Wayang Krucil Malangan Bakal Digilas Zaman?

Oleh HENRI NURCAHYO

0
Wayang krucil adalah kesenian langka. Hanya (pernah) ada di beberapa daerah di Jatim. Kondisinya sudah memprihatinkan. Dan di Malang, kini hanya tinggal satu-satunya, yaitu di desa Wiloso, kecamatan Wagir. Apakah Warisan Budaya Tak Benda (intangible heritage) ini dibiarkan saja punah digilas zaman? Apa manfaatnya dipertahankan?

Selama azas “manfaat” itu yang dikedepankan, banyak kesenian rakyat dan pusaka budaya lainnya yang seolah-olah memang pantas untuk mati. Apalagi kalau paramaternya adalah manfaat ekonomi, dimaknai secara sempit dan harus nampak kongkrit hasilnya. Padahal kesenian bukan urusan fisik, lebih banyak berurusan dengan batin. Tidak terkecuali, wayang krucil Malangan, yang hanya tersisa satu perangkat wayang berusia seratus tahun lebih, hanya satu dalang, digelar setahun sekali, dan untungnya masih didukung oleh beberapa niyaga atau pengrawit.

Konon wayang krucil memang asli dari Jatim, diciptakan Pangeran Pekik dari Surabaya. Versi lain menyebut bahwa yang menciptakan adalah Sunan Kudus, Sunan Bonang dan Raja Brawijaya V. Toh kenyataannya wayang berbahan baku kayu pipih dengan tangan terbuat dari kulit ini, lebih banyak terdapat di Jatim dengan nama yang berbeda, seperti Ngawi, Bojonegoro, Lamongan (Wayang Songsong), Nganjuk (Wayang Timplong), Kediri (Wayang Mbah Gandrung), Trenggalek, Tuban dan sebagainya. Sementara di Jateng pernah ditemukan di Kudus, Jepara, Cepu dan DIY, yaitu di Gunung Kidul dan Sleman. Hanya Ngawi yang lebih terpelihara dan pemerintah setempat malah mengklaim bahwa Wayang Krucil adalah kesenian asli Ngawi.

Menurut sejarawan dan arkelog M. Dwi Cahyono, di Malang sendiri sebelum masa kemerdekaan jumlah wayang krucil cukup banyak, terpusat di kawasan timur, yaitu Tumpang ke selatan atau yang disebut Wayang Krucil Tengger-Semeruan. Jejaknya tersisa di kawasan Turen, desa Gedog Wetan, yang sayangnya sekarang ini hanya ada wayangnya tanpa dalang. Sentra lainnya di wilayah barat yaitu Wayang Krucil Gunung Kawian, yang masih tersisa di Wiloso sekarang ini.
Wayang krucil Wiloso memiliki makna kelangkaan, karena sekarang menjadi satu-satunya wayang krucil di wilayah Malang Raya (Kabupaten, Kota Malang dan Batu) yang masih bertahan dan tetap aktif dipergelarkan. Beruntung setelah tiarap selama satu generasi pasca tahun 65-an, sekarang sudah hidup lagi, minimal pentas rutin dalam ritual Syawalan. Sementara banyak kesenian rakyat lainnya mati terkubur dalam pergolakan politik negara.

Konsistensi wayang krucil Wiloso mengangkat cerita Panji, menurut M. Dwi Cahyono, dapat menjadi spesifikasi wayang krucil Malangan, disamping musiknya sudah jelas-jelas musik Malangan sehingga dapat menjadi ikon wayang krucil pedalaman dan khususnya wayang krucil etanan atau Brang Wetan. Hal ini sekaligus melengkapi khasanah Wayang Panji yang dimiliki oleh Malang, yaitu Wayang Topeng. Tidak salah untuk menyebut bahwa Malang adalah juga basis Cerita Panji, yang terekspresikan di wayang krucil dan wayang topeng.
01
Sekarang ini, tidak gampang menemukan pergelaran wayang krucil sebagai seni pertunjukan biasa. Berbeda dengan wayang kulit purwa yang dianggap seni adiluhung dan masih mendapat dukungan banyak pihak. Tetapi warga desa Wiloso percaya, apabila tidak dilakukan pergelaran pada bulan Syawal tahun Jawa, dapat menimbulkan bencana. Adanya mitos tersebut membuat mereka bergotong royong serta sukarela selalu menggelar seni tradisi yang sudah langka tersebut. Mitos semacam ini juga terdapat di berbagai daerah, seperti di Nganjuk yang wajib menggelar Wayang Timplong (nama lain Krucil) setiap bulan Sura.

Tradisi ritual pedesaan seolah-olah menjadi benteng terakhir untuk menyelamatkan kesenian tradisi yang sudah langka tersebut. Bukan hanya wayang krucil di Malang saja, namun pola yang sama juga berlaku bagi kesenian tradisi lain di daerah lain pula yang hanya bertahan dalam tradisi ritual yang berlangsung di komunitasnya. Pola seperti inilah yang terjadi sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat untuk menyelamatkan pusaka budaya bangsa.

Kearifan lokal juga dilakukan dalam bentuk-bentuk memberikan perlakuan tertentu kepada perangkat wayang krucil pada hari tertentu pula. Misalnya setiap malam Jum’at Legi diberikan sesaji. Dalang yang akan mengelar pertunjukan juga wajib puasa, tirakat. Ada ritual lagi yang dilakukan menjelang pergelaran. Banyak cerita mistis yang diluar nalar terkait keberadaan wayang krucil ini. Semua itu nampaknya sengaja “dipelihara” demi menjaga kelestariannya.

Dalam perjalanannya pada mulanya wayang krucil merupakan kesenian ritual, berkembang alternatif menjadi kesenian hiburan, namun masih ada yang ritual. Ketika kemudian kesenian hiburan semakin tumbuh pesat, berbagai kesenian rakyat ikut pula marak, sampai akhirnya menyusut karena ditunggangi oleh kepentingan politik. Begitu tunggangan politik itu lepas, maka wayang krucil sebagai kesenian hiburan memasuki pasar bebas yang akhirnya mengalami kekalahan. Dan kondisi terakhir, wayang krucil hanya bertahan sebagai kesenian ritual saja, meski sesekali tampil diluar kepentingan ritual sebagai selingan belaka.

Menurut Magnis Suseno (1984), wayang adalah gambaran kehidupan yang di dalamnya terdapat kontrak sosial dan kultural. Dan orang Jawa percaya, apabila setiap wayang memenuhi tugasnya, maka tatanan seluruh alam semesta dan masyarakat terpelihara. Suripan Sadi Hutomo (1994) pernah menulis, wayang krucil yang pada zaman dahulu berfungsi sebagai penolak budaya asing dari India, kini mengalami nasib yang menyedihkan. Ia tidak hanya “diterkam” oleh wayang kulit purwa (yang ceritanya berasal dari India) tetapi juga diterkam oleh kebudayaan Barat. Dengan demikian wayang ini dijepit dari dua arah.

Pergelaran wayang krucil yang tersisa di Wiloso ini adalah sebuah harta karun seni budaya yang harus dipelihara baik-baik –minimal– oleh pemerintah Kabupaten Malang. Pihak pemerintah desa sudah mengupayakannya ada pentas diluar ritual, mengenalkan pada anak-anak, dan berusaha membuat reproduksi perangkat wayang krucil yang sudah sangat tua itu namun terhalang dana. Tanpa upaya ini semua, kesenian tradisi yang menjadi dunia batin masyarakat desa ini bakal lenyap ditelan gelombang zaman. Siapakah yang mau peduli? (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: