Tandhak Sariti Penguasa Tandes

04 - Gendrasekti dan Sariti
Catatan Pengamatan Henri Nurcahyo

Kabar baik, Surabaya masih punya ketoprak. Namanya “Komunitas Ketoprak THR Surabaya”, yang mementaskan lakon “Geger Tandes – Joko Galing” di Taman Krida Budaya Jatim, Malang. Sabtu malam lalu (29/8). Apakah yang dimaksud Tandes itu adalah daerah Tandes sekarang? Apakah Joko Galing itu ada hubungannya dengan Sawunggaling? Tidak jelas, dan tidak perlu diusut. Yang jelas, sebagai tontonan cukup menghibur sebagai sajian pertunjukan yang mencerahkan batiniah.

Sebagai seni pertunjukan Mataraman, ketoprak memang langka di Surabaya. Jangankan ketoprak, ludruk yang katanya kesenian rakyat khas Surabaya saja juga langka. Tetapi diam-diam di dalam kompleks gedung pertunjukan di THR Surabaya, bemukim puluhan seniman yang hidup dan menghidupi seni tradisional ini. Bukan hanya ketoprak, melainkan juga ludruk dan Wayang Orang. Sebagian besar memang alumni Wayang Orang Sri Wandowo dan ketoprak legendaris Siswo Budoyo. Tak heran maka soal akting di panggung sudah menjadi aliran darah mereka. Lancar terkendali, enak ditonton.

Menurut penuturan Daryono, ketua dan pendiri grup ketoprak yang berdiri tahun 2010 ini, ada beberapa grup ketoprak lain di lokasi yang sama yaitu Ngesti Budaya, Mekar Budaya, Cahyo Buono dan Kalimosodo. Sementara grup Wayang Orang ada yang bernama Suryo Budoyo, Suryo Sumirat dan Mustika Budaya. Ternyata orang-orangnya ya memang itu-itu juga. Hal ini memang merupakan kiat yang dilakukan oleh Tribroto Wibisono ketika menjabat Kepala UPT THR Surabaya agar mereka mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Daryono juga menjelaskan, kisah yang dipanggungkannya kali ini konon berasal dari Mataram. Sudah sering dipentaskan oleh ketoprak dan mengalami modifikasi berulangkali sehingga sulit ditelusuri cerita aslinya.

Alkisah adipati Tandes bernama Gendrasekti, menantu Raja Brawijaya, tergoda untuk memperistri seorang tandhak bernama Sariti. Untuk itu dia dengan tega menyingkirkan Dewi Setianingsih, permaisuri dan puterinya yang bernama Puspitasari, kemudian menyuruh Klabangkoro dan Dwijo untuk membunuh mereka. Namun di tengah jalan kedua orang suruhan itu malah berbuat nista, hendak memperkosa mereka. Beruntunglah muncul tiga pemuda, Hendro, Hambali dan Joko Galing yang menggagalkan perbuatan kotor tersebut. Bahkan akhirnya sang puteri pun menjalin kisah asmara dengan Joko Galing, meski Hambali sudah melancarkan panah asmaranya lebih dulu namun tak bersambut.

Sementara itu, adik Dewi Setianingsih, Pangeran Pati Haryo Subandar, yang bermaksud menemui permaisuri, juga dihabisi nyawanya setelah sebelumnya dirayu untuk bercinta oleh Sariti. Maka Sariti, sang tandhak, yang akhirnya mengendalikan pemerintahan di kadipaten itu.
06 - Aryosubandar terbunuh
Tidak lama kemudian, datanglah ke hadapan Gendrosekti salah seorang yang ditugaskan membunuh itu melaporkan tugasnya yang gagal. Kadipaten Tandes geger, Adipati Gendrasekti gelisah, apalagi Prabu Brawijaya yang menjadi atasannya akhirnya mengetahui akal busuknya.

Tidak kurang akal, Gendrasekti berusaha mengelak dengan menyebar fitnah bahwa Joko Galinglah pelakunya. Galing pula yang difitnah membunuh Haryo Subandar. Toh akhirnya Gendrasekti tak bisa berkutik lagi ketika permaisuri dan puterinya muncul di hadapannya. Demikian pula orang suruhan yang ditawan Joko Galing terpaksa harus membuka rahasia siapa yang menjadi biang keladi peristiwa ini.

Gendrasekti masih tidak mau menyerah. Joko Galing ditantang berkelahi, hingga akhirnya Gendrasekti tewas akibat tusukan tombak Kyai Sentanu, senjata sakti warisan kerajaan Majapahit yang dibawa oleh Joko Galing. Tiga perempuan, yaitu permaisuri, puteri dan Sariti lantas menangis bersama dan memeluk Gendrasekti dengan tombak yang masih menancap di perut adipati Tandes itu. Raja Brawijayapun menghukum penjara untuk Sariti, yang dianggap menjadi penyebab keonaran ini.
08 - Puspasari dan Jaka Galing
Lantas, apakah jalinan kisah asmara antara Joko Galing dan Puspitasari lantas berlanjut? Ternyata, tidak semudah yang diinginkan. Prabu Brawijaya mempertanyakan tombak Kyai Sentanu, mengapa berada di tangan Joko Galing. Lantas diceritakan, bahwa tombak pusaka kerajaan Majapahit itu didapatkannya dari kakeknya, Begawan Ciptoning, yang dibunuh oleh Gendrasekti. Jadi ternyata Joko Galing masih anak Pabu Bawijaya sendiri dari selir. “Ini masih pamanmu sendiri,” ujar Brawijaya kepada Puspitasari. Buyarlah harapan sepasang kekasih itu karena mereka masih bersaudara dalam hubungan paman dan keponakan. Puspitasari pingsan, sedangkan Hambali bersorak gembira karena peluangnya mendapatkan gadis itu dianggap masih terbuka.

Begitulah kisahnya, yang pasti lumayan sulit diikuti oleh masyarakat awam yang tidak akrab dengan bahasa Jawa Mataraman. Toh secara garis besar pertunjukan ini berlangsung lancar, adegan yang rapi, seolah mengalir sendiri lantaran memang seperti itulah yang sudah menjadi pekerjaan mereka. Bagaimanapun para seniman tradisi inilah yang menjadi benteng terakhir keberlangsungan seni pertunjukan ketoprak yang makin ditinggalkan penonton. Apalagi, di kota-kota besar, termasuk Malang dan Surabaya.

Selama ini, pertunjukan di Taman Krida Budaya Malang ini hampir semuanya berupa ludruk. Pertunjukan kesenian lainnya seperti ketoprak, wayang orang dan juga janger hanyalah selingan. Andakata tidak disertai hadiah door prize sangat mungkin penonton tidak akan bertahan hingga pertunjukan usai. Toh cara ini sah-sah saja demi “memaksa” masyarakat kebanyakan untuk menyaksikan seni pertunjukan yang sudah langka ini. Berbeda dengan tontonan ludruk, yang pasti meluber peminatnya ketika digelar di tempat yang sama.

Bagaimanapun para pelaku seni tradisional yang sebagian besar bermukim di kompleks THR Surabaya itulah yang menjadikan kesenian ini masih tetap bertahan meski sangat tidak sebanding sebagai dijadikan mata pencaharian. Karena itu sangat wajar kalau menjadi pelaku seni tradisi bukan pilihan yang menjanjikan bagi generasi muda. Akibatnya, regenerasi pelaku sangat terhambat, terutama untuk pemain perempuan. Dalam lakon kali ini, hanya pemeran Puspitasari yang masih kelihatan agak muda dan cantik. Sementara pemeran tandhak Sariti yang seharusnya juga masih muda, diperankan oleh pemain yang sudah berumur.

Catatan yang kedua, dalam pementasan ketoprak kali ini nampaknya kurang menunjukkan adegan perkelahian yang mengagumkan. Tidak ada adegan salto misalnya. Padahal biasanya justru adegan laga inilah yang menjadi daya tarik pertunjukan ketoprak. Bukan hal yang aneh kalau ada kelompok ketoprak yang memanfaatkan pelaku seni bela diri dalam adegan ini. Bahkan, ada yang sengaja melatih anggotanya dalam ilmu bela diri, khususnya silat, sehingga mahir melakukan adegan laga.

Bagaimanapun, pertunjukan ini memang enak ditonton, dan masyarakat memang harus “dipaksa” untuk menyaksikannya agar suatu ketika dapat mencintainya. Bukanlah alasan yang tepat kalau misalnya mereka menolak menonton hanya karena alasan bahasa yang kurang dipahami, sebagaimana dalam pertunjukan wayang. Bukankah banyak anak muda yang tidak paham bahasa asing namun mereka tetap gandrung dengan lagu-lagu mancanegara? Mengapa banyak diantara mereka yang suka lagu Korea misalnya. Apakah mereka mengerti bahasanya? Begitulah. (*)

Malang, 29 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: