Balekambang, Hotel Raja Hayam Wuruk?

001Ketika Raja Hayam Wuruk (dan rombongannya) berulangkali mengunjungi Candi Penataran, dimanakah mereka bermalam? Candi Palah (nama kuno Penataran) dibangun sepanjang masa tiga kerajaan, sekitar 250 tahun lamanya. Candi ini banyak difungsikan sebagai semacam kampus pembelajaran. Bahkan Bujangga Manik jauh-jauh datang dari Tanah Sunda belajar berbulan-bulan di sini.

Hanya sepelemparan batu dari Candi Penataran, masih di desa yang sama, Penataran, terdapat umpak-umpak kuno dari batu andesit yang tertata rapi, namanya Situs Balekambang. Ada sebanyak 36 umpak, yang tertata berjajar 3-3 sebanyak 10 deret, ditambah 2 umpak dan 4 umpak di bagian depan. Posisi umpak-umpak ini mengesankan adanya sebuah bangunan yang menghadap ke selatan. “Bisa jadi inilah hotel tempat Raja Hayam Wuruk menginap,” duga arkeolog Dwi Cahyono.
003
Menurut juru kunci Situs Balekambang, Ariwidodo (masih berusia 22 tahun), kira-kira fungsi Situs Balekambang ini mirip dengan Pendopo Teras Penataran. Sejumlah 36 umpak tersebut memakan luasan lahan 70×10 m2 dikelilingi lahan kosong sehingga luas toalnya 80×25 m2 atau sekitar 2000 m2. Konon di sela-sela umpak itu dulu terdapat lantai bata merah, masih ada hingga tahun 60an, namun sekarang tidak berbekas lagi. Pada salah satu umpak tersebut terdapat angka tahun 1272 Saka (1350 M).

Diperkirakan pula, dulu situs ini dikelilingi oleh parit, yang mengalir dari sebuah mata air (hanya sekitar 15 meter) yang sekarang sudah mati. Jika dibandingkan dengan sumur warga sekitar yang memiliki kedalaman hanya 10-15 meter, bisa jadi tempat ini dulu memang kaya air. Bisa jadi pula, mata air yang sekarang mati itu kalau digali akan ditemukan sebuah sumur kuno.
005
Ariwidodo adalah Jupel (Juru Pelihara) yang pertama kali, karena baru dua tahun terakhir ini Situs Balekambang dapat disaksikan dengan seksama. Sebelum itu, tertutup rimbunan pepohonan di lahan garapan warga. Kebetulan Pak Mukiyar, ayah Ari, yang bekerja di Candi Penataran memasuki masa pensiun tahun 2009. Berulangkali melewati situs ini, lantas dia merasa prihatin dan tergerak untuk merawatnya. Maka warga yang mengelola lahan di situ didekati, dan diminta kerelaannya untuk menyisakan lahan yang terdapat puluhan umpak kuno itu. Kemudian akhir tahun 2011 lahan tersebut diolah, dibersihkan, dipagari, diajukan ke Jakarta untuk minta seorang Jupel. Maka ditunjuklah Ariwidodo. Dan berada di sini, terasa hawa sejuk meski udara sekitar terik sekali. “Memang tempat ini sering dipakai meditasi,” kata Ariwidodo.

Setiap tanggal 27 Juni dilakukan Ritual Tumpeng Nusantara dari situs ini menuju Candi Penataran sejauh 2,5 km untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Blitar. (catatan Henri Nurcahyo, 25 Oktober 2015)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: