Dunia Lain Jansen Jasien

Oleh HENRI NURCAHYO
Jansen Jasien JP
Suatu hari di desa Terung Wetan, di bawah rerimbunan bambu, Jansen Jasien bercerita panjang lebar perihal sejarah dan purbakala. Dia sedang menunjukkan rasa yakinnya, bahwa desa Terung pada masa lalu adalah sebuah kadipaten, atau kabupaten. Lelaki berambut panjang itu menunjukkan bukti-bukti temuannya berupa benda-benda purbakala di berbagai tempat di kawasan Terung dan sekitarnya. Dia memperkirakan, luas Kadipaten Terung tempo doeloe sekitar 2.000 – 5.000 hektar, atau seluas kecamatan Krian saat ini.

Jasien memang bukan sejarahwan. Juga bukan seorang arkeolog. Dia hanya lelaki desa yang menyukai sejarah, senang menjalankan riset menurut versinya sendiri, menyelidiki berbagai hal yang terpendam dalam peradaban masa lalu. Karena itu dia sangat menyayangkan banyak bangunan-bangunan bersejarah yang tumbang satu persatu, hilang digilas zaman yang mengatasnamakan modernisasi. Bukan hanya itu, bersama sejumlah orang yang tergabung dalam komunitas pecinta sejarah, Jasien bergerak melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan peninggalan sejarah dan budaya.

Jansen Jasien namanya, profesi sesungguhnya adalah pelukis yang menyukai bangunan bersejarah dan pusaka budaya. Dia tak pernah betah berdiam diri di rumah, hanya berhadapan dengan kanvas di studio yang terisolasi, dan hanya mengandalkan penghasilan dengan menjual lukisan. Hidup harus bermanfaat, itu prinsipnya. Maka selama 4 (empat) tahun terakhir ini namanya justru muncul di media massa sebagai penemu bangunan purbakala yang terpendam dalam tanah, dan kemudian dikenal sebagai Candi Terung.

Aktivitasnya sebagai pecinta sejarah dan purbakala itulah yang memberi nafas bagi karya-karyanya. Dia melukis bangunan-bangunan tempo doeloe bukan hanya dengan pandangan mata. Jasien tidak sedang memindahkan objeknya ke atas kanvas. Melukis itu adalah ekspresi jiwa. Dia berkarya bukan hanya dengan tangan dan pandangan mata, melainkan dengan hati. Itulah yang menjadikan karya-karyanya tidak sekadar objek fisik semata.

Dan ketika khalayak mengenalnya sebagai penemu Candi Terung, diam-diam Jasien sudah menyiapkan ratusan lukisan di rumahnya. Sebanyak 500 panel lukisan dipajang dalam pameran tunggal yang dibuka hari ini (20/12). Karya-karyanya memang cenderung ekspresionistis. Gairahnya ikut tercurah bersama dengan goresan spontan yang tak jarang langsung dari tube cat. Jasien sengaja menggunting kuasnya agar menghasilkan goresan tajam yang ekspresif.

Membangun Citra
Siapakah Jansen Jasien? Lahir tahun 1974, tinggal di Krian Sidoarjo, pelukis otodidak ini relatif tidak banyak dikenal di percaturan seni rupa negeri ini. Tetapi Jasien memiliki dan sengaja membangun dunianya sendiri, sehingga dia tidak harus merasa perlu mengikuti parameter yang sudah umum menjadi pelukis yang sukses.

Lokasi pamerannya kali inipun di tempat yang unik yaitu di sebuah sekolah (yang juga unik) bernama “Selamat Pagi Indonesia” alias Transformer Center di kawasan kota Batu. Lokasi ini populer disebut Kampoeng Kidz. Pamerannya kali ini adalah juga bagian dari upayanya untuk membangun citra dan dunianya sendiri, dunia Jansen Jasien.

Perubahan nama dari Mohamad Yasin menjadi Jansen Jasien itu sendiri merupakan langkah awal dari perjalanan untuk membangun citra mengenai dirinya. Meskipun, kata “Yasin” itu sendiri mengandung misteri makna, karena menjadi nama surat sakti dalam Al Qur’an yang justru tidak ada dalam kamus Bahasa Arab. Ada ulama yang mengartikan Yasin sebagai Ya Insani…. Tetapi, itulah rahasiaNYA, sebagaimana makna kata Alim Lam Mim yang juga menjadi kata pertama diantara surat-surat Al Qur’an.

Pameran bersama yang diikutinya sudah dimulai tahun 1992 sebanyak 40 kali, termasuk pameran di Singapura dan Hongkong. Hanya 6 (enam) kali pameran tunggal yang digelarnya sejak tahun 2007, termasuk 3 kali selama tahun 2008, dan terakhir tahun 2011 yang digelar secara mobile di Singapura. Pameran bersama terakhir tahun 2012, dan sejak itu Jasien malah dikenal namanya sebagai penemu situs candi peninggalan Majapahit di desa Terung, hanya sepelemparan batu dari rumahnya. Dalam kurun waktu itu Jasien asyik bergelut dengan benda-benda peninggalan purbakala, mengumpulkannya dalam sebuah museum alam terbuka. Namun ternyata diam-diam dia menghimpun energi untuk sebuah pameran tunggal yang dahsyat.

Pamerannya kali ini bukan pameran biasa. Lokasi sekolah yang megah itu sendiri bukan sekadar yang menjadi venue pameran, lantaran selama ini Jasien menjadi pendamping seni rupa di situ, sebuah sekolah (SMA) gratis multi etnis, multi agama dan multi sosial, khusus untuk anak-anak yatim dan piatu dari seluruh Indonesia. Itu sebabnya dia dipanggil “ayah” oleh murid-muridnya. Pameran ini terasa istimewa buat JJ (panggilan Jansen Jasien) karena karyanya kali ini merupakan buah ‘pergumulan’ intuisi berkeseniannya dengan anak-anak sekolah Selamat Pagi Indonesia.

Ada tiga tema yang membingkai pameran ini, yaitu Bocah, Budaya dan Religi. Tema Bocah merupakan rekaman ingatan dan imajinasinya tentang dunia anak-anak di Kampoeng Kidz. Sedangkan tema Budaya menyajikan pergumulan batinnya memaknai untaian gerak seni tradisi dalam bingkai lukisan. Sementara tema ketiga adalah Religi, yang merupakan area kontemplasinya pada Sang Pencipta. Di mata JJ, enam agama yang diakui negeri ini punya daya tarik berbeda untuk dikisahkan dalam lukisan. Interaksi di Sekolah Selamat Pagi Indonesia antara JJ dan anak-anak beragam agama begitu rukunnya, menyulut inisiatifnya untuk mengurai pandangannya dalam bingkai lukisan.

Pelukis yang humanis ini memang mencintai kehidupan dalam totalitasnya. Bagi bapak dua puteri ini, mengendalikan dan menghidupi batin itu baginya sesuatu yang sangat penting. Hanya dengan melukis tidak cukup untuk melegakan dahaga budayanya. Hidup perlu keseimbangan, tidak boleh menyendiri dan asyik dengan dirinya sendiri. Sikap itulah yang digenggam oleh seorang Jansen Jasien. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: