Pantang Menyerah, Unjuk Semangat Tiko Hamzah

Catatan Henri Nurcahyo
15
Tiko Hamzah menggelar pameran lukisan. Ini bukan pameran yang biasa lantaran beberapa hal. Pertama, ini adalah pameran retrospeksi yang sudah sangat lama diimpikannya. Kedua, impian itu terwujud justru ketika kondisinya dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkan dirinya sendiri melakukan persiapan apapun. Maka, ini yang ketiga, semua persiapan hingga pelaksanaan pameran ini sepenuhnya ditangani oleh para sahabat Tiko Hamzah yang bekerja total tanpa ada pamrih sedikitpun.

Pameran retrospeksi bagi Tiko sendiri, sebetulnya sudah pernah dilakukan tahun 1992 (baca: 22 tahun yang lalu). Tetapi pameran yang berlangsung di gedung Wahana Ekspresi Pusponegoro (WEP) Gresik ini (23-28 Desember 2014) adalah sebuah kado terindah bagi Tiko yang berulangtahun tanggal 24 Desember 2014 pada usia 53 tahun.

Pada malam pembukaan itu, mengenakan jaket kulit dan topi koboi Tiko Hamzah memasuki ruang pamer dengan berkursi roda. Dia diajak mengelilingi ruang pamer sambil memperhatikan satu persatu karyanya yang berjumlah sekitar 120-an. Tiko sendiri tidak mengerti, dari mana saja karya-karya itu didapatnya. Dia tidak tahu dan tidak sadar bahwa karya-karyanya yang berserakan itu dikumpulkan oleh para sahabatnya. Ada yang sudah menjadi koleksi orang, ada yang tersimpan di rumahnya dalam keadaan kurang terawat, namun banyak yang numpuk di rumah flat Menanggal Surabaya dimana Tiko pernah tinggal. Bahkan ada sebagian karya yang sudah dijadikan pengganti plafon rumah. Semuanya diboyong ke ruang pamer, termasuk sekian banyak sketsanya yang untungnya masih lumayan tersimpan rapi.

Menilik serangkaian karyanya, terlihat ada beberapa gaya yang dijalani Tiko dalam mengungkapkan ekspresinya. Mulai dari gaya ekspresionistis, ada yang mirip-mirip kubistis dan geometris, juga karya yang menyerupai lukisan anak-anak, cenderung surealistis, dan tentu saja sekian banyak sketsa hitam putih yang memiliki karakter tersendiri.
Namun demikian secara keseluruhan pada semua karyanya terdapat kesamaan yaitu pada garis-garisnya yang tegas, tanpa ragu-ragu, ekspresif, menunjukkan bahwa dia adalah orang yang keras kemauannya. Meski pada sejumlah karya menunjukkan gaya kekanak-kanakan, toh Tiko tetap saja tampil dengan ketegasannya. Maka lukisannya pada era “gaya anak-anak” itu menyiratkan adanya semangat yang menyala-nyala. Bahwa masa kanak-kanak pun bukan masa yang cengeng dan bermanja-manja.
20
Semangat Tiko juga meledak-ledak ketika di sekitarnya ada ketidak-adilan yang membuatnya tak boleh berdiam diri. Tidak cukup lewat goresan tangan dalam lukisan, masih ditambahkannya kalimat-kalimat yang menunjukkan kegeramannya terhadap perilaku yang melanggar hukum. Tiko bukan jenis seniman yang apolitis. Meski dia sendiri tidak secara langsung terlibat dalam politik praktis, Tiko juga punya kepedulian tersendiri terhadap perilaku politisi yang menurutnya menyakiti hati masyarakat. Tiko sangat geram ketika hukum dipermainkan seeenaknya oleh kekuasaan. Tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Sementara pada karya-karya sketsanya banyak yang bernuansa kesakitan. Ada banyak figur-figur tertusuk panah, tombak atau pedang dan pisau. Sepintas mengekspresikan rasa sakit yang diderita Tiko sendiri. Bukan sakit fisik melainkan batinnya yang sakit ketika dia menghadapi segala macam problema kehidupan. Bahkan bukan tidak mungkin dari karyanya yang model ini menyiratkan Tiko seperti sedang dilanda masochistis, semacam kepuasan menyakiti diri sendiri.
Pejuang Gigih
Dalam perjalanannya berkesenian, sesungguhnya seorang Tiko Hamzah adalah pejuang yang gigih dalam berkesenian. Dia adalah sosok yang selalu gelisah. Dalam peta perjalanan seni rupa modern Surabaya tahun 80-an, tercatat seorang Tiko Hamzah pernah menjadi ketua Laboratorium Seni Rupa IKIP PGRI Surabaya (sekarang UNIPA Surabaya). Kemudian pernah juga menjadi Ketua Jurusan Seni Rupa di kampusnya. Toh dia tidak hanya sibuk dengan mahasiswanya, namun juga mengundang seniman luar kampus untuk menggelar pameran seni rupa di aula kampus Ngagel Dadi Surabaya waktu itu. Diskusi serius seni rupa pernah digelarnya, mengundang pembicara seniman senior.

Sementara di luar kampus, Tiko pernah aktif di Sanggar Lentera Gresik bersama dengan Hannavy, Kris Aw, Mamad Syafii dan beberapa nama lainnya. Bahkan ketika Setyoko mendirikan Sanggar Sangkakala, Tiko juga bergabung di dalamnya. Kedua nama sanggar ini tidak bisa diremehkan dalam catatan perjalanan seni rupa modern Surabaya. Sebagaimana pernah disampaikan Setyoko sebagai Ketua Sanggar Sangkakala, pernah para pelukis Surabaya berpameran di beberapa kota Jatim atas rekomendasi dari Gubernur Jawa Timur. Alhasil, ketika mereka masuk ke suatu kota hendak menggelar pameran, sambutan pemerintah daerah setempat sangat luar biasa, sampai dikarak di jalanan kota.

Selain harus menyebut nama Harryadjie BS alias Bambang Thelo, harus juga disebut nama Tiko Hamzah ketika selama beberapa tahun di Surabaya ada tradisi pameran lukisan Hitam Putih. Tiko adalah salah satu perupa yang gigih memperjuangkan lukisan hitam putih punya martabat yang sama dengan lukisan berwarna. Bukan hanya itu, Tiko juga menulis dan menerbitkan sendiri buku khusus mengenai lukisan hitam putih.

Namun seiring perjalanan waktu kemudian Tiko kembali aktif di kota kelahirannya, Gresik. Dia masih tetap gelisah, masih terus berkarya, meski harus ulang-alik mengajar di UNIPA Surabaya. Tiko mendirikan galeri, laboratorium, perpustakaan, sebagai pusat informasi dan studi kesenian di Gresik. Termasuk juga ikut mendirikan Dewan Kesenian Gresik dan sanggar senilukis anak anak di Petrokimia. Tiko juga menyelenggarakan pameran dan lomba lukis tiap tahun pada ulang tahun PT. Petrokimia Gresik di GOR Tri Dharma serta menjadi tutor senilukis dan disain pada sejumlah lembaga pendidikan.
09
Pantang Menyerah
Sampai kemudian tibalah saat-saat yang kurang menggembirakan dalam hidupnya. Tiko mengalami cobaan berat dalam kehidupan rumah tangganya, disusul kondisi fisiknya yang drop, stroke, sempat dirawat beberapa lama di rumah sakit. Dan kemudian matanya juga terserang katarak. Meski kemudian berhasil dioperasi atas bantuan PT Smelting, toh kondisi fisiknya masih saja lemah. Tiko terbaring tak berdaya di rumah asalnya, sendiri, namun oleh Kris AW disarankan tinggal di rumah ibunya saja agar ada yang mengawasi.

Dalam keadaan serba tak berdaya itupun ternyata semangat Tiko masih menyala-nyala. Dia katakan keinginannya pada para sahabatnya untuk menggelar pameran lukisan retrospeksi. Dia ingin pamerkan semua karyanya. Kris AW yang mendapat amanat itupun akhirnya tidak bisa berdiam diri setelah sekian lama agak tak menghiraukan. Bola kemudian digulirkan, maka tanpa disangka sambutan dan bantuan datang dari mana-mana. Ternyata bukan hanya Kris yang mendapat amanat itu.

Sebuah pertemuan kecilpun digelar di warung kopi, membahas bagaimana merealisasi obsesi kawan baik yang sedang tidak berdaya itu. Ditemukanlah sebuah tema “Pantang Menyerah” sebagai ungkapan Tiko yang memang tidak mau menyerah dengan kondisi fisik dan psikisnya. Tema ini sekaligus juga merupakan tantangan bagi siapa saja yang sedang terbelit problem kehidupan seberapapun beratnya untuk pantang menyerah. Dengan tema ini maka setidaknya bukan hanya berlaku buat diri Tiko sendiri, namun juga bagi siapa saja.

Betapa mengharukan suasana pembukaan pameran di gedung WEP itu. Kalangan anak-anak muda saling membahu membantu dengan kapasitasnya masing-masing. Mereka menyemarakkan dengan melukis sketsa dan karikatur, memotret model, memutar film dan silih berganti teman-teman seniman dari luar kota yang mengunjunginya. Tidak terlupakan, ada yang memberikan kontribuksi membuatkan kaos bergambar sosok Tiko mengangkat lengan dan mengepalkan tangan bertuliskan “Pantang Menyerah”. Bantuan sangat berharga datang dari Disbudparpora yang menggratiskan pemakaian gedung WEP selama pameran dan biaya lainnya. Serta sejumlah bantuan lain dari pihak-pihak yang belum disebut di sini.

Ketua DPRD Kabupaten Gresik yang membuka pameran itu memberi kesaksian, bahwa Tiko adalah sosok yang sangat berjasa bagi pendidikan seni rupa di Gresik. Hampir semua SMA di Gresik Tiko pernah membagikan ilmunya. “Dan kalau bicara soal penyakit,” kata H. Ir. Abdul Hamid, ketua DPRD Gresik itu, “saya adalah gudangnya.” Maka disebutkanlah semua jenis gangguan kesehatan yang menderanya sampai dengan penyakit jantung coroner. Tapi obat yang paling mujarab, katanya, adalah semangat.

Tiko nampak terharu duduk kursi roda diapit ibu dan puterinya. Matanya berkaca-kaca. Jangan menangis Tiko… ayo.. Pantang Menyerah. Maka diangkatlah lengannya dengan tangan mengepal dan berteriak penuh semangat: “Pantang Menyerah”. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: