Wawancara Henri Nurcahyo oleh Henri Nurcahyo

Di kalangan seniman Jawa Timur, nama Henri Nurcahyo sudah cukup dikenal sebagai pengamat dan penulis. Namun kalangan aktivis LSM Lingkungan Hidup juga mengenal namanya. Sementara di sisi yang lain, nama yang sama juga berkibar sebagai wartawan di berbagai media massa. Baimanakah sebenarnya sosok lelaki yang satu ini?
Berikut ini adalah wawancara Henri Nurcahyo dengan Henri Nurcahyo  .

DSC_1453
Anda itu pekerjaannya apa?

Ini pertanyaan sepele yang sulit dijawab. Anak-anak saya kalau ditanya gurunya atau harus mengisi formulir juga suka bingung menulisnya. Kalau saya jawab “wartawan” pasti diikuti pertanyaan berikut “Wartawan apa? Nulis dimana? Koran apa? Jawa Pos yaa?” Kalau saya jawab “Penulis”, orang malah bingung. Mana ada pekerjaan kok “Penulis.” Malah ada yang mengira penulis itu sama dengan tukang leter, yang suka bikin papan nama itu. Atau Penulis Kaligrafi. Kalau dijawab “seniman” juga sulit menjelaskannya, sebab dikira sama dengan pelukis atau pemain teater. Saya tidak menyalahkan yang bertanya, tetapi sudah sejak lama sekali saya tidak mau terkotak-kotak oleh format apapun, termasuk pekerjaan. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer lewat tokoh Minke dalam novelnya “Bumi Manusia”: Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku adalah bumi manusia dengan segala persoalannya.

Tapi kan pertanyaan itu tetap harus dijawab.

Tergantung siapa yang tanya dan untuk keperluan apa. Di KTP kolom pekerjaan saya tertulis Karyawan Swasta. Kalau untuk mengisi formulir di sekolah anak saya, cukup ditulis “Penulis”. Kalau kepada tetangga kampung paling enak menyebut diri sendiri sebagai “wartawan” sehingga kalau saya jarang di rumah supaya bisa dimaklumi. Meski seringkali kalau ada peristiwa besar seperti tsunami di Aceh kadang mereka bertanya “tidak meliput Mas?” Jawaban “wartawan” ini memang banyak menguntungkan khususnya kalau ditanya polisi lalu lintas. “Dari koran mana? Jawa Pos yaa,” tanyanya. Dan saya menjawab saja “media on line Pak.” Biasanya Polisi suka bingung mendengar kata “online”…… Saya tidak bohong kan? Kenyataannya saya memang menulis di blog …. hehehe…

Jadi pekerjaan Anda itu serabutan, gitu?

Bisa iya bisa tidak. Dibilang serabutan itu sebab saya mau melakukan pekerjaan apa saja yang saya mampu. Itu sebabnya ada teman yang bilang saya serba bisa. Meh Sembarang Iso (MSI), kata orang Jawa, artinya hampir semuanya bisa. Ini berbeda dengan “semua hampir bisa” yang berarti hanya sebatas “hampir atau meh”. Meh Sembarang Iso berbeda dengan Sembarang Meh Iso. Padahal tetap saja apa yang saya kuasai sangat terbatas. Kemampuan saya hanya menulis, menjadi panitia kegiatan, diskusi sebagai moderator dan pembicara, atau melakukan pekerjaan pemberdayaan masyarakat dan fasilitator pelatihan. Soal menjadi Fasilitator Pelatihan itu nanti saya uraikan tersendiri.

Tetap saja itu namanya serabutan, bukankah bidang yang Anda tulis sangat luas.

Iya juga sih. Saya memang pernah menulis apa saja karena saya aktif sebagai wartawan harian dan tabloid serta majalah. Saya pernah bekerja di koran krimimal, koran umum, tabloid khusus tanaman, khusus burung berkicau, bonsai, pariwisata, pendidikan, bahkan saya pernah menulis dua buku tentang olahraga. Menurut saya, penulis yang memiliki background sebagai wartawan memang dituntut serba bisa, harus tahu banyak hal, meski tidak secara spesifik menguasai. Dalam kewartawanan berlaku prinsip “tahu sedikit tentang banyak hal” dan bukan seperti seorang spesialis yang “tahu banyak tentang sedikit hal”. Idealnya memang “tahu banyak tentang banyak hal” tapi rasanya itu tidak mungkin. Setidaknya selain saya “tahu sedikit tentang banyak hal” saya juga merasa “tahu banyak tentang beberapa hal”.

Beberapa hal itu apa saja?

Kesenian dan lingkungan hidup. Itu dua bidang yang saya geluti sampai sekarang. Saya bisa bercerita banyak mengenai dua hal itu tanpa harus persiapan sama sekali ketika diminta ceramah atau menulis makalah misalnya. Meskipun, yang disebut kesenian dan lingkungan hidup itu kenyataannya juga masih luas cakupannya. Yang namanya kesenian itu sangat luas, demikian pula lingkungan hidup. Nah kalau mau mempersempit, saya bisa bicara dalam cakupan yang menghubungkan dua bidang itu. Misalnya, aspek budaya dalam lingkungan hidup. Itu sebabnya saya membuat lembaga bernama Ekologi Budaya (Elbud).

Dalam kesenianpun, jujur saja, tidak semuanya saya kuasai. Paling-paling yang saya tahu adalah seni rupa dan seni pertunjukan serta sastra yang biasa-biasa saja. Kalau musik sama sekali saya tidak paham untuk membuat pengamatan, kecuali sebagai seni pertunjukan. Demikian juga soal lingkungan hidup, saya tidak paham hal-hal yang cenderung teknis dan kimiawi misalnya, namun lebih banyak pada filosofinya dan prinsip-prinsip pokoknya.
06 - henri-nurcahyo-290x300 - Copy
Jadi Anda itu sebetulnya penulis?

Hmm iya juga sih. Tetapi bukan sekadar penulis. Saya ini penulis yang juga pekerja seni budaya serta fasilitator. Saya adalah penulis, pemikir dan juga aktivis. Saya tidak bisa hanya bertahan di ruangan hanya untuk menulis saja. Saya harus terlibat dalam sejumlah kegiatan yang saya sukai. Kalau perlu saya menggagasnya, saya menjadi pelakunya, dan kemudian kegiatan yang saya lakukan itu saya tulis sendiri dan juga ditulis orang lain. Saya juga terlibat dalam sejumlah organisasi kesenian seperti Dewan Kesenian, Asosiasi Tradisi Lisan, juga menggagas Jaringan Pelaku Seni Candi dan sebagainya. Bahkan pernah terlibat dalam kepengurusan organisasi Pecinta Tanaman dan juga pengurus Persatuan Penggemar Bonsai. Saya juga pernah bekerja di PPLH sebagai fasilitator dan Public Relation. Saya sering memberi pelatihan-pelatihan.

Mengapa Anda tidak menulis saja supaya fokus?

“Menulis adalah Dunia yang Sunyi”. Kalimat itu berasal dari Ernest Hemingway, sastrawan besar Amerika Serikat, yang disampaikan dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel tahun 1954. Jika seorang sastrawan merasakan hal itu dalam dunia kepenulisannya, maka kehidupan yang sunyi itu akan lebih terasakan oleh seorang penulis yang tidak langsung menghasilkan karya seni melainkan menulis tentang kesenian. Karena jasa penulis kesenianlah maka karya seni dan senimannya menjadi terangkat namanya, tetapi posisi penulis kesenian itu sendiri tetap berada di dunia yang sunyi.

Hemingway memang penulis, tapi dia sastrawan yang menghasilkan karya sastra. Sementara saya penulis yang justru menulis tentang kesenian, bukan menghasilkan karya seni berupa tulisan. Meskipun sebetulnya esai itu termasuk karya seni juga. Saya penulis nonfiksi, bukan penulis fiksi. Karena itu saya merasakan betul apa yang dikatakan Hemingway itu. Saya menulis tentang seni rupa, pelukisnya menjadi terkenal, lukisannya mahal-mahal, tetapi saya sebagai penulis masih juga begitu-begitu saja. Padahal untuk menulis seni rupa itu juga butuh modal yang tidak murah. Harus baca banyak buku (yang harganya mahal itu, bisa ratusan ribu rupiah satu buku senirupa saja), harus rajin melakukan pengamatan, sering nonton pameran (dengan beaya sendiri kalau keluar kota). Barangkali itu sebabnya seorang Tommy F. Awuy berhenti menjadi penulis pengantar pameran lukisan, kemudian dia melukis sendiri, dan malah membuka galeri seni rupa untuk pameran lukisannya sendiri dan juga pelukis lain. Padahal Tommy itu dosen filsafat di UI. Gak main-main ilmu yang dikuasainya sebagai modal untuk membuat sebuah artikel seni rupa. Tapi sebagai penulis, namanya malah tenggelam oleh kebesaran pelukis yang dituliskannya. Honornya sebagai penulis artikel sangat tidak sebanding dengan harga lukisan yang ditulisnya.

Sebagai penulis, kenapa Anda tidak menekuni serius sehingga bisa membangun karir sebagai penulis terkenal?

Kalau dibilang “tidak serius” kok enggak yaa. Sebab selama puluhan tahun saya hidup yaa menggantungkan rejeki dari menulis ini. Mulai dari menulis di koran atau majalah, nulis buku, nulis hasil pengamatan, nulis laporan penelitian, nulis makalah, termasuk membuat majalah yang semuanya saya tulis sendiri. Bahkan saya juga menulis dengan atas nama orang lain sebagai ghost writer untuk membuat sambutan, artikel, makalah bahkan juga buku.

Tapi kok tidak kaya?

Hahaa… itu juga kata teman saya. Soal kaya itu soal lain. Mungkin belum nasib baik saja. Lagi pula, menjadi kaya itu relatif. Apa hidup ini harus menjadi orang kaya (materi)? Alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga, membiayai sekolah ketiga anak saya, kuliah semua, semuanya dari hasil menulis. Yang penting saya kerjakan apa yang saya mampu dengan ikhlas, serius, bertanggungjawab, dan menyenangkan. Selebihnya, biar menjadi urusanNYA. Gitu saja kok repot hahaha. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: