Obsesi Ayu Sutarto di Tepi Kali Bedadung

OLEH HENRI NURCAHYO

????????????????????????????????????

Prof. Ayu Sutarto, pembicara Kongres Kebudayaan Jatim 2015

Genap 100 hari Ayu Sutarto meninggal dunia. Budayawan dan akademisi yang tak kenal lelah itu harus mengakhiri aktivitasnya yang luar biasa pada tanggal 1 Maret 2016 yang lalu setelah koma hampir dua bulan. Bapak empat anak itu meninggalkan warisan sangat berharga, berupa perpustakaan berisi 15.000 buku lebih dan Yayasan Untukmu si Kecil (USK) yang masih terus aktif berkegiatan. Masih saja anak-anak bermain setiap Sabtu dan Minggu dan banyak mahasiswa yang meminjam buku untuk bahan studi.

Hari Sabtu lalu (4/6) saya memrakarsai pertemuan kecil di perpustakaan USK di Jalan Sumatera VI – 35 Jember. Selain istri almarhum, hadir dalam acara sederhana itu adalah Sofan Hadi (adik), Retno Winarni (ipar, pengurus Yayasan), Ilham Zoebasary (Doktor Janger dari Universitas Jember), R. Djoko Prakosa (STKW Surabaya), Purnawan D. Negara (Doktor Budaya Hukum dari UWG Malang), Sofia (dosen Universitas Negeri Jember), dan beberapa kerabat termasuk Azizah Umami, staf USK yang setia mengelola perpustakaan.
03
Lahir di Pacitan tanggal 21 September 1949, teman sekolah Presiden SBY ini dikenal sebagai pakar humaniora yang rendah hati, selalu aktif (bahkan hiper aktif) dalam berbagai kegiatan seni budaya, menjadi pengajar luar biasa di berbagai perguruan tinggi, selain status tetapnya sebagai guru besar di Universitas Negeri Jember. Di halaman belakang rumah yang berada di tepi Kali Bedadung itulah terhampar tanah tempat anak-anak bermain, perpustakaan khusus untuk anak seluas 4×6 meter persegi, perpustakaan humaniora USK (plus kamar untuk menginap), bangunan museum permainan anak yang masih berujud dinding tanpa atap, dan sebuah obsesi untuk membangun rumah panggung di tepi Kali Bedadung. Yang digelisahkan adalah, sebidang tanah 600 meter persegi yang membatasi lahan USK dengan jalan utama. Kalau tanah yang biasa digunakan parkir itu dibangun oleh pemiliknya, maka satu-satunya akses ke USK hanyalah jalan setapak gang kecil.

“Mengapa tidak kita beli saja tanah itu?” gagasan nyeleneh ini disambut tawa seolah mimpi sang bolong. Padahal, itu bukan hil yang mustahal (kata Asmuni). Kalau toh harga tanah (anggap saja) sejuta rupiah permeter persegi, hanya dibutuhkan dana enam ratus juta rupiah. Angka tersebut tidak akan dianggap besar kalau ditanggung orang banyak, yaitu mereka yang pernah merasakan jasa Pak Ayu. Apalagi ini untuk kepentingan kemanusiaan, membangun monumen hidup sepeninggal Pak Ayu.

Selama ini orang mengenal Ayu Sutarto sebagai akademisi dan budayawan yang sangat sering menjadi pembicara di banyak seminar. Salah satu pemikirannya yang sering dijadikan rujukan banyak kalangan adalah membagi provinsi Jawa Timur ini menjadi 10 (sepuluh) wilayah sub-etnis, yaitu: Arek, Jawa Mataraman, Jawa Panaragan, Pandalungan, Madura Pulau, Madura Kangean, Madura Bawean, Tengger, Using dan Samin (Sedulur Sikep). Ketika belakangan pemerintah kabupaten Jember hendak mencanangkan Jember sebagai Kota Pendalungan, maka pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang baru lalu, Prof. Dr. Ayu Sutarto, MA mendapatkan Piagam Penghargaan sebagai Pelopor Jember Bangkit Bidang Pendidikan dan Budaya lantaran upayanya mendirikan Taman Bacaan dan Taman Bermain “Untukmu Si Kecil”.
02
Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Cabang Jawa Timur ini percaya betul, bahwa sastra lisan dan folklor (tradisi) lisan dinilai efektif sebagai instrumen politik dan kehidupan sehari-hari di Indonesia. Menurut Ayu, Soekarno dan Soeharto menggunakan folklor lisan sebagai instrumen politik selama masa pemerintahannya. Mereka menjadi sumber penciptaan sastra lisan dan folklor lisan di Indonesia. Dalam wilayah politik, bentuk sastra lisan sering digunakan melalui ungkapan tradisional, pantun, dongeng, slogan dan propaganda politik. Folklor lisan dapat memberikan dampak yang luar biasa kepada masyarakat karena bangsa Indonesia masih dominan menggunakan sastra dan folklor lisan.

Sebagaimana dikutip kantor berita Antara, Ayu mengatakan bahwa pada era Soekarno folklor lisan yang disampaikannya menjadi penyemangat bangsa Indonesia untuk bangkit seperti rawe-rawe rantas, malang-malang putung (Berjuang mati-matian untuk kemenangan). Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan folklor lisan dalam menyampaikan slogan politik. Misalnya saja, “bersama SBY bisa” dan “Lanjutkan”. Sastra lisan dan folklor lisan dapat berdampak positif dan negatif sesuai dengan niat orang yang menyampaikannya.

Beruntunglah perpustakaan USK seluas 6×9 meter persegi itu hanya tutup selama seminggu setelah Ayu Sutarto meninggal. Setelah itu kembali lagi jadi jujugan mereka yang butuh literatur untuk tugas kampus, pertemuan-pertemuan kecil dan diskusi kalangan LSM, mahasiswa dan pelajar, organisasi ekstra kampus, begitu pula aneka permainan anak terus berlangsung dalam rangka untuk pendidikan karakter. Menurut Retno, jumlah pengunjung justru semakin banyak sepeninggal Ayu Sutarto. Toh ada saja yang bertanya, “ini yang punya yang mana?” Pertanyaan yang mencekat, sebab penanya tidak tahu bahwa si empunya sudah meninggal dunia.

Koleksi bukunya lebih lengkap dibanding UNEJ sendiri, khususnya tradisi lisan dan terkait humaniora. Karena itu perlu ada semacam Tim Relawan yang ikut mengelola perpustakaan secara rutin. Misalnya menampung siswa SMK untuk magang. Menurut Ilham, Pak Ayu suka bertanya pada pengunjung, buku apa saja yang dibutuhkan, maka buku-buku itulah yang berusaha dicari oleh Pak Ayu ketika berada di luar kota.
04
Membaca Kebudayaan Tubuh

Yang dikenang oleh Djoko Prakosa adalah, Ayu Sutarto ingin bagaimana mengubah tradisi lisan menjadi tradisi tulis dan tradisi tulis menjadi tradisi lisan. Karena kebudayaan itu sangat tergantung kepada para pelakunya. Asumsinya adalah bahwa tubuh adalah kendaraan kebudayaan. Itu sebabnya tradisi lisan perlu dipelihara agar tidak hilang sebab kalau hilang maka kita tidak bisa melahirkan teori-teori baru yang akibatnya kita akan semakin tertinggal dengan perkembangan keilmuan di kancah global. Itu sebabnya mengapa Ayu Sutarto rajin mendatangi tempat-tempat terpencil, di desa-desa, karena dia ingin membaca kebudayaan dari tubuh pelakunya. Yang dilakukan Ayu Sutarto adalah melakukan grounded research untuk melahirkan teori-teori baru.

Sementara Purnawan Dwikora Negara, dosen Universitas Widyagama Malang, menuturkan kesan-kesannya perihal Ayu Sutarto sebagai orang yang banyak membantunya hingga dia meraih gelar Doktor dalam bidang ilmu hukum dengan disertasi mengenai budaya Tengger. Menurut Pupunk, panggilannya, saat ini Indonesia membutuhkan bagaimana membaca hukum dengan pendekatan budaya. Karena negara ini bukan hanya kaya keragaman hayati dan namun juga kaya keragaman budaya (mega culture). Pendekatan hukum seringkali bersifat normatif sehingga justru memandang keberadaan warga Tengger secara hukum negara seolah-olah menjadi ancaman bagi kepentingan konservasi Taman Nasional Bromo – Tengger – Semeru. Sebab menurut aturan hukum nasional, yang dilindungi hanyalah tumbuhan dan satwanya saja, bukan manusianya. Padahal yang dilupakan oleh negara bahwa keberadaan warga Tengger sudah lebih dulu ada dan melakukan konservasi sendiri sebelum Taman Nasional dan Undang-Undang Konservasi dan semacamnya. Tetapi begitu ada kebijakan negara menjadikan Tengger sebagai kawasan Taman Nasional ternyata melepaskan aspek keragaman budaya, termasuk kearifan-kearifan lokal warga Tengger yang malah tidak dimasukkan dalam aturan pengelolaan kawasan konservasi. Kasu semacam ini hampir selalu ada di seluruh Indonesia. Dalam hal ini Prof Ayu banyak membantunya memahami Tengger, termasuk bisa mengkonstruksikan apa yang disebut tengering budi luhur, bahwa pendekatan hukum itu diantaranya dikembangkan dari budaya hukum masyarakat, selain struktur dan substansi hukum itu sendiri.

Bidang inilah yang juga menjadi perhatian Ayu Sutarto, sehingga pengurus Walhi Jatim ini mengaku bisa memahami legenda Joko Seger dan Rara Anteng dengan 25 anaknya dimana diyakini bahwa rohnya berada di tempat-tempat tertentu di kawasan Tengger. Ternyata tempat-tempat itu membentuk sebuah garis imajiner bahwa di situlah letaknya orang-orang yang berbudi luhur, diayomi leluhur, sehingga perilaku mereka selaras dengan lingkungan. Bahkan setelah dia membaca buku Prof Ayu lantas mendapatkan pengertian bahwa orang Tengger itu kaya namun tidak kaya harta. Mereka dapat hidup sejahtera bukan dengan jalan menanam komoditas yang laku di pasaran, membeli mobil untuk keperluan ladangnya, tetapi mereka dapat hidup sejahtera karena dapat mengatur tingkah lakunya sesuai dengan tengering budi luhur tadi. “Karena itu terkait dengan perpustakaan USK ini saya mengusulkan adanya buku-buku mengenai Budaya Hukum,” usulnya.

Museum Mainan Anak yang belum selesai

Museum Mainan Anak yang belum selesai

Sofia, mantan mahasiswa Prof Ayu yang ikut menyusun buku budaya ngopi di Madura dan Tayub di Tuban mengutarakan perlunya ada usaha untuk dapat menghasilkan sesuatu. Misalnya saja membentuk “USK Craft” dengan cara membuat kerajinan seperti yang pernah diajarkan membuat rajut dan gelang. Maka yang digagas sekarang ini adalah bagaimana USK memiliki unit penjualan souvenir, termasuk buku yang didapat dari titipan siapapun. Toh pernah menjual kaos USK ternyata laris sekali, bahkan sampai pernah dikirim ke Sulawesi. Pernah juga diusulkan kursus menulis, namun kata Pak Ayu masih menunggu beli LCD Projector. Kalau toh sekarang Pak Ayu tidak ada, teman-teman dari Unej bisa mengajarkan bahasa Indonesia untuk penutur asing. “Saya punya usaha tanaman buah dalam pot (tabulampot), bisa dijual di sini,” tambah Sofan Hadi.

Yayasan USK ini sebetulnya sudah berdiri sejak tahun 1998. Semula perpustakaan ada di depan, namun baru sekitar empat tahun ini memiliki ruang sendiri di belakang. Formalitas Yayasan USK memang harus diperbarui, lantaran selama ini sangat tergantung kepada Ayu Sutarto ketua, dibantu Imam Suligi (sekretaris) dan ibu Ayu (bendahara), sementara Retno menjadi wakil ketua de facto. Dalam pembaharuan akte yayasan nanti bisa ditambahkan item bahwa salah satu bentuk usaha yayasan adalah penerbitan buku dengan nama Kompyawisda. Karena selama ini Kompyawisda belum punya badan hukum. Sering ada order penerbitan malah dioper ke Yogya.

Ayu Sutarto adalah pribadi yang sangat peduli dengan masyarakat kelas bawah. Orang-orang papa, dan khususnya anak-anak dari keluarga miskin. Karena itu USK didedikasikan untuk anak orang kecil yang berpenghasilan kecil namun punya mimpi besar. Rata-rata anak yang menjadi binaan USK dari keluarga kurang mampu. Namun sayangnya, rata-rata mereka belum memiliki keinginan kuat untuk bersekolah tinggi. Padahal pengurus USK sudah siap mengupayakan beasiswa sampai dengan perguruan tinggi. Mereka yang sudah menginjak bangku SMP ternyata kurang berminat bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Bagaimanapun, sepeninggal Ayu Sutarto, kelangsungan Yayasan USK tidak boleh berhenti begitu saja. Harus ada tim relawan yang dikordinasi dengan rapi, bukan asal datang dan pergi saja. Harus ada publikasi yang meluas, misalnya dengan membuat website atau blog, bukan hanya mengandalkan media sosial Facebook. “Sudah pernah menggagas membuat leaflet namun belum terlaksana,” ujar Retno.

Sekarang, Ayu Sutarto sudah pergi untuk selama-lamanya. Pikiran-pikirannya tidak boleh menguap begitu saja, warisannya berupa Yayasan USK dan perpustakaannya serta obsesinya membangun museum hidup permainan anak-anak harus diteruskan. Maka Ilham Zoebasary punya usulan, “kalau di Universitas Gadjah Mada (UGM) ada pertemuan rutin tiga bulanan untuk mendiskusikan pikiran-pikiran Umar Kayam, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama untuk Ayu Sutarto?”

Begitulah, mungkin tidak harus tiga bulan, bisa empat bulan, sehingga bulan Oktober yang akan datang bisa digelar lagi pertemuan dengan lebih tertata, dan sudah ada gagasan yang terwujud dari sejumlah obsesi yang lahir dari pertemuan sederhana ini. Salam damai Pak Ayu, kami semua tidak akan melupakan pengabdianmu. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: