Ludruk Sarip yang Tegang dan Tak Lucu

Catatan Henri Nurcahyo
IMG_5697
Apakah yang diharapkan penonton ketika menyaksikan pertunjukan ludruk? Jawabannya adalah, terhibur dengan kelucuan. Mereka ingin mendapatkan hiburan ketika menyaksikan para pemain mewakili masyarakat dalam hal menyampaikan aspirasi dengan cara-cara yang jenaka. Namun hal itu tidak terjadi dalam pertunjukan Ludruk Remaja dengan lakon Sarip Tambak Oso di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur Jum’at malam (12/12). Sepanjang pertunjukan hampir satu jam berlangsung tegang.

Sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, DR. Jarianto, MSi, program pementasan ludruk kali ini dimaksudkan agar ludruk dapat menjadi kegemaran anak muda. Harus ada Gerakan Sosial, sebuah kebersamaan dari banyak pihak untuk mengembangkan ludruk. Karena, “tiap tahun harus ada festival ludruk,” janjinya.

Menurut Jarianto, sumberdaya manusia (SDM) itu penting, disamping sarana prasarana, fasilitas pemerintah dan program yang berkesinambungan. Karena ludruk hanya ada di Jatim. Jangan sampai orang Jatim yang pindah ke luar pulau, bikin ludruk di sana, malah lebih bagus. “Kalau mau lihat ludruk yang bagus datanglah ke Jatim,” tegasnya ketika memberikan sambutan.

Pentas kali ini memang bermaksud menyajikan sesuatu yang baru. Semua pemain adalah remaja, pelajar dan mahasiswa, tidak satupun pemain profesional dari ludruk tradisi. Cerita yang disajikan pun sengaja dilakukan interpretasi baru. Kalau biasanya tokoh Sarip tewas diterjang peluru serdadu Belanda, maka kali ini justru para serdadu itulah yang tewas ditikam belati Sarip. Sambil menggendong jasad ibunya yang tewas tertembak, maka Sarippun berteriak lantang, Hei bangsa Walanda, jangan bertindak sewenang-wenang terhadap bangsaku. Ini Sarip. Hadapilah….”

Sebagaimana lazimnya, pertunjukan diawali dengan tari Remo. Memang bagus tariannya, sayang tanpa ngidung sama sekali. Padahal, apalah istimewanya menari remo dalam pentas ludruk kalau tanpa kidungan? Apa bedanya dengan tari Remo biasa? Justru menari sambil ngidung itulah yang menjadi kekuatan ludruk. Hanya sedikit yang mampu melakukan hal ini. Sayang hal itu tidak terjadi, padahal penari remo kali ini mampu melakukannya.

Babak Lawakan (dagelan) memang lucu, karena materi lawakannya relatif baru, minimal tidak klise sebagaimana ludruk biasanya. Namun ada yang dilupakan, pemain tidak saling menyebut nama temannya sebagaimana menjadi kelaziman dalam ludruk tradisi. Padahal cara itulah yang paling efektif memperkenalkan pemain pada penonton. Hanya satu pelawak yang menyebut temannya, “Nu…. Nu…” Dan penonton tidak tahu, siapa kepanjangan dari panggilan “Nu” tersebut.

Dan sayangnya hanya ada babak dagelan itulah saat-saat penonton tertawa. Selebihnya pertunjukan berlangsung tegang, ritme tidak diatur sedemikian rupa yang memungkinkan penonton menghela nafas. Sampai-sampai penonton terpaksa melepas tawa ketika di panggung terlihat (dalam keremangan lampu) pemain yang berjalan sendiri padahal sudah mati. Padahal itu bukan menjadi bagian dari pertunjukan.

Ada yang baru dalam pertunjukan ini, yaitu menghadirkan pemain perguruan silat dalam adegan laga, meskipun hanya selingan yang kalau toh dihilangkan, sama sekali tidak berarti apa-apa. Ketika pertunjukan dimulai, Sarip duduk meditasi, di latar belakang terlihat silhouette adegan kekerasan. Ternyata memang untuk itulah dihadirkan layar putih besar yang membentang dari atas ke bawah. Persoalannya, ketika adegan Remo, layar putih ini malah menganggu karena terlihat mangkak karena sorot lampu kuning. Akan menjadi sangat artistik kalau layar putih itu baru diturunkan menjelang Sarip duduk meditasi, pertanda pertunjukan akan dimulai. Itu memang teknis, tetapi memberikan makna yang berarti.

Kalau mau ceriwis lagi, kapankah peristiwa ini terjadi? Agaknya dimensi waktu kurang diperhitungkan lebih cermat oleh penggarapnya. Dalam hal busana memang sudah menunjukkan tempo doeloe, tetapi mengapa masih menggunakan kursi beralaskan spon yang terkesan modern?

Banyak hal yang positif dari pementasan ini, namun sebagaimana harapan Kadisbudpar Jatim, Jarianto, “pementasan harus lahirkan problem, agar lahirkan sesuatu yg lebih bagus, kalau semuanya memuaskan percuma saja.”

Dan yang disampaikan di atas itulah persoalan-persoalan yang perlu dibenahi. Apakah harus dimaklumi karena ini adalah ludruk bentukan baru? Apakah harus juga dimaafkan karena yang bermain adalah para remaja? Apakah juga harus dibiarkan saja ketika pertunjukan justru berlangsung bagaikan teater modern? Padahal disitulah titik pentingnya. Tidak nampak ada improvisasi dalam pertunjukan ini. Harapan sutradara Hengky Kusuma soal improvisasi ini gagal tercapai. Apa boleh buat? (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: