“Maen Pukulan” dalam Tantangan Zaman

Oleh Henri Nurcahyo

Masyarakat Betawi punya istilah tersendiri untuk menyebut pencak silat, yaitu “Maen Pukulan”. Disebut Maen Pukulan karena kegiatan ini menandakan ada unsur kesenangan lantaran semula memang hanya sebuah permainan (main, maen) dan bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik atau sifat jago. Sedangkan kata “pukulan” lantaran gerakan dalam pencak silat ini didominasi pukulan tangan dan menabukan penggunaan kaki atau tendangan. Kalau toh ada tendangan hanya sebatas pusar ke bawah. Baca lebih lanjut

Wawancara Henri Nurcahyo oleh Henri Nurcahyo

Di kalangan seniman Jawa Timur, nama Henri Nurcahyo sudah cukup dikenal sebagai pengamat dan penulis. Namun kalangan aktivis LSM Lingkungan Hidup juga mengenal namanya. Sementara di sisi yang lain, nama yang sama juga berkibar sebagai wartawan di berbagai media massa. Baimanakah sebenarnya sosok lelaki yang satu ini?
Berikut ini adalah wawancara Henri Nurcahyo dengan Henri Nurcahyo  .

DSC_1453
Anda itu pekerjaannya apa?

Ini pertanyaan sepele yang sulit dijawab. Anak-anak saya kalau ditanya gurunya atau harus mengisi formulir juga suka bingung menulisnya. Kalau saya jawab “wartawan” pasti diikuti pertanyaan berikut “Wartawan apa? Nulis dimana? Koran apa? Jawa Pos yaa?” Kalau saya jawab “Penulis”, orang malah bingung. Mana ada pekerjaan kok “Penulis.” Malah ada yang mengira penulis itu sama dengan tukang leter, yang suka bikin papan nama itu. Atau Penulis Kaligrafi. Kalau dijawab “seniman” juga sulit menjelaskannya, sebab dikira sama dengan pelukis atau pemain teater. Saya tidak menyalahkan yang bertanya, tetapi sudah sejak lama sekali saya tidak mau terkotak-kotak oleh format apapun, termasuk pekerjaan. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer lewat tokoh Minke dalam novelnya “Bumi Manusia”: Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku adalah bumi manusia dengan segala persoalannya. Baca lebih lanjut