Pawai di Sumenep inilah (juga pernah diselenggarakan di Pamekasan dan Sampang) yang membuat tampil beda dengan banyak pawai lainnya. Di Pacitan juga ada festival Patrol (namanya Rontek) juga diselenggarakan malam hari. Kalau hanya festival perkusi saja sudah sedemikian meriahnya, bagaimana kalau konsep Pawai Budaya yang menampilkan semua jenis kesenian jalanan? Bagaimanapun aspek pencahayaan akan sangat menentukan dalam kemeriahan ini.

Pawai malam hari juga pernah diselenggarakan di Gresik dengan menampilkan aneka lampion berupa Damar Kurung yang sudah menjadi ikon Gresik. Bahkan menjelang upacara Kasodo juga menjadi tradisi ada Pawai Obor. Nah soal Pawai Obor ini juga menjadi hal yang tidak asing di kampung-kampung atau pedesaan saat bulan Ramadan. Singkatnya, pelaksanaan pawai pada malam hari memang memiliki pesona tersendiri. Sayangnya, pawai Theng-thengan Ciluk di Surabaya yang juga diselenggarakan malam hari saat peringatan Maulud Nabi sudah lama punah.

Parade Seni Budaya dengan konsep penyelenggaraan malam hari itulah yang bakal diselenggarakan di Ngawi Sabtu depan (13/9) dengan tema “Jatim Spectacular”. Memang hal ini mengingatkan pada Singapore Night Festival, namun tentu saja seluruh materinya berbeda. Kali ini disajikan seni arak-arakan, fashion street, kendaraan hias, yang kesemuanya menekankan pada garap artistik, atraktif bersifat kolosal dengan latar belakang sejarah, legenda, cerita rakyat atau babad serta kesenian rakyat yang ada di daerah masing-masing yang dianggap spektakuler ditampilkan malam hari.

Menurut informasi yang berhasil diperoleh dari panitia, setidaknya ada dua kelompok besar dalam pawai ini, yaitu Kelompok Upacara Adat dan Seni Budaya, lalu ada Kelompok Mojopahitan. Sejumlah peserta bakal menyajikan pertunjukan jalanan bertema sejenis, yaitu Cerita Panji dari Kota dan Kabupaten Kediri, Pacitan, dan Kab. Malang. Dari Lumajang menampilkan cerita Adipati Nambi, Magetan dengan legenda Dewi Sri, Kota Blitar mengetengahkan cerita Gunung Kampud (Kelud), lantas Kebo-keboan dihadirkan oleh Banyuwangi, Bojonegoro mengambil inspirasi dari Wayang Thengul. Sedangkan Pawai Obor disajikan oleh peserta dari Tuban dengan tema Oncor Malem Suro. Dan masih banyak lagi.

Pawai “Jatim Specta Night Carnival” kali pertama ini diharapkan dapat menjadi tontonan hiburan masyarakat sekaligus atraksi wisata yang mampu mengundang turis domestic maupun mancanegara ke Kota Ngawi. Dalam rancangannya, gawe Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur ini akan menjadi kalender tahunan yang lokasi pelaksanaannya berpindah-pinda dari satu kota ke kota lainnya di provinsi ini. (*)
– Praktisi Budaya Jawa Timur

Dimuat di Jawa Pos, Selasa, 9 September 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: