Tipudaya Mataram Menjebak “Ki Ageng Mangir”

01Lakon Ki Ageng Mangir sepertinya sudah identik dengan pergelaran ketoprak itu sendiri. Lakon ini sudah biasa dimainkan oleh ketoprak manapun, dan sepertinya sudah menjadi salah satu lakon wajib yang musti dihapal oleh siapapun yang mengaku sebagai orang ketoprak. Tidak terkecuali, pementasan yang disajikan oleh kelompok Sri Aji Kawedar dari Tuban dalam pementasan di Taman Krida Budaya Jatim, di Malang, Sabtu lalu (30/1/16).

Dikisahkan, Ki Ageng Mangir alias Ki Ageng Wanabaya III adalah penguasa daerah Mangir yang menolak tunduk kepada kekuasaan kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Panembahan Senopati. Pembangkangannya itu bertolak dari anggapan bahwa Mangir adalah daerah perdikan sejak masa Majapahit. Tentu saja Panembahan Senopati geram karena Majapahit sudah runtuh. Mangir harus segera ditundukkan agar seluruh wilayah Mataram dapat dikuasainya.

Namun niatnya mengerahkan pasukan ke Mangir dicegah oleh patihnya, Ki Juru Martani, yang terkenal sangat cerdas mengatur strategi. Menundukkan Mangir tidak harus dengan cara kekerasan, melainkan melalui tipu daya yang cerdas meski terkesan licik. Sang Patih kemudian mengusulkan agar Panembahan Senopati “mengumpankan” putrinya yang cantik jelita, Sekar Pembayun, agar menyamar menjadi penari tayub alias Ledhek.

Begitulah, setelah melampaui penolakan Pambayun sendiri, dibentuklah kelompok tayub samaran dengan target untuk menarik simpati Ki Ageng Mangir. Pucuk dicinta ulam tiba, Ki Ageng Mangir sendiri memang bermaksud mengadakan keramaian bersih desa dengan mendatangkan kelompok tayub. Bagaikan ikan masuk ke bubu, Ki Ageng Mangir langsung jatuh hati pada kecantikan Pambayun. Singkat cerita, sepasang anak manusia itupun menjadi suami isteri.

Meski demikian, Sekar Pambayun harus tetap melaksanakan tugas yang diembannya, yaitu menghapus kesaktian tombak Kyai Baru Klinthing yang menjadi senjata andalan Ki Ageng Mangir. Konon, kesaktian tombak itu akan berkurang setelah diusap dengan selendang ledhek. Ki Ageng Mangir marah ketika diketahui isterinya berada di ruang penyimpanan pusaka dalam keadaan pingsan setelah pengusapan tombak tersebut. Apa boleh buat, Pambayun terpaksa membongkar jati dirinya yang sebenarnya.

Alangkah terkejutnya Ki Ageng Mangir. Ia baru sadar ternyata istri yang amat dicintainya itu adalah putri musuh besarnya. Ketika dia menghunus keris hendak membunuhnya, Pambayun mengatakan bahwa dia sedang mengandung anak Ki Ageng. Apa boleh buat, Ki Ageng mengurungkan niatnya, meski dia sudah mengatakan bahwa ucapannya tak bisa ditarik. Hatinya semakin rusuh ketika Pambayun memintanya untuk menghadap Panembahan Senopati dalam posisi sebagai menantu. “Bukankah Kanda dulu sudah berjanji akan menuruti apa kemauan saya,” rajuk Pambayun.

Setiba di Mataram, Ki Ageng Mangir disambut oleh kerabat keraton dengan upacara penyambutan ngunduh mantu. Rupanya, upacara itu sudah diatur untuk menjebak Ki Ageng Mangir. Para pengawalnya diminta untuk pulang, senjata sakti tombak Baru Klinthing harus dititipkan demi kesopanan terhadap mertua sendiri. Di hadapan mertuanya, ia duduk bersimpuh dan bersembah sebagai tanda penghormatan. Pada saat kepala Ki Ageng Mangir hampir menyentuh lantai, Pangeran Senopati langsung meraih kepala menantunya itu dan langsung membenturkannya ke kursi singgasananya yang disebut Watu Gilang. Ki Ageng Mangir pun tewas seketika.

Dan inilah kekejian itu, jenazah Ki Ageng Mangir dipotong menjadi dua bagian. Separuh jasadnya dimakamkan di dalam kompleks keraton lantaran masih dianggap sebagai menantu, sedangkan separuhnya lagi berada di luar keraton dengan posisi melintang di antara batas wilayah keraton dengan daerah luar keraton, simbol sebagai musuhnya.
02
Lakon yang Menghibur
Sebagai sebuah pertunjukan, lakon Ki Ageng Mangir ini memang menghibur. Ada selingan lawak sebagaimana biasanya, namun ada juga adegan tayub yang sampai dua kali. Tentu saja adegan laga yang seolah menjadi ciri khas ketoprak. Kesemuanya ini menjadi penyeimbang dari alur cerita yang dramatis. Bisa dikatakan, bahwa ketoprak adalah pertunjukan untuk menyenangkan kaum ningrat.

Sebagai lakon yang sudah populer, tentu banyak orang yang sudah hafal jalan ceritanya dan bagaimana ending¬-nya. Yang kemudian dicermati adalah, bagaimana lakon tersebut dibawakan. Karena itu, ketika adegan mbarang tayub, ada kejadian kecil yang mengganggu, yaitu Juru Martani ikut muncul sebentar di panggung dalam rombongan pengamen. Bukankah ini adalah penyamaran?

Secara keseluruhan, lakon ini juga sekaligus mengedepankan kembali moralitas raja-raja Mataram yang sepanjang sejarahnya dikenal kejam, bahkan terhadap anak, orangtua dan saudaranya sendiri. Tindakan memotong jasad Ki Ageng Mangir menjadi dua bagian memang sadis, tetapi kalau dibandingkan dengan kisah Trinojoyo yang juga memberontak terhadap kekuasaan Mataram, tidak ada apa-apanya. Trunojoyo dibunuh dengan cara tubuhnya dipotong-potong (mutilasi) menjadi beberapa bagian. Memang begitulah riwayat kelam kerajaan Mataram Islam, yang menjadi penyebab mengapa tanah Jawa ini dikuasai Belanda selama ratusan tahun hanya gara-gara perseteruan internal keraton.

Ah sudahlah, itu kisah lain. Dalam lakon ini memang menyisakan pertanyaan, mengapa Ki Ageng Mangir yang sakti mandraguna itu dapat tewas “hanya” dengan cara dibenturkan kepalanya ke batu? Ini memang kisah yang berbumbu fiktif. Namun, asal tahu saja, bahwa lakon ini dipercaya sebagai legenda yang betul-betul pernah terjadi. Ada hubungannya dengan asal-usul kota Bantul sekarang, juga desa Palbapang. Singgasana Panembahan Senopati kini menjadi situs bersejarah Kotagede. Batu yang berwarna hitam dan berbentuk persegi ini terdapat cekungan pada salah satu sisinya akibat benturan kepala Ki Ageng Mangir. Situs sejarah ini masih tersimpan di dalam sebuah bangunan kecil yang terletak di Kampung Kedhaton (Dalem), sekitar 500 meter sebelah selatan Masjid Agung Mataram Kotagede.

Sebagai sebuah lakon dalam pertunjukan, memang tidak relevan mempersoalkan kebenaran sejarahnya, karena ini memang bukan murni kisah sejarah. Sudah bercampur-baur antara fakta dengan fiksi. Kalau toh betul Ki Ageng Mangir tewas karena benturan kepala dengan batu itu, sayang sekali dalam pertunjukan ini posisi batu tersebut berada di sebelah kanan kursi Panembahan Senopati yang menghadap ke arah kiri (dilihat dari posisi penonton), sehingga posisi batu tertutup kursi. Ini kecelakaan kecil bagian properti yang agak mengganggu karena justru faktor batu itulah yang menjadi sebab kematian Ki Ageng Mangir sehingga penonton dapat melihat dengan jelas. Yang terjadi, dalam pandangan penonton, seolah-olah kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke kursi, bukan batu.

Soal properti ini pula yang memang tidak lazim dalam sebuah pertunjukan ketoprak. Sungguh sangat minimalis. Memang sah-sah saja, asal dibawakan dengan manajemen teater modern yang lebih mengedepankan kesan ketimbang wujud fisik. Kalau dalam ketoprak tobong yang konvensional, tentu ada layar back ground berupa lukisan besar yang menunjukkan lokasi kejadian. Dan ternyata, dengan properti yang minalis seperti ini, pertunjukan ketoprak ini mampu menyelamatkan diri menjadi pertunjukan yang mengesankan. Artinya, penonton tidak lagi mempersoalkan properti yang minimalis karena adegan di panggung sudah mampu menggambarkan lokasi kejadian dengan benar. Dalam hal yang satu ini, patut diberika apresiasi tersendiri.

Sementara itu pada adegan laga, memang terlihat sangat mengesankan. Ketrampilan para pemain membawakan pertarungan patut diacungi jempol. Pukulan, tendangan dan salling banting sanggup mengalahkan tayangan Smack Down yang pernah populer di televisi sekian waktu yang lalu. Menurut penuturan Suyono Gareng, pimpinan ketoprak ini, para pemain itu sama sekali tidak belajar ilmu beladiri. Mereka hanya otodidak dengan cara menonton film-fim kungfu. “Setiap ada film kungfu saya ajak mereka belajar sendiri,” ujarnya sebelum pertunjukan.

Bagaimanapun, sebagai sebuah pertunjukan di panggung prosenium, membawakan adegan laga ini tentu ada teknik tersendiri. Berbeda dengan ketika dibawakan di lapangan datar yang tak berbatas tepinya. Namun yang terjadi, kali ini sampai ada pemain yang terjatuh ke luar panggung. Memang kelihatannya lucu, sehingga membuat penonton tertawa. Namun sebetulnya hal ini menunjukkan bahwa pemain kurang kontrol.
03
Kalau toh boleh memberi sedikit saran, materi lawakan agaknya perlu ditingkatkan lagi. Jangan terjebak dalam banyolan yang klise dan menjadi santapan pertunjukan tradisional lainnya. Kalau pimpinan ketroprak ini mengajak pemainnya menonton film kungfu agar mampu menirukan adegan laga yang bagus, mengapa hal yang sama tidak dilakukan dengan belajar lawakan dengan mengambil materi dari tontonan televisi? Bagaimanapun masyarakat kita sekarang ini sudah sangat akrab dengan televisi. Bukan hanya sebagai sarana hiburan, melainkan menjadi sumber informasi. Nah, bukankah banyak bahan yang bisa didapatkan di sana? Dengan demikian lawakan akan mampu tampil aktual sebagaimana kualitas penonton yang juga sudah berkembang sedemikian rupa.

Dengan tak melupakan beberapa kekurangan kecil di atas, penampilan ketoprak ini lumayan bagus. Pemain-pemainnya terlihat total, sehingga pertunjukan berlangsung lancar dan enak ditonton. Tanpa terasa, waktu pertunjukan berjalan hampir tiga jam tanpa membosankan. (*)

Henri Nurcahyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: